KEBANGKITAN SANG PEWARIS SAKTI

KEBANGKITAN SANG PEWARIS SAKTI

dari Bab 1: Darah di Atas Giok

​Byur!

​Air kotor dari ember pel tumpah, membasahi sepatu kanvas usang milik Ye Chen.

​"Dasar sampah tidak berguna! Mengepel lantai saja kau tidak becus. Untuk apa keluarga Su memberi makan anjing sepertimu selama tiga tahun?!"

​Suara melengking Zhao Mei, ibu mertuanya, bergema tajam di ruang tamu vila keluarga Su yang mewah. Wanita paruh baya itu menatap Ye Chen dengan rasa jijik yang mendarah daging, seolah menatap serangga yang merayap di lantai marmernya.

​Ye Chen menunduk, menyembunyikan kilatan di matanya. Ia buru-buru mengambil kain lap dan membersihkan genangan air. "Maaf, Ibu. Saya akan mengepelnya lagi."

​"Tutup mulutmu! Jangan panggil aku Ibu!" Zhao Mei mendengus kasar, melipat lengannya di dada. "Hari ini Grup Su sedang menghadapi krisis keuangan. Perusahaan butuh suntikan dana lima puluh juta yuan hari ini juga atau kita akan bangkrut! Apa yang bisa kau lakukan, hah? Kau hanya bisa menyapu, memasak, dan mencuci pakaian dalam kami! Berbeda jauh dengan Tuan Muda Wang Hao yang bersedia memberikan dana itu tanpa berkedip."

​Tepat saat nama itu disebut, pintu depan terbuka.

​Seorang pria muda dengan setelan jas desainer seharga ratusan ribu yuan berjalan masuk dengan senyum arogan. Di belakangnya, masuk pula Su Yuhan, istri Ye Chen.

​Su Yuhan memiliki kecantikan yang bisa menjatuhkan sebuah kota—kulitnya seputih pualam, wajahnya dipahat sempurna, namun selalu memancarkan aura sedingin es. Hari ini, keangkuhan es itu tampak retak. Wajahnya pucat dan kelelahan, memancarkan keputusasaan yang mendalam.

​"Bibi Zhao, kau terlalu memujiku," ucap Wang Hao berbasa-basi, meski matanya menatap Ye Chen dengan tatapan merendahkan, layaknya melihat seekor kecoak.

​"Oh, Tuan Muda Wang! Silakan duduk, silakan!" Zhao Mei langsung berubah ramah. Wajahnya yang tadi bengis kini dipenuhi senyum lebar yang menjilat.

​Wang Hao duduk santai di sofa kulit mahal, lalu menatap Su Yuhan yang berdiri diam di dekat pintu.

​"Yuhan, tawaranku masih berlaku. Aku akan menyuntikkan lima puluh juta yuan ke perusahaanmu hari ini juga. Syaratnya hanya satu..." Wang Hao menyeringai, lalu menunjuk ke arah Ye Chen yang memegang gagang pel. "...ceraikan sampah ini besok pagi, dan jadilah istriku."

​Wajah Ye Chen mengeras. Jemarinya mencengkeram gagang pel hingga buku-buku jarinya memutih. Tiga tahun dia dihina, dia bisa menahannya. Tapi mencoba merampas istrinya secara terang-terangan di depannya? Itu melewati batas.

​"Tuan Muda Wang, tolong jaga ucapanmu. Yuhan adalah istriku yang sah!" sahut Ye Chen, suaranya berat dan tegas.

​Plak!

​Sebuah tamparan keras mendarat telak di pipi Ye Chen. Kepalanya terpelanting ke samping, meninggalkan jejak merah berbentuk lima jari di wajahnya.

​Zhao Mei berdiri di depannya dengan dada naik turun, matanya melotot tajam. "Beraninya kau membentak Tuan Muda Wang?! Kau pikir kau siapa? Kau hanya menantu benalu yang kami pungut dari jalanan! Yuhan, cepat tanda tangani surat cerai ini. Ibu sudah menyiapkannya!"

