Seorang pria bernama AZKA (27 tahun) sudah beberapa minggu mengalami koma akibat kecelakaan kerja ketika ia yang merupakan pimpinan konstruksi sedang meninjau proyek pembangunan.
Azka telah menikah dengan VISHA (24 tahun) selama 3 tahun tapi belum memiliki momongan. Meskipun begitu, hubungan pernikahan mereka masih sangat harmonis. Visha senantiasa merawat Azka di rumah sakit.
Tapi siapa sangka kalau ternyata otak Azka yang sedang koma justru menciptakan ingatan baru yang berbeda.
Dia teringat dengan SESILIA (19 tahun) yang merupakan kepala tim QC baru di kantornya. Walaupun Azka baru bertemu beberapa kali, ternyata secara tidak sadar, Azka mempunyai rasa ketertarikan dengan Sesilia.
Hal ini membuat kenangan-kenangan indah tentang hubungan Azka dan Sesilia. Sedangkan ingatan tentang Visha justru terhapuskan.
Semenjak sadar, Azka mengalami dilema antara Visha dan Sesilia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Storyginal Finger, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 34: Pertemuan Tak Sengaja yang Berbahaya
Malam itu, karena lokasi kafenya sangat dekat dari rumah, mereka berangkat menggunakan motor vespa matic yang biasa dipakai Visha belanja ke pasar.
Mereka berboncengan tanpa helm sambil membahas topik ringan. Suasana benar-benar romantis karena meskipun langit hitam pekat, bulan bercahaya dengan sangat indahnya.
Tak butuh waktu lama, mereka sampai ke kafe tersebut yang diketahui bernama DD Cafe & Resto.
Mengikuti kebiasaan Azka, mereka duduk di bagian sudut pojok kafe. Tapi baru saja duduk sebentar, mereka dikejutkan kedatangan seorang pria yang menyapa Azka.
“Eh, Pak Azka?” sapanya agak ragu tapi juga lumayan yakin.
Azka menurunkan alis, melihat seksama. Ternyata pria tersebut adalah manajer toko tempat Azka membeli kalung berlian.
“Saya Maki, manajer toko Queen Jewelery,” lanjutnya sambil memperkenalkan diri.
Seketika saja Visha memegangi kalungnya.
“Oh, iya, maaf tadi saya agak lupa. Sekarang saya ingat. Perkenalkan, ini istri saya,” ujar Azka mengarahkan tangannya ke Visha sedikit panik.
“Salam kenal,” kata Visha mengangguk pelan.
Di tengah obrolan, tiba-tiba saja seorang pria lain datang menyapa Maki. Ia terlihat sangat akrab, melakukan tos, jabat tangan lalu berpelukan.
Ternyata pria yang baru datang itu telah mengenal Visha. Giliran mereka berdua saling sapa dengan reaksi wajah heran dari Azka.
“Darma? Ngapain kamu di sini?” ucap Visha terkejut yang kemudian berjabat tangan.
Menjawab pertanyaan, Maki mewakili, “Kalian belum tahu ya? Dia pemilik kafe ini.”
Visha terlihat cukup kaget saat Maki memberitahu Darma ternyata merupakan pemilik DD Cafe & Resto. Sedangkan Azka merasa tidak nyaman mendengar obrolan mereka. Bagaimana bisa Visha mengenal pria tersebut.
“Ehm,” Azka berpura-pura batuk.
Sontak saja Visha menyadari belum memperkenalkan Azka kepada Darma. “Oh iya Darma, ini kenalin, Azka,” ucapnya.
Azka menatap tajam ke arah Visha sebelum berdiri menjabat tangan Darma sebentar. Ia merasa kesal karena Visha tidak memperkenalkan dirinya sebagai suami.
Ia dibakar api cemburu, pikiran-pikiran negatif mulai menguasai otak. Oleh karena belum memesan apapun, Darma menawarkan diri mencatat pesanan Azka dan Visha.
Setelah itu, Darma pergi meninggalkan mereka untuk menyiapkan pesanan. Begitu juga dengan Maki yang pamit kembali ke mejanya. Pada saat itulah, Azka langsung mencecar Visha dengan sejumlah pertanyaan.
“Siapa?” tanya Azka.
“Siapa apanya? Tadi? Kan sudah kenalan, Maki dan Darma,” jawab Visha santai.
Azka terlihat tegang, ia marah kepada Visha karena kurang peka. “Kamu ini pura-pura tidak mengerti atau bagaimana sih?” kata Azka tegas.
Mengetahui suaminya marah, Visha berusaha untuk menenangkan, “Kamu cemburu?”
“Ya ampun, Azka. Dia itu tetangga kita, tinggal di blok sebelah rumah, di dekat taman,” jelas Visha sambil tersenyum.
Masih merasa tidak puas, Azka kembali bertanya, “Kamu kenal dekat sama dia? Kok aku tidak tahu sama sekali?”
Visha menjelaskan bahwa ia pernah beberapa kali ketemu saat sedang lari pagi atau sore. Kebetulan Darma memang hobi lari juga.
