Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM TERKUAT: Evolusi Manusia Tanpa Batas

SISTEM TERKUAT: Evolusi Manusia Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Sistem / Epik Petualangan
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Ganendra

Adam Highstein tadinya hanya orang biasa, hingga sebuah sistem misterius memilihnya secara acak dan membangkitkan bakat serta atribut yang tak pernah terbayangkan oleh siapa pun.

​Satu dari sekian banyak kemampuannya saja sudah cukup untuk membawa seseorang ke puncak kekuasaan. Adam sadar dia harus tetap merendah. Namun, mampukah dia menyembunyikan kekuatan itu selamanya?

​Di tengah dunia yang dipaksa berevolusi, Adam bertekad merintis jalannya sendiri menuju puncak dengan menaklukkan berbagai rintangan, baik dari dalam Federasi maupun ancaman luar.

​Sayangnya, alam semesta punya rencana yang jauh lebih besar dan mengerikan untuk Bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ganendra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

06. Monster yang Sedang Terbentuk

"Bersiaplah. Mulai kapan pun kau siap, Nak."

Di ruang bawah tanah rumah keluarga mereka, Adam berdiri berhadapan dengan Jon yang menunggu beberapa meter di depannya. Ruang tersebut adalah fasilitas latihan pribadi, diperkuat dengan material khusus yang mampu meredam dampak kekuatan petarung tingkat empat. Berbagai senjata dan peralatan bela diri memenuhi sekeliling ruangan, menjadi saksi bisu masa kecil Adam yang ia habiskan di sini.

Meskipun keterampilan bela diri Adam belum sampai di taraf master, ia jauh di atas rata-rata. Kini, setelah membangkitkan atribut fisik yang dirancang untuk adaptasi dan efisiensi, ia sudah tidak sabar untuk menguji seberapa drastis kemampuannya meningkat.

Begitu isyarat dimulai, seringai muncul di wajah Adam. Dalam sekejap, ia melesat maju dengan kecepatan yang mencengangkan. Jon tersentak kaget; kecepatan itu jauh melampaui standar seseorang di level pemula.

'Sial, ini benar-benar tidak terduga,' batin Jon, seringai bangga tipis terpatri di wajahnya. Ia segera menangkis pukulan telak yang mengarah padanya, namun matanya membelalak merasakan dampak dari benturan itu.

'Alam Pertama?!' pekik Jon dalam hati.

Sebagai seorang praktisi, Jon tahu betul kapasitas petarung di alam pertama. Apa yang ditunjukkan Adam saat ini sama sekali bukan standar pemula. Kekuatannya bahkan menyaingi mereka yang berada di puncak Alam Pertama, padahal ia baru saja terbangun beberapa jam yang lalu!

Tak memedulikan badai pikiran di kepalanya, Adam terus merangsek maju. Ia menyerang dengan serangkaian pukulan dan tendangan yang presisi. Setiap gerakan dirancang untuk membongkar celah pertahanan lawannya secara sistematis—tepat seperti filosofi yang diajarkan Jon padanya selama bertahun-tahun.

'Apa yang sedang kulihat ini?' Jon benar-benar tak percaya. Gerakan putranya terasa bersih, hampir tanpa pergerakan sia-sia.

Namun, bukan itu yang membuatnya bergidik. 'Dia... dia berevolusi secara langsung!'

Setiap kali Adam gagal menembus pertahanan Jon, ia akan langsung mengoreksi sudut serangan atau menciptakan teknik baru yang lebih efektif di saat yang sama. Jon mulai merinding; Adam bahkan berani melakukan manuver-manuver rumit yang belum pernah diajarkan kepadanya.

'Napas dan ritme langkahnya bahkan tetap sinkron dalam kecepatan ini,' Jon tersadar, menyadari fakta paling mengerikan sekaligus memuaskan dalam hidupnya sebagai orang tua. 'Bahkan di kalangan jenius sekalipun, ini adalah standar yang absurd.'

