Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Pengganti Sang Komandan

Istri Pengganti Sang Komandan

Status: tamat
Genre:Perjodohan / Berbaikan / Cinta setelah menikah / Penyesalan Suami / Dokter / Menikahi tentara / Tamat
Popularitas:2.9M
Nilai: 4.8
Nama Author: Ayu Lestari

"Demi menyelamatkan ayahnya, Alya setuju menggantikan kakaknya untuk memenuhi janji pernikahan dengan Mayor Damar. Namun, pada akhirnya semua hanyalah status dan diikat surat perjanjian yang berlaku selama tiga tahun. Di samping itu, Alya dan Damar menjalani kehidupan mereka masing-masing.

Namun, dua tahun kemudian, keduanya dipertemukan kembali di medan perang. Alya sebagai dokter ditugaskan ke perbatasan NTT, tempat Damar bertugas. Kontrak yang awalnya dianggap sebagai garis aman perlahan-lahan berubah menjadi bom waktu ketika cinta mengetuk hati Mayor Damar."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Lestari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 29

Bab 29 - Gudang Lama

Raka tidak langsung pergi setelah audit selesai.

Alasannya masuk akal. Jalur darat ke Kupang masih belum stabil, timnya perlu menunggu kendaraan logistik kembali. Dia juga harus mewawancarai beberapa tenaga kesehatan lokal.

Alya tidak mencurigai apa pun.

Damar mencurigai hampir semuanya.

"Kamu menatap Raka seperti menatap paket mencurigakan," kata Alya saat mereka berdiri di depan pos kesehatan.

"Paket mencurigakan kadang memang terlihat rapi."

"Dia bukan paket."

"Itu yang membuatnya lebih sulit diperiksa."

Alya menggeleng.

"Anda melelahkan."

"Aku komandan. Itu bagian dari pekerjaan."

"Bukan. Itu bagian dari cemburu."

Damar diam.

Alya menunggu.

"Iya," katanya akhirnya.

Jawaban itu membuat Alya kehilangan bahan sindiran.

Damar menatapnya.

"Aku cemburu. Tapi aku tidak akan melarangmu bertemu dia. Aku hanya ingin kamu hati-hati."

"Kenapa?"

"Karena dia terlalu tenang."

Alya tertawa kecil. "Itu alasan?"

"Orang yang terlalu tenang saat semua orang panik biasanya menyimpan sesuatu."

Kalimat itu tinggal di kepala Alya lebih lama dari yang dia mau.

Sore itu, Raka mengajaknya mengecek gudang bantuan lama di bekas kantor kecamatan yang rusak ringan akibat gempa.

"Ada beberapa paket medis yang belum tercatat," kata Raka. "Aku butuh kamu memastikan mana yang masih bisa dipakai."

Alya setuju. Damar sedang rapat dengan BPBD dan perwira setempat. Raka datang bersama satu staf, tapi di tengah jalan staf itu dipanggil tim logistik.

"Kita cek sebentar saja," kata Raka.

Gudang lama itu berada di belakang bangunan kantor kecamatan. Dindingnya lembap, pintu besinya berkarat, tapi masih terkunci. Raka mendapat kunci dari petugas logistik.

Di dalam, cahaya redup masuk dari ventilasi tinggi. Ada kardus obat, selimut, alat kebersihan, dan beberapa kotak yang belum dibuka.

Alya langsung bekerja.

"Ini sebagian sudah kedaluwarsa."

"Catat."

"Oralit masih bagus. Kasa steril tergantung kemasan. Antiseptik ini bocor."

Raka mencatat di tablet.

Awalnya semua biasa.

Lalu pintu gudang tertutup.

Bunyi besi itu membuat Alya menoleh.

"Angin?"

Raka tidak menjawab.

Dia berdiri di dekat pintu, wajahnya berbeda.

Tidak hangat.

Tidak ramah.

Kosong.

Alya menegakkan tubuh.

"Raka?"

"Maaf."

Satu kata itu membuat seluruh tubuh Alya dingin.

