Indonesia
NovelToon NovelToon
Lux In Winter

Lux In Winter

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa
Popularitas:377
Nilai: 5
Nama Author: Ryn Takumi

Kinan harus memilih antara dua pilihan yang ada. Apakah dia akan terus bersembunyi dalam musim dingin yang damai atau berani melangkah menghadapi kenyataan yang sempat ia sangkal dan merasakan sesuatu yang baru. Karena terkadang, kita harus kehilangan segalanya agar kita bisa benar-benar menemukan jati diri.

Lux in Winter yang akan berisi 40 chapter ini, bukan hanya sekedar kisah tentangnya semata. Ini adalah sebuah perjalanan panjang melepaskan, mencintai dan menemukan cahaya di tempat yang paling tidak terduga.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ryn Takumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 17 - Temaram

"Aku gak butuh semua barang pemberianmu, Rom! Aku juga gak pernah minta kemewahan apa pun darimu. Aku... aku cuman mau perhatian dan sedikit waktumu kayak awal dulu. Cuman itu, Rom, Gak lebih!" jerit Kinan, suaranya parau menahan sesak di dada.

"Kamu tuh gak usah sok idealis, Kin! Jangan sok nolak apa yang udah aku kasih dan nganggep itu semua gak penting. Hidup juga butuh duit, apa-apa pasti juga pake duit. Kamu pikir cuman dengan hal-hal sepele itu semua bisa bikin bahagia, hah?!"

Suara bentakan itu membumbung tajam, menggema liar di dalam kepala Kinan. Pedas, tajam dan penuh kemarahan yang membakar.

Sosok Romi yang dulu sempat Kinan anggap akan menjadi pelindung dan tempat hangat untuknya bersandar, malah berubah menjadi sosok monster yang menorehkan luka begitu dalam. Sebuah guratan trauma yang tak akan pernah sanggup ia sembuhkan sendiri.

"Jangan kamu selalu samakan aku dengan mereka, Rom! Uang bukanlah segalanya-"

PLAK!

Rasa panas dan sengatan ngilu itu seolah mendadak hinggap di pipi kiri Kinan. Sebuah tamparan yang bukan sekadar luka fisik, juga menghancurkan perasaannya, melumat habis kepercayaannya, dan meremukkan hatinya yang selama ini sudah tertatih-tatih bertahan.

"Dengar, ya! Aku bisa aja beli dan kasih semua yang kau mau, asal kamu nurut! Cukup diem dan gak usah banyak protes. Ngerti?!"

Kinan terdiam membisu. Di balik matanya yang mulai berkaca-kaca, ada samudra kata yang sejatinya ingin ia jeritkan. Tentang perih luka, tentang kekecewaan yang terlalu besar menumpuk, serta kebencian yang mulai menggerogoti jiwanya. Namun, suaranya bagai terkunci rapat.

Ia sama sekali tak berdaya melawan dentuman kata-kata beracun Romi yang menghantamnya layaknya petir di siang bolong.

Kinan hanya mampu berdiri di sana, tak berkutik. Air mata jatuh tanpa suara, membasahi pipi. Namun tepat di hadapannya, sosok yang dulu begitu ia cintai sama sekali tak menunjukkan sedikit pun rasa belas kasihan.

Di saat itu juga Kinan menyadari sebuah kenyataan pahit, seandainya pun ia menangis hingga habis air mata, Romi tak akan pernah luluh.

Kini, seluruh sisa perasaan yang tersisa hanyalah kecewa, amarah yang mendalam serta benih trauma yang perlahan membusuk di hati terdalamnya.

Sekali lagi, bayangan tangan itu terangkat. Sebuah tamparan keras melayang ke wajah Kinan.

PLAAK!

Kinan tersentak mendadak bangun dengan napas yang tersengal-sengal. Dadanya berdegup kencang tak beraturan. Matanya terbelalak kosong menatap langit-langit kamar yang temaram.

Ia mencoba menenangkan diri dan memutus ingatan kelam yang kembali menyayat batinnya.

