Valerie menyukai kakak sahabatnya Tiara sejak awal semester 1 semasa kuliah. membutuhkan 1 tahun usaha akhirnya meluluhkan hati Dean yang selalu bersikap kaku dan dingin. Akhirnya setahun sudah mereka berpacaran namun tidak ada dari sikap Dean yang berubah tetap dingin, kaku, tidak romantis, tidak inisiatif namun tidak pernah menolak perlakuan dan permintaan Valerie. masalah mulai muncul setelah setahun hubungan mereka. Dania adik sahabat Dean timoty hadir di tengah hubungan mereka. Bagaimana akhir kisah mereka? Apakah badai sanggup meruntuhkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eureka Irene, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Satu Tahun Mengetuk Pintu Es
Menyukai Dean adalah pekerjaan paling melelahkan sekaligus paling keras kepala yang pernah dilakukan Valerie sepanjang sembilan belas tahun hidupnya.
Bagi orang lain, Dean adalah sosok yang mustahil digapai. Pria itu sudah mapan di usia muda, bergerak dengan presisi logika yang kaku, dan memiliki tatapan mata yang sanggup membekukan obrolan dalam sekilas pandang. Namun bagi Valerie, sejak hari pertama dia menginjakkan kaki di rumah Tiara pada awal semester satu perkuliahan, Dean adalah poros dunianya.
"Kamu gila, Val. Kakakku itu bukan manusia, dia itu patung es pajangan kantor," begitu Tiara selalu memperingatkannya setiap kali melihat Valerie sibuk mencatat jadwal harian Dean yang berhasil dicuri dari kalender meja rumah mereka.
Valerie hanya akan tertawa renyah, mengibaskan tangan dengan gaya ekspresifnya yang khas. "Tidak ada es yang tidak mencair kalau disiram air panas setiap hari, Ra. Lihat saja nanti."
Namun, kalimat optimis itu ternyata harus dibayar dengan satu tahun perjuangan yang berdarah-darah bagi perasaan Valerie. Satu tahun penuh penolakan halus, pengabaian, dan tatapan datar yang sering kali membuat dadanya sesak saat kembali ke kamar kosnya yang sepi.
Perjuangan itu dimulai dari hal-hal paling klise. Valerie sengaja sering menginap di rumah Tiara dengan alasan mengerjakan tugas kelompok. Setiap kali mendengar suara mobil Dean memasuki pekarangan rumah pada pukul delapan malam, jantung Valerie akan berdegup dua kali lebih cepat. Dia akan sengaja berlari ke dapur, membuatkan secangkir teh chamomile hangat, lalu menunggu di dekat tangga dengan senyum terbaiknya.
"Malam, Kak Dean. Ini tehnya, biar tidurnya nyenyak," ucap Valerie malam itu, di bulan ketiga dia melancarkan aksinya.
Dean menghentikan langkahnya di anak tangga pertama. Setelan jasnya sudah agak kusut, dasinya sudah dilonggarkan. Pria itu menatap cangkir teh, lalu beralih menatap wajah Valerie yang penuh harap. Tidak ada binar ramah, tidak ada lengkungan senyum.
"Saya tidak minum teh malam-malam. Taruh saja di meja," jawab Dean datar, suaranya berat dan tanpa intonasi. Pria itu kemudian melanjutkan langkahnya ke lantai atas tanpa menoleh lagi.
Valerie berdiri mematung di bawah tangga. Genggamannya pada tatakan cangkir mengerat. Menyakitkan? Tentu saja. Tapi alih-alih menangis, Valerie justru tersenyum tipis. Setidaknya dia bicara padaku lima belas kata malam ini, hiburnya pada diri sendiri.
Bulan-bulan berikutnya tidak menjadi lebih mudah. Valerie mulai merambah ke wilayah kekuasaan Dean yang lain: kantornya. Beruntung, Tiara selalu pasang badan. Tiara yang tahu betapa tulusnya sang sahabat rela menjadi jembatan. Dengan alasan mengantar dokumen keluarga yang tertinggal atau sekadar mengirimkan makan siang dari Mama mereka, Tiara selalu menyerahkan tugas itu kepada Valerie.
