Kainara Seroja Putri tidak pernah menyangka kematian akan membawanya kembali ke tahun 1972, terbangun dalam tubuh Seroja Ningsih, gadis desa lemah yang baru saja dibuang oleh ayah kandungnya sendiri.
Dengan bekal sistem game pertanian dan pengetahuan dari masa depan, Seroja harus menghidupkan tanah kapur tandus yang dianggap tidak berguna, mencari jalan untuk bertahan hidup, serta mengembalikan harga diri ibunya yang telah diinjak-injak.
Namun, ketika tanah buangan itu perlahan berubah menjadi sumber kekayaan, Seroja justru menarik perhatian orang-orang yang selama ini menyembunyikan rahasia kelam keluarganya. Sebuah rahasia yang dapat mengubah hidupnya selamanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Posisinya Aman
"Dua puluh buah tiap minggu, Nduk Seroja. Harga premium. Khusus buat hidangan kamar tamu VIP negara."
Manajer Hotel Nusantara menyodorkan selembar kertas berstempel melintasi meja kaca ruang kerjanya. Seroja duduk diam di kursi kulit hitam. Ia tidak langsung meraih pulpen. Matanya menatap deretan angka rupiah di atas kertas itu. Nilainya sungguh besar. Angka itu setara dengan hasil mencangkul dan menyiram tanah kapur berbulan-bulan lamanya.
Di sebelahnya, punggung Bagas tegak kaku. Pemuda sembilan belas tahun itu terus menggesekkan telapak tangannya yang kasar dan penuh kapalan ke celana komprangnya. Keringat dingin menetes lambat dari pelipisnya. Bagas menelan ludah, menatap nominal kontrak di depan matanya dengan tangan gemetar menahan gejolak di dada.
"Kami sepakat, Pak," jawab Seroja lugas.
Gadis berkebaya lurik itu mengambil pulpen tinta. Ia membaca tiap baris pasal perjanjian dengan mata tajam. Ia memastikan tidak ada klausul jebakan yang menuntut ganti rugi tak masuk akal jika terjadi gagal panen akibat cuaca. Setelah yakin posisinya aman, Seroja membubuhkan tanda tangannya di atas meterai.
Pak Subroto yang duduk di seberang meja menghela napas lega. Ia tersenyum lebar menatap anak didiknya. "Ini langkah besar buatmu, Nduk," ucapnya bangga. "Bapak Gubernur memuji habis-habisan melon madumu di depan para bupati semalam. Beliau menolak menyentuh buah impor. Mulai hari ini, nama Koperasi Tani Mandiri punya daya tawar yang kuat di kabupaten ini."
Seroja menyerahkan kertas itu kembali. "Kami akan menjaga kualitas buah kami, Pak. Tiap Senin jam enam pagi, lori kami merapat ke pintu bongkar muat dapur."
"Jangan sampai telat satu menit pun. Tamu negara tidak butuh alasan," tegas sang manajer, menjabat tangan Seroja erat, meresmikan kesepakatan itu.
Begitu pintu besi belakang hotel tertutup, Bagas melompat naik ke atas lori tebunya. Ia tertawa lepas, memukul gagang kayu lori itu berkali-kali untuk meluapkan kegembiraan yang menyesakkan dada. Suaranya menggema memantul di dinding bata gang sempit belakang hotel.
"Kita berhasil, Ro! Kita bakal pegang uang banyak!" seru Bagas. Matanya berkaca-kaca menahan haru. Ia teringat wajah ibunya yang sering menahan lapar. Ia teringat Doni yang harus belajar pakai pensil pendek sisa. "Gubuk Nenek bisa kita ganti atap sengnya. Doni bisa beli seragam baru. Kita menang, Seroja! Kita berhasil mengalahkan mereka!"
Seroja melompat naik ke bak belakang lori. Ia menatap wajah sepupunya yang berseri-seri. Tawa Bagas menular padanya, menyisakan kehangatan yang menjalar meredakan kaku di pundaknya. Perjuangan panjang melawan tanah kapur yang gersang, merawat benih malam-malam, dan menahan hinaan tengkulak pasar akhirnya terbayar lunas di atas secarik kertas kontrak resmi.
Namun, Seroja segera menarik napas dalam-dalam, menekan euforia itu agar tidak membuatnya lengah.
"Kita memang menang hari ini, Mas Bagas," ucap Seroja pelan. Ia menyentuh bahu pemuda itu, menyuruhnya duduk tenang. "Tapi Mas harus ingat satu hal. Uang besar selalu mengundang musuh yang jauh lebih besar."
Bagas menoleh, tawanya mereda seketika. "Maksudmu, preman pasar macam Supri bakal balas dendam?"
"Bukan cuma preman pasar," jawab Seroja sambil memandang jalanan aspal kota yang mulai ramai oleh kendaraan bermotor. "Nama kita sekarang sudah jadi omongan pejabat kabupaten. Hardiman pasti sudah dengar kabar ini. Orang-orang yang benci melihat keluarga kita bangkit tidak akan tinggal diam begitu saja. Mulai besok, kita perketat penjagaan kebun siang dan malam. Jangan biarkan orang asing mendekati bedengan. Pertarungan kita baru saja naik tingkat."
Bagas mengangguk kaku. Otot rahang pemuda itu mengeras. Ia mengayuh sepeda lorinya dengan tenaga penuh, bersiap memikul beban tanggung jawab yang baru saja mereka bawa pulang.
Kekhawatiran Seroja bertransformasi menjadi kenyataan. Di waktu yang sama, seisi kantor Dinas Pertanian Kabupaten ramai membicarakan satu nama, Koperasi Tani Mandiri.