Bayangan ingatan pahit itu-begitu dingin, gelap dan sakitnya masih terasa teramat nyata. Lagi-lagi mimpi buruk itu kembali menghantuinya.

Kinan bahkan tak ingat pasti kapan ia tak sengaja ketiduran. Seingatnya, beberapa jam yang lalu ia masih sibuk mencicil bab skripsi sekaligus memeriksa lembar tugas murid-muridnya.

Kini, tumpukan buku referensi berserakan tak beraturan di kasur, sebuah pena tergeletak di atas lembar catatan setengah jadi, semantara layar laptop masih menyala menyorot sayu ke arah lembar tugas sekolah yang masih terbengkalai.

Jemari tangannya bergetar pelan saat mencoba membereskan semuanya. Kinan perlahan bangkit berdiri, lalu melangkah ragu beranjak keluar dari kamarnya. Namun, dadanya masih terasa terhimpit beban berat yang seakan gaung kemarahan dan bayang-bayang sosok Romi masih mengendap di pikirannya.

Hanya dengan sekali saja melihat Romi kembali. Hanya satu pertemuan singkat yang tak disengaja, dan kedamaian hidup Kinan yang dibangunnya bertahun-tahun dengan susah payah seketika runtuh. Hari-harinya tak akan lagi sama.

Rasa sakit itu, rasa takut yang merayap itu... lagi dan lagi datang menghantam. Layaknya sebuah luka lama yang nyatanya tak pernah benar-benar sembuh, melainkan hanya tertutup rapat oleh waktu.

Kinan melangkah kaku menuju kamar mandi. Air dingin ia basuhkan berulang ke wajahnya yang pucat. Pandangannya menatap kosong ke arah cermin di depannya.

Satu tarikan napas panjang ia hela. Lalu sekali lagi ia mencoba sekuat tenaga menegarkan hati, namun jauh di dalam dirinya ada badai kecemasan itu masih berkecamuk hebat.

Dengan keteguhan hatinya, Kinan berbalik dan kembali berusaha melanjutkan aktivitasnya seorang diri.

Begitu pun dengan Nathan. Cowok itu tenggelam dalam keheningan kamarnya yang temaram, mencoba untuk tidur lebih awal dari biasanya.

Ia terbaring terlentang, meletakkan tangan kanannya menutupi kedua mata. Seolah ia berusaha mengusir sesuatu dalam pikirannya yang ia sendiri tak benar-benar tahu itu apa.

Bzzzt... Bzzzt...

Suara getaran pelan dari ponselnya terdengar dari atas meja di samping tempat tidurnya.

Nathan mengintip layar ponsel dari celah jemari tanpa niat sedikit pun untuk mengangkatnya-sampai akhirnya, satu nama yang terpampang di sana membuat sudut bibirnya sedikit terangkat.

Tangannya kemudian meraih ponsel dan mengangkat panggilan tersebut.

"Siapa ya? Perasaan gak checkout barang apa pun sama sekali minggu ini." gumamnya bernada malas sembari menempelkan ponsel ke telinga.

"Lah, dikira kurir apa! Lama bener sih ngangkatnya. Parah banget gak fast respond," cerocos suara cewek di seberang sana tanpa basa-basi.

Nathan menghela napas panjang, lalu bangkit dan mengambil posisi duduk di tepi kasur. "Sadar diri dong. Jam berapa sekarang? Masih untung aku angkat. Ada apa kali ini? Kalo gak penting, aku tutup aja."

"Setdah, tunggu dulu! Pemberitahuan penting ini."

"Cepetan. Gak usah kebanyakan basa-basinya."

"Ampun dah, gak sabaran banget. Jadi gini... puisinya keren gila! Sampe disanjung sama dosennya."

Nathan tersenyum tipis, "Terus? Bagian mana pentingnya?"

"Dengerin dulu ceritanya! Bahkan temen-temenku kaget dan langsung tanya, 'Itu beneran kamu yang nulis?' Gila banget. Aku berasa dianggap jadi Shakespeare."

"Terus aku cuman jadi ghostwriter tanpa bayaran sepeser pun," gumam Nathan datar.