Ketakutan kecil menyusup di benak Jon, sebuah insting alamiah melihat sesuatu yang melampaui nalar. Jon pun memutuskan untuk meningkatkan tempo dan melancarkan serangan balasan. Yang mengejutkan, Adam merespons dengan meniru teknik bertahan Jon dengan hampir sempurna—seolah-olah ia memiliki kemampuan membaca masa depan.

'Ini gila! Sebenarnya atribut macam apa yang dibangkitkan anak ini?'

Kecepatan di ruangan itu meningkat pesat. Suara dentuman yang teredam memenuhi udara saat kedua petarung saling beradu. Setelah beberapa saat, Jon merasa cukup. Ia melihat sebuah bukaan kecil, melakukan serangkaian gerakan tipuan yang melampaui persepsi Adam, dan akhirnya melontarkan satu pukulan kuat yang membuat Adam terpelanting ke dinding bantalan.

BRAK!

"Ugh!" Adam merintih saat punggungnya membentur dinding sebelum merosot jatuh ke lantai. Seringai percaya dirinya pudar, digantikan oleh ringisan kesakitan. Napasnya mulai memburu, tapi energinya masih cukup stabil.

"Bisa berhenti sejenak, Yah?" gerutu Adam. "Serangan terakhir itu curang. Tadi kau bilang akan menandingi kekuatanku, bukan malah meledakiku seperti itu."

Jon menatap putranya dalam diam, pikirannya masih berkecamuk. Ia benar-benar memiliki seorang monster yang sedang dalam tahap pembentukan di rumahnya. Dengan desahan pelan, ia berjalan menghampiri dan duduk di samping Adam yang bersandar di dinding.

Senyum tipis di wajah Adam menghilang, menyadari inilah saatnya untuk pembicaraan serius. Ia tahu kemampuannya tidak normal, dan kini ayahnya berhak tahu mengapa.

"Bagaimana perasaanmu?" tanya Jon memecah keheningan, melirik putranya dengan tatapan menyelidik.

"Rasanya seperti baru saja melakukan pemanasan," jawab Adam, matanya menerawang. "Deskripsi atributku mengatakan bahwa tubuhku didesain untuk adaptasi dan efisiensi mutlak. Kurasa... daya ledak, kekuatan, kecepatan, daya tahan, dan staminaku meningkat tiga kali lipat dari batas normal."

Mata Jon menyipit. Dugaan awalnya benar; kekuatan Adam sudah setara petarung tingkat pertama yang berpengalaman. Saat Adam mencapai puncak tingkat itu nanti, mengalahkan petarung tingkat kedua bukanlah hal yang mustahil baginya.

"Bagaimana dengan kemampuan unikmu?" tanya Jon lagi.

"Aku memiliki kemampuan visual dan kognitif tingkat lanjut. Aku mampu melihat, memahami, sekaligus mereplikasi setiap teknik yang kutangkap. Bahkan, aku bisa langsung mengoptimalkan dan memperbaikinya dalam sekali coba."

Jon terdiam membeku. Jantungnya berdegup kencang. Itulah alasan mengapa perkembangan bela diri putranya sangat tidak masuk akal dalam waktu singkat.

"Adam..." Jon memanggil pelan, suaranya sarat akan keseriusan. "Kurasa kau paham apa yang harus kau lakukan sekarang, kan?"

"Tentu," Adam mengangguk mantap. "Pohon tertinggi selalu menangkap angin paling kencang. Aku tahu cara menahan dan menyembunyikannya agar tidak merusak diriku sendiri, Yah."

"Sepertinya kecerdasanmu ikut meningkat setelah terbangun." Jon tertawa kecil, rasa bangga akhirnya mendominasi ketakutannya. Ia menatap putranya, masih sulit percaya dengan potensi yang baru saja lahir. 'Tak kusangka, aku benar-benar menjadi saksi kelahiran seorang legenda.'

1
Ardi ansyah
The Artefact Of The Past And The Chosen One'S Destiny support k
Eka P
v
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!