Indonesia
NovelToon NovelToon
Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Jadi Ibu Susuan, Malah Dipuja Komandan Galak

Status: sedang berlangsung
Genre:Duda / Janda / Menikahi tentara
Popularitas:164
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Ditinggal gugur suaminya yang seorang prajurit, Larasati—janda muda dengan bayi perempuan di kampung—terpaksa masuk kompleks kesatrian jadi ibu susuan. Bayi yang ditolak semua orang, yang cuma mau menyusu padanya, ternyata anak sang Komandan Batalyon: Letkol Bramantyo. Lelaki berwajah dingin, bermulut irit, yang ditakuti seisi asrama.
Modalnya cuma sepasang tangan dan lidah yang tahu rasa. Dari semangkuk mi bawang tengah malam, Laras membalik keadaan: dapur satuan yang selalu juara buntut jadi juara lomba, kue keras yang "bisa buat ganjel pintu" jadi rebutan pasar, sampai lahir "Cahaya Siaga"—ransum darurat yang bikin namanya naik kelas. Ibu-ibu Persit yang tadinya nyinyir, mayor licik yang mengincarnya, sampai keluarga durjana yang datang memeras—satu per satu ditumbangkannya, sambil dua anak yatim tumbuh di bawah satu atap.
Yang Laras nggak tahu: semua siasat yang mengancamnya, diam-diam sudah lebih dulu dipatahkan Bram. Lampu yang diganti, popok yang diurus, susu yang dikirim ke kampung—semua dari kantong lelaki dingin itu. Dan yang Bram sembunyikan jauh lebih berat: bocah yang dipanggilnya "anak" bukan darah dagingnya. Ia hanya menepati janji seorang sahabat seperjuangan yang gugur membawa rahasia negara—lima tahun jadi "duda beranak" demi menjaga seorang yatim pahlawan.
Saat rahasia itu akhirnya boleh dibuka, saat dua nama pahlawan diukir di batu nisan dan seorang bocah kecil belajar siapa ayah kandungnya… apakah dua orang yang sama-sama menyimpan luka ini berani menyebut satu kata: keluarga?
"Aku nggak perlu tahu kamu siapa dari mana. Aku cuma tahu kamu bukan orang jahat. Itu cukup."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Surat Pengangkatan

Langkah Sukandar berhenti tepat di depan pintu kamar.

"Endah, lama sekali."

Endah membuka kunci sebelum ia curiga. Aku sudah menata selendang dan menggendong Sena tegak di bahu.

"Sena baru selesai minum," kataku.

Sukandar berdiri menutupi jalan. "Kita belum selesai bicara soal posisi, Ras."

"Kirim penawaran tertulis melalui logistik, Mayor. Saya akan baca."

"Hal seperti ini lebih cepat kalau dibicarakan pribadi."

Sena bersendawa keras. Sesaat kemudian, susu yang baru diminumnya tumpah tepat ke lengan seragam Sukandar.

Lelaki itu tersentak mundur.

"Aduh, maaf." Aku menahan Sena sambil menyerahkan kain. "Bayi kadang gumoh kalau jalannya tertutup terlalu lama."

Endah menunduk, tetapi aku melihat bahunya bergerak menahan tawa.

Sukandar mengusap noda putih di lengannya. Kesempatan itu kupakai melewati pintu.

"Terima kasih jamuannya, Bu Endah. Saya pulang dulu."

Endah menyusul sampai teras dengan alasan membawakan kue. Di balik kotak, ia menyelipkan kain kecil untuk membersihkan Sena.

"Pesan kalau sudah sampai," bisiknya.

"Nomor saya masih ada?"

Ia mengangguk tipis.

Sukandar memanggil dari dalam. Endah langsung kembali, tetapi sebelum berbalik matanya sempat menyampaikan rasa terima kasih. Bukan karena aku menyelamatkannya. Aku belum mampu. Hanya karena aku melihat apa yang selama ini dipaksa tidak terlihat.

Aku berjalan cepat sampai gerbang rumah tanpa berlari. Adi sudah menunggu di jalan sesuai pesan Bram.

"Mbak aman?"

"Aman. Sena baru saja menyelamatkan mamanya."

Kami kembali ke blok logistik. Di depan kamarku, Bram berdiri membawa dua kaleng susu formula dan sepasang sepatu bayi merah.

"Untuk Nala," katanya. "Adi bilang ukuran telapak kakinya segini."

Aku menerima sepatu itu. Bahannya sederhana, solnya lunak, ukurannya mungkin masih sedikit besar. Dadaku menghangat, lalu rasa jijik dari rumah Sukandar kembali naik.

Di dalam salah satu sepatu terselip kaus kaki putih. Bram pasti membelinya sebagai satu set tanpa tahu bahwa bayi yang belum berjalan tidak membutuhkan sol tebal. Ketidaktahuannya tampak begitu jujur hingga aku ingin tertawa.

"Kenapa merah?"

"Di toko tinggal merah dan biru."

"Kenapa nggak biru?"

"Sena sudah punya yang biru."

Jawaban itu membuat dua anak yang belum tinggal serumah terasa telah dipikirkan sebagai sepasang saudara.

"Dia bohong," kataku.

Wajah Bram berubah. "Siapa?"

"Sukandar. Dia bilang ada posisi staf gizi tetap dan bisa mempercepat kalau saya tahu berterima kasih. Nggak ada surat, nggak ada seleksi. Dia menyentuh tangan saya."

Kaleng susu di tangan Bram berderit karena genggamannya.

"Ada saksi?"

"Saat menyentuh, nggak ada. Endah tahu dia menahan saya. Dia juga memperingatkan saya."

"Kamu terluka?"

