Selama tiga tahun, Ye Chen hidup sebagai menantu benalu di keluarga Su. Dia mencuci pakaian, memasak, dan menerima setiap hinaan tanpa melawan demi melindungi istrinya yang dingin namun cantik jelita, Su Yuhan. Semua orang memanggilnya anjing pecundang, tanpa tahu bahwa di dalam nadinya mengalir darah keluarga paling berkuasa di ibu kota.
Ketika sebuah konspirasi mengancam nyawa istrinya dan mertuanya memaksanya untuk bercerai demi menikahkan Yuhan dengan tuan muda kaya, sebuah liontin giok peninggalan ibunya menyerap darah Ye Chen dan membangkitkan Warisan Tabib Naga Sakti. Di saat yang sama, iring-iringan Rolls-Royce hitam dari ibu kota tiba di depan rumahnya.
Mulai hari ini, sang naga telah membuka matanya. Mereka yang pernah menghinanya harus berlutut!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bodattt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Kemarahan Sang Permaisuri
Tubuh Ye Chen yang penuh luka itu ambruk, kehilangan seluruh tenaganya setelah membakar esensi darahnya hingga batas maksimal.
Su Yuhan jatuh berlutut di lantai pualam yang dingin, menahan tubuh suaminya yang berat dengan kedua lengannya. Gaun merah mahalnya seketika basah oleh darah segar Ye Chen. Riasan wajah Yuhan berantakan oleh air mata yang mengalir deras, namun matanya tidak memancarkan kepanikan orang awam, melainkan kobaran api yang membakar.
"Ye Chen! Bertahanlah! Buka matamu!" Yuhan menepuk pipi suaminya yang pucat pasi. Tidak ada respons. Denyut nadi pemuda itu sangat lemah, nyaris tidak terasa.
Melihat Sang Naga yang menakutkan itu akhirnya tumbang, kerumunan elit Ibu Kota dan beberapa tetua Keluarga Ye yang tadinya berlutut mulai saling berpandangan. Bisik-bisik keraguan mulai terdengar.
"Dia pingsan... lukanya sangat parah."
"Apakah dia akan mati? Jika dia mati, siapa yang akan memimpin Keluarga Ye?"
"Mungkin ini kesempatan kita..."
Salah satu paman jauh dari faksi Zhao Xinlan, seorang pria gemuk berkumis tipis, memberanikan diri melangkah maju. Ia memasang senyum palsu dan mengulurkan tangannya ke arah Yuhan.
"Nona Su, serahkan Ye Chen pada kami. Dia terluka parah. Biar kami dari Keluarga Ye yang mengurusnya di ruang isolasi medis keluarga—"
"Jangan sentuh suamiku!"
Teriakan Yuhan menggema tajam, memotong ucapan pria gemuk itu layaknya sabetan pedang es.
Yuhan mendongak. Mata wanita cantik yang biasanya penuh kelembutan itu kini memancarkan aura seorang Permaisuri yang tak terbantahkan. Ia merampas Plakat Pewaris Utama yang terlepas dari tangan Ye Chen, lalu mengangkatnya tinggi-tinggi di depan wajah pria gemuk itu.
"Suamiku adalah Pewaris Utama yang sah! Dia baru saja menyelamatkan nyawa Kepala Keluarga dari racun pembunuh!" Yuhan menatap tajam satu per satu wajah para elit dan tetua klan yang berkumpul di halaman. "Mulai detik ini, atas nama Plakat ini, aku yang mengambil alih komando! Siapa pun yang berani melangkah maju dengan niat buruk terhadap suamiku... aku akan meminta Tetua Agung untuk mencabut nyawa kalian!"
Mendengar nama Tetua Agung disebut, pria gemuk itu tersentak mundur dengan wajah sepucat kertas. Para elit lainnya langsung kembali menundukkan kepala mereka, tidak berani bernapas terlalu keras.
"Master Tang!" teriak Yuhan ke arah kegelapan.
WUSSS!
Master Tang Zhenhai, beserta sembilan Grandmaster Sejati dari Pasukan Bayangan Istana Naga yang menyusup ke Ibu Kota, langsung melompat turun dari atap paviliun layaknya hantu. Kehadiran sepuluh Grandmaster sekaligus membuat udara di kediaman Ye kembali menegang.
"Hadir, Nyonya!" Master Tang berlutut dengan satu kaki di depan Yuhan.
"Amankan seluruh perimeter paviliun Kakek! Bawa Ye Chen ke ruang medis terbaik di rumah ini. Tidak ada satu pun dokter Keluarga Ye yang boleh menyentuhnya tanpa pengawasanku. Panggil Tabib Kepercayaan dari Jiangbei sekarang juga!" perintah Yuhan dengan suara bergetar namun penuh otoritas.
"Dimengerti! Pasukan Istana Naga, bentuk barikade!"
