Indonesia
NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Sang Naga

Reinkarnasi Sang Naga

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Sistem
Popularitas:7.2k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Lin Chen adalah pewaris sah dari Keluarga Lin di Ibukota Jingcheng. Namun, karena intrik ibu tirinya dan adik tirinya (Lin Tian), meridiannya dihancurkan, dia dijebak atas kejahatan penggelapan, dan dibuang ke kota kecil Donghai sebagai orang cacat. Tunangannya yang kejam, Ye Mei, akhirnya membunuhnya di gang gelap.
​Namun, takdir berkata lain. Lin Chen terbangun 5 tahun di masa lalu, tepat di hari ia dibuang ke Donghai. Kali ini, ia tidak hanya membawa ingatan masa depannya, tetapi jiwanya telah terikat dengan [Sistem Penguasa Urban Tertinggi]. Mulai dari menyembuhkan tubuhnya, membangun kerajaan bisnis, hingga menguasai seni bela diri kuno, Lin Chen bersumpah akan menginjak-injak mereka yang pernah mengkhianatinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Runtuhnya Perisai Besi

​Keheningan di dalam Paviliun Sembilan Harta begitu pekat hingga detak jantung ratusan orang di ruangan itu terdengar seperti tabuhan genderang yang kacau.

​Pemandangan di depan mereka benar-benar menghancurkan akal sehat. Jenderal Besar Qin Cang—sosok yang bahkan bisa membuat Presiden menundukkan kepala—memberi hormat militer kepada seorang pemuda yang dianggap sebagai "sampah buangan" oleh Keluarga Lin.

​Jenderal Zhao Kuang, yang beberapa menit lalu berteriak arogan, kini masih berlutut di lantai marmer. Tubuhnya yang kekar bergetar hebat. Keringat dingin mengalir deras dari pelipisnya, membasahi seragam kebesarannya.

​"Kakek Qin, kau terlalu formal," ucap Lin Chen sambil tersenyum hangat, perlahan menurunkan tangan pria tua itu. "Silakan naik ke lantai dua. Nona Fang Meng sudah menyiapkan teh Longjing kualitas terbaik untukmu."

​Qin Cang tertawa lepas, tawanya menggetarkan udara. "Hahaha! Baik, baik! Melihatmu berdiri tegap dan mewarisi ketegasan ibumu, kakek tua ini merasa sepuluh tahun lebih muda!"

​Namun, saat Qin Cang membalikkan badannya dan menatap Jenderal Zhao Kuang yang masih berlutut, tawa ramah itu seketika lenyap, digantikan oleh aura membunuh dari seorang veteran perang yang telah menumpahkan darah ribuan musuh.

​"Zhao Kuang," panggil Qin Cang dengan suara bariton yang menusuk tulang.

​"S-S-Siap, Jenderal Besar!" Zhao Kuang menjawab dengan suara parau, nyaris menangis.

​"Siapa yang memberimu wewenang memobilisasi Pasukan Serigala Besi keluar dari barak?!" bentak Qin Cang. Suaranya bergema seperti guntur. "Kau menggunakan aset pertahanan negara yang dibiayai oleh keringat rakyat untuk menjadi preman bayaran demi membalas dendam urusan pribadi keluargamu?!"

​"J-Jenderal Besar, ini salah paham! T-Tempat ini dicurigai sebagai sarang teroris—"

​"TUTUP MULUTMU!"

​Salah satu Jenderal Bintang Tiga yang berdiri di belakang Qin Cang melangkah maju dan menendang dada Zhao Kuang hingga pria itu tersungkur ke belakang.

​"Beraninya kau berbohong di depan Jenderal Besar Qin?!" bentak Jenderal Bintang Tiga itu. "Intelijen militer pusat telah memantau pergerakan ilegalmu sejak kau mengeluarkan perintah! Kau memalsukan stempel keamanan nasional!"

​Qin Cang menancapkan tongkat kayunya ke lantai dengan keras. "Mulai detik ini, Zhao Kuang dicopot dari jabatan Komandan Divisi Keamanan Khusus dengan tidak hormat! Lucuti senjatanya, cabut pangkatnya, dan seret dia ke pengadilan militer atas tuduhan penyalahgunaan kekuasaan tingkat tinggi dan pengkhianatan!"

​"TIDAK! K-Kalian tidak bisa melakukan ini! Aku adalah Jenderal! Aku mewakili Keluarga Zhao!" raung Zhao Kuang panik saat dua prajurit dari kesatuannya sendiri—yang kini tunduk pada perintah Jenderal Bintang Tiga—maju dan secara paksa merobek lencana bintang dari kerah seragamnya.

