Indonesia
NovelToon NovelToon
Batas Dimensi Takdir

Batas Dimensi Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Time Travel / Cinta Istana/Kuno
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: R251Aje

Setiap malam, Alena selalu memimpikan seorang pria. Seorang raja tampan yang kejam kepada semua orang, tetapi mencintainya dengan gila-gilaan.

Dalam mimpi itu, Alena adalah tunangannya. Mereka tinggal di sebuah kerajaan yang tidak pernah ia kenal. Sang raja selalu memeluknya, mencium keningnya, bahkan berjanji akan menjadikannya permaisuri.

Alena selalu mengira semua itu hanya mimpi. Sampai suatu pagi, setelah sang raja menciumnya dalam mimpinya, ia menemukan bekas kemerahan di lehernya.

Bekas itu nyata. Sejak saat itu, Alena mulai bertanya-tanya... Apakah ia benar-benar sedang bermimpi?

Sampai seorang pria baru datang ke tempat kerjanya sebagai bos baru. Begitu melihat wajahnya, Alena langsung membeku. Pria itu memiliki wajah yang sama persis dengan raja dalam mimpinya.

Namun sebelum Alena sempat melarikan diri, pria itu justru menghampirinya dan memeluknya erat.

“Kau... masih hidup?”

Alena panik dan segera mendorongnya. “Maaf, Pak. Apa kita pernah bertemu?”

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R251Aje, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31 Bau Pengkhianatan

Salah satu dayang mencoba menenangkan, “Yang Mulia Putri, harap tenang—”

“KAU TULI?!” Seana meraih sisir perak dan melemparkannya tepat ke arah dayang itu. “Keluar! Jangan ada satu pun yang tersisa di depanku! Keluar sebelum aku bunuh kalian semua!”

Dayang-dayang berhamburan keluar dengan wajah panik. Beberapa hampir tersandung pecahan kaca. Pintu dibanting dari dalam oleh Seana sendiri, lalu dikunci.

Sekarang sendirian, Seana semakin menjadi. Dia merobek tirai beludru, menggulingkan kursi, menendang keranjang bunga hingga tanah dan kelopak berhamburan. Lukisan dirinya sendiri yang tergantung di dinding ditariknya hingga jatuh, lalu diinjak-injak.

“Raka… Raka sialan!” teriaknya pada dinding kosong. “Aku adikmu! Darah yang sama! Tapi kau memilih pelacur dunia manusia itu daripada keluargamu sendiri!”

Dia menjatuhkan diri ke lantai di tengah puing-puing, menarik rambutnya sendiri hingga hampir copot. Air mata marah mengalir deras, bercampur dengan napas tersengal.

“Aku akan buat kau menyesal… aku akan buat dia menyesal… aku tidak akan diam saja…”

Suara bantingan dan teriakan masih terdengar dari dalam kamar hingga ke koridor. Para prajurit yang berjaga di luar hanya saling berpandangan, tidak ada yang berani masuk. Di dalam, Seana terus merusak apa pun yang masih utuh. Hingga akhirnya, kehabisan tenaga, dia tersungkur di tengah reruntuhan kamarnya sendiri—seorang putri kerajaan yang kini hanya bisa menggigit jari di balik kunci yang dipasang oleh kakaknya sendiri. Amarahnya tidak padam. Justru semakin mengumpul, menunggu saat untuk meledak lagi.

Keesokan paginya, Istana Utama dipenuhi suasana tegang. Raka duduk di kursi tahta di ruang dewan, jubah hitamnya terpasang rapi, mahkota sederhana bertengger di kepala. Luka-lukanya sudah dibalut ulang, tapi wajahnya masih pucat. Meski begitu, aura yang terpancar dari tubuhnya membuat seluruh anggota dewan tidak berani duduk terlalu santai.

Rapat dimulai. Tidak lama setelah laporan situasi jembatan dan pasukan selesai, salah satu tetua dewan memberanikan diri berdiri.

“Yang Mulia Raja… dengan segala hormat, kami ingin menyampaikan keprihatinan dewan terkait hukuman yang dijatuhkan kepada Yang Mulia Ibu Suri dan Putri Seana. Mengurung darah kerajaan tanpa sidang resmi… dikhawatirkan akan menimbulkan gejolak di kalangan bangsawan dan rakyat.”

Beberapa anggota dewan lain mengangguk setuju. “Benar, Yang Mulia. Kami memohon keadilan dan peninjauan ulang.”

Raka yang sejak tadi diam, akhirnya mengangkat pandangan. Matanya yang keemasan menyapu satu per satu wajah mereka yang berani berbicara.

“Keadilan?” suaranya tenang, tapi dingin. “Mereka merencanakan pembunuhan terhadap Ratu dengan dalih ritual. Mereka hampir memotong jari Ratu di depan altar. Itu sudah lebih dari cukup untuk hukuman mati. Aku masih terlalu lunak karena hanya mengurung mereka.”

Ruangan langsung sunyi. Tetua itu mencoba lagi, “Tapi Yang Mulia Ibu Suri adalah—”

“Siapa pun yang masih ingin menentang keputusan ini,” potong Raka datar, “boleh berdiri sekarang. Setelah rapat selesai, kalian akan ikut dikurung di menara yang sama. Aku tidak akan ulangi dua kali.”