​Zhao Mei melempar sebuah dokumen ke atas meja.

​Su Yuhan menggigit bibir bawahnya hingga nyaris berdarah. Dia menatap Ye Chen dengan tatapan rumit—campuran antara kasihan, marah, dan putus asa.

​"Ye Chen... maafkan aku," suara Yuhan bergetar pelan. "Tapi Grup Kosmetik Su adalah peninggalan kakek. Itu jerih payahnya seumur hidup. Aku... aku tidak bisa membiarkannya hancur."

​"Yuhan, kau tidak perlu melakukan ini. Aku bisa mencari jalan keluar. Beri aku waktu," kata Ye Chen, melangkah maju dan mencoba memegang tangan istrinya untuk menenangkannya.

​"Singkirkan tangan kotormu dari calon istriku!"

​Wang Hao melompat berdiri, mengayunkan kakinya dan menendang perut Ye Chen dengan keras.

​Brak!

​Tubuh kurus Ye Chen terpental ke belakang. Kepalanya membentur ujung meja marmer dengan suara retakan yang mengerikan. Darah segar seketika menyembur dari pelipisnya, menetes deras ke lantai.

​"Ye Chen!" Su Yuhan menjerit panik, instingnya membuatnya ingin berlari mendekat, namun tangannya ditahan kuat-kuat oleh Zhao Mei.

​"Biarkan saja sampah itu mati! Jangan kotori tanganmu!" desis ibu mertuanya.

​Pandangan Ye Chen mengabur. Rasa sakit yang luar biasa menusuk tengkoraknya. Darah hangat mengalir dari kepalanya, turun ke leher, membasahi dadanya, dan meresap ke dalam sebuah liontin giok hitam kusam yang selalu ia kalungkan sejak kecil.

​Pada detik darahnya menyentuh permukaan giok, ukiran naga di atasnya menyala.

​Sebuah cahaya keemasan yang hanya bisa dilihat oleh Ye Chen melesat dari giok itu, menembus tepat ke tengah alisnya. Panas yang membara meledak di dadanya, menyebar bagai lava ke seluruh pembuluh darah dan meridian tubuhnya.

​Di dalam kesadarannya yang gelap gulita, sebuah suara kuno yang penuh keagungan bergema, menggetarkan jiwanya.

​"Aku adalah Penguasa Tabib Naga Kuno. Pewarisku, kau memiliki darah suci Keluarga Ye namun hidup bergelimang hinaan. Keturunanku tidak boleh merangkak layaknya anjing! Hari ini, aku mewariskan padamu Kitab Medis Kehidupan dan Kematian serta Teknik Bela Diri Penakluk Naga. Bangkitlah... dan buatlah langit serta bumi berlutut di bawah kakimu!"

​Dalam sekejap, ledakan informasi menyapu otak Ye Chen. Jutaan resep pil dewa, teknik akupunktur magis yang mampu membangkitkan orang mati, hingga seni bela diri tingkat tinggi terukir secara permanen dalam ingatannya.

​Seiring dengan itu, energi spiritual merayap ke luka di kepalanya. Pendarahannya berhenti seketika, dan daging yang robek menyatu kembali dalam hitungan detik.

​Di ruang tamu, Wang Hao tidak menyadari apa yang baru saja terjadi. Pria arogan itu tertawa keras sambil mencoba memeluk pinggang Su Yuhan. "Yuhan, biarkan saja anjing itu pingsan di situ. Mari kita rayakan kesepakatan ki—"

​"Singkirkan tanganmu darinya."

​Sebuah suara dingin, seberat gunung dan sedingin gletser, membekukan seisi ruangan.

​Semua orang menoleh. Ye Chen perlahan berdiri. Postur tubuhnya yang biasanya membungkuk kini tegak lurus bagai pedang takhta yang baru dicabut dari sarungnya. Tatapan matanya yang dulunya redup dan patuh, kini setajam elang pemangsa, memancarkan aura intimidasi yang membuat napas siapa pun tercekat.