​Melihat paman kebanggaannya, perisai militer terbesar Keluarga Lin, dilucuti pangkatnya dan diseret pergi seperti anjing liar, mental Lin Tian hancur total. Ia terhuyung mundur dan jatuh terduduk di lantai.

​Zhao Yuhua, sang ibu suri yang biasanya selalu penuh perhitungan, kini wajahnya sepucat mayat. Bibirnya bergetar, matanya menatap liar tak percaya. Rencananya yang sempurna... hancur lebur hanya dengan kedatangan satu orang pria tua!

​Lin Chen melangkah maju, perlahan menuruni sisa anak tangga, lalu berhenti tepat di hadapan Zhao Yuhua dan Lin Tian.

​"Kau bilang Ibukota adalah tempat di mana kekuasaan negara adalah raja absolut, bukan?" Lin Chen menatap Zhao Yuhua dengan pandangan merendahkan. "Lalu bagaimana rasanya melihat rajamu dilumpuhkan di hadapanmu?"

​Zhao Yuhua menggigit bibirnya hingga berdarah. "L-Lin Chen... kau bajingan! Sihir apa yang kau gunakan untuk memanipulasi Jenderal Besar Qin?!"

​"Sihir?" Lin Chen tertawa sinis. "Ini disebut koneksi. Sesuatu yang kau pikir hanya dimiliki oleh Keluarga Lin. Kau selalu berpikir bahwa aku, anak dari wanita yang kau anggap rendah, tidak akan pernah bisa menyamai darah biru kalian."

​Lin Chen mencondongkan tubuhnya ke depan, berbisik di telinga Zhao Yuhua dengan nada sedingin es. "Darah yang mengalir di tubuhku... jauh lebih mulia dari yang bisa dibayangkan oleh otak sempitmu."

​Lin Chen kembali berdiri tegak dan mengayunkan tangannya, memberi isyarat mengusir.

​"Aku sudah bilang, aku memberimu waktu tujuh hari. Hari ini adalah hari ketiga. Aku tidak akan membunuh kalian malam ini," ucap Lin Chen tegas, suaranya menggema ke seluruh paviliun. "Pulanglah. Beri tahu Lin Zheng. Kartu militer kalian sudah hancur. Jika kalian punya kartu lain dari dunia bawah atau dunia bela diri, keluarkan semuanya. Karena di hari ketujuh... tidak akan ada lagi Keluarga Lin di Ibukota."

​Lin Tian yang ketakutan segera menarik lengan ibunya. "I-Ibu... ayo kita pergi dari sini... dia monster!"

​Di bawah tatapan mencemooh dari ratusan elit Ibukota dan moncong senapan para prajurit yang kini memihak Qin Cang, Zhao Yuhua dan Lin Tian berjalan gontai keluar dari paviliun dengan sisa-sisa harga diri yang hancur berkeping-keping.

​Setelah mereka pergi, Jenderal Besar Qin Cang menoleh kepada para tamu elit yang masih gemetar di kursi mereka.

​"Lanjutkan acara kalian," ucap Qin Cang santai, lalu berjalan menaiki tangga didampingi oleh Lin Chen dan Paman Bai.

​Malam itu, pelelangan di Paviliun Sembilan Harta menjadi legenda di Ibukota.

​Kehadiran Jenderal Besar Qin Cang adalah garansi mutlak terkuat yang pernah ada. Para Kepala Keluarga yang tadinya ragu-ragu, kini berlomba-lomba layaknya orang gila untuk menawar Pil Pemanjang Umur dan menandatangani kontrak aliansi dengan Grup Su serta Keluarga Shen.

​Mereka tahu, Keluarga Lin sudah tamat. Lin Chen adalah penguasa masa depan Ibukota!

​Di Ruang VIP Lantai Tiga.

​Lin Chen menuangkan teh Longjing hangat ke dalam cangkir porselen dan menyodorkannya kepada Qin Cang.

​"Kakek Qin, terima kasih. Kehadiranmu menyelamatkanku dari keharusan membantai pasukan militer negaraku sendiri," ucap Lin Chen tulus. Jika Qin Cang tidak datang, Lin Chen terpaksa harus menggunakan kekerasan untuk kabur, yang akan membuatnya dicap sebagai buronan negara.

​Qin Cang menyesap tehnya, matanya menatap Lin Chen lekat-lekat.

​"Nak, kau persis seperti ibumu. Tenang, mematikan, namun sangat penuh perhitungan," desah Qin Cang. "Dua puluh tahun yang lalu, ibumu pernah menyelamatkan nyawaku di medan perang utara. Dia menggunakan teknik penyembuhan yang melampaui nalar manusia. Sejak saat itu, aku bersumpah akan melindunginya. Namun... dia melarangku untuk ikut campur saat dia 'meninggal'."

