Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 26
Ralat! Yumna ingin sekali mengubah kalimat yang baru saja dirinya posting. Karena pertemuannya dengan orang itu, benar-benar tidak diinginkan oleh Yumna. Apalagi aroma dari asap rokok yang melekat ditubuh orang itu. Membuat Yumna membuang napas berat. Menyisir surai panjangnya ke belakang.
Dan untungnya keputusan Yumna meminta Yudha untuk tidak mengantarnya pulang itu jalan yang baik. Karena jika Yudha melihat pria di depan matanya saat ini, itu akan sangat memalukan. Benar-benar memalukan.
"Yumna__" nada bicara yang begitu muak pendengaran Yumna terima. Apalagi harus melihat wajah orang itu. Kenapa semesta menginginkannya bertemu dengan pria yang tidak memiliki tanggung jawab itu.
"Seharusnya kau menyapa ayah mu. Karena mau bagaiamana pun, kau tidak bisa menghilangkan status ku sebagai ayahmu." Dengan santainya kalimat itu keluar begitu merdu dari mulut pria itu. Dan rasanya Yumna ingin menyumpal nya dengan batu besar.
"Tidak ada untungnya aku melakukan hal itu padamu. Dan satu hal yang harus kau ingat, selama kau tidak menuntaskan tanggung jawab mu kau bukan ayahku. Status itu... hanya pelengkap. Dan aku harap, pemerintah membuat surat pemutusan hubungan ayah dan anak." Tanpa berpikir Yumna mencetuskannya. Tidak peduli jika hal itu akan melukai sang kawan bicara.
Pria iu tersenyum hambar, mengusap wajahnya sebagaian. Karena tangan pria itu juga tidak melayang untuk memberi sapaan di pipi mulus milik Yumna. Mau bagaimanapun, pria itu tidak ingin melihat goresan luka sedikitpun di tubuh Yumna.
"Aish." Umpatan kecil yang keluar dari mulut pria itu tidak membuat nyali Yumna ciut. "Terserah apa yang ingin kau katakan. Yang jelas, beri aku alasan. Kenapa Malla bisa menjadi seorang artis? Memangnya apa yang dia punya?"
"Kau tidak perlu tahu. Dan, tidak ada alasan bagi Malla untuk memilih jalan hidupnya. Jadi, berhentilah menjadi penggagu. Apa aku tidak malu, menjadi benalu di hidup orang lain?" Mungkin penuturan Yumna terdengar sangat kasar, dan tidak sopan untuk diberikan kepada orang yang lebih dewasa dari Yunma.
Tapi jika Yumna diam, tunduk dengan pria itu. Hidupnya akan jauh lebih hancur dari masa kecilnya yang harus menerima kenyataan pahit di hidupnya.
"Kau selalu datang kerumah untuk meminta uang. Jika ibu tidak memberi mu, kau akan memukulnya. Padahal kau sudah tidak lagi memiliki hubungan apapun dengan ibuku. Apa aku tidak malu sebagai laki-laki?" Sungut Yuman dengan dada yang benar-benar mendidih. Rasanya Yumna ingin enyah secepat mungkin dari hadapan pria itu.
"Aku tidak pernah menerima uang dari ibumu. Aku datang kerumah karena menagih janji Rama padaku. Tapi dia melupakannya akhir-akhir ini. Jadi mau tidak mau, aku harus menemuinya secara langsung. Tapi, ibumu selalu melarang ku untuk menemui Rama." Bukannya mengadu. Pria itu hanya ingin berterus terang. Agar Yumna tidak lagi mencetuskan kalimat kasar saat bicara dengannya.
"Memangnya apa yang dia janjikan padamu?" Sedikit membulat kaka kedua matanya. Menatap tajam pria di hadapan saat ini. Walau sebenarnya Yumna tidak ingin melakukan hal itu. Tapi entah kenapa, jiwanya tudak bisa wanita itu kontrol untuk tetap tenang. Saat pria itu berusaha untuk memancing amarahnya.
"Aku tidak bisa mengatakannya padamu. Jika aku melakukannya, aku tidak akan bisa makan esok hari." Tanpa sadar pun pria itu memberi isyarat melalui perkataannya.
"Uang kan? Dia menjanjikan mu memberi uang untuk tidak mengganggu ibu lagi. Katakan, jika itu memang benar." Seru Yumna yang benar-benar tersulut api amarah.
Diam bukan berarti pria itu tidak sanggup membenarkan perkataan Yumna. Hanya saja, dia sedikit merasa harga dirinya direndahkan oleh putrinya sendiri.
