Indonesia
NovelToon NovelToon
Jodoh Dadakanku

Jodoh Dadakanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Ketos / Romansa Fantasi
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Wulan Antya

Hidup mati seseorang tidak ada yang tahu.
Begitupun dengan jodoh.

Hawa yang memberontak karena dijodohkan dengan kakak kelasnya akhirnya mencoba menerimanya, dengan perjanjian agar di rahasiakan. mengingat mereka masih duduk di bangku sekolah, tapi qodarullah ibu Hawa sakit dan meminta Hasby mengucap ijab kabul secara rahasia di tempat ibu Hawa dirawat. ibunya meninggal dengan tenang karena Hawa tidak sendiri lagi, sudah ada Hasby dan keluarga barunya.

Dengan berat hati Hawa menerima status barunya itu serta mencoba menjalaninya. Entah mampu bertahan atau berhenti ditengah jalan, Hawa tak tahu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wulan Antya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 26

Langit menampakkan keindahannya, berwarna oranye dan matahari berwarna kuning emas. Burung-burung berterbangan kembali ke sarang mereka, sentuhan angin yang mulai terasa dingin di kulit. Menambah kenyamanan dan ketenangan.

Gorden yang samar menghalau pantulan cahaya matahari sore di kamar tidur Hawa menimbulkan bayang-bayang dedaunan bergoyang karena angin. Hawa mengerjapkan mata nya perlahan. Kepalanya berdenyut nyeri, badannya terasa lemas dan panas sekali. Ia hampir tak mampu bangun. Matanya memanas, menggenang air mata lantas meluncur perlahan.

Ia terkejut karena sudah berasa di ranjang kamarnya yang empuk, ia masih memakai jaket Hasby. Tersenyum miris mengingat kejadian tadi siang. Ia berusaha menghindar tapi Hasby malah mendekat terus.

Ia tidak menduga kalau Hasby yang menggendongnya dari mobil pindah ke kamarnya.

Ia memandang ke segala penjuru kamar, tapi tidak menemukan suaminya. Kemana dia, pikirnya.

Di cafe Tian...

Hasby memarkir motornya di dekat mobil milik Tian. Ternyata sahabatnya itu sudah datang duluan.

Cafe sore ini terlihat padat, Hasby menghampiri kasir mengucapkan sesuatu. Kasir memberi tahu kalau Hasby disuruh ke ruang samping yang lebih privat.

Dia melihat Tian tengah berkutat dengan laptopnya dan di meja satunya sudah duduk Tiar yang bermain ponsel, seorang diri. Meja yang berhadapan dengan Tian. Hasby mendekat dan mengambil duduk di samping Tian.

"Assalamu'alaikum," salamnya tenang.

"Wa'alaikumsalam," jawab mereka serempak. Mendongak melihat Hasby.

"Ganteng banget sih pacar aku," ucap Tiar dengan manja, tersenyum ceria.

"Jaga ucapanmu!" sentak Hasby dingin, tatapan matanya sangat mengintimidasi lawan bicaranya.

"Apa sih By, galak banget," cicit Tiar memasang wajah sedih.

"Langsung aja, aku nggak suka bertele-tele," Hasby menatap dingin Tiar.

"Kenapa harus terburu-buru sih? Santai aja dulu By, kita ngobrol mengenang masa dulu ya," tawar Tiar, sebenarnya dia tahu kalau Hasby tengah menolak dengan tegas. Tapi Tiar pura-pura buta dengan semua itu.

"Aku berkata sekali ini, jadi dengarkan baik-baik Tiar Azani! Aku dan kamu memang dulu sempat dekat, tapi setelah kamu memilih sekolah diluar negeri dan tidak ingin berhubungan lagi denganku. Sejak saat itu kita tidak ada hubungan lagi!? ungkap Hasby datar, tetap menatap tajam Tiar. Tian yang senantiasa menatap Laptopnya, tidak bersuara sedikitpun.

"Apa kamu terus mau mengelak By, apa kamu pura-pura lupa? Aku pergi karena kamu pernah ingin berbuat lebih padaku," ucap Tiar gemetar, matanya telah menggenang air mata yang siap terjatuh.

"Apa yang aku perbuat padamu Tiar?" gertak Hasby dingin, nada suaranya naik satu oktaf. Sorot mata yang sangat tajam, seolah siap menguliti Tiar.

"Kamu menyeretku ke apartemenku dan mencoba memaksaku,,, kamu ingin aku melakukannya denganmu By, tega kamu By," isak Tiar kencang, air matanya jatuh deras di kedua pipinya.

Hasby mengepalkan erat tangannya, mencoba menahan amarahnya yang mulai muncul ke permukaan.

"Insiden itu sudah di tindak lanjuti dan sudah di buktikan, bukan aku, tapi kamu yang memasukkan obat ke minumanku. Kamu yang membuat aku seperti pelakunya, padahal aku korban disini, bukan kamu!" gertak Hasby keras,rahangnya mengeras tegas, tangannya mengepal kuat.

