BAB 4: Tangan Dewa Penakluk Maut

​Kehadiran Ye Chen dengan sebuah kotak bekal berwarna biru muda di tangannya menciptakan kontras yang sangat absurd di tengah ketegangan ruang rapat eksekutif itu.

​Su Ming, yang sedari tadi menahan rasa malu dan amarah yang nyaris meledakkan pembuluh darahnya, akhirnya menemukan pelampiasan.

​"Ye Chen! Dasar anjing penjilat!" Su Ming menggebrak meja, menunjuk tepat ke wajah Ye Chen. "Kau pikir ini dapur rumahmu?! Ini ruang rapat dewan direksi! Beraninya seorang pembantu sepertimu masuk ke sini membawa kotak makanan murahan itu!"

​Namun, sebelum Ye Chen sempat membuka mulut, sebuah suara dingin yang mengiris udara mendahuluinya.

​"Su Ming. Jaga ucapanmu."

​Su Yuhan menatap sepupunya dengan tatapan setajam belati es. "Dia adalah suamiku. Dan dia memiliki hak penuh untuk masuk ke ruanganku. Sebaliknya, jika kau masih berani menghina suamiku, aku akan menggunakan hak veto-ku sebagai CEO untuk mendepakmu dari kursi direksi hari ini juga!"

​Mendengar pembelaan itu, Su Ming terbelalak. Selama tiga tahun pernikahan mereka, Su Yuhan tidak pernah sekalipun membela Ye Chen di depan umum. Tapi hari ini, wanita es itu melindunginya seperti induk harimau!

​Su Jian buru-buru menarik lengan putranya. Pria paruh baya itu tahu bahwa hari ini mereka telah kalah telak. Dengan masuknya suntikan dana lima ratus juta yuan dari Bank Jiangcheng, posisi Su Yuhan di perusahaan kini mustahil digoyahkan.

​"Ayo pergi, Ming," desis Su Jian dengan wajah suram. Ia melirik Ye Chen sejenak, menyimpan dendam yang membara di matanya, lalu membawa putranya keluar ruangan, diikuti oleh para pemegang saham lain yang menunduk malu.

​Dalam hitungan detik, ruang rapat yang besar itu kembali sepi. Hanya tersisa Presiden Li yang masih berdiri canggung di sudut.

​"N-Nona Su... T-Tuan Ye... jika tidak ada hal lain lagi, s-saya mohon undur diri," pamit Presiden Li sambil membungkuk dalam-dalam. Begitu mendapat anggukan dari Yuhan, pria buncit itu melarikan diri dari ruangan seolah dikejar setan.

​Kini, hanya tersisa sepasang suami istri itu.

​Ye Chen berjalan mendekat, meletakkan kotak bekal di atas meja, dan membukanya. Aroma harum iga babi asam manis, tumis sayuran, dan nasi hangat mengepul di udara.

​"Kau belum sarapan, kan? Makanlah selagi hangat," ucap Ye Chen lembut, menarik sebuah kursi dan duduk di samping Yuhan.

​Su Yuhan menatap makanan rumahan itu, lalu menatap wajah suaminya. Tidak ada lagi sisa aura menakutkan yang membuat Presiden Li bersujud, atau aura pembunuh yang mematahkan tulang Wang Hao semalam. Pria di depannya ini hanyalah Ye Chen-nya yang biasa. Suaminya yang selalu memasak untuknya dengan penuh perhatian.

​Tiba-tiba, mata Yuhan berkaca-kaca. Pertahanannya sebagai CEO yang dingin akhirnya runtuh.

​"Ye Chen..." Yuhan mengambil sumpit, suaranya bergetar. "Apakah semuanya akan baik-baik saja? Keluarga Wang... Ibu tiri di Ibu Kota... apakah mereka akan melepaskan kita?"

​Ye Chen mengulurkan tangannya, menyelipkan helaian rambut Yuhan ke belakang telinga wanita itu.