"Untuk apa?"

Raka memasukkan tablet ke tas.

"Karena harus begini."

Alya mundur satu langkah.

"Apa maksudmu?"

"Aku tidak ingin melukaimu."

"Kalimat itu biasanya diucapkan orang yang akan melukai."

Raka tersenyum tipis. Sedih, tapi tidak goyah.

"Kamu masih sama. Selalu cepat membaca situasi."

Alya melihat ke pintu.

Terkunci.

Dia menimbang jarak, benda di sekitar, kemungkinan berteriak. Bangunan itu agak jauh dari jalan utama. Hujan rintik mulai turun di luar, menelan suara.

"Kenapa?" tanyanya.

Raka menatapnya lama.

"Karena mereka mulai tidak sabar."

"Siapa mereka?"

"Keluargamu."

Alya membeku.

"Keluarga saya di Jakarta."

"Bukan yang itu."

Ruangan terasa menyempit.

Raka berjalan pelan ke tengah gudang, tapi menjaga jarak.

"Kamu pernah bertanya kenapa hidupmu selalu seperti ada bagian yang tidak pas? Kenapa beberapa dokumen keluargamu sulit ditemukan? Kenapa Papa Harun dan Mama Ratna selalu menghindar setiap ada pertanyaan soal kelahiranmu?"

Jantung Alya menghantam dada.

"Diam."

"Alya."

"Saya bilang diam."

Raka berhenti.

"Aku tidak datang untuk menghancurkanmu."

"Kamu mengunci saya di gudang dan bicara omong kosong tentang keluarga saya."

"Karena kalau aku bicara di tempat terbuka, kamu akan pergi ke Damar sebelum mendengar semuanya."

Nama Damar membuat Alya makin waspada.

"Apa hubungannya Damar?"

"Banyak."

Raka mengeluarkan map tipis dari tasnya, meletakkannya di atas kardus.

"Lihat."

"Tidak."

"Kamu dokter. Kamu tahu bukti lebih kuat dari penolakan."

Alya tidak bergerak.

Raka membuka map itu sendiri.

Ada salinan akta kelahiran lama. Catatan klinik bersalin. Foto bayi. Hasil pemeriksaan golongan darah. Beberapa dokumen berbahasa resmi yang tampak terlalu tua untuk dipalsukan cepat.

Alya melihat nama tanggal.

Tanggal lahirnya.

Nama klinik yang tidak pernah dia dengar.

"Ini apa?"

"Awal dari kebenaran."

"Kebenaran versi siapa?"

"Versi darah."

Alya tertawa pendek.

"Darah? Kamu mau memakai kata itu untuk menakutiku?"

"Darahmu bukan darah Prameswari."

Kalimat itu jatuh seperti benda berat.

Alya menatap Raka.

"Ulangi."

"Harun dan Ratna bukan orang tua kandungmu."

Tamparan tidak akan sesakit itu.

"Bohong."

"Aku berharap begitu."

"Bohong!"

Suara Alya memantul di dinding gudang.

Raka tidak mundur.

"Kamu anak keluarga lain, Alya. Keluarga yang selama ini mencari kamu."

"Keluarga mana?"

Raka diam.

Alya melangkah maju dan meraih map itu, melemparkannya ke lantai.

"Keluarga mana?"

"Karsa."

Nama itu tidak berarti apa-apa baginya.

Tapi cara Raka mengucapkannya membuatnya terasa seperti pintu menuju tempat gelap.

"Jaringan Karsa bukan sekadar keluarga," kata Raka. "Mereka punya bisnis legal, yayasan, perusahaan logistik. Tapi di bawahnya ada penyelundupan, obat ilegal, senjata, banyak hal yang sebaiknya tidak kamu dengar dari aku malam ini."

Alya merasa mual.

"Lalu kamu?"

Raka menunduk.

"Aku dibesarkan oleh orang-orang mereka."

"Kamu bagian dari mereka."

"Aku bagian dari kesalahan yang sama."

