Miracle. menceritakan Ayyasy dan teman-temannya yang hanya siswa biasa melihat bintang jatuh yang jatuh ke arah gunung belakang komplek mereka. mereka menyentuh batu itu dan mendapatkan kekuatan. setelah mereka mendapatkan kekuatan, ancaman ancaman dari monster monster mulai berdatangan. mereka pun harus menjadi penjaga dunia.
bersamaan dengan itu, mereka juga mulai bertemu dengan pahlawan pahlawan dari kota lain yang memiliki nama tim yang sama yaitu, Miracle
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayyasy Asy-Syaif, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertahanan di SMA Perbatasan
Halaman utama SMA Perbatasan telah berubah menjadi medan tempur yang sengit. Pecahan energi kehampaan yang dikirim oleh Erebos terus memunculkan makhluk-makhluk bayangan bermata merah yang melompat ganas menembus gerbang sekolah.
Di tengah situasi yang kritis, ke-28 anggota Miracle yang tersisa bergerak mati-matian. Arkan dan Rehan berdiri di depan koridor utama, menghentakkan tangan mereka ke tanah untuk memicu tembok perlindungan tanah dan kayu yang tebal. Tembok itu menjadi benteng kokoh tempat para siswa dan guru berlindung dengan aman. Di balik garis pertahanan tersebut, Nailu, Cinta, dan Serafe bergerak cepat mengobati luka-luka ringan siswa dan guru menggunakan sihir pemulihan serta pertolongan pertama.
Sementara itu, di garda paling depan halaman sekolah, pertempuran sengit tak terelakkan. Azkailah berdiri memimpin barisan pelapis bersama Ghani, Fadhil, Iyan, Ghofar, Rava, Alya, Dhafina, Delila, Delaya, dan Rahman. Mereka memadukan sihir elemen dan serangan jarak dekat untuk menahan gempuran musuh agar tidak menerobos ke area bangunan utama.
Azkailah terlalu fokus menghabisi makhluk-makhluk di depannya dengan kedua pedang halilintar hingga tidak menyadari satu bayangan tajam meluncur cepat ingin menyerangnya dari sisi samping. Tepat sebelum cakar musuh menyentuh Azkailah, Rava dengan sigap pasang badan di sampingnya, menahan sabetan itu menggunakan perisai berliannya yang sangat kokoh.
CLANG!
"Fokus, Azkailah! Gua jaga sisi samping lu!" seru Rava mantap seraya memantulkan kembali serangan musuh. Pipi Azkailah memerah, lalu ia kembali fokus ke pertarungan.
Di sudut lain pertarungan, Ghofar dan Nailu menjadi duet yang sangat solid. Ghofar menebas barisan bayangan dengan serangan tombak bulan jarak dekatnya, sementara Nailu memberi dukungan serangan tepat dari belakang, membuat makhluk-makhluk itu kocar-kacir tak berdaya.
Dari ketinggian rooftop sekolah, Sintia, Gita, dan Vikka mengambil alih serangan jarak jauh. Sintia memancarkan proyektil es yang membekukan pergerakan musuh, Gita menembakkan peluru sihir presisi tinggi, dan Vikka melepaskan tembakan laser dari atas untuk memecah konsentrasi pasukan bayangan.
Namun, ketenangan posisi mereka di atap tidak bertahan lama. Salah satu makhluk bayangan mencuat secara mendadak dari dalam kegelapan dinding belakang Sintia dan menghantam punggungnya dengan keras!
BAM!
Sintia terdorong kuat hingga tubuhnya melewati garis pembatas atap dan jatuh bebas dari ketinggian gedung sekolah!
"SINTIA!" teriak Gita dan Vikka panik.
Di bawah, Iyan yang sedang bertarung refleks mendongak. Tanpa membuang waktu satu detik pun, Iyan melompat tinggi memicu aliran energinya dan dengan sigap menangkap tubuh Sintia di udara sebelum menyentuh tanah.
TAP.
Iyan mendarat mulus dengan posisi menggendong Sintia. Selama beberapa detik, keduanya bertatap mata dalam keheningan di tengah bisingnya medan tempur. Iyan memastikan Sintia tidak terluka, sementara detak jantung Sintia berdegup sangat kencang—berbaur antara rasa takut, panik, kaget, dan sedikit perasaan hangat atas aksi refleks Iyan yang menyelamatkannya.
"Lu gapapa, Sintia?" tanya Iyan pelan seraya menurunkan Sintia dengan hati-hati.
"G-gapapa, Yan... makasih banyak," bisik Sintia dengan wajah yang sedikit merona sebelum kembali memfokuskan sihir esnya.
BOOM!
Tepat di saat ketegangan mencapai puncaknya, kobaran api emas dan bayangan hitam menyambar gerbang depan. Ayyasy, Night, Dimas, dan Arunnaqa akhirnya sampai di SMA Perbatasan dan langsung menerjunkan diri ke tengah pertempuran!
"Semuanya, tahan!" komando Ayyasy dengan Dragon Flame Aura yang kembali membara.
Arunnaqa melangkah maju untuk memindai sisa-sisa koordinat musuh, tetapi beberapa makhluk bayangan mendadak mengepungnya dari segala arah. Sebelum cakar-cakar hitam itu sempat menyentuh Arunnaqa, Night sudah melesat cepat bagaikan kilat.
"Sihir Bayangan: SHADOW KILL!"
FLASH!
Dalam satu garis tebasan melingkar yang sempurna, Night menghabisi seluruh makhluk yang mengepung Arunnaqa hingga hancur menjadi debu hitam. Night berdiri membelakangi Arunnaqa, memastikan gadis itu aman tanpa goresan sedikit pun.
Ayyasy yang melihat pemandangan itu dari jarak beberapa meter tersenyum tipis. Di dalam hatinya, Ayyasy membatin, "Kayaknya yang cocok di samping Arunnaqa itu elu dah, Night. Jagain dia, ya."
Di dekat area taman, Tasya yang sedang memfokuskan energi portalnya mendadak terserang oleh salah satu makhluk bayangan hingga terhempas ke tanah. Melihat hal itu, Ayyasy langsung melesat membalas serangan tersebut dengan pukulan naga api hingga musuh musnah tak tersisa.
Ayyasy berlutut mengulurkan tangannya. "Sya! Lu gapapa?!" ucap Ayyasy sambil membantunya bangkit.
"Gua gapapa, Ayyasy! Makasih!" jawab Tasya seraya mengencangkan pijakannya kembali.
Dengan bergabungnya kembali Ayyasy, Night, Dimas, dan Arunnaqa, ke-32 anggota Miracle dari Empat Kota kini bersatu padu sepenuhnya. Menggabungkan sihir, teknologi, pertahanan batu, dan serangan jarak jauh, mereka melancarkan gempuran balasan secara serentak hingga seluruh sisa makhluk bayangan buatan Erebos di SMA Perbatasan berhasil dimusnahkan tanpa sisa.
Halaman sekolah kembali tenang. Meski lelah menguras energi, seluruh siswa, guru, dan ke-32 pahlawan Miracle selamat, berhasil mempertahankan benteng sekolah mereka dari ancaman kehampaan.