​"Selama langit belum runtuh, aku yang akan menopangnya untukmu. Dan kalaupun langit runtuh, aku akan menghancurkan langit itu," bisik Ye Chen dengan keyakinan absolut. "Makanlah. Setelah ini, aku harus pergi ke pasar obat herbal tradisional."

​Yuhan mengangguk pelan, mulai memakan bekalnya dengan perasaan hangat yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

​Satu jam kemudian, di Jalan Antik Lin'an, Kota Jiangcheng.

​Jalanan ini terkenal sebagai pusat penjualan barang antik dan obat herbal tradisional terbaik di seluruh provinsi. Ye Chen berjalan santai, mengamati kios-kios yang menjajakan ginseng, jamur lingzhi, dan berbagai akar berkhasiat.

​Sejak Teknik Bela Diri Penakluk Naga terbangkitkan di tubuhnya, Ye Chen menyadari bahwa ia membutuhkan energi spiritual dalam jumlah besar. Karena udara di kota modern sangat tercemar, satu-satunya cara untuk meningkatkan level kultivasinya adalah dengan menyerap esensi dari tanaman herbal berusia puluhan tahun.

​Tiba-tiba, langkah Ye Chen terhenti oleh kerumunan orang di depan sebuah toko obat besar bernama 'Klinik Seratus Tahun'.

​"Kakek! Kakek, bertahanlah! Panggil ambulans! Cepat!"

​Suara jeritan panik seorang gadis terdengar dari tengah kerumunan. Ye Chen menyela masuk dan melihat seorang pria tua berambut putih mengenakan pakaian Tai Chi terkapar di tanah. Wajah pria tua itu membiru kemerahan, napasnya terputus-putus, dan tangannya mencengkeram dada kirinya dengan kuat.

​Di sampingnya, seorang gadis muda yang luar biasa cantik—dengan rambut diikat ekor kuda dan mengenakan pakaian olahraga ketat—sedang menangis histeris. Di sekeliling mereka, empat pengawal berbadan kekar berpakaian hitam tampak kewalahan menahan kerumunan.

​"Minggir! Biarkan saya periksa!"

​Seorang pria paruh baya berkacamata, mengenakan jas dokter putih, bergegas keluar dari dalam 'Klinik Seratus Tahun'. Ia adalah Dokter Zhao, tabib terkenal di jalan antik itu.

​Dokter Zhao memeriksa denyut nadi pria tua itu, lalu wajahnya berubah drastis. "Ini serangan jantung akut! Pembuluh darah di jantungnya tersumbat total. Nona Tang, saya akan melakukan CPR dan memberikan pil penyekat denyut untuk menstabilkannya!"

​Gadis itu, Tang Ruoxue, mengangguk panik. "Lakukan apa saja, Dokter Zhao! Tolong selamatkan kakekku! Jika beliau selamat, Keluarga Tang akan memberimu imbalan berapapun!"

​Dokter Zhao mengeluarkan sebuah pil hitam dari botolnya dan bersiap memasukkannya ke mulut lelaki tua itu, sambil bersiap menekan dadanya untuk CPR.

​Namun, sebelum tangan Dokter Zhao menyentuh dada pasien...

​"Jika kau melakukan CPR dan memberinya pil itu, dia akan mati dalam tiga menit."

​Suara yang tenang namun tegas itu menembus keributan. Semua orang menoleh, menatap Ye Chen yang kini berdiri melipat tangan di barisan depan.

​Dokter Zhao menghentikan gerakannya, menatap Ye Chen dari atas ke bawah. Melihat pakaian Ye Chen yang murah dan lusuh, wajahnya seketika dipenuhi rasa jijik.

​"Bocah, apa yang kau tahu soal medis?! Pria tua ini adalah Master Tang, purnawirawan Jenderal dan pendiri Asosiasi Harimau Putih! Jangan bicara sembarangan atau nyawamu tidak akan selamat!" bentak Dokter Zhao.

​Tang Ruoxue menatap Ye Chen dengan mata memerah dan penuh amarah. "Penjaga! Usir orang gila ini!"