Alya mundur sampai punggungnya menyentuh rak besi.

Papa Harun.

Mama Ratna.

Laras.

Rumah mereka.

Semua ulang tahun.

Semua doa Mama saat dia demam.

Tangan Papa yang gemetar saat melepasnya menikah.

Tidak.

Tidak mungkin.

"Kenapa sekarang?" suaranya pecah.

"Karena Karsa sudah tahu kamu di sini. Karena Damar mulai mengganggu jalur mereka di perbatasan. Karena setelah posko bencana, namamu muncul di laporan nasional. Kamu tidak lagi tersembunyi."

"Saya tidak tersembunyi dari siapa pun."

"Kamu disembunyikan sejak bayi."

Alya menutup telinga dengan kedua tangan.

"Cukup."

Raka menatapnya dengan mata sedih.

"Aku bisa membawamu pergi sebelum mereka memakai cara kasar."

Alya menurunkan tangan.

"Membawa saya?"

"Untuk bertemu orang yang bisa menjelaskan."

"Kamu gila."

"Alya, kalau Damar tahu—"

"Jangan sebut namanya."

"Dia prajurit. Dia akan memilih hukum, satuan, negara. Kalau dia tahu darahmu terhubung ke Karsa, kamu pikir dia akan tetap melihatmu sama?"

Itu pukulan kedua.

Lebih kejam karena menyentuh ketakutan yang tidak pernah Alya punya sebelumnya, tapi langsung tumbuh begitu ditanam.

Damar.

Jika Damar tahu?

Tidak. Ini semua belum tentu benar.

Dia harus keluar.

Alya melihat botol antiseptik bocor di rak. Tangannya bergerak cepat. Dia meraih botol itu dan melemparkannya ke arah Raka.

Raka menghindar, tapi cukup untuk memberi celah.

Alya berlari ke pintu, menarik gagang.

Terkunci.

Raka menangkap pergelangan tangannya dari belakang.

"Alya, jangan."

Dia memutar tubuh dan menghantam tulang kering Raka dengan tumit. Raka meringis, tapi tidak melepaskan. Alya meraih gunting medis kecil dari saku tasnya dan menempelkannya ke lengan Raka.

"Lepaskan."

Raka menatap gunting itu, lalu perlahan melepas.

"Kamu tidak akan bisa menghindari ini."

"Saya bisa menghindari kamu."

Alya mengambil kunci dari meja dekat pintu, membuka sendiri dengan tangan gemetar. Saat pintu terbuka, udara malam masuk bersama hujan.

Di luar, Damar berdiri beberapa meter dari gudang.

Wajahnya gelap.

Di belakangnya ada Rendra dan dua prajurit.

Raka menutup mata sebentar.

Alya membeku di ambang pintu.

Damar melihat wajahnya, lalu Raka, lalu dokumen yang berserakan di lantai.

"Apa yang terjadi?"

Alya tidak bisa bicara.

Raka mengambil map dari lantai dengan sangat tenang.

"Kami perlu bicara."

Damar melangkah maju.

"Dengan pintu terkunci?"

Suara itu membuat udara dingin.

Raka tidak menjawab.

Alya merasa dunia berputar.

Damar menatapnya.

"Alya?"

Dia ingin mengatakan semuanya bohong.

Ingin meminta Damar memeluknya.

Ingin menyuruh Raka ditangkap.

Tapi dokumen di tangan Raka seperti terus berteriak.

Darahmu bukan darah Prameswari.

Alya mundur satu langkah dari Damar.

Gerakan kecil itu membuat mata Damar berubah.

"Alya," katanya pelan.

Dia tidak menjawab.

Karena jika dia membuka mulut, seluruh hidupnya mungkin akan runtuh keluar.

Damar ingin mendekat, tapi Alya mengangkat tangan.

"Jangan."

Satu kata itu menghentikannya lebih kuat daripada teriakan. Raka masih bersandar di dinding gudang, bibirnya berdarah sedikit karena sempat didorong Damar, tetapi matanya puas. Ia tidak perlu membawa Alya pergi malam itu. Ia sudah menanam sesuatu yang lebih tajam.