​"K-kau belum mati?" Wang Hao terkejut melihat Ye Chen berdiri tegak tanpa setetes pun darah baru yang mengalir, namun segera mendengus remeh. "Dasar kecoak. Berani kau menatapku seperti itu—"

​Sebelum Wang Hao menyelesaikan kalimatnya, bayangan Ye Chen berkedip. Terlalu cepat untuk diikuti mata telanjang.

​Brak!

​Wang Hao tiba-tiba sudah terkapar di lantai. Kaki kanan Ye Chen menginjak dada pria arogan itu dengan kekuatan mengerikan.

​Krek!

​Suara dua tulang rusuk yang patah bergema di ruang tamu yang mendadak sunyi senyap. Wang Hao menjerit histeris, wajahnya memerah karena kehabisan napas di bawah tekanan kaki Ye Chen.

​"Sekali lagi kau menyentuh istriku, aku akan mencabut nyawamu," bisik Ye Chen. Suaranya datar, namun membekukan sumsum tulang.

​Zhao Mei menjerit histeris, mundur hingga menabrak dinding. Su Yuhan menutup mulutnya tak percaya, matanya terbelalak lebar.

​Apakah ini Ye Chen? Apakah ini suami pengecut yang selama tiga tahun tak pernah berani melawan saat ditampar dan dicaci maki? Aura pembunuh macam apa ini?!

​"L-lepaskan aku! Beraninya kau, sampah! Keluarga Wang akan membunuhmu!" ancam Wang Hao dengan napas tersengal-sengal, darah merembes dari sudut bibirnya.

​Tepat pada detik ketegangan itu memuncak, suara deru mesin mobil yang berat dan berwibawa terdengar dari halaman depan. Bukan hanya satu, tapi beberapa mobil sekaligus.

​Lampu depan menembus jendela kaca vila. Empat mobil Rolls-Royce Phantom hitam pekat, masing-masing bernilai puluhan juta yuan, berbaris rapi di depan gerbang.

​Pintu-pintu mobil terbuka serentak. Belasan pria berjas hitam dengan earpiece dan postur tegap—ciri khas pengawal elit tingkat tinggi—turun dengan cepat, mengamankan perimeter.

​Dari mobil kedua, seorang pria tua berpakaian tradisional Changshan berwarna abu-abu melangkah keluar. Meski usianya sudah senja, langkahnya mantap dan auranya memancarkan otoritas mutlak.

​Melihat pria tua itu masuk ke dalam rumah dari balik pintu yang terbuka, mata Wang Hao yang berada di bawah kaki Ye Chen nyaris melompat keluar. Wajahnya yang tadi marah kini berubah menjadi pucat pasi.

​Itu adalah Penatua Lin! Kepala Pelayan dari Keluarga Ye di Jingcheng (Ibu Kota)—keluarga terkuat yang menguasai nadi ekonomi seluruh negeri! Bahkan ayah Wang Hao harus bersujud jika bertemu dengan asisten dari pria tua ini.

​Apa yang dilakukan tokoh setingkat dewa ini di kota kecil Jiangcheng? Dan mengapa di vila keluarga Su yang nyaris bangkrut?!

​Zhao Mei buru-buru merapikan pakaiannya, berniat menyambut dengan wajah menjilat maksimal. "T-Tuan besar, apakah Anda mencari—"

​Penatua Lin mengabaikan Zhao Mei seolah wanita itu hanyalah udara kosong. Dia berjalan lurus melewati Su Yuhan, melewati Zhao Mei, dan berhenti tepat di depan Ye Chen yang masih menginjak dada Wang Hao.

​Kemudian, di bawah tatapan tak percaya semua orang...

​Bruk.

​Pria tua dengan status luar biasa itu berlutut dengan satu kaki. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, dengan nada suara yang penuh rasa hormat hingga bergetar.