"Kenapa kau melakukan hal itu pada saudaraku dan ibuku? Apa kau tidak punya cara untuk melanjutkan hidup tanpa menganggu hidup orang lain?" Lelah Yumna yang merasa tidak punya cara lagi untuk menghentikan sikap buruk pria itu.
"Sebenarnya apa yang kau cari. Apa kau punya dendam pada ibu? Hingga kau terus-menerus bertingkah seperti orang yang berkuasa atas hidup orang lain. Jika kau punya segalanya aku tidak masalah. Tapi nyatanya, kau tidak memiliki apapun." Sungguh, Yumna tidak lagi takut ataupun malu jika menjadi pusat perhatian seperti saat ini.
Beberapa orang yang lalu lalang awalnya tidak peduli dengan ayah dan anak itu. Tapi lambat laun, rasa penasaran mereka memenuhi ruang sukma. Tapi tidak ada niat untuk mereka kejadian didepan mata mereka.
Sedangkan pria itu melihat sekitarnya dengan pandangan was-was. Jikapun mereka tetap menyimpan Handphone mereka. Tapi rasa malu mulai muncul dipikiran sang pria. "Aku akan memaafkan mu kali ini Yumna. Tapi jika kita bertemu dan kau masih tidak bersikap sopan padaku. Jangan salahkan diriku, jika kau akan mendapat hukuman di tempat secara langsung."
Entah itu ancaman atau hanya sebuah peringatan. Yang jelas Yumna kini merasa lega, karena pria itu melangkah pergi dari hadapan Yumna. Diam, membuang napas berat pandangan menunduj untuk menyembunyikan wajah sedihnya.
Dan tanpa Yumna sadari seorang mata milik Yudha, yang tidak jauh dibelakang Yumna masih diam di tempatnya. Karena Yudha ingin memberi ruang jeda untuk Yumna. Tanpa menyesali keputusannya yang tadi sempat menyetujui penolakan halus dari Yumna.
Tapi nyatanya Yudha tetap mengikuti Yumna dari belakang secara hati-hati. Karena Yudha tidak mau membaut Yuman merasa tidak enak akan bantuan yang Yudha berikan pada Yumna. Sayangnya, Yudha tidak bisa menahannya lama-lama.
Berjalan mendekat, dengan perlahan jemari tangan kiri Yudha menaut pada milik Yumna yang tersentak akan hal itu. Menatap Yudha yang membalasnya dengan senyuman hangat. Sebelum menarik pelan tangan Yumna, agar berjalan beriringan dengannya. Menjauh dari tempat itu.
Saat jiwa Yuman mulai merasa tenang. Dengan perlahan Yuman melepas genggaman Yudha, karena Yuman tudak mau perasaan ingin memiliki lebih dari seorang teman itu muncul tanpa memberinya keuntungan dalam hidup.
Dan Yudha tidak mempermasalahkan apa yang Yumna lakukan saat ini. Karena Yudha tahu, menahan seseorang untuk tetap tinggal di hidupnya itu akan menimbulkan luka tanpa goresan. Lebih menyakitkan daripada menggenggam serpihan kaca.
"Kau melihatnya? Kau mendengar semua apa yang aku katakan?" Suara Yuman terdengar gemetar, karena Yuman harus menyembunyikan buliran bening yang hampir saja membobol benteng pertahanannya.
"Mungkin aku tidak bisa mengatakan jika_m, beruntungnya dirimu karena tahu siapa ayahmu." Kalimat itu diucapkan sangat rendah. Yudha tidak mau menambah beban di pikiran Yumna.
"Kau tidak tahu siapa ayahmu?" Sedikit hati-hati, Yumna menanyakan hal itu pada Yudha, dengan pandangan sebentar melihat wajah Yudha dari samping.
"Tidak!! Aku tidak tahu siapa pria itu. Bagaiman raut wajahnya. Dari kecil aku hanya tinggal bersama ibuku. Sialnya aku tidak bisa bertanya pada ibu, di mana ayahku saat ini?" Senyum nanar yang terlukis di wajah Yudha. Membuat Tuman merasa sedikit bersalah.
Apa Yuman harus bersyukur saat ini? Karena dia tahu siapa ayahnya. Tapi Yuman sulit untuk melakukan hal itu. Apalagi jika bayangan kelam itu terlintas di kepalanya lagi.
"Berarti, kau hanya tinggal bersama ibumu?" Tanya Yumna yang terselip keraguan.
Yudha hanya bergumam sebagai jawaban. Membuat kepala Yumna mengangguk paham. Yuman memilih diam tidak membuka mulutnya untuk bersuara. Karena bagi Yuman, melontarkan pertanyaan yang mengarah kehidupan pribadi seseorang itu hal yang sangat tidak sopan. Dan diam pilihan yang tepat untuk saat ini.