​"Tunggu," kata Ye Chen, tidak bergeming sedikitpun meski dua pengawal berbadan besar mendekatinya. "Lihat leher kakekmu. Ada garis hitam tipis yang merambat ke atas, kan? Itu bukan serangan jantung biasa. Itu racun Bunga Es Hitam yang memicu kegagalan organ jantung secara prematur."

​Tang Ruoxue terkesiap. Ia segera melihat leher kakeknya dan benar saja, ada garis hitam samar yang perlahan naik menuju rahang!

​"Jantungnya saat ini sangat rapuh karena racun," lanjut Ye Chen dengan nada datar. "Jika kau menekannya dengan CPR, jantungnya akan langsung pecah berkeping-keping di dalam dadanya."

​Dokter Zhao mendengus keras. "Omong kosong! Racun apa? Ini jelas infark miokard! Nona Tang, jangan dengarkan gembel ini. Waktu Master Tang hampir habis!"

​Melihat kakeknya semakin membiru dan mulai kejang-kejang, Tang Ruoxue kehilangan akal sehatnya. "Dokter Zhao, cepat lakukan!"

​Dokter Zhao menyeringai penuh kemenangan. Ia menjejalkan pil itu ke mulut Master Tang, lalu menempelkan kedua tangannya di dada pria tua itu dan menekan dengan keras.

​Satu tekanan.

Dua tekanan.

​Pfft!

​Tiba-tiba, Master Tang membuka matanya lebar-lebar. Mulutnya menyemburkan darah hitam kental tepat ke wajah Dokter Zhao! Tubuh pria tua itu bergetar hebat, garis hitam di lehernya langsung melesat ke wajah, dan denyut nadinya... berhenti berdetak!

​"Kakek!!" Tang Ruoxue menjerit, suaranya menyayat hati.

​Dokter Zhao jatuh terduduk, wajahnya pucat pasi. Tangannya gemetar berlumuran darah. "T-tidak mungkin... d-denyut jantungnya hilang... d-dia... sudah meninggal..."

​"KAU MEMBUNUH KAKEKKU!" Tang Ruoxue meraung, aura membunuh yang mengerikan memancar dari tubuh gadis itu. Keempat pengawalnya langsung mencabut pistol dari balik jas mereka, mengarahkannya tepat ke kepala Dokter Zhao.

​Tepat saat Dokter Zhao mengira nyawanya akan tamat hari itu, bayangan Ye Chen berkelebat.

​Dalam sekejap mata, Ye Chen sudah berlutut di samping tubuh Master Tang.

​"Dia belum mati. Masih ada sisa napas di dalam paru-parunya," ucap Ye Chen cepat. Ia mengulurkan tangannya, dan entah dari mana, selusin jarum perak telah berada di sela-sela jarinya.

​"Apa yang kau lakukan?! Jangan sentuh kakekku!" teriak Tang Ruoxue, hendak menghentikan Ye Chen.

​"Diam jika kau ingin kakekmu hidup!" bentak Ye Chen. Tatapan matanya yang memancarkan aura naga emas membuat Tang Ruoxue membeku di tempat, tubuhnya seketika kaku oleh tekanan spiritual yang luar biasa.

​Tangan Ye Chen bergerak secepat kilat.

​Sret! Sret! Sret!

​Sembilan jarum perak menancap di sembilan titik akupunktur utama di dada dan kepala Master Tang. Ini bukan teknik akupunktur biasa. Ini adalah teknik legendaris yang hanya ada dalam Kitab Medis Kehidupan dan Kematian.

​"Sembilan Jarum Penakluk Maut. Jarum pertama membelah Yin dan Yang. Jarum kesembilan merebut nyawa dari tangan Raja Neraka!" gumam Ye Chen.

​Di ujung jarinya, aliran Qi (energi kehidupan) berwarna emas tak kasat mata mengalir masuk melalui jarum-jarum tersebut. Jarum-jarum perak itu mulai bergetar dengan sendirinya, mengeluarkan suara dengungan pelan seperti nyanyian pedang.

​Hanya dalam waktu sepuluh detik, keajaiban terjadi.

