Sungguh tidak menyangka bagi dokter Rembulan. Ia akan mendengar permintaan aneh dari Mentari sahabat sekaligus pasiennya yang sudah dia tangani selama satu tahun. Mentari meminta untuk menjadi ibu bagi Talita. Menjadi ibu tiri anak Mentari berarti Rembulan harus menikah dengan Bintang suami sahabatnya.
Jelas Bintang suami Mentari menolak dengan tegas.
"Tolonglah Mas, Demi anak kita, aku sudah tidak kuat lagi."
"Sayang... jangan berpikir yang aneh-aneh, kamu akan sembuh dan kita akan hidup bahagia selamanya."
Apakah Bulan akhirnya menyanggupi permintaan Mentari? Lalu bagaimana tanggapan Bintang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Buna Seta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Mentari akhir-akhir ini merasakan sakit di bagian perut yang luar biasa. Sebenarnya sakitnya sudah ia rasakan sejak sebulan terakhir, tapi tidak mau menceritakan kepada Bintang sang suami.
Pagi itu pun seorang diri ia memeriksakan kondisinya ke rumah sakit besar, tapi lagi-lagi tanpa memberi tahu Bintang. Di ruang tunggu, wanita yang bernama lengkap Mentari Lauren itu menunggu antrian dipanggil ke ruangan periksa sambil sesekali meremas perutnya seolah tidak tahan lagi.
"Mentari Lauren..." Panggilan itu akhirnya tiba.
Dengan langkah lambat, Mentari mengetuk ruang periksa dan terdengar perintah "masuk" oleh seorang wanita dengan suara lembut. Mentari segera mendorong kenop pintu hingga terbuka.
"Selamat pagi, Dok..." ucap Mentari menatap wanita yang menggunakan baju dokter dan sedang memeriksa dokumen bersama perawat.
Dokter wanita sangat cantik mengangkat kepala sambil menjawab ucapan selamat pagi.
Dua wanita itu sesaat saling pandang berdiri di tempat masing-masing karena merasa familier.
"Mentari..."
"Rembulan..."
Sapa mereka serentak, masing-masing tersenyum, keduanya melangkah maju lalu berpelukan. Mereka rupanya sahabat saat SMA dulu. Namun, harus berpisah karena Mentari kuliah ambil jurusan ekonomi di salah satu kampus ternama. Sementara Rembulan kuliah kedokteran di perguruan tinggi negeri tepatnya di daerah Jawa.
Sesaat rasa sakit Mentari sedikit berkurang begitu bertemu teman, lalu masing-masing bertanya tentang kabar.
"Kamu hebat Bulan," ucap Mentari menatap sahabatnya nampak anggun dan berwibawa dengan pakaian dokter.
"Kamu juga... Oh iya, sudah menikah belum?" Tanya Rembulan menatap Mentari lekat, selama dua belas tahun tidak bertemu terjadi perubahan besar di tubuh Mentari sahabatnya. Badanya lebih kurus dan wajahnya pucat. Sebagai seorang dokter tentu saja Bulan sudah bisa menerka bahwa sahabatnya mengidap penyakit serius.
"Aku sudah punya anak," jawab Mentari tersenyum. "Kamu sendiri?" imbuhnya.
"Aku belum laku Ri, hehehe..." pungkas dokter Rembulan lalu mememeriksa sahabatnya sebagaimana pasien yang sering ia tangani. Tiba-tiba saja wajah Rembulan tampak sedih setelah mendengar keluhan Mentari dan hasil pemeriksaan untuk sementara.
"Ri, sudah berapa lama kamu merasakan sakit? Lalu mana suami kamu?" Bulan kecewa kenapa suami Mentari tidak mengantar istrinya ke rumah sakit.
"Aku memang tidak pernah memberi tahu Bintang, Bulan..." jujur Mentari.
"Loh, kenapa?" Muncul pertanyaan di benak Rembulan, ada kdrt yang dilakukan suaminya hingga sahabatnya drop seperti itu.
"Aku hanya tidak ingin menambah beban pikiran suamiku; Bulan... Memang sakit apa aku?" Mentari menangkap perubahan di wajah dokter Rembulan, seolah dirinya menderita penyakit serius.