Tidak ada satu orang pun yang bergerak. Beberapa bahkan menunduk dalam-dalam dengan keringat dingin yang muncul di pelipis. Raka menyandarkan punggung ke tahta. “Rapat dilanjutkan. Ada urusan lain yang lebih penting daripada membela orang yang mencoba membunuh Ratu.”

Rapat berjalan kaku hingga selesai. Tidak ada lagi yang berani menyinggung nama Ibu Suri atau Seana. Setelah seluruh anggota dewan keluar, hanya Raka dan pengawal pribadinya yang tersisa di ruangan. Pengawal itu maju, memberi hormat. “Yang Mulia, laporan kondisi.”

“Katakan,” perintah Raka.

“Yang Mulia Ibu Suri diam di Paviliun Utara. Beliau menolak makan sejak semalam, hanya duduk di depan jendela. Sementara Putri Seana… merusak seluruh isi kamarnya. Semua perabot hancur. Beliau mengusir seluruh dayang dan sempat berteriak hingga pagi. Saat ini sudah kehabisan tenaga, tapi amarahnya belum padam.”

Raka mendengarkan tanpa ekspresi. Dia mengetuk jari di sandaran takhta. “Terus awasi mereka,” perintahnya akhirnya. “Gandakan jumlah pengawal. Tidak ada satu surat, satu pesan, atau satu isyarat pun yang boleh keluar dari paviliun mereka. Jika ada yang mencoba menyuap atau membantu… hukum di tempat.”

“Baik, Yang Mulia.”

“Dan,” tambah Raka, suaranya lebih rendah, “laporkan padaku setiap perubahan. Jika Ibu atau Seana mulai merencanakan sesuatu lagi… aku ingin tahu sebelum mereka sempat bergerak.”

Pengawal itu menunduk. “Siap, Yang Mulia.”

Setelah pengawal keluar, Raka menyandarkan kepala ke tahta, menutup mata sejenak. Kelelahan masih terasa, tapi amarah di dadanya belum sepenuhnya reda. Dia membuka mata lagi, menatap ke arah jendela yang menghadap ke sayap istana tempat Alena sedang beristirahat.

“Tidak akan ada yang menyentuhmu lagi,” gumamnya pelan. “Bahkan jika aku harus mengurung seluruh istana.”

Di Paviliun Utara, suasana sunyi dan dingin. Ibu Suri duduk di kursi tinggi dekat jendela, punggung tegak meski wajahnya terlihat lebih tua dalam beberapa hari terakhir. Tirai tebal ditutup rapat, hanya menyisakan celah kecil untuk melihat kabut di luar. Di mejanya, nampan makanan masih utuh—dia menolak makan sejak dikurung.

Tiba-tiba, dari balik dinding ukiran di sisi kamar, sebuah panel batu bergeser pelan tanpa suara. Seorang pria berpakaian hitam masuk dengan gerakan cepat dan terlatih. Dia adalah pengawal pribadi Ibu Suri yang paling setia—seseorang yang sudah bertahun-tahun bergerak di balik bayangan, dan berhasil menyelinap masuk tanpa terdeteksi oleh para penjaga yang ditunjuk Raka.

Pria itu segera berlutut di depan Ibu Suri.

“Yang Mulia Ibu Suri,” bisiknya rendah. “Maafkan keterlambatan. Penjagaan di luar semakin ketat, tapi jalur rahasia masih aman.”

Ibu Suri tidak menoleh. Suaranya datar. “Bicaralah.”

Pengawal itu mengangguk. “Rencana masih berjalan, Yang Mulia. Meski Putri Seana dikurung dan Putri Lilina sudah diusir, kami tidak berhenti. Beberapa anggota dewan yang masih setia sudah mulai bergerak diam-diam. Mereka menyebarkan isu bahwa Yang Mulia Raja sedang dikendalikan oleh Ratu Alena… dan bahwa hukuman terhadap darah kerajaan adalah tanda kelemahan.”

Ibu Suri akhirnya menoleh, matanya menyipit. “Terus.”

“Selain itu,” lanjut pengawal itu, “kami berhasil menghubungi sisa-sisa faksi pemberontak di luar tembok. Mereka siap mendukung jika ada sinyal dari dalam istana. Dan… ada kabar tentang jembatan. Meski ritual gagal, retakan di jembatan pembatas waktu belum sepenuhnya stabil. Jika kami bisa memicu sedikit gangguan lagi… Yang Mulia Raja akan terpaksa fokus ke luar, dan kami punya celah di dalam.”

Ibu Suri terdiam beberapa saat. Jari-jarinya mengetuk sandaran kursi pelan. “Bagaimana dengan Seana?”

“Putri Seana masih penuh amarah, Yang Mulia. Tapi amarah itu bisa kami arahkan. Jika berhasil mengirim pesan kepadanya… dia bisa menjadi pemicu kerusuhan di dalam paviliunnya sendiri. Cukup untuk menarik perhatian pengawal.”

Ibu Suri tersenyum tipis, senyum yang dingin dan berbahaya. “Baik. Teruskan. Jangan biarkan putraku merasa terlalu aman hanya karena dia berhasil mengurung kami. Raka mungkin Raja… tapi istana ini belum sepenuhnya miliknya.”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!