Dunia tersusun atas struktur kosmologi yang agung: tujuh lapis langit yang suci, dunia bawah yang kelam, dan bumi yang terhampar di tengah-tengahnya.
Sejak awal penciptaan, Tuhan telah melahirkan dua entitas yang saling bertolak belakang demi mengisi semesta ras Elf Cahaya yang menguasai dunia langit, dan ras Iblis Kegelapan yang mendiami dunia bawah. Sementara di antaranya, hiduplah umat manusia yang mendiami bumi.
Namun, kedamaian itu runtuh akibat keserakahan manusia. Melalui ambisi tanpa batas, manusia menggali tanah teramat dalam demi mengeruk sumber daya, sekaligus menembak langit menggunakan uji coba senjata pemusnah massal terlarang yang bernama Nuklir.
Tanpa diduga, hantaman destruktif tersebut bergetar hebat hingga menjebol dinding dimensi semesta. Batas dunia runtuh; ras Iblis merangkak naik ke permukaan, sementara ras Elf turun ke bumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RIKI RIFEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Umpan di balik kegelapan
Keesokan harinya, Grim, Snap, Rocky, dan Mona kembali menghampiri mereka. Cheeta dan Rheno mulai menaruh curiga. Kali ini, mereka tidak lagi menolak dengan halus. Namun, apa daya, Leo selalu saja terpancing untuk bersaing dengan kelompok Grim.
Kali ini kelompok Grim memamerkan kerja sama tim mereka yang solid. Sebagai tim yang sudah terbentuk dan kompak sejak masa kecil, kerja sama antara Leo, Cheeta, dan Rheno seharusnya sama sekali tidak goyah, bahkan dengan bertambahnya Ely sebagai anggota baru.
Namun, karena Leo yang selalu terbawa provokasi membuat koordinasi tim mereka yang biasanya kuat menjadi hancur berantakan. Sekali lagi, mereka kalah telak oleh kelompok Grim.
Sore harinya, setelah menyelesaikan tugas dari petani lokal, mereka kembali ke aula penginapan dengan langkah lesu.
"Leo! Sudahlah, jangan terlalu meladeni mereka," ucap Cheeta. Ia merasa ada yang aneh, seolah-olah kelompok Grim sengaja memancing emosi mereka.
"Berisik! Lihat saja, aku pasti akan menang!" bentak Leo kesal. Ia lalu beranjak pergi untuk mencari angin segar.
Ely, sebagai bangsawan Elf yang baru saja bergabung dengan mereka, memilih untuk tidak berkata-kata. Sebagai anggota baru, ia mengambil keputusan bijak untuk tidak terlalu aktif atau ikut campur dalam masalah internal dan dinamika masa kecil mereka.
Sementara itu, Rheno entah mengapa kini berada di kubu Cheeta; mereka sama-sama mencurigai Grim dan rekan-rekannya.
Di sisi lain, Leo yang sedang berjalan-jalan di area sekitar penginapan untuk mendinginkan kepala, tanpa sengaja melihat kelompok Grim berkumpul di sebuah sudut jalan yang sepi.
Rasa penasaran membuatnya mengendap-endap di balik bayangan bangunan dan mulai menguping pembicaraan mereka.
"Apakah kalian lihat wajah bodoh Leo tadi?" ejek Grim, memecah tawa.
"Woy, Grim! Kamu tidak keterlaluan? Aku sampai kasihan melihatnya," sahut Snap.
"Aku rasa tidak! Dia memang terlalu lemah," timpal Rocky.
"Modal tampan, kemampuan kurang mapan," celetuk Mona.
"Hahaha... kejam sekali kamu, Mona!" Grim tertawa puas.
Leo yang sedang menguping merasa dadanya bergemuruh menahan amarah. *Sialan kamu, Grim!* rutuk Leo dalam hati. Ia lalu melirik Mona. *Ternyata ucapanmu sepedas pakaianmu yang merah seperti cabai itu ya, Mona.*
"Kamu memang hebat, Grim. Walaupun kamu selalu gagal mencuri batu magis Red Diamond di kuil, itu tidak mengubah fakta kalau kamu menang telak dari Leo," ucap Rocky kemudian.
"Hah! Jaga ucapanmu, Rocky!" Grim tampak emosi mendengar kegagalannya diungkit. "Apakah kamu pikir aku tidak bisa mengambilnya?!" lanjut Grim, membuat suasana mendadak tegang.
"Sudahlah!" lerai Snap mencoba mendamaikan. "Batu itu memang sangat sulit dicuri."
Merasa diremehkan oleh rekan setimnya sendiri, Grim tidak tinggal diam.
"Kamu juga sama saja, Snap!" geram Grim. "Oke! Nanti malam kita berkumpul di sini. Aku akan buktikan kepada kalian semua kalau aku bisa mengambilnya!" tantang Grim.
Leo yang mendengar percakapan itu langsung mendapat ide untuk membuntuti mereka nanti malam. Ia berniat mendahului Grim mencuri Red Diamond demi mempermalukan saingannya itu di depan semua orang. Tanpa berpikir panjang, Leo langsung pergi dari sana.
