Berkali-kali gagal dalam hubungan membuat ia menutup akses bagi siapapun yang mendekati bahkan datang melamarnya. Jika nenek moyangnya berkata pamali terus menerus menolak lamaran karena konon katanya tidak akan mendapatkan jodoh seumur hidup. Peduli apa dia? Toh takdir seorang manusia telah di tentukan jauh sebelum terlahir ke dunia. Begitulah pemikiran gadis pemilik nama Arunika Binar Senja.
Tapi, bagaimana jadinya jika seorang Pria yang ia kenal datang membawa serta seluruh keluarga untuk melamarnya? Tanpa rasa takut untuk di tolak, Pria tersebut justru dengan senang hati dan menerima dengan sabar syarat-syarat yang di ajukan Senja?
Apakah Senja akan kembali memulai kisah dengan Pria itu? Mampukah mereka menjalani sampai batas waktu yang telah ditentukan? Atau justru Senja Kembali gagal dalam hubungan kesekian kalinya ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Nirmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengertian Rafka
Suasana mencekam dan dingin mengelilingi meja Afyah dan Kamal. Pria yang menjadi lawan bicara Afyah menatap tajam menu suk, fakta yang begitu sensitive baginya sekarang.
“Dengar ini baik-baik Dayfah Byant! Hubunganku dengan Aru sudah lama putus. Tidak ada sangkut pautnya dia dengan hubungan kita sekarang sekalipun kamu sahabat dekatnya!”
“Kau egois! Menurutmu apa pendapat yang lain jika kita memiliki hubungan hah? Yang jelek itu namaku, bukan kamu!”
Bibir Kamal terangkat menyiptakan senyum sinis “Setauku, kamu bukan orang yang memperdulikan komentar orang lain terhadapmu, right?”
Afyah menggeleng tak percaya, sesempit ini kah pemikiran mantan dari sahabatnya? “Kamu tuh ngga bakal mengerti, Kamal! Oh atau kau sengaja mau merusak persahabatanku dengan Aru, Iya? Licik sekali caramu!” tuduhan tanpa bukti dan terencana keluar begitu saja.
Kamal diam menatap Afyah, gadis di hadapannya sekarang tidak lebih dari seorang sahabat yang akan memperjuangkan persahabatannya. “Terserah apapun tuduhanmu, ku anggap kamu menyetujuinya. Ku pastikan tanggal pernikahan kita akan tersebar malam nanti” tanpa menunggu jawaban berontak Afyah, Kamal beranjak pergi meninggalkan Afyah yang terus meneriaki nya.
Afyah mengusap wajah gusar, tidak peduli hiasan di wajahnya berantakan. Hati nya jauh lebih berantakan sekarang, lucu sekali, takdir seperti tak puas bermain-main dengan kehidupannya. Tidak ada jeda untuknya menghirup nafas sejuk. Semua pahit, apa yang harus ia lakukan di hadapan Senja nanti? “Aku Lelah..”
***
Senja mengernyit kala menemukan Rafka sudah di halaman depan kantornya. Pria itu mengenai jaket hitam yang Senja yakini di balik jaketnya ada seragam kerjanya, dalam artian Rafka juga baru balik dari kerjaannya.
“Kok kamu di sini?” tanya nya saat sudah di samping Rafka.
“Jemput kamu. Bang Wisnu tadi ngehubungin kalau ngga bisa jemput kamu. Gahez juga sibuk. Berhubung aku juga mau balik jadi aku bisa jemput sekalian” penjelasan Rafka cukup buat Senja mengerti. yang ia ngga ngerti sekarang, kenapa Abangnya malah menghubungi Rafka bukan dirinya yang jelas-jelas menunggunya?
“Sudah pulang kan? Ayo aku antar pulang” Rafka menyerahkan Helm ke arahnya. “Pake motor ngga papa ya? Aku ngga tau kalau bakal jemput kamu, tau gitu tadi bawa mobil”
Rafka cukup paham batasan yang di buat Senja, terlebih hubungan mereka memang belum dan tidak seharusnya berboncengan seperti ini. Tapi mau diapa? Bukan mau mereka juga awalnya, tidak mungkin Rafka membiarkan Senja memakai jasa antar, lebih baik dia saja yang melakukan itu.
“Ngga apalah” Senja menghalau ketidak enakan Rafka hanya perkara kendaraan. “Btw ini helm baru?”
Rafka tersenyum lalu mengangguk “Jemput ini dadakan, aku ngga selalu membawa helm cadangan. Jadi mampir beli dulu tadi. Kenapa? Ngga suka helmnya ya?”