Malam itu, di bawah komando seorang wanita yang sama sekali tidak memiliki ilmu bela diri, Kediaman Utama Keluarga Ye di Ibu Kota dikunci rapat. Tidak ada yang berani melawan. Su Yuhan membuktikan bahwa ia bukan sekadar vas bunga cantik; ia adalah perisai pelindung yang akan berdiri paling depan ketika Sang Naga tertidur.
Tiga hari kemudian.
Sinar matahari pagi yang hangat menembus celah gorden sutra di sebuah kamar mewah yang sangat luas. Bau obat-obatan herbal Tiongkok yang menenangkan menguar tipis di udara.
Ye Chen perlahan membuka matanya.
Pandangannya yang awalnya kabur perlahan mulai fokus. Ia melihat langit-langit berukir naga emas. Kepalanya terasa sedikit pusing, dan sekujur ototnya nyeri layaknya baru saja digilas mesin press baja.
Ia mencoba menggerakkan jari kanannya. Masih kaku. Meridianku benar-benar kelelahan, batin Ye Chen. Penggunaan Pembalikan Darah Naga benar-benar menguras fondasi kehidupannya. Jika ia belum mencapai Alam Master Puncak, teknik itu pasti sudah menghancurkan jantungnya.
Ye Chen menoleh ke samping.
Di sisi ranjangnya, Su Yuhan tertidur dengan posisi duduk di kursi, kepalanya bersandar di tepi kasur. Tangan wanita itu menggenggam erat tangan kiri Ye Chen seolah takut suaminya akan terbangun dan pergi meninggalkannya lagi. Di bawah matanya terdapat lingkaran hitam yang cukup jelas; Yuhan pasti tidak tidur nyenyak selama berhari-hari.
Hati Ye Chen melembut. Ia menggunakan sisa tenaganya untuk membelai rambut Yuhan dengan sangat perlahan.
Sentuhan lembut itu rupanya cukup untuk membangunkan sang istri yang sedang dalam mode siaga tinggi. Yuhan tersentak bangun, matanya langsung tertuju pada wajah Ye Chen.
"Ye Chen...?" Yuhan mengerjap, memastikan bahwa ini bukan mimpi. "Kau bangun? Kau benar-benar sadar?!"
"Maaf membuatmu khawatir, Sayang," suara Ye Chen serak dan lemah, namun senyumnya setenang biasanya.
"Bodoh! Kau pria paling bodoh di dunia!" Yuhan tidak bisa menahannya lagi. Ia menangkupkan kedua tangannya ke wajah Ye Chen, air mata lega membanjiri pipinya. Ia menunduk dan mengecup kening, pipi, dan bibir suaminya dengan penuh emosi.
Ye Chen tersenyum di sela-sela ciuman itu. "Jika aku tahu koma bisa mendapatkan perlakuan semanis ini, aku mungkin akan melakukannya lebih sering."
"Jangan berani-berani bercanda soal nyawamu lagi!" Yuhan memukul dada Ye Chen pelan, lalu memeluk pria itu dengan hati-hati agar tidak mengenai perbannya. "Tiga hari, Ye Chen. Tiga hari kau tidak sadar. Tabib bilang energi di dalam tubuhmu kacau balau. Aku nyaris gila ketakutan."
"Aku sudah tidak apa-apa. Tubuhku memiliki mekanisme penyembuhan sendiri. Hanya butuh waktu," Ye Chen membalas pelukan Yuhan. "Bagaimana dengan Kakek? Dan situasi di luar?"
Yuhan duduk tegak, menghapus air matanya, dan kembali memasang ekspresi serius seorang CEO.
"Kakek sudah pulih dengan sangat cepat. Racun itu hilang sepenuhnya berkat jarum apimu. Kemarin beliau bahkan sudah bisa berjalan-jalan di taman menggunakan tongkat," jelas Yuhan bangga. "Sedangkan untuk Keluarga Ye... tidak ada yang berani membuat masalah. Zhao Xinlan dikurung di penjara bawah tanah tingkat terdalam, dan Ye Tian telah diusir dari Ibu Kota dengan kaki pincang. Keluarga Zhao dari distrik timur juga menarik diri dan menutup pintu mereka, terlalu takut kau akan membalas dendam."
Mendengar laporan itu, Ye Chen tersenyum puas. Istrinya benar-benar menangani kekosongan kekuasaan dengan sempurna.
Tok... Tok... Tok...
Suara ketukan pintu terdengar pelan.
"Masuk," sahut Yuhan.
Pintu terbuka, dan Kakek Ye Tianlong masuk dengan langkah pelan namun stabil, didampingi oleh Master Tang. Wajah pria tua itu tidak lagi sehitam mayat; rona kemerahan mulai terlihat di pipinya yang keriput.
"Kakek," Ye Chen berniat duduk, namun Kakek Ye segera mengangkat tangannya.
