Indonesia
NovelToon NovelToon
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:12.5k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.

​Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

​Angin pagi yang berhembus di sekitar lokasi proyek swalayan cabang kedua terasa makin dingin, mengikis sisa-sisa euforia yang tadinya melingkupi dada Bian. Di atas bangku kayu panjang itu, Bian menatap Husna dengan rasa waswas. Ketenangan istrinya bukan lagi tampak sebagai kepasrahan, melainkan sebuah dominasi terselubung yang sangat mengintimidasi.

​"Apa syaratmu, Na?" tanya Bian ragu. Suaranya bergetar tipis, tak lagi memiliki ketegasan seorang eksekutif.

​Husna membetulkan posisi duduknya. Matanya yang jernih dan teduh menatap Bian tanpa kedipan sedikit pun.

​"Syaratku sederhana, Mas, tapi bersifat mutlak dan tidak bisa ditawar," buka Husna, suaranya mengalir tenang bagai air namun sedingin es. "Pertama, 100% gaji resmi, bonus tahunan, tunjangan, dan segala bentuk penghasilanmu dari posisi Manajer di perusahaan tempatmu bekerja saat ini, harus ditransfer utuh ke rekeningku setiap bulannya. Tanpa dipotong sepeser pun."

​Bian terbelalak. Wajahnya seketika memucat. "Apa?! Seratus persen, Na? Lalu bagaimana Mas memberi nafkah untuk Salma?"

​Husna menyunggingkan senyum tipis sebuah senyuman yang menyiratkan sindiran tajam. Ia mengarahkan pandangannya pada fisik bangunan swalayan megah dua lantai yang berdiri di hadapan mereka.

​"Bukankah kamu baru saja membanggakan kesuksesan bisnismu ini padaku, Mas?" potong Husna halus. "Kamu bilang keuntungan swalayan pertama melompat jauh dan cash flow-nya sangat sehat, sampai kamu mampu membangun cabang kedua yang lebih besar ini."

​Husna kembali menatap Bian lurus-lurus. "Mulai hari ini, kamu wajib memberikan nafkah untuk istri mudamu murni dan hanya berasal dari hasil keuntungan bersih bisnis swalayan ini. Kalau kamu yakin bisnismu hebat dan mampu menopang kehidupan wanita itu, harusnya ini bukan masalah besar buatmu, bukan?"

​"Tapi, Na..." Bian mencoba menyela, mendadak merasa lidahnya kelu.

​"Tidak ada tapi, Mas," tegas Husna. "Itu poin pertamanya. Poin keduanya, seluruh aset rintisan rumah utama yang kita tinggali, tanah di kawasan komersial, dan deposito harus balik nama secara legal atas nama Devan dan Deka. Salma dan anak-anaknya kelak tidak berhak menyentuh sepeser pun aset masa lalumu."

​Husna merogoh tas tangannya, mengeluarkan selembar draf perjanjian bermeterai yang sudah disiapkannya secara matang beserta sebuah pulpen berkelas dari dalam sana.

​"Aku sudah menyiapkan draf perjanjiannya. Kita tanda tangani ini secara sah di hadapan notaris," lanjut Husna seraya meletakkan kertas tersebut di antara mereka. "Kalau kamu dan Salma menyetujui syarat ini, aku akan memberikan izin tertulis untuk pernikahan kalian tanpa ada keributan sedikit pun."

​Bian menatap kertas di atas bangku kayu itu dengan mata tak berkedip. Pikiran pria itu berputar hebat. Di satu sisi, egonya sebagai pria paruh baya yang sedang mabuk kepayang menuntutnya untuk segera mendapatkan izin nikah. Di sisi lain, mengunci seluruh gaji resminya ke rekening Husna terasa seperti menyerahkan lehernya sendiri ke dalam jerat.

​Namun, rasa jumawa dan kesombongannya atas kesuksesan swalayan baru itu membius akal sehatnya. Bian membatin, Swalayan pertama saja untungnya ratusan juta per bulan. Ditambah cabang kedua ini, aku pasti bisa membiayai Salma dengan sangat mewah tanpa perlu menyentuh gaji kantor.

​Bian lupa... atau lebih tepatnya menutup mata... bahwa tingginya keuntungan swalayan pertama itu terjadi karena Husna secara diam-diam menginstruksikan jaringan supplier besarnya untuk memberikan potongan harga khusus dan tenor pembayaran yang sangat longgar.

​"Bagaimana, Mas? Kamu bilang cinta kalian jujur dan kalian siap mengarungi hidup baru?" desak Husna lembut, memberi pukulan psikologis tepat pada ego suaminya. "Atau... Salma sebenarnya hanya mau menikmati fasilitas gajimu sebagai Manajer?"

​"Bukan begitu!" potong Bian cepat, tersulut oleh kalimat Husna. Gengsinya membumbung tinggi. "Salma mencintaiku apa adanya! Dia bukan wanita matrealistis seperti yang kamu bayangkan!"

​"Kalau begitu buktikan," jawab Husna dingin. "Bawa kertas ini, tunjukkan pada Salma. Kalau dia benar mencintaimu dan percaya pada kemampuan bisnismu, dia tidak akan keberatan dinafkahi dari hasil swalayanmu."

​Bian mengepalkan tangannya. Terbuai oleh gengsi dan rasa percaya diri yang berlebihan, pria itu akhirnya meraih kertas tersebut.

​"Baik! Mas terima syaratmu, Na!" sahut Bian mantap. "Mas akan buktikan kalau Mas bisa menghidupi Salma dari bisnis ini, dan Mas akan pastikan Salma menyetujuinya."

​Husna menyunggingkan senyum kemenangan yang tersimpan rapi di balik keanggunan wajah berhijabnya. "Bagus. Aku tunggu kabarmu nanti siang, Mas."