​Garis hitam di wajah Master Tang perlahan memudar mundur. Darah hitam yang tadinya menyumbat pori-porinya menguap. Dadanya yang diam, kembali naik turun.

​"Uhuk! Uhuk!"

​Master Tang memiringkan kepalanya, membatukkan gumpalan darah hitam sebesar kelereng ke tanah, lalu menarik napas panjang. Matanya terbuka perlahan, wajahnya kembali merona merah seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

​"K-kakek!" Tang Ruoxue langsung memeluk pria tua itu, menangis tersedu-sedu.

​Seluruh kerumunan terbelalak tak percaya. Dokter Zhao nyaris pingsan. Pria tua yang secara medis sudah mati semenit yang lalu, kini hidup kembali?!

​Master Tang, yang menyadari kondisinya, menepuk punggung cucunya pelan. Ia menatap pemuda berpakaian sederhana yang sedang mencabut kembali jarum-jarum peraknya dengan tenang.

​Pria tua yang pernah memimpin ribuan pasukan di medan perang dan menaklukkan dunia bawah Jiangcheng itu, dengan gemetar bangkit dan membungkukkan badannya dalam-dalam kepada Ye Chen.

​"Tangan Dewa merebut nyawa dari maut... Master Muda, terima kasih atas anugerah kehidupan ini. Saya, Tang Zhenhai, berutang nyawa padamu!"

Terpopuler

Comments

Marthen

Marthen

keren....suka dgn jalan ceritanya.....