Senja menggeleng cepat “Suka kok, warna hitam. Netral, ku ganti aja gimana uangmu?” tawarannya mendapat tolakan keras.
“Ngapain di ganti? Anggap aja itu helm khusus kamu setiap pergi bareng aku” Rafka membantu Senja memakai helm, sekedar meluruskan helmnya agar lebih lurus lagi. “Sudah? Naik kita berangkat” Tangan Rafka senantiasa membantu sebagai pegangan Senja menaiki motornya.
Tas miliknya dengan sengaja di taruh di tengah-tengah mereka. Jarak penting bagi Senja. Rafka sendiri tidak mempermasalahkan hal itu. Dengan pelan ia menjalankan motornya setelah memastikan Senja sudah nyaman di posisinya.
Angin sore menyambut perjalanan mereka, Senja menyukai jalan sore. Baginya suasana sore lebih terasa hangat di banding waktu lainnya. Lebih dari itu, Penjual makanan lebih banyak juga di pinggiran jalan, membuatnya bebas memilih jajan apa untuk hari-harinya.
Seperti hal nya sekarang. Beberapa kali menemui penjual Pentol bakar membangkitkan rasa mau memiliki dari bawah sadarnya.
“Rafka” panggilan di sertai tepukan pelan di bahu Laki-laki yang sedang mengendarai motor, cara itu berhasil menarik perhatian Rafka.
“Kenapa? Ada yang mau di beliin?” jawabnya sedikit keras, agar terdengar Senja di belakangnya. “Ada, mau pentol bakar. Nanti kalau ada stop ya”
Rafka mengangguk menyetujui. Matanya mulai menelusuri setiap jalanan menuju arah komplek rumah. Ketemu! Pria itu menemukan jajanan yang di mau Senja. Segera ia mulai mengambil jalan pinggir dan berenti tepat di depan penjualnya.
Senja turun tanpa di minta. Berjalan mendekati sosok yang menjual pentol bakar tersebut. “Mang, pentol bakarnya dua porsi ya”
“Oke, sebentar ya neng”
Wajah berbinar yang tidak bisa Senja sembunyikan. Kalau soal jajan akan ia sambut Bahagia. Rona kebahagian Senja menular ke Rafka yang menatapnya tanpa henti. “Happy?” Senja mengangguk senang.
“Banget! Untung kamu lihat, karena setauku di depan sudah ngga ada lagi yang jual pentol bakar”
“Kalau di depan ngga ada lagi ya kita putar balik aja, cari sampai dapat” delikan Senja layangkan ke pria di hadapannya.
“Itu mah mau kamu”
Rafka tertawa pelan “memang, anggap aja pacaran”
Senja berdecak “aku ngga pernah setuju untuk pacaran ya!” tangan Rafka terulur mengusap pelan kepala yang di halangi selembar hijab. “kita memang ngga pacaran, saat ini kita sedang melakukan pendekatan. Benar kan?”
Belum sempat membalas, penjual pentol bakar memanggilnya. Pesanannya telah selesai di siapkan.
“Berapa, mang?”
“Dua puluh ribu, neng” selembar uang pecahan warna hijau bergambarkan pahlawan negara lebih dulu melewati nya, Rafka sudah berada tepat di samping badannya.
“Ini ya, mang. Terima kasih” tidak sampai memberikan waktu menanyakan, Rafka memutar badan Senja lalu mendorong pelan menuju motor mereka “Naik, kalau mau protes nanti saja”
Senja menurut, mau protes juga sudah di wanti-wanti buat diam untuk sementara waktu “Mau langsung pulang atau jalan dulu habisin jajanan? Nanti Bunda marah kamu beli jajan”
Benar, kenapa tidak ia pikirkan itu. Terlebih ini masih hari pertama masuk kerja kan? Di rumah masih banyak makanan malah jajan di luar “Ke taman aja deh, masih jam lima sore juga kan” Rafka mengangguk menyetujuinya.
Motor bergerak maju menuju taman, bersantai di sore hari tidak ada dalam agenda hari ini. Tapi pasti menyenangkan, hal hal sederhana seperti ini akan indah bila di kenang kedepannya.
Sampainya di taman, mereka mencari tempat yang nyaman di tempati, meski hanya satu jam kedepan. Tidak ramai dan tidak sepi adalah gambaran suasana sekarang. Tempat yang menjadi pilihan akhirnya.
Tidak ada tikar, koran ataupun kardus untuk mereka gunakan sebagai alas. Duduk lesehan langsung di rumput hijau yang tumbuh secara sehat di taman itu. Bukan masalah besar bagi Senja. Yang penting bisa duduk tenang dan dapat menikmati pentol bakarnya.