​Lin Chen mengerutkan kening. "Meninggal dalam tanda kutip? Kakek Qin, apakah kau tahu penyebab kematian ibuku yang sebenarnya? Keluarga Lin bilang dia meninggal karena sakit kronis."

​Qin Cang mendengus. "Sakit? Ibumu memiliki kekuatan yang bisa meratakan sebuah gunung! Bagaimana mungkin dia mati karena sakit? Lin Zheng dan Keluarga Lin tidak tahu apa-apa. Mereka hanyalah pion bodoh."

​Ekspresi Qin Cang berubah menjadi sangat serius. "Aku tidak tahu persis siapa musuh ibumu, Nak. Tapi sebelum dia menghilang, dia pernah memberitahuku bahwa dia sedang diburu oleh eksistensi dari Dunia Bela Diri Tersembunyi (Hidden Martial World)—sebuah ranah kuno yang berada jauh di atas keluarga-keluarga sekuler Ibukota."

​"Dunia Bela Diri Tersembunyi..." gumam Lin Chen. Matanya memancarkan ketajaman. Jadi benar dugaannya, kematian ibunya bukanlah hal yang wajar!

​"Keluarga Lin saat ini mungkin sudah kehilangan kekuatan militer dan ekonomi mereka berkat taktikmu," lanjut Qin Cang, mengingatkan. "Tapi ingatlah ini, Lin Chen. Mengapa sebuah keluarga biasa seperti Lin bisa menanjak begitu cepat dan memiliki pelindung Tahap Langit seperti Tetua Huang?"

​Lin Chen tersadar. "Mereka memiliki koneksi dengan Dunia Tersembunyi itu?"

​"Tepat," Qin Cang mengangguk berat. "Kakekmu (dari pihak Lin) pernah menyelamatkan salah satu tetua dari Sekte Pedang Darah, sebuah faksi kuno dari Dunia Tersembunyi. Tetua Huang hanyalah salah satu murid buangan mereka yang ditugaskan menjaga Keluarga Lin. Jika kau menekan Keluarga Lin hingga ke titik krisis, mereka pasti akan membakar dupa pemanggil dan mendatangkan monster sejati dari sekte tersebut."

​Lin Chen terdiam, memproses informasi ini.

​Sekte Pedang Darah. Nama itu tersimpan rapi di dalam otaknya.

​Jika Keluarga Lin memanggil bala bantuan dari sekte kuno, maka level pertarungan di hari ketujuh nanti tidak akan lagi berskala Kelas Bumi, melainkan pertarungan antar ahli Tahap Langit, atau bahkan lebih tinggi!

​"Terima kasih atas peringatannya, Kakek Qin," Lin Chen tersenyum tipis, matanya tidak memancarkan ketakutan, melainkan antisipasi yang membara. "Biarkan mereka memanggil siapa pun. Semakin banyak rumput liar yang datang, semakin mudah bagiku untuk mencabutnya sekaligus."

​Setelah percakapan panjang itu, Qin Cang berpamitan pulang, meninggalkan jaminan bahwa militer Ibukota tidak akan pernah lagi mencampuri urusan Lin Chen.

​Lin Chen kembali ke penthouse-nya di tengah malam. Ia tidak tidur. Ia duduk bersila di tengah ruangan, menyatukan pikirannya dengan Giok Penelan Surga.

​Ia butuh memulihkan Qi-nya menjadi 100% dan mempersiapkan kartu as baru sebelum fajar hari ketujuh menyingsing.

​[Ding!]

[Status Pemulihan Qi: 90%... 95%...]

[Estimasi Pemulihan Total: 24 Jam.]

​"Sistem," batin Lin Chen. "Berapa banyak poin yang aku miliki dari menghancurkan markas pembunuh bayaran semalam?"

​[Total Poin Host saat ini: 28.000 Poin.]

​"Bagus. Buka Toko Sistem. Aku butuh sesuatu yang bisa membuat ahli Tahap Langit dari Dunia Tersembunyi menyesal pernah turun gunung."

1
Arinto Ario Triharyanto
Wokeee 😎
Arinto Ario Triharyanto
yoooiiiii muantaffff ini ☕😎
Arinto Ario Triharyanto
muantaffff ini 😎👍
Arinto Ario Triharyanto
yoaiii
Arinto Ario Triharyanto
muantaffff 😎
Arinto Ario Triharyanto
mantap ini 😎 ☕☕☕
Arinto Ario Triharyanto
yoiii lanjutken..😎
Arinto Ario Triharyanto
yoiii😎
Arinto Ario Triharyanto
yoi😎
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!