Valerie ingat betul momen di bulan keenam. Hari itu hujan deras mengguyur kota Jakarta. Valerie rela menembus badai dengan payung kecil demi mengantarkan kotak bekal berisi fuyunghai buatan rumah ke kantor Dean. Saat tiba di lantai atas, penampilannya sudah setengah basah kuyup. Ujung rambutnya meneteskan air, dan sepatunya menimbulkan bunyi mencicit yang memalukan di atas lantai marmer yang bersih.
Saat dia masuk ke ruangan, Dean sedang memeriksa laporan bersama beberapa kepala divisi. Seluruh mata tertuju pada Valerie yang berantakan.
Dean mengerutkan kening. Logikanya tidak habis pikir melihat seorang mahasiswi nekat menerobos badai hanya untuk urusan sepele seperti makanan. "Valerie? Kenapa kamu ke sini? Di mana Tiara?"
"Tiara ada kelas tambahan, Kak. Jadi aku yang menggantikannya mengantar ini," ujar Valerie, napasnya agak memburu, namun senyumnya tetap merekah lebar. Dia melangkah maju dan meletakkan kotak bekal itu di ujung meja kerja Dean yang rapi. "Dimakan ya, Kak. Masih hangat."
Dean tidak menunjukkan rasa iba sedikit pun melihat baju Valerie yang basah. Dia hanya menatap kotak bekal itu dengan pandangan dingin yang membuat atmosfer ruangan mendadak canggung. "Kamu merusak konsentrasi rapat saya, Valerie. Dan lantai ini menjadi basah karena kamu. Lain kali, kalau hujan, jangan bertindak impulsif seperti ini. Pulanglah."
Kalimat itu bagai tamparan tak berwujud. Para staf di ruangan itu pura-pura sibuk dengan dokumen mereka, menolak menyaksikan penghinaan halus yang diterima gadis muda di depan mereka. Valerie merasakan tenggorokannya tercekat. Hatinya seperti diremas. Namun, dengan kekuatan batin yang entah datang dari mana, dia tetap membungkuk sopan.
"Maaf sudah mengganggu, Kak Dean. Aku permisi pulang," ucapnya pelan.
Sore itu, di dalam taksi online yang membawanya kembali ke kampus, Valerie menangis dalam diam. Dia menatap ke luar jendela yang basah, bertanya-tanya pada dirinya sendiri, apakah keputusannya menyukai pria kaku seperti Dean adalah sebuah kebodohan yang sia-sia? Di saat keluarganya sendiri selalu mengabaikannya dan lebih memedulikan kakak perempuannya, Valerie hanya ingin menemukan satu tempat di mana dia bisa diterima dengan hangat. Tapi di sini, dia justru terus-menerus mengetuk pintu yang terkunci rapat dari dalam.
Namun, sifat blak-blakan dan ekspresif Valerie bukanlah sesuatu yang mudah dipadamkan. Setelah dua hari menarik diri untuk menyembuhkan luka, dia kembali bangkit. Dia tidak bisa berhenti. Baginya, menyerah sebelum mendengar kata "tidak" yang mutlak dari mulut Dean adalah pantangan.
Memasuki bulan kesebelas, terjadi sebuah titik balik kecil yang tidak disadari siapapun. Hari itu adalah hari ulang tahun Dean yang ke-26. Tidak ada pesta besar, hanya makan malam keluarga sederhana di rumah. Valerie tentu saja hadir atas undangan Tiara dan sang ibu yang sudah menganggap Valerie seperti anak sendiri.
Saat malam semakin larut dan orang tua Dean sudah masuk ke kamar, Valerie menemukan Dean sedang berdiri sendirian di halaman belakang, menatap kolam renang yang tenang di bawah siraman cahaya bulan. Valerie mendekat dengan langkah pelan, membawa sebuah kotak kecil berbungkus kertas kado berwarna biru navy tanpa pita.
"Selamat ulang tahun, Kak Dean," suara Valerie memecah keheningan malam.
Dean menoleh. Ekspresinya masih sama kaku seperti biasanya, namun matanya tampak sedikit lelah karena beban pekerjaan. "Terima kasih."
Valerie menyodorkan kotak itu. "Ini untuk Kakak. Aku membelinya dari hasil menyisihkan uang jajan kuliahku selama tiga bulan. Kuharap Kakak suka."
