Indonesia
NovelToon NovelToon
Kontrak Rahasia Sang Istri

Kontrak Rahasia Sang Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.

Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.

Mengapa Azam memilih dirinya?

Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?

Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4 — Perempuan di Balik Kontrak

Pintu lift tertutup perlahan.

Dila berdiri di samping Laras dengan jantung yang masih berdebar. Entah kenapa, sejak memasuki gedung Wiratama Group, perasaannya tidak tenang.

Bukan karena gedung itu terlalu megah.

Bukan pula karena para karyawan terus melirik ke arahnya.

Melainkan karena satu hal yang terus berputar di kepalanya.

Mengapa Azam memilih dirinya?

Kemarin Azam mengatakan bahwa dirinya membutuhkan seseorang yang dapat dipercaya. Namun setelah melihat besarnya perusahaan itu, alasan tersebut terasa terlalu sederhana.

Seorang pemilik perusahaan sebesar ini tentu bisa mendapatkan siapa pun.

Mengapa harus Dila?

Perempuan sederhana yang bahkan masih harus menghitung uang belanja setiap hari.

“Laras.”

“Ya?”

“Pak Azam ada di lantai berapa?”

“Lantai tiga puluh dua.”

Dila menatap angka pada panel lift.

“Dan saya akan bekerja di sana?”

“Mulai hari ini.”

“Sebagai apa sebenarnya?”

Laras tersenyum samar.

“Nanti beliau sendiri yang menjelaskan.”

Dila menghela napas.

“Semua orang di tempat ini suka sekali menjawab seperti itu.”

Laras tertawa kecil.

“Karena Pak Azam memang orang yang sulit ditebak.”

Dila menoleh.

“Sudah berapa lama kamu bekerja untuknya?”

“Lima tahun.”

“Berarti kamu mengenalnya dengan baik.”

“Lumayan.”

“Apakah dia orang baik?”

Pertanyaan itu membuat Laras diam.

Beberapa detik kemudian, ia menjawab,

“Pak Azam bukan orang jahat.”

Dila menunggu kelanjutannya.

“Tapi dia juga bukan orang yang mudah dipercaya.”

Jawaban itu justru membuat Dila semakin bingung.

Ding!

Pintu lift terbuka.

Lantai tiga puluh dua jauh lebih sepi dibandingkan lantai bawah.

Tidak banyak karyawan yang terlihat. Sebagian besar ruangan menggunakan dinding kaca. Di ujung lorong terdapat sebuah pintu besar berwarna hitam.

Laras berjalan menuju pintu tersebut.

Dila mengikuti dari belakang.

Sebelum masuk, Laras berbalik.

“Mulai sekarang, jangan pernah masuk ke ruangan di sebelah kanan.”

Dila mengernyit.

“Kenapa?”

“Perintah Pak Azam.”

“Ruangan apa?”

“Ruang arsip pribadi.”

Dila mengangguk.

“Baik.”

Laras mengetuk pintu.

“Masuk.”

Suara Azam terdengar dari dalam.

Laras membuka pintu.

Azam berdiri di depan jendela besar yang memperlihatkan pemandangan kota dari ketinggian.

Hari itu ia mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung sampai siku.

Ia menoleh ketika Dila masuk.

“Selamat pagi.”

“Pagi.”

Azam menatap Laras.

“Bawa dokumen?”

“Sudah.”

“Taruh di meja.”

Laras meletakkan sebuah tablet dan beberapa dokumen di atas meja.

Kemudian ia keluar.

Kini hanya ada Dila dan Azam.

Dila berdiri kaku.

“Duduk.”

Dila duduk.

Azam mengambil kursi di seberangnya.

“Bagaimana tidurmu semalam?”

“Tidak nyenyak.”

“Karena kontrak?”

“Karena banyak pikiran.”

Azam mengangguk.

“Itu wajar.”

Dila menatapnya.

“Saya ingin pekerjaan ini berjalan profesional.”

“Memang itu yang saya inginkan.”

“Saya tidak mau hubungan pekerjaan ini mengganggu rumah tangga saya.”

Azam diam sejenak.

“Kalau begitu, jangan biarkan itu terjadi.”

Dila sedikit terkejut.

Azam melanjutkan,

“Batasnya jelas. Kamu bekerja untuk saya. Saya membayarmu. Kamu menjalankan tugasmu. Tidak lebih.”

Dila mengangguk.

“Baik.”

Azam mendorong sebuah kartu akses ke arahnya.

“Ini untukmu.”

Dila mengambilnya.

“Fungsinya?”

“Akses ke beberapa lantai gedung ini.”

“Beberapa?”

“Tidak semua.”

“Kenapa?”

“Karena ada bagian perusahaan yang tidak perlu kamu ketahui.”

Dila menatap kartu tersebut.

Sekali lagi muncul perasaan bahwa pria di hadapannya menyimpan terlalu banyak rahasia.

“Untuk tugas pertama,” kata Azam, “kamu ikut saya menghadiri makan siang.”

Dila mengerutkan kening.

“Makan siang?”