“Ini untukmu, selamat makan” Senja menyerahkan seporsi Pentol Bakar ke Rafka. “Buatmu saja” makanan bulat-bulat itu di geser kembali mendekati Senja.
Kening Senja mengkerut “Lah? Ini buatmu, Rafka. Aku mana bisa menghabisi semuanya”
“Kamu bawa pulang aja” sarannya di gelengi Senja “Aku cukup segini ngga bisa makan lebih. Udah makan aja lagian aku beli dua memang buat kamu satu nya”
Okelah jika begitu, Rafka mengambil lagi pentol yang sudah ia geser tadi. Dari pada makanan itu terombang-ambing tidak ada yang mau lebih baik ia makan kan? Kasian Senja jika dia masih memaksa, yang ada perempuan ini bakal Bad Mood.
“Kemarin kamu lagi ngumpul sama teman?”
Senja mengangguk di sela-sela kunyahannya “Dan kamu menelponku, Vidcall lagi!” ini lah perempuan, tidak puas pada saat di telpon, ketemu langsung pun masih di bahas. Tapi ini salahnya juga kan?
“Aku meminta maaf, Senja. Tapi lebih bagus kalau mereka tau. Hubungan kita bukan yang harus di sembunyikan” gadis manis itu diam, benar. Yang di bilang Rafka tidak ada yang salah, tapi bukan itu mau Senja.
“Tapi terlalu dini, seminggu pun belum ada” jawabnya lirih. Rafka menatapnya “Jadi mau kapan di beri tahunya?”
“Sebulan kemudian, maybe?” Rafka paham mau Senja sekarang. “ada baiknya ketahuan sekarang, Senja. Biar ngga ada masalah kedepannya. Aku tau dan paham maksudmu. Tapi maaf, untuk yang itu aku ngga bisa dan ngga bakal mau mengabulkannya”
Katakanlah ia egois, tapi menyembunyikan hubungan bukan suatu keharusan untuk di iyakan. Hubungan mereka bukan aib, tidak ada yang salah sampai harus di sembunyikan.
Pernyataan tegas Rafka menyadarkannya dari keputusan yang telah ia buat malam itu. Apa yang di lakukan merupakan kesalahan.
Wajah murung Senja di lihat jelas oleh Rafka. pria itu menghela nafas pelan di raih pelan dan lembut tangan milik gadis itu, menggenggamnya “Senja, hubungan kita kedepan mungkin memang masih abu-abu. Tapi aku serius menjalani nya. Dan aku percaya di depan sana bukan lah abu-abu melainkan penuh warna yang akan kita warnai bersama”
Di balasnya tatapan itu, mulut bisa berbohong tapi mata? Tatapan Rafka begitu dalam, terlalu jujur untuk ia katakan berbohong dan terlalu sadis jika di tuduh. “Aku tidak pernah melarangmu untuk meragukan hubungan kita, aku paham bagaimana trauma mu dalam menjalin sebuah hubungan. Aku lah yang memaksamu menerima lamaran ku itu. Jadi aku siap menerima semua penolakanmu sekarang. Tugas ku hanya satu sekarang. Mempertahankan hubungan kita dan mengembalikan lagi sebuah kepercayaan dalam hati mu”
Penjelasan Rafka cukup sampai hati dan pikirannya. Senja sadar dan paham. Tidak perlu ia renungkan dalam diam. Andai Rafka tau penyebab tangisnya malam itu, andai Rafka tau keputusannya malam itu. Tapi Senja belum siap memberi tahu, cukup ia dan tuhan yang mengetahuinya.
“Dah, habisin makananmu. Ngga usah pikirkan ucapanku barusan. Pentolnya enak?” Senja mengangguk “Enak, sepertinya bakal jadi tempat makanan favorit ku nanti” Rafka tersenyum. Senja bisa menanggapi nya kembali. Pembicaraan tadi terlalu sensitive bagi mereka.
“Oh iya, sebelum aku lupa” Senja meraih tas kerjanya, mencari dompetnya dan mengeluarkan uang pecahan “Untuk pentol tadi”
Rafka menatap uang yang di sodorkan Senja,“Hah? Ngga usahlah, Cuma dua puluh ribu. Simpan aja buat bensinmu besok”
Senja mengerjap pelan, uangnya di tolak? “Kenapa sih? Uang juga ini” wajahnya sudah cemberut “Iya memang uang, tapi ngga papa. Aku bayarin sekarang, nanti next kamu yang bayar, deal?”
Wajah Senja enggan tapi Rafka terus mendesaknya “Udah, simpan Senja. Kita pulang sekarang, aku hanya izin sampai jam lima ke abangmu”