2026-08-08

0

lihat semua
Episodes
1 dari Bab 1: Darah di Atas Giok
2 BAB 2: Kartu Hitam Tertinggi dan Penolakan Sang Pewaris
3 BAB 3: Rapat Pemegang Saham dan Teror Sang Naga Emas
4 BAB 4: Tangan Dewa Penakluk Maut
5 BAB 5: Plakat Macan Putih dan Rencana Busuk Keluarga Wang
6 ​BAB 6: Menyentuh Sisik Terbalik Sang Naga
7 BAB 7: Malam Pembalasan dan Runtuhnya Keluarga Wang
8 BAB 8: Menantu Emas dan Keraguan Sang Master Bela Diri
9 BAB 9: Keagungan Grandmaster Sejati
10 BAB 10: Harga Sebuah Kekuatan dan Kebuntuan Bisnis
11 BAB 11: Keajaiban Salep Dewi Luo dan Pesta Para Serigala
12 BAB 12: Badai Investasi dan Munculnya Pasukan Bayangan Darah
13 BAB 13: Tarian Jarum Perak dan Hadiah Tengah Malam
14 BAB 14: Eksekusi di Jalan Tol dan Runtuhnya Penghianat
15 BAB 15: Kemarahan Sang Raksasa dan Panggilan dari Provinsi
16 BAB 16: Sang Naga Memasuki Provinsi dan Jebakan Hak Paten
17 BAB 17: Surat Tantangan Berdarah dan Grandmaster Jatuh dari Langit
18 BAB 18: Lelang Gelap Jiangbei dan Kartu Hitam yang Membungkam Kesombongan
19 BAB 19: Penyergapan di Bawah Rembulan dan Hancurnya Lembah Raja Obat
20 BAB 20: Badai di Danau Bintang dan Surat Tantangan Dewa Pedang
21 BAB 21: Danau Bintang Berdarah dan Kedatangan Sang Dewa Pedang
22 BAB 22: Naga Emas Membelah Danau dan Kehancuran Sang Dewa Pedang
23 BAB 23: Warisan Sang Ratu Es dan Utusan dari Utara
24 BAB 24: Lahirnya Istana Naga dan Amarah Sang Ratu Jingcheng
25 BAB 25: Sang Naga Menginjakkan Kaki di Utara dan Sambutan Berdarah
26 BAB 26: Bayangan Naga Kuno dan Tekanan dari Alam Ilahi
27 BAB 27: Empat Raja Iblis dan Racun Gu Pemakan Jiwa
28 BAB 28: Tiga Iblis Mengepung Ranjang dan Bangkitnya Sang Harimau Utara
29 ​BAB 29: Darah Sang Pewaris
30 BAB 30: Penengah dari Balik Bayangan dan Runtuhnya Ratu Berbisa
31 BAB 31: Kemarahan Sang Permaisuri
32 BAB 32: Takhta Sang Naga
33 BAB 33: Sabotase Berdarah
34 BAB 34: Penyergapan di Lembah Kematian
35 BAB 35: Keajaiban Sang Tabib Dewa
36 BAB 36: Guncangan Dunia Bawah
37 BAB 37: Formasi Segel Bayangan
38 BAB 38: Hancurnya Sang Raja Iblis
39 ​BAB 39: Kepulangan Sang Penakluk
40 BAB 40: Rahasia Cincin Perak
41 BAB 41: Batas Alam Fana
42 BAB 42: Akar Spiritual Es
43 BAB 43: Kegagalan Sang Alkemis
44 BAB 44: Umpan Berdarah
45 BAB 45: Hukum Penekan Langit
46 ​BAB 46: Tirai Teratai Emas
47 BAB 47: Jebakan Nadi Bumi
48 BAB 48: Pengepungan Finansial
49 BAB 49: Jebakan Api Bumi
50 BAB 50: Tarian Naga di Palung Keputusasaan
51 BAB 51: Tungku Kehidupan Berpasangan
52 BAB 52: Kelahiran Kembali dari Abu
53 BAB 53: Benturan di Ambang Dimensi
54 BAB 54: Udara Berdarah Dunia Tersembunyi
55 BAB 55: Malam Pertama di Dunia Baru
56 BAB 56: Pil Pemurni Udara
57 BAB 57: Hukum Kota Batu Hitam
58 BAB 58: Kegagalan di Depan Tungku
59 BAB 59: Reputasi di Akar Rumput
60 BAB 60: Teratai Darah Besi
61 BAB 61: Tembok Obsidian dan Suaka Para Alkemis
62 BAB 62: Sembilan Urat Spiritual
63 BAB 63: Benteng Daun Emas
64 BAB 64: Medan Perang Sang Ratu
65 BAB 65: Kebangkitan Phoenix Es
66 BAB 66: Persekutuan Tungku Emas
67 BAB 67: Kehancuran Sang Jenius dan Samudra Batu Spiritual
68 ​BAB 68: Tirani Pedang Darah
69 BAB 69: Runtuhnya Bintang Emas
70 BAB 70: Tatanan Baru dan Lahirnya Paviliun Bayangan
71 BAB 71:Undangan dari Kematian
72 BAB 72: Gerhana Bulan Merah
73 BAB 73: Hutan Kaca Beracun
74 BAB 74: Mahkota Sang Leluhur dan Penjaga Sumsum Darah
75 BAB 75: Eksekusi Sang Tetua
Episodes

