Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.
Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Suara musik dangdut dari panggung utama Festival Desa berkumandang nyaring, memecah kesunyian pagi di kawasan bukit desa Bandung itu. Dari halaman rumah kayu dua lantai milik Arka dan Kinanti yang berdiri anggun di dataran tinggi, pemandangan seluruh lapangan festival di bawah sana terlihat begitu jelas. Suasana perbukitan yang sejuk kini disulap menjadi lautan manusia yang meriah.
Di salah satu sudut stan makanan yang paling ramai di area festival, gerobak cilok milik Arka sudah diserbu antrean warga.
"Mas Arka, cilok kuah pedasnya dua mangkuk ya! Jangan lupa bumbu kacangnya dibanyakin!" seru seorang ibu-ibu dengan wajah berbinar.
"Siap, Bu! Ditunggu sebentar ya," sahut Arka ramah. Tangannya begitu terampil memotong cilok, memasukkannya ke dalam mangkuk, lalu menyiramkan kuah kaldu hangat yang menguar aroma rempah gurih.
Di sebelahnya, Kinanti sibuk membungkus pesanan pembeli sambil mengusap peluh di dahinya. Senyum tak pernah lepas dari wajah cantiknya asal Jakarta itu. Meski belum terbiasa dengan hawa riuh festival pedesaan, Kinanti merasa sangat bahagia melihat dagangan suaminya laku keras.
"Mas, rame banget hari ini! Stok adonan yang kita bawa dari rumah kayu kita tadi kayaknya bakal habis sebelum sore deh," bisik Kinanti penuh semangat sambil menyerahkan kantong plastik berisi cilok ke pembeli.
Arka terkekeh pelan, menyapu lembut sisa tepung di pipi Kinanti dengan ibu jarinya. "Kan Mas udah bilang, rezeki istri solehah yang ikut jualan itu beda rasanya."
Pipi Kinanti seketika merona merah. "Ih, Mas Arka mah! Banyak orang, ih!" gumamnya malu-malu, berpaling berpura-pura merapikan sendok plastik.
Namun, di balik wajah manis dan senyum hangat sang tukang cilok, indra Arka tetap siaga penuh. Karena rumah kayu mereka berada di tempat tinggi, Arka sangat hafal sudut-sudut bukit di sekeliling area ini. Matanya yang tajam menyapu garis vegetasi Bukit Pinus. Dari kejauhan, ia melihat kilatan pantulan cahaya yang sangat tipis sebuah lensa rifle scope milik sniper musuh.
Arka menyipitkan mata, lalu menyentuh earpiece nirkabel berukuran mikro yang tersembunyi rapat di balik kerah kemeja lusuhnya.
"Lingga, sniper di batas Bukit Pinus jam dua belas. Jangan sampai dia sempat menarik pelatuk," bisik Arka amat pelan, nyaris tak terlihat bibirnya bergerak saat ia berpura-pura membungkuk mengambil mangkuk.
Di Batas Bukit Pinus...
Seorang sniper musuh berseragam serba hitam berbaring di antara semak-semak, membidikkan senapannya ke arah lapangan festival di bawah. Matanya terkunci pada sosok Arka yang sedang melayani pembeli.
"Target teridentifikasi. Menunggu komando untuk menembak," bisiknya pada mikrofon di dadanya.
Klik!
Suara ketukan halus tumit sepatu hak tinggi menapak di atas tanah berbatu tepat di belakangnya. Si penembak jitu terperanjat. Sebelum ia sempat memutar badannya, sebuah selendang sutra mahal menjerat lehernya dari belakang dengan kekuatan luar biasa.
"Maaf ya, Mas. Di tempat seindah ini nggak boleh ada mainan kasar," suara feminin yang renyah dan elegan berbisik tepat di telinganya.
Sarah berdiri anggun dengan setelan seragam ala pramugari blazer biru dongker yang pas di tubuh, rok span presisi, dan rambut tersanggul rapi. Meski penampilannya seolah baru turun dari kabin pesawat first class, gerakannya sangat mematikan.
Krak!
Dengan satu tarikan napas dan plintiran pergelangan tangan yang presisi, Sarah menyapu bersih kesadaran penembak jitu itu tanpa menimbulkan suara keributan sedikit pun.
"Beres, Sayang. Jalur atas aman," ujar Sarah santai sambil merapikan lipatan blazernya yang sedikit kusut.
Dari balik pohon pinus, Lingga muncul dengan gaya rambut mullet-nya yang khas. Tangannya memegang dua bungkus petasan cabai berukuran besar.
"Gila, cepat banget kamu. Padahal aku baru mau bergaya," goda Lingga sambil menyeringai.
"Kamu tuh kebanyakan gaya! Cepat ganti peledak di kotak sinyal bawah panggung sebelum Arka yang turun tangan langsung. Mau dikomeli Bos Naga Hitam, hmm?" cerocos Sarah cerewet sambil menepuk dada Lingga gemas.
"Iya, iya, Sayang! Ini bergerak nih!" sahut Lingga panik, menyelinap cepat menuju area belakang panggung utama tempat peledak musuh ditanam.
Kembali ke stan cilok, Arka melihat Sarah memberikan sinyal samar berupa anggukan kecil dari kejauhan sebelum kembali menghilang di balik kerumunan warga. Arka bernapas lega. Eksekusi senyap berhasil.
"Mas Arka? Kok malah melamun?" tegur Kinanti heran, melambaikan tangannya di depan wajah Arka.
Arka tersentak pelan, lalu tersenyum manis menatap istrinya. "Gak apa-apa, Sayang. Mas cuma lagi ngebayangin nanti sore kita santai berdua di balkon lantai dua rumah kayu kita sambil ngeteh."