Ia minta Azka agar tak berpikiran macam-macam. Ia hanya kenal sebatas teman berlari saja. Tapi Azka masih tidak terima karena ia merasa dibohongi.
“Kenapa kamu tidak pernah cerita ke aku kalau punya teman lari di komplek rumah? Atau memang sengaja?” cecar Azka masih kesal.
“Selama ini aku selalu cerita semua tentang kehidupan aku. Siapa teman-teman aku, apa yang aku lakukan, sedangkan kamu?” ucapnya lagi.
Di sini Visha mulai geram karena Azka seakan mencurigainya.
“Kamu kenapa sih? Aku sudah bilang ke kamu. Aaku cuma beberapa kali ketemu sama dia. Itu pun kita tidak lari bareng, cuma pernah kenalan sebentar, setelah itu hanya saling sapa, tidak ada yang spesial,” jelas Visha cemberut.
Azka kembali mengulang pertanyaan dia, “Kenapa kamu tidak cerita ke aku? Simpel kok.”
Kehilangan momen sebentar, Visha merasa telah melakukan kesalahan. Ia pun mengakuinya.
“Iya, aku salah di situ, aku minta maaf. Seharusnya aku cerita ke kamu. Tapi aku juga tidak ada maksud apapun. Aku cuma lupa bilang saja.”
“Minta maaf kok setengah-setengah,” sindir Azka.
Wajah Visha tampak berubah. Sorot mata yang semula cerah kini meredup, bibirnya mengatup, jemari mulai memainkan ujung tisu di atas meja.
“Kita pulang saja,” ajaknya.
Azka tahu, momen ini telah kehilangan rasa tapi hidangan yang sebentar lagi datang tidak mungkin hanya akan menjadi kesan kurang baik untuk dikenang. Apalagi lokasi kafe tak begitu jauh dari rumah dan Darma merupakan tetangga.
“Jangan seperti anak kecil deh. Kalau ada masalah, pasti begini. Kapan sih kamu dewasanya,” kata Azka.
Visha terpaksa menuruti Azka karena tak ingin melanjutkan perdebatan. “Ya sudah, aku minta maaf. Tidak perlu diperpanjang lagi.”
Walaupun masih curiga, Azka setuju mengakhiri masalah tersebut. Tapi ia sulit percaya kalau Visha tidak memiliki hubungan apa-apa dengan Darma. Ia menduga istrinya, minimal mempunyai ketertarikan pada pria pemilik kafe bernama Darma itu.
Dugaan kuat ini muncul karena menurut Azka, tidak seperti biasanya ia mengalah dengan mudah. Pada pembahasan malam ini, Visha mengikuti ucapannya begitu saja tanpa perlawanan.
Bahkan saat ia menyindir menggunakan kalimat yang menurutnya cukup kasar, Visha tidak marah. Ia malah seakan mengakui dan menerima perkataan Azka.
“Pasti ada sesuatu,” batinnya.
Di tengah suasana canggung, Darma datang mengantarkan makanan dan minuman untuk mereka. Ia datang bersama salah seorang pegawai kafe yang meletakkan pesanan di meja.
“Silahkan disantap hidangannya. Ada lagi yang bisa dibantu?” ucap Darma.
Azka hanya diam.
Wajahnya tegang, cemberut, musam, tidak enak dipandang. Sedangkan Visha merasa kurang nyaman. Ia memberitahu Darma bahwa semua sudah cukup, “Makasih ya, Darma.”
“Dengan senang hati, Visha. Jika kamu perlu sesuatu, jangan sungkan untuk langsung panggil aku ya. Aku akan ada di sekitar situ,” kata Darma sambil menunjuk ke arah kasir.
Ketika Darma pergi, Visha sudah menduga Azka pasti akan marah lagi. Benar saja, Azka langsung mempertanyakan sikap Darma barusan yang menurutnya sangat berlebihan.
“Kamu bisa jelaskan ke aku apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Azka kesal.
Matanya merah menahan kesal akibat cemburu. Ia merasa terhina atas sikap yang dilakukan oleh Darma kepada istrinya. Kali ini Visha tidak bisa menjawab secara spontan karena memahami situasinya telah membuat ia kelihatan seperti tersangka.
“Jujur, aku juga tidak tahu apa-apa. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa dia berbuat seperti itu,” jelasnya setengah bingung.
“Visha, dia kelihatan sekali suka sama kamu. Apa kamu juga suka sama dia?” ujar Azka arogan.
Dituduh seperti itu, Visha membantah tegas, “Apa-apaan sih kamu? Jangan berlebihan! Mending kita pulang saja, kita bicarakan ini di rumah”.
Meski kesal, Azka masih berusaha tenang, “Kita pulang setelah makan.”
Tanpa membantah, Visha hanya mengangguk pelan. Tak ada kata keluar dari bibirnya, hanya tatapan yang sempat singgah sejenak pada wajah Azka, sebelum akhirnya ia menunduk.
Ia menuruti perkataan suaminya, meski ada sesuatu di dalam hati yang terasa berat, ia berharap Azka percaya padanya.