“Pertemuan bisnis.”

“Kenapa saya harus ikut?”

“Saya ingin melihat bagaimana kamu beradaptasi.”

“Sebagai pendamping?”

“Sebagai seseorang yang saya percaya.”

Dila menghela napas.

“Baik.”

---

Menjelang siang, Dila mengganti pakaiannya di sebuah ruangan kecil yang disiapkan Laras.

Ia mengenakan pakaian sederhana namun rapi.

Blus putih.

Rok panjang berwarna gelap.

Tidak berlebihan.

Dila memandang dirinya di cermin.

Ia merasa seperti orang asing.

Selama ini hidupnya hanya berkisar pada rumah, pasar, memasak, mencuci, dan mengurus Fadil.

Sekarang ia berada di sebuah perusahaan besar dengan pakaian yang bahkan jarang ia gunakan.

Pintu diketuk.

“Bu Dila?”

“Ya?”

“Sudah siap?”

“Sudah.”

Ketika Dila keluar, Laras tersenyum.

“Cocok.”

“Benarkah?”

“Ya.”

Dila tertawa kecil.

“Saya malah merasa seperti orang lain.”

Laras hendak menjawab ketika suara perempuan terdengar dari belakang.

“Memang seharusnya begitu.”

Dila menoleh.

Sekar berdiri beberapa meter dari mereka.

Perempuan itu tersenyum.

Namun senyumnya tidak terasa ramah.

“Jadi ini perempuan yang dibawa Pak Azam?”

Laras menatap Sekar.

“Sekar.”

“Aku hanya penasaran.”

Sekar kemudian mendekati Dila.

“Kamu cantik.”

“Terima kasih.”

“Sudah menikah?”

Dila mengangguk.

“Sudah.”

Sekar tertawa kecil.

“Menarik.”

“Apa yang menarik?”

“Tidak apa-apa.”

Sekar pergi begitu saja.

Dila menatap punggungnya.

“Siapa dia?”

“Manajer pemasaran.”

“Dia mengenal Pak Azam?”

“Semua orang di perusahaan ini mengenal Pak Azam.”

“Tapi sepertinya dia punya masalah dengan saya.”

Laras tidak menjawab.

Dila semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tidak diketahuinya.

---

Mobil melaju meninggalkan gedung.

Azam duduk di sebelah Dila.

Sementara Laras berada di kursi depan.

Sepanjang perjalanan, Azam sibuk membaca beberapa dokumen.

Dila mencoba melihat pemandangan di luar jendela.

Namun pikirannya melayang kepada Fadil.

Ponselnya bergetar.

Pesan dari suaminya.

«Fadil: Sudah sampai tempat kerja?»

Dila mengetik:

«Dila: Sudah.»

«Fadil: Gimana?»

«Dila: Besar sekali tempatnya.»

«Fadil: Syukurlah. Semoga cocok.»

Dila tersenyum.

«Dila: Semoga.»

Kemudian pesan berikutnya muncul.

«Fadil: Jangan lupa makan.»

Dila terdiam.

Kalimat sederhana itu kembali membuat hatinya terasa hangat.

Azam melirik sekilas.

“Suamimu?”

“Iya.”

“Dia selalu menghubungimu?”

“Tidak selalu.”

“Kelihatannya perhatian.”

Dila menatap Azam.

“Fadil memang begitu.”

“Beruntung.”

Dila mengernyit.

“Kenapa?”

“Tidak semua orang memiliki pasangan yang mau bertahan dalam keadaan sulit.”

Dila terdiam.

Azam kembali melihat dokumennya.

Ada sesuatu dalam nada suaranya yang membuat Dila merasa lelaki itu sedang berbicara berdasarkan pengalaman pribadi.

---

Restoran tempat mereka bertemu ternyata merupakan restoran milik salah satu rekan bisnis Azam.

Seorang lelaki berusia sekitar empat puluh tahun sudah menunggu.

“Pak Azam.”

Mereka berjabat tangan.

“Pak Wiryo.”

Lelaki bernama Wiryo itu kemudian melihat Dila.

“Siapa?”

“Dila.”

“Sekretaris baru?”

Azam menggeleng.

“Pendamping saya.”

Wiryo terlihat sedikit terkejut.

Namun ia tidak bertanya lebih jauh.

Makan siang berlangsung cukup formal.

Dila lebih banyak diam.

Ia hanya memperhatikan bagaimana Azam bernegosiasi.

Tidak pernah meninggikan suara.

Tidak pernah memaksa.

Namun setiap keputusan yang dibuatnya terasa final.

Dila mulai memahami mengapa orang-orang di perusahaan begitu menghormatinya.

Setelah hampir satu jam, pembicaraan selesai.

Wiryo berdiri.

“Baik. Saya setuju dengan kesepakatan itu.”

Azam mengangguk.

“Besok dokumen final saya kirim.”

Ketika Wiryo pergi, Dila bertanya,

“Pak Azam.”

“Ya?”

“Kenapa Anda membawa saya?”

Azam menatapnya.