"Berbaringlah, Cucuku yang keras kepala. Kau baru saja kembali dari ambang kematian," Kakek Ye berjalan mendekat dan duduk di kursi yang disediakan oleh Master Tang.
Mata pria tua itu menatap Ye Chen dengan penuh kebanggaan dan penyesalan yang mendalam. "Tiga tahun... Kakek mengira kau sudah tiada, mati membeku di luar sana. Jika saja Kakek tidak terlalu memanjakan rubah betina Zhao itu, kau tidak akan menderita."
"Masa lalu biarlah berlalu, Kek. Yang penting sekarang Kakek sudah sehat," jawab Ye Chen tulus.
Kakek Ye Tianlong menggeleng pelan. Wajahnya berubah menjadi sangat serius dan penuh wibawa, memancarkan aura Kepala Keluarga yang sesungguhnya.
Ia merogoh saku jubah lurusnya, lalu mengeluarkan sebuah stempel giok berwarna hijau tua berukir naga sembilan cakar. Itu adalah Stempel Kepala Keluarga Ye—simbol kekuasaan absolut atas konglomerasi dan faksi militer keluarga di seluruh penjuru negeri.
"Chen-er. Penyakit ini telah menyadarkanku. Era Kakek sudah berakhir," ucap Kakek Ye, meletakkan stempel giok itu di atas meja di sebelah ranjang Ye Chen.
"Mulai hari ini, aku menyerahkan takhta Kepala Keluarga Ye kepadamu secara resmi. Kau adalah Penguasa Ibu Kota yang baru."
Ye Chen menatap stempel itu dengan tenang. Posisi yang dulu diperebutkan hingga mengorbankan nyawa ibunya, kini diserahkan kepadanya secara damai. Namun, Ye Chen tahu betul bahwa stempel ini bukanlah garis akhir. Ini adalah titik awal dari pertempuran yang lebih besar.
"Kakek," Ye Chen bersuara pelan namun tegas. "Aku akan menerima posisi ini. Tapi Kakek harus tahu, badai dari luar belum selesai."
Kening Kakek Ye berkerut. "Maksudmu... Empat Raja Iblis itu?"
Ye Chen mengangguk. Matanya memancarkan kilatan es saat mengingat aura hitam dari Raja Iblis berjubah abu-abu.
"Zhao Xinlan tidak mungkin merekrut empat petarung Alam Ilahi hanya dengan uang. Mereka bukan kultivator biasa. Kultivator yang mengendalikan Gu Pemakan Jiwa dan energi korosif jelas berasal dari sekte hitam yang terorganisir. Aku mendengar Zhao Xinlan menyebut nama... Kuil Bayangan Hitam (Black Shadow Temple) di Pegunungan Utara."
Mendengar nama itu, wajah Kakek Ye seketika berubah pucat pasi. Tangannya yang memegang tongkat sedikit bergetar.
"Kuil Bayangan Hitam... Jadi ternyata desas-desus itu benar," gumam Kakek Ye dengan nada ngeri. "Chen-er, Kuil itu bukanlah sekte bela diri biasa. Mereka adalah organisasi pembunuh dan kultivator ilmu hitam yang telah hidup dalam pengasingan selama ratusan tahun. Seratus tahun lalu, mereka memicu pertumpahan darah yang nyaris menghancurkan seluruh dunia bela diri Tiongkok, sebelum akhirnya disegel oleh aliansi Tetua Agung dari berbagai keluarga."
Kakek Ye menatap Ye Chen dengan cemas. "Jika kau membunuh tiga Raja Iblis mereka... Kuil Bayangan Hitam tidak akan pernah melepaskan dendam ini. Pemimpin mereka, sang Raja Bayangan, konon telah berada di Alam Ilahi Puncak selama puluhan tahun. Kau tidak bisa melawan mereka dalam kondisimu yang sekarang!"
Ye Chen tersenyum tipis. Ia mengepalkan tangan kirinya pelan.
Memang, dengan kondisi meridiannya yang sedang memulihkan diri dari efek Pembalikan Darah Naga, Ye Chen saat ini tidak bisa mengeluarkan sepuluh persen pun dari kekuatannya.
"Jangan khawatir, Kakek. Raja Bayangan mungkin kuat, tapi dia tidak akan berani masuk ke Ibu Kota secara terang-terangan karena ada Tetua Agung yang menjaga tempat ini," ucap Ye Chen tenang.
Ye Chen menoleh ke arah jendela, menatap awan tebal yang menutupi langit Jingcheng.
"Aku hanya butuh waktu. Selama aku bisa menyerap energi dari Nadi Naga di bawah Ibu Kota ini untuk memulihkan meridianku... aku akan menembus batas fana. Dan ketika aku secara resmi menginjakkan kaki di Alam Ilahi, Kuil Bayangan Hitam sendirilah yang akan gemetar mendengar namaku."