"Kamu bohong By, kamu punya kuasa dan uang untuk menutupinya, dengan mudahnya kamu menginjak aku seperti ini, betapa kecewanya orang tuaku karena aku yang kamu paksa sentuh malam itu. Aku di asingkan keluar negeri juga karena mu Hasby!" teriak Tiar diselingi isak tangis yang tidak berhenti.

Hasby menatap dingin dan jengah pada Tiar Azani. Sungguh konyol kalau kamu mau menuntut padaku sekarang batinnya datar.

"Aku tidak punya apa-apa untuk menutupi kasus itu. Orang tuaku juga tidak ingin repot-repot membuang waktu dan uang mereka untuk hal yang tidak dilakukan oleh anaknya. Karena mereka percaya kalau aku tidak seperti itu. Jadi Tiar, selagi aku masih bisa bersabar, tolong jangan mempermalukan dirimu lagi, sudahi semuanya sekarang dan berhentilah!" pungkas Hasby tegas.

"Kamu berubah By,,, Apa karena perempuan yang kemarin di rumahmu?! Siapa dia?" sungutnya marah, Tiar mencoba menarik Hasby ke pelukannya lagi tapi kali ini Hasby sadar dan sulit di kendalikan seperti dulu.

Tian menangkap gelagat perubahan Tiar, dan dia diam-diam mengamatinya.

"Jangan menyeret orang yang tidak ada hubungannya dengan masalahmu. Aku hanya ingin menegaskan tentang masalah yang sudah basi dan masalah yang seharusnya bukan untuk ku tapi di timpakan untukku," dengan dingin Hasby menjelaskannya.

"Aku nggak terima, pokoknya aku akan temui perempuan itu dan membuat perhitungan dengannya!" bentak Tiar sengit, mata memerah menatap penuh luka pada Hasby.

pintar sekali dia bermain drama, semoga Hasby tidak termakan bujukan Tiar, sungguh memuakkan batin Tian jengah, menatap sengit pada Tiar.

"Sekali kamu menyentuhnya, aku akan pastikan kamu lebih menderita dari ini!" nada bicaranya datar tapi penuh tekanan dan sorot mata yang setajam silet itu membuat Tiar membeku.

Air mata meleleh di pipinya, segera tangannya mengusap air matanya dengan kasar.

"Baik, aku tidak akan mengganggu kamu lagi," Tiar berdiri dengan kasar sampai kursinya terguling. Dia menyambar tas dan kunci mobilnya. Berjalan cepat keluar dari cafe Tian menuju mobilnya. Dia tidak menoleh lagi, tidak menghiraukan orang-orang yang melihatnya. Apalagi pada Hasby.

Tiar mengemudikan mobil dengan kecepatan yang mengerikan. Dia seolah melampiaskan amarah yang muncul karena gagal mendapatkan Hasby lagi. Apa harus dengan cara kasar dia harus mendapatkannya. Tapi dia memikirkan ancaman yang diucapkan Hasby di cafe tadi. Hasby nggak main-main kalau ada yang mengusiknya atau miliknya.

Tiar sangat hafal dengan sifat Hasby yang satu itu. Dia bingung memikirkan cara seperti apa yang harus di lakukan supaya Hasby kembali kepadanya.

"Tian, aku balik duluan," Hasby memungut jaket hitamnya dan mengenakannya kembali.

Hasby selalu teringat kondisi Hawa dirumah. Dia memikirkan apa Hawa sudah bangun dan minum obatnya atau belum. Atau ia masih terlelap.

"Ok, hati-hati bro,,,masalah tadi jangan di pikirin lagi," Tian menatap Hasby tenang. Setelah bersalaman mereka keluar dari ruangan cafe.

Mereka berpamitan pada karyawan cafe. Karena mereka memang sudah saling mengenal. Tian mengemudikan mobilnya dan Hasby mengendarai motor sportnya. Mereka berpisah jalan.

Jalanan petang ini begitu ramai, Hasby mengendarai motornya pelan, karena kondisi jalan yang ramai. Langit yang menggelap di beberapa sisi, suara kendaraan yang saling bersahutan, bising memang, tapi itulah keriuhan jalan yang ramai kendaraan. Lampu-lampu menyala di hampir sudut rumah dan bangunan-bangunan kota menambah keindahan petang ini.

Terdengar suara adzan maghrib berkumandang dengan merdunya, menyapa lembut telinga orang yang mendengarkannya serta menggetarkan hati.

Hasby berhenti di masjid terdekat,ia segera melepaskan jaket dan helmnya. Menuju tempat wudhu pria, ia lalu berwudhu dan melangkahkan kakinya mantap memasuki masjid yang begitu ramai dan penuh dengan orang-orang yang hendak sholat maghrib.

Dengan khusyuk nya ia melaksanakan sholat. Ia mendengarkan kultum dan ikut berdzikir bersama. Hatinya merasa tenang, pikirannya tidak serumit dan sepanas tadi.

Ia duduk menatap halaman masjid yang tadinya penuh mulai terlihat lengang. Hendak memakai sepatunya ia mendengar bunyi handphonenya, sebuah pesan diterima, dari Hawa ternyata. Dengan cepat ia membacanya.

[Assalamu'alaikum kak,, boleh minta tolong?]