"Gombal terus! Yaudah, hayu selesaikan ini dulu," kekeh Kinanti bahagia.
Di bawah langit cerah dan keriuhan festival desa, Arka menggenggam jemari Kinanti erat-erat.
Matahari mulai bergeser ke barat, memancarkan sinar keemasan yang hangat di atas lapangan festival desa. Musik di panggung utama makin membahana, diiringi tepuk tangan dan sorak-sorai ratusan warga yang larut dalam suasana meriah.
Di belakang panggung area sepi yang tertutup baliho raksasa dan deretan tenda panitia tiga pria berjaket hitam merayap mendekati kotak kontrol listrik utama. Salah satu dari mereka memegang remot kontrol peledak asap, sementara dua lainnya bersiap memberikan sinyal kepada tim penculik.
"Siap-siap. Begitu asap tebal keluar dan sinyal terputus, kita langsung bergerak ke stan cilok," bisik ketua tim musuh seraya menatap jam tangannya.
"Siap, Komandan. Tapi... tim sniper kita di Bukit Pinus dari tadi nggak ada laporan balik. Sinyal radio mereka mati total," sahut anak buahnya dengan raut cemas.
"Halah, paling masalah sinyal busuk di pedesaan! Nggak usah banyak mikir, tekan tombolnya sekarang!" gertak sang ketua.
Pria itu mengangguk, lalu jemarinya menekan tombol merah pada remot di tangannya.
Ctek!
Ptek! Ptek! Ptek! Pop!
Bukan ledakan asap pekat atau sirine darurat yang terdengar, melainkan deretan suara petasan cabai yang meletup-letup kecil, mengeluarkan aroma belerang tipis disertai gulungan asap warna-warni yang sama sekali tidak menakutkan. Di panggung depan, warga justru bersorak gembira, mengira letupan itu adalah bagian dari efek panggung festival.
"Apa-apaan ini?! Kenapa peledaknya berubah jadi mercon?!" umpat sang ketua musuh panik, matanya melotot menatap kotak sinyal yang meleleh tanpa efek.
"Permisi, Mas-Mas sekalian... mau cari efek panggung yang lebih heboh ya?"
Sebuah suara santai menyapa dari balik bayangan tenda. Lingga melangkah keluar dengan senyum miring khasnya. Gaya rambut mullet-nya melambai tertiup angin sore, sementara kedua tangannya dimasukkan dengan santai ke dalam saku celana.
"Saha maneh?! (Siapa kamu?!)" gertak musuh pertama seraya mencabut pisau lipat taktis dari pinggangnya.
"Gua? Cuma penonton yang terganggu sama akting busuk kalian," sahut Lingga ringan.
Sebelum ketiga musuh itu sempat mengepung Lingga, sebuah tumit sepatu hak tinggi melayang presisi menempel di pelipis musuh paling kanan.
Brak!
Pria itu terpental menghantam tiang besi panggung sebelum akhirnya terkulai tak sadarkan diri. Sarah mendarat dengan sangat anggun. Seragam ala pramugarinya tetap rapi tanpa kerutan sedikit pun.
"Lingga! Berapa kali aku bilang, jangan banyak omong kalau lagi tugas! Kebiasaan banget sih bikin acara makin lama!" cerocos Sarah penuh kejengkelan sambil merapikan kembali posisi sanggul rambutnya.
"Aduh, Sayang... kan biar ada dramatisnya dikit. Masa langsung main pukul terus?" keluh Lingga sambil menangkis serangan pisau dari ketua musuh.
Krak!
Dengan gerakan memutar yang cepat, Lingga memuntir pergelangan tangan musuh hingga pisau itu terlepas, lalu memberikan pukulan uppercut telak tepat di dagu pria itu.
Buk!
Dua musuh tumbang seketika. Musuh terakhir yang tersisa gemetaran hebat melihat betapa mudahnya dua rekannya dilumpuhkan dalam hitungan detik. Tanpa pikir panjang, ia berbalik untuk melarikan diri ke arah semak-semak.
Wosh... Srett!
Sarah melompat dengan lincah, menyabet kaki musuh menggunakan tali selendang sutranya hingga pria itu tersungkur hebat menghantam tanah.
Tak!
Tumit sepatu hak tinggi Sarah mengunci tepat di atas leher pria itu, menghentikan seluruh pergerakannya. "Jangan lari, Mas. Seragam saya nanti kotor kalau harus ngejar-ngejar di semak-semak."
Dalam waktu kurang dari dua menit, seluruh tim eksekutor musuh berhasil dilumpuhkan total tanpa ada satu pun warga atau panitia yang menyadarinya.
Di stan dagangan, Arka yang sedang menyapu pandangan ke arah belakang panggung tersenyum tipis. Melalui sudut matanya, ia melihat Lingga memberi isyarat tangan "aman" dari kejauhan sebelum dragging tubuh para musuh ke balik truk panitia.
"Mas Arka! Lihat deh, cilok kita habis bis bis!" seru Kinanti girang sambil menunjukkan wadah adonan besar yang kini sudah kosong melompong.
Arka menoleh ke arah istrinya, matanya kembali memancarkan kehangatan seorang suami. "Wah, luar biasa! Berarti janji Mas buat ngajak kamu santai sore di rumah kayu kita terlaksana dong?"
Kinanti tertawa renyah, merangkul lengan Arka dengan manja. "Iya dong! Yuk kita kemas-kemas, Mas. Aku udah nggak sabar mau lihat matahari terbenam dilantai dua."
"Siap, Istriku," sahut Arka lembut seraya merangkul bahu Kinanti.
Ancaman hari ini telah netral. Di atas bukit yang tinggi itu, rumah kayu dua lantai mereka siap menjadi saksi kedamaian yang akan terus dijaga Arka dengan seluruh jiwa dan raganya.