Dean menatap kotak itu cukup lama sebelum akhirnya menerimanya. Dia membukanya di tempat. Di dalam kotak itu terdapat sebuah pulpen hitam berdesain klasik dengan ukiran inisial nama Dean yang digrafir sangat rapi di bagian sisinya. Itu bukan pulpen mewah bermerek internasional yang biasa Dean pakai, tapi itu adalah pulpen terbaik yang bisa dijangkau oleh kantong seorang mahasiswi semester dua.
Dean tertegun sejenak melihat ukiran namanya. Di bawah cahaya bulan, dia bisa melihat jemari Valerie yang sedikit gemetar karena gugup, menunggu reaksinya.
"Kenapa kamu repot-repot melakukan semua ini, Valerie?" tanya Dean, suaranya terdengar lebih rendah dari biasanya. "Satu tahun ini... kamu tidak lelah?"
Valerie menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberanian yang dia miliki. Dia menatap lurus ke dalam manik mata Dean yang gelap, menolak untuk gentar lagi.
"Lelah, Kak. Sangat lelah," jawab Valerie jujur, matanya mulai berkaca-kaca namun suaranya tetap tegas. "Tapi rasa sukaku ke Kakak jauh lebih besar daripada rasa lelahku. Aku tahu Kakak menganggapku anak kuliah yang berisik, kekanakan, dan selalu mengganggu dengan tindakan impulsifku. Tapi aku serius, Kak. Aku menyukai Kakak sejak hari pertama aku melihat Kakak di rumah ini. Aku tidak minta banyak. Aku hanya ingin Kakak memberiku satu kesempatan untuk menunjukkan kalau aku bisa menjadi orang yang berjalan di samping Kakak."
Dean terdiam. Logikanya yang selalu diagungkan selama ini mendadak mengalami malfungsi. Pria itu menatap pulpen di tangannya, lalu menatap gadis di depannya yang menumpahkan seluruh isi hatinya tanpa menyisakan harga diri sedikit pun. Ada sesuatu yang berdesir di balik dada Dean yang kaku, sebuah perasaan asing yang selama setahun ini selalu dia tekan dengan dinding rasionalitas.
Satu bulan setelah malam ulang tahun itu—tepat satu tahun sejak Valerie pertama kali memulai perjuangannya—Dean akhirnya memanggil Valerie untuk bertemu di sebuah kafe dekat kampus.
Hari itu, dengan setelan kerja yang selalu rapi, Dean menatap Valerie yang duduk gelisah di depannya.
"Saya sudah memikirkannya," ucap Dean membuka percakapan, langsung pada intinya tanpa basa-basi romantis. "Hubungan ini... jika kamu memang sekeras kepala itu, mari kita jalani."
Valerie terbelalak. Dia hampir menjatuhkan sendok garpunya. "K-Kak Dean serius?"
"Ya. Kita berpacaran," jawab Dean datar, seolah-olah dia baru saja menyetujui sebuah kontrak kerja sama bisnis. "Tapi saya tidak bisa menjanjikan hubungan yang penuh kejutan atau hal-hal romantis seperti yang biasa dilakukan anak-anak seusiamu. Saya sibuk dengan kantor, dan saya berjalan dengan logika. Jika kamu bisa menerimanya, kita mulai hari ini."
Valerie tidak peduli dengan syarat-syarat kaku yang diajukan Dean. Bagi gadis ekspresif itu, mendengar kata "kita berpacaran" dari mulut seorang Dean adalah sebuah kemenangan terbesar yang setara dengan keajaiban dunia. Senyumnya merekah begitu lebar, air mata bahagianya hampir menetes saat dia mengangguk mantap.
Dia mengira bahwa mencairkan hati es Dean hanya tinggal selangkah lagi setelah status mereka berubah. Namun, Valerie yang naif saat itu belum menyadari, bahwa menjadi kekasih seorang Dean ternyata membutuhkan ketabahan yang jauh lebih besar daripada saat dia menjadi seorang pengejar. Tembok kaku Dean tidak serta-merta runtuh hanya karena sebuah status, dan setahun ke depan akan menjadi ujian yang sesungguhnya bagi sekeping hati Valerie yang tulus.