Updated 75 Episodes

1
dari Bab 1: Darah di Atas Giok
2
BAB 2: Kartu Hitam Tertinggi dan Penolakan Sang Pewaris
3
BAB 3: Rapat Pemegang Saham dan Teror Sang Naga Emas
4
BAB 4: Tangan Dewa Penakluk Maut
5
BAB 5: Plakat Macan Putih dan Rencana Busuk Keluarga Wang
6
​BAB 6: Menyentuh Sisik Terbalik Sang Naga
7
BAB 7: Malam Pembalasan dan Runtuhnya Keluarga Wang
8
BAB 8: Menantu Emas dan Keraguan Sang Master Bela Diri
9
BAB 9: Keagungan Grandmaster Sejati
10
BAB 10: Harga Sebuah Kekuatan dan Kebuntuan Bisnis
11
BAB 11: Keajaiban Salep Dewi Luo dan Pesta Para Serigala
12
BAB 12: Badai Investasi dan Munculnya Pasukan Bayangan Darah
13
BAB 13: Tarian Jarum Perak dan Hadiah Tengah Malam
14
BAB 14: Eksekusi di Jalan Tol dan Runtuhnya Penghianat
15
BAB 15: Kemarahan Sang Raksasa dan Panggilan dari Provinsi
16
BAB 16: Sang Naga Memasuki Provinsi dan Jebakan Hak Paten
17
BAB 17: Surat Tantangan Berdarah dan Grandmaster Jatuh dari Langit
18
BAB 18: Lelang Gelap Jiangbei dan Kartu Hitam yang Membungkam Kesombongan
19
BAB 19: Penyergapan di Bawah Rembulan dan Hancurnya Lembah Raja Obat
20
BAB 20: Badai di Danau Bintang dan Surat Tantangan Dewa Pedang
21
BAB 21: Danau Bintang Berdarah dan Kedatangan Sang Dewa Pedang
22
BAB 22: Naga Emas Membelah Danau dan Kehancuran Sang Dewa Pedang
23
BAB 23: Warisan Sang Ratu Es dan Utusan dari Utara
24
BAB 24: Lahirnya Istana Naga dan Amarah Sang Ratu Jingcheng
25
BAB 25: Sang Naga Menginjakkan Kaki di Utara dan Sambutan Berdarah
26
BAB 26: Bayangan Naga Kuno dan Tekanan dari Alam Ilahi
27
BAB 27: Empat Raja Iblis dan Racun Gu Pemakan Jiwa
28
BAB 28: Tiga Iblis Mengepung Ranjang dan Bangkitnya Sang Harimau Utara
29
​BAB 29: Darah Sang Pewaris
30
BAB 30: Penengah dari Balik Bayangan dan Runtuhnya Ratu Berbisa
31
BAB 31: Kemarahan Sang Permaisuri
32
BAB 32: Takhta Sang Naga
33
BAB 33: Sabotase Berdarah
34
BAB 34: Penyergapan di Lembah Kematian
35
BAB 35: Keajaiban Sang Tabib Dewa
36
BAB 36: Guncangan Dunia Bawah
37
BAB 37: Formasi Segel Bayangan
38
BAB 38: Hancurnya Sang Raja Iblis
39
​BAB 39: Kepulangan Sang Penakluk
40
BAB 40: Rahasia Cincin Perak
41
BAB 41: Batas Alam Fana
42
BAB 42: Akar Spiritual Es
43
BAB 43: Kegagalan Sang Alkemis
44
BAB 44: Umpan Berdarah
45
BAB 45: Hukum Penekan Langit
46
​BAB 46: Tirai Teratai Emas
47
BAB 47: Jebakan Nadi Bumi
48
BAB 48: Pengepungan Finansial
49
BAB 49: Jebakan Api Bumi
50
BAB 50: Tarian Naga di Palung Keputusasaan
51
BAB 51: Tungku Kehidupan Berpasangan
52
BAB 52: Kelahiran Kembali dari Abu
53
BAB 53: Benturan di Ambang Dimensi
54
BAB 54: Udara Berdarah Dunia Tersembunyi
55
BAB 55: Malam Pertama di Dunia Baru
56
BAB 56: Pil Pemurni Udara
57
BAB 57: Hukum Kota Batu Hitam
58
BAB 58: Kegagalan di Depan Tungku
59
BAB 59: Reputasi di Akar Rumput
60
BAB 60: Teratai Darah Besi
61
BAB 61: Tembok Obsidian dan Suaka Para Alkemis
62
BAB 62: Sembilan Urat Spiritual
63
BAB 63: Benteng Daun Emas
64
BAB 64: Medan Perang Sang Ratu
65
BAB 65: Kebangkitan Phoenix Es
66
BAB 66: Persekutuan Tungku Emas
67
BAB 67: Kehancuran Sang Jenius dan Samudra Batu Spiritual
68
​BAB 68: Tirani Pedang Darah
69
BAB 69: Runtuhnya Bintang Emas
70
BAB 70: Tatanan Baru dan Lahirnya Paviliun Bayangan
71
BAB 71:Undangan dari Kematian
72
BAB 72: Gerhana Bulan Merah
73
BAB 73: Hutan Kaca Beracun
74
BAB 74: Mahkota Sang Leluhur dan Penjaga Sumsum Darah
75
BAB 75: Eksekusi Sang Tetua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!