Dokter Rembulan hanya menggeleng lemah, menahan rasa sesak di dada. Dari cici-ciri dan keluhan sahabatnya itu segera menyimpulkan bahwa Mentari menderita penyakit kanker, tapi ia berusaha untuk tidak menceritakan kepada pasien sebelum semuanya jelas.
"Nanti cek laboratorium dulu Ri, kontrol berikutnya ajak suamimu ya..." saran Rembulan bermaksud berbicara dengan Bintang tentang penyakit Mentari.
***********
"Mas, kita pulang saja," ucap wanita 30 tahun merasa percuma walau diobati.
Begitulah keadaan Mentari. Wajahnya semakin pucat, bandan kurus dan lelah, tampak tidak berdaya di ranjang pasien. Penyakit kanker yang ia derita tidak kunjung sembuh walau suaminya sudah berusaha dengan segala cara, dari pengobatan medis, maupun alternatif.
"Sayang... kamu akan sembuh, yang semangat ya," jawab Bintang sang suami. Tangan kekar itu mengusap kepala istrinya penuh kasih sayang.
"Tapi, aku merasa hidupku tidak akan lama lagi," ucap Mentari benar-benar putus asa.
"Hus, kamu tidak boleh bicara begitu," dada Bintang sesak setiap mendengar kata-kata istrinya menyerah seperti itu.
"Aku ingin bicara Mas, jangan potong dulu," lirih Mentari, lalu melanjutkan kata-katanya walau patah-patah.
"Kamu sebaiknya segera menikah lagi," pinta Mentari tapi tidak boleh menikahi wanita sembarangan, karena dia sudah mempunyai pilihan wanita yang cocok untuk mendampingi Bintang suaminya dan membesarkan Talita anak mereka.
Selama setahun ini dokter Rembulan sering kali datang ke rumah, merawatnya dan juga sayang kepada Talita.
Bintang belum sempat menjawab, terdengar langkah sepatu pantofel wanita. Dia segera menoleh ke arah dokter Bulan yang selalu menangani istrinya.
Wajah Mentari yang semula pucat sedikit cerah saat dokter Rembulan masuk. Inilah saatnya ia harus berbicara untuk menjodohkan mereka. Mentari Yakin jika Bulan bisa menggantikan posisinya menyayangi anak dan suaminya.
"Selamat pagi Mentari, Pak Bintang..." ucap Dokter Rembulan meletakkan stetoskop perlahan di atas meja, lalu menatap Mentari yang duduk lesu di atas tempat tidur pemeriksaan. Rembulan sudah satu tahun sejak pertama kali ia memegang berkas penyakit Mentari sejak hari mereka berdua sama-sama berharap ada cahaya yang akan muncul perlahan. Namun, rupanya harapan tinggal harapan.
"Bagaimana rasanya minggu ini, Tari?" tanyanya lembut, melangkah mendekat dan berdiri di samping Mentari. Tangannya menyentuh lengan ringkih sahabatnya dengan hati-hati lebih dari biasanya.
Mentari menghela napas panjang, senyum tipis yang dulu sering ia tampilkan kini tidak lagi ada. "Sama saja, Bulan..." lanjutnya menyerah.
Bintang memang tidak bersuara tapi tangannya mengusap pundak Mentari dengan penuh kepedihan. Tidak menyangka jika istrinya yang ia nikahi sejak lima tahun yang lalu sama sekali tidak pernah mengeluh tapi ternyata menderita penyakit ganas.
"Kamu harus sabar ya..." Bulan pun sebenarnya tidak punya harapan walau setipis tisue, tapi ia tidak mau melangkahi kehendak-Nya, dan keajaiban itu akan selalu ada.
"Tapi rasanya aku tidak kuat lagi Bulan..." Mentari merasa merepotkan orang sekitar, kadang sampai tidak bisa bangun dari kasur, rasa mual juga selalu datang setiap saat. Dia menatap suaminya yang tampan itu tidak tega karena harus bolak-bolak rumah dan kantor demi dirinya.