​Siang harinya, di sebuah kafe elegan tak jauh dari pusat perkantoran, Bian duduk berhadapan dengan Salma. Wanitamuda itu membaca lembar perjanjian di tangannya dengan kening berkerut dalam.

​"Mas Bian... ini maksudnya apa?" tanya Salma dengan nada manja yang dibuat-buat, namun tersirat rasa tidak puas. "Kenapa gaji Mas sebagai Manajer semuanya harus masuk ke rekening Mba Husna? Terus aku cuma dapat dari hasil swalayan?"

​Bian dengan cepat menggenggam tangan Salma, mencoba memberikan ketenangan seraya menunjukkan pesona prianya.

​"Kamu tenang dulu, Sayang," ujar Bian lembut. "Ini cuma formalitas supaya Husna mau memberi izin tanpa bikin drama. Kamu tahu sendiri kan, bisnis swalayan Mas yang baru itu untungnya besar sekali? Cabang kedua juga sudah mau buka."

​"Tapi Mas..."

​"Salma," potong Bian, menatap dalam-dalam mata wanita muda itu. "Kamu cinta kan sama Mas? Kamu percaya kan sama kemampuan Mas mengelola bisnis? Hasil swalayan itu bahkan lebih dari cukup untuk membelikanmu tas bermerek dan rumah baru nantinya."

​Salma terdiam. Di matanya, Bian adalah sosok pria matang yang kaya raya dan tak mungkin bangkrut. Salma mengira ini adalah jalan pintas untuk menggeser posisi Husna perlahan-lahan.

​"Ya sudah kalau itu mau Mas Bian," ucap Salma akhirnya, menyunggingkan senyum manis yang dipaksakan. "Aku setuju."

​Sore harinya, di kantor notaris berpendingin udara yang tenang, penandatanganan berkas perjanjian itu berlangsung sah secara hukum. Husna membubuhkan tanda tangan di atas kertas bermeterai tersebut dengan tenang, disusul oleh Bian dan Salma.

​Saat dokumen legal itu selesai distempel, Husna mengambil salinan miliknya dan memasukkannya dengan rapi ke dalam tas. Salma menatap Husna dengan tatapan dagu terangkat seolah memamerkan kemenangannya. Namun, Husna hanya membalasnya dengan senyuman anggun yang sangat berkelas.

​"Selamat untuk kalian berdua," ucap Husna halus namun mantap. "Silakan persiapkan pernikahan kalian dengan baik. Aku tidak akan menghalangi."

​Bian bernapas lega luar biasa, sementara Salma makin percaya diri. Husna melangkah keluar dari ruangan notaris menuju mobilnya. Di selasar gedung, ia merogoh ponsel di dalam tasnya, melihat daftar kontak supplier utamanya.

​Jemarinya menahan diri untuk tidak mengirim pesan penutupan fasilitas bisnis saat ini.

​Belum waktunya, batin Husna dingin seraya menyunggingkan senyum tipis. Biarkan mereka menggelar pesta pernikahan itu dulu. Biarkan Salma merasa sudah berhasil bertakhta.

​Husna tahu persis, jika ia memutus arus kas swalayan Bian sekarang, Bian bisa saja curiga dan mundur dari pernikahan. Husna ingin Bian dan Salma benar-benar terikat dulu dalam pernikahan sah. Begitu pesta usai dan Salma mulai menuntut kehidupan mewah dari hasil swalayan itu... di situlah Husna akan menarik seluruh karpet yang sedang mereka pijaki.

​Husna masuk ke dalam mobilnya dengan ketenangan mutlak. Pintu perangkap sudah terkunci rapat, dan sang Ratu siap menyaksikan kehancuran mereka pada waktunya.

1
falea sezi
🤣🤣 makanya uda punya istri cantik anak ganteng2 berulah sok pengen poligami🤣🤣😒
Nieta Poedjo
cepet sekali derita Bian
Thewie
hahah mampuslah kau bian.. gatal burung kau itukan. sok muda, sok kuat, sok kaya padahal nyatanya alaahhhhhhhh
Lee Mba Young
lanjuttt.. selalu setia nunggu lanjutannya.
Lee Mba Young
gk papa husna jd janda yg penting bnyak duit, punya anak bhgia Wes.
Muft Smoker
Dana talang ,, Dana talang ,,
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒

udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
aku
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Noey Aprilia
Mkanyaaaa.....
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
Lee Mba Young
🤣🤣🤣👍👍🔥
Heni Setiyaningsih
kenapa Salmaaa????dapat zonk ya ha ha ha🤭
Heni Setiyaningsih
hahaha,,,,, bangun Salma,jgn kebanyakan mimpi
Muft Smoker
heran ma bian ,, kurang ap husna jdi istrii,,
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
falea sezi
🤣🤣 najis amat bertahan
falea sezi
heleh strategi apa 🤣sok kuat mending keruk harta nya trs ceraii🤣🤣🤣 ngapain berbagi batangan satu doank gk jijik apa 😒
Noey Aprilia
Mau heran,tp d dnia nyta pun emng bnyk yg ky gt...mmbuang berlian,dmi smpah yg ga brhrga....udh khilangn istri,ank,usaha,bntr lg jbatan yg melayang.....drita apa lg yg akan mreka hdapi????😛😛😛
Muft Smoker
gmn bian ,, udh mulai merasa penyesalan Blum ,,
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
Noey Aprilia
Udh d usir,msih aja ngemis2....ga tau malu.....😡😡😡...
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
Nieta Poedjo
halo penulis
apa itu kehalangan?
Lee Mba Young
🔥👍👍👍 joss lanjuttt
Heni Setiyaningsih
yah,,,,,jadi gembel dong🤭🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!