​"Tuan Muda Ye, masa hukuman penyamaran Anda selama tiga tahun telah selesai. Tuan Besar memerintahkan saya untuk menjemput Anda kembali. Keluarga Ye di Ibu Kota... dan seluruh aset keluarga senilai tiga triliun dolar, kini menunggu Anda untuk mewarisinya."

​Hening.

Ruang tamu itu sunyi senyap bak kuburan. Waktu seolah berhenti berdetak.

​Rahang Zhao Mei jatuh hingga nyaris menyentuh lantai. Su Yuhan mematung bagai tersambar petir. Dan Wang Hao, yang masih berada di bawah sol sepatu Ye Chen, merasa jiwanya baru saja melayang meninggalkan tubuhnya.

​Menantu benalu yang selama ini mereka jadikan keset kaki... adalah Tuan Muda Pewaris Tunggal dari keluarga paling berkuasa di seluruh daratan Tiongkok?!

Terpopuler

Comments

yos helmi

yos helmi

sdh banyak cerita seperti alur ini.. tp semua ng pernah tamat.. cerita ciplakan/saduran.. jd jgn harap tamat

2026-08-12

1

lihat semua
Episodes
1 dari Bab 1: Darah di Atas Giok
2 BAB 2: Kartu Hitam Tertinggi dan Penolakan Sang Pewaris
3 BAB 3: Rapat Pemegang Saham dan Teror Sang Naga Emas
4 BAB 4: Tangan Dewa Penakluk Maut
5 BAB 5: Plakat Macan Putih dan Rencana Busuk Keluarga Wang
6 ​BAB 6: Menyentuh Sisik Terbalik Sang Naga
7 BAB 7: Malam Pembalasan dan Runtuhnya Keluarga Wang
8 BAB 8: Menantu Emas dan Keraguan Sang Master Bela Diri
9 BAB 9: Keagungan Grandmaster Sejati
10 BAB 10: Harga Sebuah Kekuatan dan Kebuntuan Bisnis
11 BAB 11: Keajaiban Salep Dewi Luo dan Pesta Para Serigala
12 BAB 12: Badai Investasi dan Munculnya Pasukan Bayangan Darah
13 BAB 13: Tarian Jarum Perak dan Hadiah Tengah Malam
14 BAB 14: Eksekusi di Jalan Tol dan Runtuhnya Penghianat
15 BAB 15: Kemarahan Sang Raksasa dan Panggilan dari Provinsi
16 BAB 16: Sang Naga Memasuki Provinsi dan Jebakan Hak Paten
17 BAB 17: Surat Tantangan Berdarah dan Grandmaster Jatuh dari Langit
18 BAB 18: Lelang Gelap Jiangbei dan Kartu Hitam yang Membungkam Kesombongan
19 BAB 19: Penyergapan di Bawah Rembulan dan Hancurnya Lembah Raja Obat
20 BAB 20: Badai di Danau Bintang dan Surat Tantangan Dewa Pedang
21 BAB 21: Danau Bintang Berdarah dan Kedatangan Sang Dewa Pedang