"Saya mengerti Tari..." Dokter Rembulan mengangguk lambat, hatinya terasa sesak, sambil melanjutkan pemeriksaan.
Ia memikirkan berkas rekam medis yang sudah tebal, berisi catatan setiap kemoterapi yang Mentari jalani, setiap hasil pemeriksaan, harapan yang ditanam setiap bulan, dan kenyataan yang berulang kali mematahkan harapan itu.
Ia memeriksa denyut nadi, menekan lembut area yang sakit, lalu menatap layar hasil pemindaian terbaru di depannya. Namun, tidak ada perubahan berarti. Sel kanker bahkan semakin menyebar, masih menekan organ-organ tubuh Mentari, persis seperti bulan-bulan sebelumnya.
Ia menarik napas pelan sebelum berbicara, suaranya penuh kelembutan namun tak bisa menyembunyikan kesedihan. "Mentari, yakinlah bahwa akan ada keajaiban dari sang pencipta. Sahabat aku akan sembuh dan hidup bahagia selamanya bersama keluarga hingga tua nanti," kata Rembulan melirik Bintang yang tidak bisa berkata-kata lagi selain menunjukkan kesedihan.
Mentari menunduk, bahunya terguncang pelan. "Keajaiban memang selalu ada Bulan, tapi bukan untukku," ucapnya lirih.
Menteri sudah ikhlas jika esok atau lusa dipanggil oleh Tuhan, tapi bagaimana dengan Talita?
"Kamu harus yakin Mentari," jawab Dokter Rembulan meminta sahabatnya untuk selalu memohon agar segera sembuh sambil menggenggam tangan dingin sahabatnya. "Saya tahu ini berat. Sangat berat. Aku akan terus berusaha demi kesembuhan kamu. Kita akan cari opsi lain, konsultasi dengan tim spesialis laiin, tapi yang terpenting kamu harus semangat dulu."
Air mata mengalir di pipi Mentari. "Saya capek, Bulan..."
"Sayang... jangan begitu," Bintang memotong ucapan Mentari, lalu duduk di samping ranjang pasien memeluk istrinya erat hingga beberapa detik kemudian. Seolah-olah ingin menyalurkan bantuan energi agar istrinya bersemangat untuk hidup lebih lama.
Tangan kurus kering yang hanya tinggal kulit dan tulang itu mengangkat tangan Bulan sahabatnya meletakkan di perut, selanjutnya meraih tangan suaminya menumpangkan di punggung tangan Rembulan.
Rembulan kaget bukan main, begitu juga dengan Bintang, mereka akhirnya saling pandang.
Senyum tipis dan berat muncul di bibir Mentari. "Bulan... dan kamu Mas Bintang... berjanjilah padaku. Kalian harus menikah demi Talita yang membutuhkan seorang Ibu seperti Rembulan."
...~Bersambung~...
hrus nya mentari juga jujur dari awal klau bulan istri ke dua binta⭐biar tu mulut duo keong racun diem 😡
Gak abis² beritanya sampe sekarang juga, udah berapa bulan itu berlangsung
Kamu jangan meremehkan jagat maya Bintang karena efek psikologisnya mengena pisan terutama ke korban
Meremehkan netizen, menganggap sepele udah dihapus, selesai dalam pikiran Bintang yang masa bodo
Gak mikir efek psikologis Bulan, Mentari, anaknya & ibu kandung Bintang sendiri
Pret lah Bintang, kau anggap remeh kekuatan nitezen tanpa memikirkan psikologisnya
Secara Bintang tuan rumah, mudah baginya untuk mengusir mertua & afik ipar meski masih berstatus suami Mentari
Tapi gimana lagi 🤷♀️
memang dibuat bodoh & masa bodo agar tetep salah paham antara mertua, ipar, istri kedua & orang tua kandung Bintang sendiri
Sabar aja nunggu episode selanjutnya yang bikin viral nama Bulan ancur karena narasi kejelekan² dari Sherly & Ratih
dimata siapapun bukan diposisi yg salah. orang awam gk akan percaya kalo semua itu istri pertama yg meminta.. mau dijelaskan gimanapun dimata netizen Bulan seorang pelakor..
kasian juga sich sebenarnya.. 😌😌