"Eh, tenang aja wahai pujangga! Nanti kalo ada waktu aku traktir ke tempat biasanya, oke? Dah gitu aja!"

"Halah, sok sibuk seka-"

Tuuuuuut...

Belum sempat Nathan menyelesaikan kalimatnya, panggilan itu dimatikan secara sepihak.

Nathan menghela napas pendek. Sama sekali tak terlihat sedikit pun raut kesal di wajahnya, sebab ia sudah kebal dan paham betul betapa menyebalkan sosok cewek itu. Kadang bertingkah polos seperti bocah yang kegirangan meminta hadiah, tapi tak jarang juga berulah layaknya zombie saat Halloween.

Beberapa minggu berselang, cake shop tempat Kinan bekerja ditutup lebih awal hari ini, bahkan sebelum matahari sempat tenggelam sepenuhnya.

Suasana di dalam tak lagi seperti biasanya. Lampu-lampu utama sengaja diredupkan, digantikan oleh kerlap-kerlip lampu oranye yang menggantung di sudut-sudut ruangan. Hiasan labu ukir, jaring laba-laba sintetis, serta potongan stiker kelelawar buatan tangan kini memenuhi setiap jengkal dinding dan kaca jendela depan.

"Udah pas belum?" tanya Anya dari atas meja kayu, kedua tangannya sibuk membenarkan posisi banner.

"Geser dikit ke tengah, terus turunin dikit," sahut Belinda yang berdiri tak jauh dari situ, cermat menilai posisi banner bertuliskan Sweet Scary Halloween.

Di sisi lain, Adit dan Eka tampak sibuk menempelkan stiker glow-in-the-dark berbentuk tengkorak di tiap anak tangga menuju lantai dua. Mereka saling berbisik dan cekikikan sembari menaksir siapa di antara semua pegawai cake shop yang bakal paling ketakutan melihat suasana event besok.

Sementara di salah satu sudut ruangan yang agak remang, Kinan berdiri membisu sembari memegang gulungan erat selotip. Pandanganya menerobos kosong ke arah jendela kaca depan, dengan pikiran yang melayang entah ke mana. Ia bahkan sama sekali tak menyadari saat kertas dekorasi jatuh terlepas dan jatuh perlahan di sebelah kakinya.

"KINAAAAAN!"

Suara Anya tiba-tiba melengking dari arah belakang, lengkap dengan efek nada serak buatan yang terdengar seperti nenek sihir di film horor.

Kinan tersentak kaget. Tubuhnya terperanjat sampai-sampai gulungan selotip di tangannya hampir saja terjatuh.

"Ya ampun, Anya!" seru Kinan setengah panik, refleks mengelus dadanya yang berdegup kencang.

Anya menyenggol pelan lengan Kinan. "Lagi mikirin siapa, tuh? Hayoo!"

Kinan hanya tersenyum tipis untuk menutupi rasa canggungnya. "Gak ada, gak ada." jawabnya singkat.

Anya sempat memicingkan mata, menatap Kinan sejenak dengan ekspresi serius. "Apa iya?"

Namun, tak lama kemudian raut wajahnya melunak dan pecah menjadi tawa usil. "Yaudah, bantuin aku nempelin ini di lantai dua. Biar gak kemaleman selesainya," ujar Anya, lalu berbalik dna melangkah duluan sambil membawa setumpuk hiasan kelelawar dari kertas hitam.

Jarum jam di dinding sudah menunjukkan jam sembilan kurang. Dekorasi yang semula berantakan kini telah tertata rapi. Di sepanjang railing tangga, kain hitam sudah terpasang dengan dihiasi potongan tangan plastik palsu yang menggantung.

Setiap meja dilapisi taplak bercorak tengkorak, lengkap dengan lilin menyala temaram di dalam labu kecil. Sementara di langit-langit, jaring laba-laba sintetis menjuntai artistik yang sukses mempertegas nuansa horor dan... creepy.

"Fix! Keren banget kita malam ini!" seru Anya antusias sambil membuat pose ada model horor. Suaranya sudah agak serak, dampak tertawa dan ngobrol nonstop selama hampir empat jam berturut-turut.