"Nggak. Saya cuma ingin mandi sampai kulit lepas."

Bram menarik napas perlahan. "Masuk. Kunci pintu. Saya urus."

"Jangan buat tuduhan yang Endah belum siap dukung."

Tatapannya bertemu denganku. "Saya nggak akan menyeretnya. Tapi umpan posisi itu bisa dipatahkan."

***

Aku, Bram, baru memahami seluruh permainan Sukandar ketika Laras menyebut jabatan.

Ia mengira kebutuhan Laras akan penghasilan tetap bisa dipakai untuk membeli kedekatan. Selama statusnya hanya pelatih per sesi, umpan itu akan terus terlihat masuk akal.

Aku memanggil Hendra malam itu.

"Apakah dapur memang membutuhkan pelatih teknis tetap?"

"Setelah program standardisasi, iya. Pekerjaan harian bertambah: audit porsi, pelatihan, evaluasi resep. Tapi formasinya belum ada."

"Buat analisis kebutuhan. Jabatan jangan `staf gizi`; Laras tidak punya kualifikasi itu. Gunakan `pelatih teknis dapur dan standardisasi resep`. Cantumkan kompetensi, beban kerja, tarif, masa evaluasi."

"Nama calon ditulis?"

"Setelah kebutuhan disetujui. Gunakan hasil jamuan, nilai bulanan, dan rekomendasi Wardhana sebagai bukti pekerjaan, bukan kedekatan."

Kami bekerja sampai lewat tengah malam. Pengajuan dikirim ke kantor Wardhana melalui jalur resmi. Pagi berikutnya, balasan disposisi datang: kebutuhan disetujui untuk masa uji enam bulan, penetapan calon melalui verifikasi logistik.

Wardhana menambahkan catatan tangan: `Pastikan jabatan mengikuti kompetensi, bukan titipan.` Kalimat itu menjadi pelindung sekaligus ujian. Jika Laras ditetapkan, seluruh bukti harus menunjukkan ia memang mampu.

Hendra menyusun tabel hasil. Nilai dapur sebelum dan sesudah pelatihan. Penghematan bahan. Konsistensi porsi. Tidak ada kejadian keamanan pangan. Keberhasilan jamuan. Kemampuan dua pembantu mengulang resep tanpa dirinya.

"Ada calon lain?" tanyaku.

"Dua juru masak punya pengalaman, tetapi tidak pernah melatih dan belum membuat sistem tertulis. Mereka tetap diberi kesempatan mengajukan."

"Bagus. Beri tenggat dan kriteria yang sama."

Aku ingin Laras menang, tetapi kemenangan yang dirancang tanpa saingan akan menjadi senjata untuk menyerangnya. Proses yang adil bukan hambatan. Itu satu-satunya cara memastikan pekerjaannya tidak bisa dicabut oleh perubahan suasana hati seorang perwira.

Laras memenuhi semua kriteria yang kami tulis berdasarkan pekerjaan nyata. Hendra memeriksa identitas, status pajak sederhana, rekening honor, dan surat kesehatan. Darman menyerahkan evaluasi kinerja. Tidak ada satu tanda tangan pun yang bisa disebut hadiah pribadi.

Dua calon lain akhirnya memilih tetap pada tugas masak dan mengikuti pelatihan lanjutan. Mereka menandatangani berita acara tanpa keberatan. Hendra mengirim hasil verifikasi ke Wardhana, lalu menerima persetujuan penetapan.

Surat pengangkatan memuat gaji bulanan, masa uji enam bulan, atasan kerja Darman untuk kegiatan dapur, evaluasi Hendra untuk administrasi, dan larangan menjalankan fungsi klinis. Laras tetap boleh menyusui Sena dengan jadwal yang disepakati.

Setiap garis dibuat agar tak ada Sukandar kedua yang bisa menjanjikan sesuatu di ruang tertutup.

Aku menandatangani laporan penetapan terakhir.

"Kirim salinan ke semua perwira terkait, termasuk Sukandar," kataku.

Hendra mengangguk. "Mulai minggu depan?"

"Setelah Laras menandatangani kesediaan. Jangan anggap dia pasti menerima."

***

Siang itu, Sukandar membuka salinan surat di kantornya.

Posisi tetap yang ia pakai sebagai umpan kini benar-benar ada. Nama Laras tercantum sebagai calon terverifikasi. Di bawahnya ada disposisi Wardhana, rekomendasi Darman, pemeriksaan Hendra, dan tanda tangan Bram.

Di halaman lampiran, nama Sukandar hanya muncul sebagai penerima tembusan. Ia tidak lagi menjadi pintu yang harus dilewati Laras. Tak ada ucapan terima kasih pribadi yang bisa ditagih, tak ada pertemuan tertutup yang bisa dipaksakan.

Ratna duduk di depan mejanya. "Jadi dia benar-benar diangkat?"

"Belum. Dia harus menerima."

"Tapi kalau diterima, makin susah dikeluarkan."

Sukandar membaca tanggal pengajuan. Bram bergerak pada malam yang sama setelah Laras pulang dari rumahnya.

Artinya, Laras sudah bicara.

Senyum di wajah Sukandar menghilang.

Ia mencoba membuka celah prosedur, tetapi setiap halaman memiliki dasar dan bukti. Kalau ia menolak tanpa alasan, justru dirinya yang terlihat menghambat program yang dipuji Wardhana.

"Biarkan," katanya akhirnya.

"Pak Kandar?"

"Bram baru memenangkan satu langkah. Bukan permainan."

Namun saat menatap tanda tangan Danyon di halaman terakhir, Sukandar bahkan tidak lagi mampu memaksakan satu senyum palsu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!