"Janji Sahabat" menceritakan kisah tiga remaja yang dipertemukan oleh takdir di bangku SMA. Arga yang pendiam, Nanda yang penuh semangat, dan Dimas yang humoris bersumpah akan tetap menjadi sahabat sampai impian mereka terwujud.
Namun, perjalanan menuju masa depan tidak pernah mudah. Kemiskinan, perpisahan, kegagalan, dan musibah datang silih berganti, menguji kesetiaan mereka. Saat keadaan memaksa mereka memilih antara menyerah atau mempertahankan janji, mereka menyadari bahwa persahabatan sejati tidak diukur dari seberapa sering bertemu, melainkan dari keberanian untuk tetap saling menggenggam ketika dunia terasa runtuh.
Akankah janji yang mereka ucapkan di bawah langit senja mampu bertahan menghadapi kerasnya kehidupan? Ataukah waktu akan memisahkan mereka untuk selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Keke Ganteng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu yang Terbuka
Pintu kamar itu akhirnya terbuka perlahan, menampilkan sosok Adit yang jauh berbeda dari yang biasa mereka kenal. Rambutnya berantakan, matanya sembap dan kemerahan, dan tubuhnya terlihat lebih kurus seolah ia tidak makan dengan baik selama beberapa hari terakhir.
"Ngapain kalian jauh-jauh ke sini?" tanyanya, suaranya parau, meski ada kilau kelegaan tersembunyi di balik nada ketusnya.
"Ya jelas nengokin kamu lah, bego," jawab Naya, matanya sudah berkaca-kaca menahan tangis melihat kondisi sahabatnya. Tanpa berkata banyak lagi, ia langsung memeluk Adit erat, membiarkan air matanya jatuh membasahi bahu sahabatnya itu.
Adit terdiam sejenak, tubuhnya kaku sebelum akhirnya membalas pelukan itu, dan untuk pertama kalinya sejak kepergiannya dari Ciandara, pertahanannya benar-benar runtuh. Ia menangis, bukan tangisan pelan yang biasa ia tahan, melainkan tangisan yang menumpahkan semua kemarahan, kesedihan, dan kebingungan yang selama ini ia pendam sendirian di kamar sempit itu.
Raka mendekat, ikut merangkul kedua sahabatnya dalam satu pelukan yang menyatukan mereka bertiga, seperti yang selalu mereka lakukan setiap kali salah satu dari mereka membutuhkan kekuatan lebih dari yang bisa mereka hadapi sendirian.
"Maaf," bisik Adit di sela isak tangisnya, "maaf udah ngilang tiba-tiba, ninggalin kalian tanpa kabar jelas."
"Nggak apa-apa," jawab Raka lembut. "Yang penting sekarang kamu udah nggak sendirian lagi."
Mereka bertiga duduk di lantai kamar sederhana itu, Adit akhirnya menceritakan semua yang terjadi—pengakuan ayahnya tentang keluarga lain selama lima tahun, perceraian yang berjalan begitu cepat dan menyakitkan, serta perasaan bersalah yang terus menghantuinya karena tidak bisa marah secara langsung kepada ayahnya sendiri.
"Aku takut," lanjut Adit, suaranya masih bergetar, "kalau aku balik ke Ciandara, semua orang bakal mandang aku beda. Kasian, anak yang orang tuanya cerai gara-gara Ayahnya selingkuh. Aku nggak mau jadi bahan omongan."
Naya menggenggam tangan Adit erat. "Kamu inget nggak, waktu aku ketakutan hal yang sama soal orang tuaku? Kamu yang bilang, apa pun yang terjadi, kita tetap sahabat. Sekarang giliran aku yang bilang itu ke kamu."
"Lagian," tambah Raka, mencoba mencairkan suasana dengan sedikit humor khas Adit yang biasanya, "kalau ada yang berani ngomongin kamu aneh-aneh, biar aku yang urus. Aku kan udah pernah ngadepin Bimo, masa ngadepin omongan orang doang nggak berani."
Untuk pertama kalinya sejak beberapa hari terakhir, Adit tertawa—tawa kecil yang masih bercampur isak, namun tulus, menandakan bahwa sedikit demi sedikit, kehangatan yang biasa ia rasakan bersama kedua sahabatnya mulai kembali menyusup ke dalam hatinya yang selama ini terasa begitu dingin dan sendirian.
Sore harinya, sebelum Raka dan Naya harus kembali ke Ciandara bersama Bu Sulastri, mereka duduk bertiga di teras rumah Bu Marto, menikmati pisang goreng hangat yang baru saja diangkat dari penggorengan.
"Aku bakal balik ke Ciandara minggu depan," kata Adit tiba-tiba, mengejutkan kedua sahabatnya. "Ibu bilang, kita tetap tinggal di rumah lama, cuma Ayah yang pindah total ke kota sebelah. Nenek cuma nemenin aku beberapa hari buat nenangin diri aja."
Kelegaan tampak jelas di wajah Raka dan Naya mendengar kabar itu. "Syukurlah," gumam Naya, tersenyum lebar. "Kita bisa lanjutin lagi kumpul-kumpul di bawah pohon beringin."
Adit mengangguk, meski senyumnya masih menyisakan sedikit kelelahan emosional yang belum sepenuhnya pulih. "Tapi... aku minta satu hal ke kalian berdua."
"Apa?" tanya Raka dan Naya hampir bersamaan.
"Jangan pernah nanya soal Ayah lagi, ya. Aku belum siap ngomongin itu lebih jauh. Anggap aja, mulai sekarang, keluargaku cuma Ibu."
Raka dan Naya saling pandang sejenak, sebelum mengangguk mengerti, menghormati permintaan sahabatnya itu meski keduanya tahu, luka sedalam itu tidak akan hilang semudah permintaan untuk tidak membicarakannya.
#Tanah_Luka_dan_Persahabatan