Setelah memastikan langkah kaki Leo menjauh, Grim, Snap, Rocky, dan Mona seketika menghentikan sandiwara mereka. Ternyata, semua ketegangan tadi hanyalah rencana Grim sejak awal karena dia sudah tahu bahwa Leo sedang menguping pembicaraan mereka.
"Dia sudah pergi," ucap Mona.
"Ah... sempurna!" jawab Grim dengan senyuman yang sangat licik.
Setelah kembali dari mencari angin segar untuk menenangkan diri, Leo menampakkan wajah yang jauh berbeda. Ia terlihat begitu senang dan ceria, berbanding terbalik dengan kondisinya yang penuh amarah beberapa saat lalu.
"Apakah keluar mencari angin tiba-tiba bisa membuatmu se senang itu? Angin apa yang kamu temukan?" tanya Cheeta heran melihat perubahan drastis sahabatnya.
"Ahh... Angin puting beliung Britama!" seru Leo dengan senyuman lebar yang membentang di wajahnya.
"Apa itu?" tanya Ely penasaran. Sebagai seorang Elf, ia merasa asing dengan paduan kata yang aneh tersebut.
"Ah... itu istilah dari naskah kuno yang diterbitkan oleh Kompas," sahut Rheno yang memang paham soal sejarah masa lalu.
"Naskah kuno?" Ely menyipitkan matanya, makin tidak paham dengan arah pembicaraan mereka.
"Leo memang sejak dulu suka mengoleksi benda-benda kuno peninggalan era dua abad lalu yang terkubur. Sebut saja Isekai phone, buku Narto, buku one pack, dan semacamnya," jelas Cheeta menerangkan kebiasaan unik Leo sejak kecil.
Mendengar daftar peninggalan purbakala tersebut, Ely seketika tersentak. Ingatannya langsung melayang ke rumah. Ia mendadak teringat bahwa benda-benda kuno dengan nama serupa adalah barang-barang yang sering dibawa pulang oleh kakaknya dari tempat penggalian, hingga menumpuk dan memenuhi seisi kamar.
Singkat cerita, hari pun sudah larut malam. Setelah melalui diskusi yang cukup panjang lebar mengenai urusan privasi kamar, keputusan akhir akhirnya diambil. Leo dan Rheno tetap menempati kamar yang lama, sedangkan Ely kini bisa tidur dengan lebih tenang karena ditemani oleh Cheeta di kamar yang baru.
Di tengah keheningan malam, Leo tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Dengan gerakan yang sangat pelan agar tidak menimbulkan suara, ia mulai mengendap-endap keluar dari kamar. Namun, Leo tidak menyadari bahwa Rheno sebenarnya belum sepenuhnya terlelap. Sepasang mata lempeng sahabatnya itu diam-diam mengawasi setiap gerak-geriknya sejak membuka selimut.
Merasa khawatir dengan tingkah laku Leo yang sangat aneh dan mencurigakan, Rheno akhirnya memutuskan untuk ikut bangkit dan menyelinap keluar kamar. Namun, baru saja ia melangkah melewati pintu, Rheno dikejutkan oleh keberadaan Cheeta dan Ely yang rupanya sudah berdiri tegap di samping pintu koridor. Mereka berdua tampaknya juga menyadari ada yang tidak beres.
"Bagaimana menurutmu, Rheno?" tanya Cheeta pelan sembari melipat kedua tangan di depan dada. Tatapannya lurus mengarah ke ujung lorong tempat Leo menghilang.
"Sangat mencurigakan," sahut Rheno dengan nada datarnya yang khas.
Didorong oleh rasa khawatir yang sama terhadap sifat impulsif Leo, mereka bertiga kompak sepakat untuk membuntuti pemuda itu dari belakang.
Di bawah temaramnya cahaya malam, Leo terus berjalan dengan penuh keyakinan menuju tempat pertemuan kelompok Grim yang ia kuping tadi sore. Sesampainya di lokasi, Leo segera mengambil posisi bersembunyi, mengawasi Grim dan rekan setimnya dengan mata berbinar penuh rencana balas dendam.
Sayangnya, Leo yang terlalu fokus pada ego sendiri sama sekali tidak menyadari dua hal penting. Pertama, tepat di belakangnya, ada Cheeta, Rheno, dan Ely yang sedang mengawasinya dengan cemas. Kedua dan yang paling berbahaya Grim sejak awal memang sengaja membiarkan dirinya diawasi, menunggu dengan sabar sampai si bodoh Leo masuk ke dalam perangkap yang sudah ia siapkan.
Setelah memastikan rencana mereka matang, kelompok Grim pun menyudahi diskusi dan mulai bergerak memulai perjalanan malam menuju kuil Red Diamond. Tanpa mereka sadari atau lebih tepatnya sesuai rencana licik mereka Leo langsung bergerak membuntuti dari balik kegelapan.
Namun, rantai pengintaian itu tidak berhenti di sana. Di urutan paling belakang, Cheeta, Rheno, dan Ely terus melangkah dengan waspada, menjaga agar Leo tetap berada dalam jangkauan pandangan mereka.
BERSAMBUNG