Belinda meregangkan punggungnya yang pegal, lalu ia menoleh ke arah Kinan yang tengah sibuk merapikan kursi yang sempat bergeser dari tempatnya.

"Kin," panggil Belinda lembut. "Besok kamu libur, kan? Dateng ya besok, sekalian bantu ramein. Gak sibuk, kan?"

Kinan sempat terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. "Ah... iya, Mbak. Aku usahain datang."

Keesokan harinya, tepat pukul setengah delapan malam, lonceng kecil di atas pintu Alleria cake shop berdenting pelan saat Mika dan Alya melangkah masuk. Mereka langsung disambut oleh riuh suasana yang ramai dan hangat, terbalut dekorasi gotik yang sukses membuat Mika menggigit bibir bawahnya cemas.

"Al... pulang aja yuk... ini... serem banget," bisik Mika dengan nada gemetar, kian mempererat genggamannya di lengan sahabatnya.

Alya menahan tawa geli, membiarkan Mika setengah bersembunyi di balik belakangnya. "Apanya yang serem? Katanya tadi di jalan gak bakal takut?"

Mika makin merinding dan gelisah saat kakinya mulai menapaki anak tangga menuju lantai dua. "Kenapa sih harus serem banget kayak gini? Kalo orang-orang yang dateng terus ketakutan, gimana?"

"Gak ada yang takut selain kamu," sahut Alya santai sambil terkekeh pelan. "Lagian namanya juga konsep Halloween. Yakali dekorasinya full Hello Kitty kayak di pesta ulang tahunmu dulu."

Setibanya di lantai dua, suasana terasa sedikit lebih tenang dibanding lantai satu yang ramai. Meskipun begitu, hal itu tak lantas membuat Mika melonggarkan cengkeraman tangannya dari lengan Alya.

Pandangan mereka langsung tertuju pada Kinan yang tengah duduk sendirian di meja pojok dekat jendela, dengan cahaya bulan samar yang memantul dari kaca di sampingnya.

Kinan menoleh, lalu tersenyum hangat sembari melambaikan tangan pelan.

Malam ini, ia tampak mengenakan gaun terusan warna gelap sepanjang lutut yang dipadukan dengan sweater hitam polos. Di dadanya, terpasang bros kecil berbentuk labu oranye yang mencolok, kemungkinan besar merupakan hadiah iseng dari Anya atau Belinda.

"Kalian lama banget," ucap Kinan lembut saat Mika dan Alya tiba di mejanya lalu menarik kursi di hadapannya.

Alya seketika melirik sengit ke arah Mika. "Tau sendiri, kan, Kin. Siapa yang dandannya paling lama?"

"Itu namanya totalitas, bukan kelamaan!" protes Mika sambil menghempaskan diri ke kursi dengan dramatis khasnya. Ia menghela napas panjang, lalu melirik was-was ke sekeliling ruangan. "Serius, deh. Kalo bukan karena sahabatku satu ini, aku gak mau dateng ke tempat ginian."

Alya dan Kinan kompak menyimak ocehan itu, menatap Mika dengan ekspresi datar.

Waktu mengalir begitu cepat tanpa terasa saat mereka berkumpul bersama. Canda tawa pecah menyelingi cerita yang mereka bagikan secara lepas. Perbincangan mengalir dari satu topik ke topik yang lain-mulai dari lika-liku praktek mengajar di sekolah, drama-drama kampus terbaru, hingga hal-hal random yang hanya bisa dimengerti oleh mereka bertiga sendiri.

Malam kian larut, dan Alleria cake shop justru bertambah ramai. Nyaris tak banyak meja kosong di lantai satu. Semua pegawai bekerja lebih ekstra melayani pesanan yang menumpuk, namun tetap semangat alunan diiringi musik bertema horor yang menggema di setiap sudut.

Di salah satu meja di lantai satu, Nathan duduk menyandar santai. Satu tangannya memegang garpu kecil, menatap sepiring rainbow cake di depannya yang tinggal tersisa setengah. Di seberang meja, Riska duduk dengan ekspresi ceria sembari menyesap jus jeruknya perlahan.