[Boleh, minta tolong apa hm?]

Hasby tersenyum lembut membaca pesan dari Hawa, sepertinya dia sudah tidak marah lagi.

[Tolong beliin martabak manis kak, cokelat dan kacang ya kak, bisa nggak kak?]

[insyaallah, tunggu dirumah. makan bubur dan minum obat dulu!]

[Ok siap boss.]

Hasby tidak membalasnya lagi. Segera ia menyimpan gawainya dan mengendarai motornya cepat menuju tempat jualan martabak manis langganannya.

Setelah mendapatkan pesanan Hawa, segera Hasby memacu motornya kencang dan dalam waktu singkat dia telah sampai dirumah.

"Assalamu'alaikum, " Hasby membuka pintu utama perlahan. Ia berjalan menuju ruang makan.

Hawa yang mendengar orang mengucap salam langsung menoleh dan tersenyum lembut. ia segera bangkit dari duduknya, meraih tangan suaminya dan mencium punggung tangannya lembut. Senyuman masih tertambat di wajahnya, apalagi melihat Hasby menenteng sesuatu. Pasti pesanannya, pikirnya dalam hati.

"Sesuai pesanan ya Wa," Hasby mengangkat bungkusan itu tinggi dan menggoyang-goyangkannya. Seolah memamerkan pada istri kecilnya.

"Makasih ya kak," Hawa dengan antusiasnya meraih bungkusan martabak manis itu dan segera membukanya di atas meja makan. Ia duduk dan mengambil satu potong lantas memasukkannya ke dalam mulutnya. Matanya terpejam,bibirnya mengunyah lembut sembari tersenyum.

Hasby melihat lekat dengan lembut, apakah seenak itu? batinnya penasaran.

"Kakak juga ikut makan,,, Bik, ayo ikut makan, ini martabak terenak yang pernah Hawa makan Bik. Bibik sini duduk dan ikut makan," celotehnya yang senang dan tanpa di buat-buat. Bibik dan Hasby ikut menikmatinya. Mereka bertiga duduk dan sesekali bercerita hal-hal yang lucu. Membuat hawa tertawa lembut, setelah kenyang ia minum air putih segelas penuh sampai tandas.

Hasby ke kamarnya dan segera mandi dan berganti baju. Karena dia dari luar, pasti banyak debu dan berbagai macam aroma menempel di bajunya.

Bibik membereskan semuanya sendiri, karena Bibik melarang Hawa untuk membantu. Mengingat Nona Mudanya masih dalam masa pemulihan, waktu sore tadi Bibik hendak membangunkan Hawa di kamarnya tapi begitu membuka pintu dan melihat Hawa terjatuh di lantai membuat Bibik kaget bukan main.

Niat hari ingin menghubungi Hasby tapi Hawa melarangnya. Akhirnya Bibik yang membantu Hawa, sampai bisa turun ke ruang makan, sekarang hanya tertinggal demamnya dan lemas sedikit.

Hawa mengikuti Hasby ke ruang tv pelan. Memang menjadi kebiasaan mereka, setelah makan pasti lanjut bersantai di ruang tv. Mengerjakan PR juga kadang di sana. Karena ruang tv nyaman untuk bersantai.

Hasby membuka laptopnya dan memulai bekerja, sedangkan Hawa duduk bersandar di sofa menonton upin ipin kesukaannya.

Saking seriusnya Hasby bekerja, ia tidak menyadari kalau Hawa tengah memperhatikannya sejak tadi.

Penampilan Hasby memang tergolong sederhana, tapi di mata Hawa, Hasby selalu terlihat tampan dan mempesona.

Rambut yang masih setengah basah dan berantakan, mengenakan kaos putih dan celana pendek selutut. Ditambah Hasby memakai kacamata anti radiasinya, yang sangat cocok bila ia kenakan. Garis rahangnya yang tegas dan kulitnya putih menambah ketampanannya meningkat berkali-kali lipat.

Membuat perempuan mana saja pasti terpesona padanya.

"Ehem,, kak, boleh ganggu bentaran aja nggak?" ucap Hawa pelan, nyengir lebar pada suaminya itu.

Hasby mendongak dan melihat Hawa.

"Ada apa? bentar aku matikan dulu laptopnya," segera Hasby mematikan laptopnya dan menyimpan di atas meja tv. Membenahi duduknya menghadap istri kecilnya.

"Ada apa hm?" tatapannya lembut membuat Hawa salah tingkah jadinya.

"Kak, siapa perempuan kemarin itu?" cicit Hawa pelan, ketar-ketir kalau pertanyaannya terlalu lancang, atau terlalu ingin tahu, padahal ia dan Hasby menikah karena perjodohan.

Hasby terus diam memandang lekat istrinya itu. Dari mana ia akan menjelaskannya. Apakah Hawa bisa menerima penjelasannya itu atau malah menyalahkannya. Hasby kebingungan sendiri.

Hawa mengigit bibir bawahnya, cemas,takut kalau ia salah memberi pertanyaan pada suaminya itu.

1
devita yudhayanti
bagus...lanjut
Wulan Antya: terimakasih kak🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!