"Kau lihat?" Raka berkata pelan. "Kebenaran tidak butuh banyak tenaga."

Damar menoleh dengan rahang mengeras.

"Diam."

Raka tertawa pendek.

Alya memungut map yang jatuh, memeluknya ke dada, lalu berjalan keluar tanpa melihat siapa pun.

1
Ryani
di awal cerita masih baguss seruuu kenapa setelah 5 tahun jadi rada rada miring otak untuk mencerna🤣
Ryani
tunggu tunggu tunggu... lohhh kok pada ganti sih jln ceritanya🤣 yg paling membengongkann pas mamanya Alya ketemu Damar🤭 sebelumnya kan udah pda kenal karena perjodohan
Asni JM
suka dengan ceritanya,dn susunan kalimatnya sangat enak di baca
Azkiya Arsyila
bukannya laras itu kakaknya iya,tapi kok tiba2 jadi Alya yg jadi kakaknya
Ryani
iklannya banyak sekali, padahal pengen cepat baca jln ceritanya
Yuliati
penulisan kalimatnya terputus2 jadi capek bacanya
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
membingungkan diepisode seblmya udh dipanggil.ayah dsn msh 9m dan msh mt ijin manggil ayah, yg nulis apa lg mabuk lem ya in. hahaha maaf thor bingung dgn critamu thor
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
bingung baca in, dihapus aja
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
aneh cerita ini awalnya damar dr keluarga wiratama kok ini berubah jd pradipta, trs kpn tdr bersama bikin sikembar, aneh, apa jangan2 ini cerita bkn ditulis asli tp nyomot 🤣🤣🤣maaf thor habisnya membagongkan lo, tiba2 hamil, tiba2 brubah marga, tiba2 penugasan dan pencarian pdhl slm in tgl dijkt juga, hhhmmm aneh
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
kok bisa hamil pdhl mrk blm prnh tdr bareng deh, anak siapa itu, slm tugas jg rmh mrk sndr2 kok hamil????
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
jg mau pindah alya harga drmu, tdk dianggap istri dikasih rmh dinas rusak, sekarang disuruh pulang ke rmh dinas enak bgt, harga diri alya
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
ceritanya kurang sip, harusnya dokter tdk pdl dl dgn komandan, krn komandan tdk menghargai dan memperlakukanya spt istri, tinggal juga sndr, sedangkan yg lain suami istri tgl bersama2
🥰Ary Ambar Kurniasari Surya🥰
harusnya dokter cuek dan gaksah pdl dulu sm damar, biarin sj damar mrs kok dokter tdk pdl, biar dia mrs seperti itu rsnya tdk dipedulikan orang
Khoirun Nisa
Agak kecewa sih sma jalan ceritanya, awalnya ceritanya bagus seru dan buat penasaran. tapi setelah sampai dibab alya pergi jadi agak aneh ceritanya. aku berhenti baca sampai bab ini saja biar gak emosi. tetap semangat ya thor💪
This Is Me
Wow! 5 tahun naik 2 level dari mayor ke letkol ke kolonel.
eec
nadia itu bukannya yg di telp sama Alya untuk minta tolong ya. kenapa jadi ketemu di pengungsian pas kondisi hamil besar. padahal di awal dah oke banget ceritanya. masuk bab ini jd ilang feel nya
Nung_che
kehidupan di pelosok kenapa ada percakapan seperti ini? setahu aku pelosok identik dg bahan bakar kayu.
bibuk Hannan & Afnan
suka banget sama karakter nya Alya kalem tegas tdk menghakimi 👍keren lah
bibuk Hannan & Afnan
wkwkwkwk barang bukti 😄😄😄😄
bibuk Hannan & Afnan
makanya kenali lah Dan buka sedikit hatimu berikan ruang untuk Alya berteman lah dulu, tak kenal maka tak sayang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!