22 BAB 22: Naga Emas Membelah Danau dan Kehancuran Sang Dewa Pedang
23 BAB 23: Warisan Sang Ratu Es dan Utusan dari Utara
24 BAB 24: Lahirnya Istana Naga dan Amarah Sang Ratu Jingcheng
25 BAB 25: Sang Naga Menginjakkan Kaki di Utara dan Sambutan Berdarah
26 BAB 26: Bayangan Naga Kuno dan Tekanan dari Alam Ilahi
27 BAB 27: Empat Raja Iblis dan Racun Gu Pemakan Jiwa
28 BAB 28: Tiga Iblis Mengepung Ranjang dan Bangkitnya Sang Harimau Utara
29 ​BAB 29: Darah Sang Pewaris
30 BAB 30: Penengah dari Balik Bayangan dan Runtuhnya Ratu Berbisa
31 BAB 31: Kemarahan Sang Permaisuri
32 BAB 32: Takhta Sang Naga
33 BAB 33: Sabotase Berdarah
34 BAB 34: Penyergapan di Lembah Kematian
35 BAB 35: Keajaiban Sang Tabib Dewa
36 BAB 36: Guncangan Dunia Bawah
37 BAB 37: Formasi Segel Bayangan
38 BAB 38: Hancurnya Sang Raja Iblis
39 ​BAB 39: Kepulangan Sang Penakluk
40 BAB 40: Rahasia Cincin Perak
41 BAB 41: Batas Alam Fana
42 BAB 42: Akar Spiritual Es
43 BAB 43: Kegagalan Sang Alkemis
44 BAB 44: Umpan Berdarah
45 BAB 45: Hukum Penekan Langit
46 ​BAB 46: Tirai Teratai Emas
47 BAB 47: Jebakan Nadi Bumi
48 BAB 48: Pengepungan Finansial
49 BAB 49: Jebakan Api Bumi
50 BAB 50: Tarian Naga di Palung Keputusasaan
51 BAB 51: Tungku Kehidupan Berpasangan
52 BAB 52: Kelahiran Kembali dari Abu
53 BAB 53: Benturan di Ambang Dimensi
54 BAB 54: Udara Berdarah Dunia Tersembunyi
55 BAB 55: Malam Pertama di Dunia Baru
56 BAB 56: Pil Pemurni Udara
57 BAB 57: Hukum Kota Batu Hitam
58 BAB 58: Kegagalan di Depan Tungku
59 BAB 59: Reputasi di Akar Rumput
60 BAB 60: Teratai Darah Besi
61 BAB 61: Tembok Obsidian dan Suaka Para Alkemis
62 BAB 62: Sembilan Urat Spiritual
63 BAB 63: Benteng Daun Emas
64 BAB 64: Medan Perang Sang Ratu
65 BAB 65: Kebangkitan Phoenix Es
66 BAB 66: Persekutuan Tungku Emas
67 BAB 67: Kehancuran Sang Jenius dan Samudra Batu Spiritual
68 ​BAB 68: Tirani Pedang Darah
69 BAB 69: Runtuhnya Bintang Emas
70 BAB 70: Tatanan Baru dan Lahirnya Paviliun Bayangan
71 BAB 71:Undangan dari Kematian
72 BAB 72: Gerhana Bulan Merah
73 BAB 73: Hutan Kaca Beracun
74 BAB 74: Mahkota Sang Leluhur dan Penjaga Sumsum Darah
75 BAB 75: Eksekusi Sang Tetua
Episodes

