"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."
Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.
Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.
Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.
"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."
Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenda Biru 35
Kembali ke kantor, Rhea membawa perasaan yang begitu lega. Dia sudah menyampaikan niat hatinya. Ucapan terimakasih meski kelihatannya hanya sekedar kata-kata, namun ternyata membawa ketenangan bagi seseorang yang mendapat bantuan.
Meski Rhea merasa malu karena pernah berada di titik dirinya kehilangan akal sehingga hendak mengakhiri hidupnya sendri, namun dia bersyukur karena dengan itu kini dirinya bisa berdiri di sini.
Semangat Rhea membara, dalam hati ia bertekad untuk semakin giat dalam bekerja.
Rasa semangat yang membara itu sedikit terganggu, saat ia bertatap muka dengan Trisna. Rhea sebenarnya sangat ingin membuang mukanya. Namun ia tahu bahwa saat ini dirinya berada di perusahaan dimana dirinya harus profesional.
"Apa ada keperluan dengan saya, Bu Trisna," ucap Rhea. Tatapan Trisna yang sangat tajam, tak membuat Rhea risau. Rhea malah tersenyum lebar, tentu saja itu sebuah senyum profesional.
"Jangan sok manteb, jangan sok iya juga. Kamu sama aku tuh sama, sama-sama cuman bawahan. Jadi jangan sok merasa punya kedudukan tinggi," jawab Trisna. Terlihat tangannya mengepal dengan erat.
"Ah ya benar, kita sama-sama bawahan. Tapi maaf, kita beda kelas," ujar Rhea.
Tak ingin lebih lama lagi berurusan dengan Trisna dimana itu bukan karena pekerjaan, Rhea memilih untuk pergi. Ia berjalan melewati Trisna. Namun langkah Rhea terhenti saat Trisna menahan tangannya.
"Mau apa kamu?"
Kini tatapan mata Rhea menjadi begitu tajam. Wajah dan senyum keramahan sudah tidak ada di wajahnya.
"Kamu pasti marah karena Oza kan? Dia memilihku dan bukan kamu, jadi kamu bersikap sok begini di depanku." Trisna menyeringai, wajahnya penuh dengan rasa puas. Rasa bangga itu terpancar dari sana, seolah baru saja memenangkan sebuah perlombaan.
"Aku? marah? hahahha, maaf ya. Nggak ada waktu buat aku marah soal hal yang nggak penting. Oza, ambil aja. Aku nggak butuh pria pengecut seperti itu," jawab Rhea tegas. Sorot matanya tak ada kemarahan barang sedikit pun.
Drap drap drap
"Apa yang baru saja kamu katakan padaku hah!"
Jika Trisna terkejut dengan kedatangan Oza secara tiba-tiba, maka tidak dengan Rhea. Wanita itu tampak tenang.
Oza yang sekarang ada di depannya, bukanlah Kabag Pemasaran melainkan mantan tunangannya. Selama ini ia tak pernah merasa benar-benar berhadapan dengan Oza, dan kali baru Rhea menghadapi mantannya tersebut.
"Kenapa? Nggak terima kah?" ucap Rhea tenang. Dia tidak gentar barang sedikit pun.
"Kalau bukan pengecut, lalu apa hmm? memutuskan hubungan, tanpa pembicaraan sama sekali. Ah percuma juga sih ngomong sekarang, nggak ada guna. Minggir kalian berdua, saya sibuk."
Rhea enggan menghadapi dua pengkhianat terbesar dalam hidupnya. Dia tak ingin belelah-lelah hanya untu bicara dengan mereka sehingga ia memilih untuk segera pergi. Namun langkahnya kembali lagi tertahan. Kali ini bukan karena Trisna tapi karena Oza. Oza memegang tangannya dengan sangat erat.
"LEPAS!" sengit Rhea.
"Jangan bicara sembarang," ucap Oza tajam. Matanya membulat sempurna.
"Haaah huuuuft. LEPAS!"
Rhea membuang nafasnya kasar. Dia menggerakkan lehernya yang terasa sangat kaku. "Kalau Anda tidak mau melepaskan saya, maka~"
"Maka apa hah?"
"Maka kamu akan aku lempar dari gedung ini."
Degh!
Semua mata mengarahkan mata mereka ke arah sumber suara. Aura penekanan begitu kuat dirasakan. Tubuh Oza membeku, sedangkan Trisna, tubuhnya bergetar hebat. Terlebih tatapan itu sangat menakutkan, seperti seorang predator yang hendak memakan mangsanya.
TBC
lanjutin napa, kasian loh itu Nayaka dah nunggu lama momen ini 🤭🤭