“Karena saya ingin orang-orang melihat bahwa kamu berada di pihak saya.”

Dila terdiam.

“Maksudnya?”

“Ada orang-orang di perusahaan yang sedang mencoba menjatuhkan saya.”

Dila mulai memahami.

“Jadi saya bagian dari strategi Anda?”

“Sebagian.”

“Dan bagian lainnya?”

Azam tidak menjawab.

---

Sore hari, Dila kembali ke kantor.

Saat keluar dari lift, ia mendengar suara percakapan dari salah satu ruangan.

“Dia tidak mungkin orang biasa.”

Suara perempuan.

Sekar.

“Pak Azam tidak pernah membawa perempuan sembarangan ke lantai ini.”

Suara laki-laki menyahut.

“Cari tahu siapa dia.”

Dila berhenti.

Ia tidak sengaja mendengar percakapan tersebut.

Kemudian langkah kaki terdengar mendekat.

Dila buru-buru berjalan pergi.

Namun ketika sampai di ujung lorong, seseorang menabraknya.

Dokumen yang dibawanya jatuh.

“Maaf.”

Seorang lelaki segera membantunya mengambil dokumen.

“Tidak apa-apa.”

Lelaki itu tersenyum.

“Nama saya Arif.”

“Dila.”

Arif memandangnya beberapa detik.

“Dila?”

“Iya.”

Ekspresi Arif berubah.

“Jadi kamu…”

“Kenapa?”

Arif seperti hendak mengatakan sesuatu.

Namun kemudian ia mengurungkan niat.

“Tidak apa-apa.”

Ia menyerahkan dokumen.

“Terima kasih.”

Arif pergi.

Dila memandangnya dengan penuh tanda tanya.

Hari itu sudah terlalu banyak hal aneh terjadi.

---

Menjelang sore, Dila mendapatkan izin pulang.

Namun sebelum meninggalkan gedung, Laras menghampirinya.

“Bu Dila.”

“Ya?”

“Pak Azam ingin menyampaikan sesuatu.”

“Apa?”

“Besok malam ada acara keluarga.”

Dila mengangguk.

“Lalu?”

“Ibu harus ikut.”

Dila terkejut.

“Acara keluarga?”

“Ya.”

“Kenapa saya?”

Laras menatapnya.

“Itu bagian dari kontrak.”

Dila mengingat dokumen yang ia tanda tangani.

“Baik.”

“Dan satu lagi.”

“Apa?”

“Besok Ibu jangan memakai pakaian yang terlalu sederhana.”

Dila tertawa kecil.

“Saya memang tidak punya banyak pakaian bagus.”

Laras tersenyum.

“Pak Azam sudah menyiapkan semuanya.”

Dila langsung diam.

“Menyiapkan?”

“Pakaian, sepatu, dan beberapa perlengkapan.”

Dila merasa semakin tidak nyaman.

“Saya bisa menggunakan pakaian sendiri.”

“Sudah menjadi keputusan beliau.”

---

Malam itu, Dila pulang lebih cepat.

Fadil sedang duduk di ruang tengah.

Begitu melihat istrinya, ia tersenyum.

“Capek?”

“Lumayan.”

Fadil berdiri dan mengambil tas Dila.

“Kerja pertama gimana?”

Dila tersenyum.

“Banyak hal baru.”

“Bosmu baik?”

Dila terdiam sepersekian detik.

“Baik.”

“Syukurlah.”

Fadil kemudian memberikan sebuah gelas air.

“Minum dulu.”

Dila menerimanya.

Ia menatap suaminya.

Dalam hati, ia berjanji akan melakukan apa pun agar Fadil dan keluarganya tidak lagi hidup dalam kekurangan.

Namun malam itu, ketika Dila masuk kamar, sebuah paket besar sudah berada di atas ranjang.

Ia membuka paket tersebut.

Di dalamnya terdapat gaun panjang berwarna hitam, sepasang sepatu, dan sebuah kotak kecil.

Dila membuka kotak itu.

Sebuah kalung sederhana namun terlihat sangat mahal.

Di bawahnya terdapat secarik kertas.

«Gunakan besok malam.»

Tidak ada nama.

Tetapi Dila tahu siapa pengirimnya.

Azam.

Dila memegang kalung tersebut.

Tiba-tiba sebuah pesan masuk.

«Azam: Besok malam, jangan datang sebagai karyawan.»

Dila membaca pesan itu berulang kali.

Kemudian pesan kedua masuk.

«Azam: Datang sebagai seseorang yang harus saya perkenalkan kepada keluarga saya.»

Dila membeku.

Jantungnya berdetak keras.

Keluarga?

Apa sebenarnya yang sedang direncanakan Azam?

Dan mengapa kontrak pekerjaan yang seharusnya sederhana mulai terasa seperti sesuatu yang jauh lebih besar?

Dila belum menyadari bahwa acara keluarga itu akan mempertemukannya dengan seseorang dari masa lalu Azam.

Seseorang yang mengetahui rahasia tentang Dila yang bahkan Fadil sendiri tidak pernah tahu.

Bersambung…

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!