Hardiman berjalan cepat menyusuri lorong kantor. Sepatu kulitnya berderap keras memecah keheningan. Rahangnya terkunci rapat. Baru saja ia melewati ruang tata usaha, dan telinganya menangkap seruan kagum para staf tentang melon madu milik janda pinggir hutan yang masuk ke hotel mewah. Setiap kalimat pujian itu menghantam telinganya.
Ia masuk ke ruang kerjanya dan membanting pintu kayu jati sekuat tenaga. Tas kerjanya ia lempar sembarangan ke atas meja. Napasnya memburu cepat, dadanya naik turun menahan amarah yang mendidih.
Hardiman mencengkeram tepi meja kerjanya kuat-kuat. Anak perempuan yang dulu ia singkirkan bersama ibunya ke pinggir hutan, yang ia anggap hanya beban masa lalu, kini merangkak naik. Gadis itu terang-terangan menantang dan mempermalukan posisi sosialnya di wilayah kekuasaannya sendiri.
Ucapan dingin Ningrum semalam bergema kembali di kepalanya. Istrinya benar. Mengandalkan preman bodoh macam Supri dan Rian hanya berujung pada rasa malu yang panjang. Kekerasan fisik tak sanggup menghentikan langkah bisnis gadis itu. Seroja pintar merangkul orang kecil di pasar, dan kini gadis itu berhasil merangkul lidah pejabat tinggi.
Hardiman menjatuhkan tubuhnya ke kursi empuk. Ia menolak membiarkan Seroja merusak wibawa yang ia bangun bertahun-tahun. Jika adu otot tidak mempan, ia akan memakai senjatanya yang paling tajam. Stempel negara. Ia akan membunuh langkah gadis itu lewat tumpukan kertas birokrasi.
Ia menarik gagang telepon hitam di mejanya dan memutar nomor Kepala Agraria Kabupaten dengan gerakan cepat.
"Pak Harun, ini Hardiman," ucapnya rendah, menahan suaranya agar tidak terdengar ke luar ruangan. "Kita perlu bertemu siang ini. Di luar kantor. Ada urusan batas tanah negara di pinggir Hutan Jati yang harus dibereskan sekarang juga."
Matahari tepat berada di atas kepala saat sedan dinas Hardiman parkir di halaman belakang rumah makan sepi pinggiran kota. Ia melangkah cepat masuk ke ruang VIP yang dihalangi tirai bambu. Pak Harun, pria berbadan gempal dengan kumis tebal, sudah duduk menyesap kopi hitam dari cangkir kaca.
Hardiman menarik kursi dan duduk berhadapan. Ia menolak berbasa-basi. Tangan kirinya merogoh isi tas, menarik sebuah amplop cokelat tebal yang tersegel rapat. Ia mendorong benda itu melintasi meja kayu, langsung ke hadapan Harun.
Mata Harun berbinar menangkap ketebalan amplop itu. Ia menariknya pelan, mengintip ujung tumpukan uang kertas merah di dalamnya, lalu buru-buru memindahkannya ke kantong dalam jas safarinya.
"Urusan mendesak apa yang bikin Pak Hardiman repot-repot bawa bekal seberat ini?" tanya Harun, bibirnya menyunggingkan senyum tamak.
"Tanah kapur tempat gubuk janda Siti berdiri," jawab Hardiman menatap mata pria itu tajam tanpa berkedip. "Gubuk reyot itu ada di garis perbatasan hutan. Mertuaku dulu, si tua Hadi, cuma pegang surat izin garap lahan pertanian. Dia tidak pernah punya sertifikat hak milik yang sah. Sejak dia mati, izinnya hangus dan tidak pernah diperpanjang ke kabupaten. Hitungannya, itu tanah ilegal."
Harun mengangguk pelan. Jari gemuknya mengetuk-ngetuk meja, membaca arah pembicaraan. Ia hafal betul celah hukum pertanahan di desa. "Secara administrasi, tanah dengan izin garap yang mati kembali menjadi aset negara, Pak. Pemerintah berhak mengambil alih sewaktu-waktu tanpa ganti rugi."
"Ambil alih sekarang," potong Hardiman dingin. "Terbitkan surat pembatalan hak garap secara sepihak. Tarik paksa tanah itu ke tangan kabupaten, lalu usir Siti dan anak perempuannya dari sana minggu ini juga."
Harun mengusap kumisnya berulang kali. Mengusir paksa keluarga yang baru saja disorot karena menyuplai buah untuk Gubernur butuh kehati-hatian. Jika hal ini meledak jadi berita, ia butuh tameng hukum. Tapi, rasa berat amplop di sakunya menyingkirkan semua keraguan itu.
"Proses ini butuh alasan tata ruang yang masuk akal, Pak," kata Harun merancang alibi. "Saya akan buat draf laporan bahwa lahan kapur itu masuk ke dalam proyek pelebaran jalan inspeksi kehutanan. Pakai alasan program pemerintah, balai desa maupun aparat tidak akan ada yang berani melawan."
Hardiman tersenyum sinis. Taktik ini jauh lebih rapi, senyap, dan mematikan. Tanpa tanah untuk dipijak, Seroja tak akan punya kebun. Game pertaniannya tak bisa mencetak buah fisik tanpa lahan. Koperasinya akan lumpuh, hotel akan membatalkan kontrak, dan keluarga Siti bakal kembali melarat mengemis di jalanan.
"Kerjakan hari ini juga. Saya mau draf surat pembatalan itu sudah masuk ke meja camat secepatnya," perintah Hardiman tegas seraya bangkit berdiri.
seroja nggak bisa bela diri kah...?