Updated 75 Episodes

1
dari Bab 1: Darah di Atas Giok
2
BAB 2: Kartu Hitam Tertinggi dan Penolakan Sang Pewaris
3
BAB 3: Rapat Pemegang Saham dan Teror Sang Naga Emas
4
BAB 4: Tangan Dewa Penakluk Maut
5
BAB 5: Plakat Macan Putih dan Rencana Busuk Keluarga Wang
6
​BAB 6: Menyentuh Sisik Terbalik Sang Naga
7
BAB 7: Malam Pembalasan dan Runtuhnya Keluarga Wang
8
BAB 8: Menantu Emas dan Keraguan Sang Master Bela Diri
9
BAB 9: Keagungan Grandmaster Sejati
10
BAB 10: Harga Sebuah Kekuatan dan Kebuntuan Bisnis
11
BAB 11: Keajaiban Salep Dewi Luo dan Pesta Para Serigala
12
BAB 12: Badai Investasi dan Munculnya Pasukan Bayangan Darah
13
BAB 13: Tarian Jarum Perak dan Hadiah Tengah Malam
14
BAB 14: Eksekusi di Jalan Tol dan Runtuhnya Penghianat
15
BAB 15: Kemarahan Sang Raksasa dan Panggilan dari Provinsi
16
BAB 16: Sang Naga Memasuki Provinsi dan Jebakan Hak Paten
17
BAB 17: Surat Tantangan Berdarah dan Grandmaster Jatuh dari Langit
18
BAB 18: Lelang Gelap Jiangbei dan Kartu Hitam yang Membungkam Kesombongan
19
BAB 19: Penyergapan di Bawah Rembulan dan Hancurnya Lembah Raja Obat
20
BAB 20: Badai di Danau Bintang dan Surat Tantangan Dewa Pedang
21
BAB 21: Danau Bintang Berdarah dan Kedatangan Sang Dewa Pedang
22
BAB 22: Naga Emas Membelah Danau dan Kehancuran Sang Dewa Pedang
23
BAB 23: Warisan Sang Ratu Es dan Utusan dari Utara
24
BAB 24: Lahirnya Istana Naga dan Amarah Sang Ratu Jingcheng
25
BAB 25: Sang Naga Menginjakkan Kaki di Utara dan Sambutan Berdarah
26
BAB 26: Bayangan Naga Kuno dan Tekanan dari Alam Ilahi
27
BAB 27: Empat Raja Iblis dan Racun Gu Pemakan Jiwa
28
BAB 28: Tiga Iblis Mengepung Ranjang dan Bangkitnya Sang Harimau Utara
29
​BAB 29: Darah Sang Pewaris
30
BAB 30: Penengah dari Balik Bayangan dan Runtuhnya Ratu Berbisa
31
BAB 31: Kemarahan Sang Permaisuri
32
BAB 32: Takhta Sang Naga
33
BAB 33: Sabotase Berdarah
34
BAB 34: Penyergapan di Lembah Kematian
35
BAB 35: Keajaiban Sang Tabib Dewa
36
BAB 36: Guncangan Dunia Bawah
37
BAB 37: Formasi Segel Bayangan
38
BAB 38: Hancurnya Sang Raja Iblis
39
​BAB 39: Kepulangan Sang Penakluk
40
BAB 40: Rahasia Cincin Perak
41
BAB 41: Batas Alam Fana
42
BAB 42: Akar Spiritual Es
43
BAB 43: Kegagalan Sang Alkemis
44
BAB 44: Umpan Berdarah
45
BAB 45: Hukum Penekan Langit
46
​BAB 46: Tirai Teratai Emas
47
BAB 47: Jebakan Nadi Bumi
48
BAB 48: Pengepungan Finansial
49
BAB 49: Jebakan Api Bumi
50
BAB 50: Tarian Naga di Palung Keputusasaan
51
BAB 51: Tungku Kehidupan Berpasangan
52
BAB 52: Kelahiran Kembali dari Abu
53
BAB 53: Benturan di Ambang Dimensi
54
BAB 54: Udara Berdarah Dunia Tersembunyi
55
BAB 55: Malam Pertama di Dunia Baru
56
BAB 56: Pil Pemurni Udara
57
BAB 57: Hukum Kota Batu Hitam
58
BAB 58: Kegagalan di Depan Tungku
59
BAB 59: Reputasi di Akar Rumput
60
BAB 60: Teratai Darah Besi
61
BAB 61: Tembok Obsidian dan Suaka Para Alkemis
62
BAB 62: Sembilan Urat Spiritual
63
BAB 63: Benteng Daun Emas
64
BAB 64: Medan Perang Sang Ratu
65
BAB 65: Kebangkitan Phoenix Es
66
BAB 66: Persekutuan Tungku Emas
67
BAB 67: Kehancuran Sang Jenius dan Samudra Batu Spiritual
68
​BAB 68: Tirani Pedang Darah
69
BAB 69: Runtuhnya Bintang Emas
70
BAB 70: Tatanan Baru dan Lahirnya Paviliun Bayangan
71
BAB 71:Undangan dari Kematian
72
BAB 72: Gerhana Bulan Merah
73
BAB 73: Hutan Kaca Beracun
74
BAB 74: Mahkota Sang Leluhur dan Penjaga Sumsum Darah
75
BAB 75: Eksekusi Sang Tetua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!