"Gak aku sangka, kamu masih inget janjimu, Nath," ujar Riska menatap Nathan dengan alis terangkat, memajang senyum menggoda di bibirnya.

"Laki-laki akan selalu menepati janjinya, cuman baru sekarang aja nemu waktu yang pas." sahut Nathan santai sebelum menyuap potongan kecil kue ke mulutnya.

"Hhmm, gentle sekali! Menarik. Btw, aku baru kedua kalinya kemari dan gak nyangka tempat ini bakal berubah seseram ini nuansanya," ucap Riska sambil melayangkan pandangan ke sekeliling, lalu tersenyum kecil. "Tapi tetap bagus, sih, dan rame banget."

"Pas malem tahun baru lebih rame lagi sih, pas Natal juga," timpal Nathan.

Mendengar hal tersebut, mata Riska berbinar tertarik. "Wah, boleh tuh kalo kesini lagi! Semoga urusan kerjaan nanti bisa diajak kompromi."

"Semoga," balas Nathan cepat, membuat keduanya tertawa kecil di tengah suasana hangat malam itu.

Sementara itu, setelah cukup lama terbahak dan saling bertukar cerita, suasana di meja pojok lantai dua tempat Kinan berkumpul mulai mereda. Gelas-gelas minuman mereka menyisakan es batu yang mencair, dan hanya remah-remah kue yang tertinggal di atas piring.

Kinan menyandarkan punggungnya, tersenyum tipis melihat Mika dan Alya yang mulai sibuk mengecek layar ponsel masing-masing.

"Ayo, udah malem juga," ucap Alya sembari bangkit berdiri dan merapikan tali tas di bahunya.

"Iya ya... gak kerasa banget udah jam segini aja," sahut Mika mengangguk setuju. "Nyenengin banget, deh, kalo kumpul sama kalian."

Mereka bertiga menuruni tangga menuju lantai satu. Atmosfer di bawah kini terasa lebih padat dari sebelumnya. Beberapa pengunjung baru tampak terus berdatangan, membuat langkah Mika sedikit melambat sembari bergidik ngeri.

"Kok makin rame aja, sih... dekorasinya juga makin nyeremin pas makin malem begini," keluh Mika sambil mempererat pegangannya pada lengan Alya.

Alya menoleh jahil, berbisik ke telinga Mika. "Awas, nanti ada yang ngikut pulang lho, ih~"

"Alya!" mencicit Mika pelan dengan wajah kian pucat, berhasil memancing terkekeh dari Kinan yang berjalan di samping mereka.

Begitu melangkah keluar dari cake shop, angin malam yang dingin langsung menyambut mereka. Langkah mereka bertiga pun menuju area parkiran motor yang temaram.

Namun, tepat saat Kinan hendak mengambil helmnya dari spion motornya, gerakannya mendadak terasa kaku.

Di seberang deretan parkiran mobil, seorang cowok yang sangat dikenalnya sedang berjalan santai beriringan dengan seorang cewek berpakaian modis, menggandeng mesra tangannya dengan erat.

Detik itu juga, dada Kinan terasa sangat sesak luar biasa. Ia belum sempat berbalik, melarikan diri, atau sekedar menyembunyikan wajahnya ketika Romi perlahan menoleh dan menatap tepat ke arah matanya.

Tak butuh waktu lama bagi Romi untuk mengenali sosok Kinan di balik keremangan malam. Dan seketika itu pula, sebuah cengiran terukir licik di bibir cowok itu. Perlahan Romi berjalan ke arah Kinan.

"Wah, wah wah. Ketemu lagi," ujar suara Romi mengalun santai, seolah tak menyangka takdir mempertemukan mereka kembali begitu cepat.

1
Rey
Panjang bener chapter kali ini 😄
Ryn Takumi: Kebablasan 🤣
total 1 replies
Crestfall
Mika favoritku sih
Crestfall
👍👍👍
Rey
Cukup menarik. sepertinya aku bakal stay ngikutin ini
Ryn Takumi: Makasih, Kak.
Jangan bosen bacanya 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!