Indonesia
NovelToon NovelToon
Suamiku Bukan Ojol Biasa

Suamiku Bukan Ojol Biasa

Status: tamat
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Wanita Karir / Rumah Tangga / Tamat
Popularitas:15.7k
Nilai: 5
Nama Author: santi damayanti

"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 29

Ratna terperangah tak mengerti. Sikap Pak Surya benar-benar di luar dugaan—ia sama sekali tidak marah, tidak menuntut, melainkan justru menawarkan bantuan cuma-cuma.

"Bagaimana, Bu? Apakah pinjaman dari saya terasa kurang?" tanya Surya memecahkan keheningan lobi. Pandangannya sesekali melirik ke arah Luki. Lewat kedipan mata dan isyarat halus Luki, Surya paham betul bahwa bos besarnya itu masih ingin menyembunyikan identitas aslinya dari keluarga ini.

"T-tidak kurang, Pak!" buru-buru Ratna menjawab. "Beri saya waktu dua hari untuk mempersiapkan semua persyaratan, perjanjian, serta beberapa surat berharga untuk jaminan."

"Tidak usah repot-repot," ujar Surya tenang. Ia langsung merogoh ponselnya dan menelpon seseorang. "Hari ini cair, Pak... Iya, hari ini. Tidak usah repot-repot buat persyaratan rumit."

Ratna kian melotot kaget. "E-enggak menggunakan syarat apapun dan tanpa jaminan apapun, Pak?"

"Iya, Bu," jawab Surya mantap. "Sebentar lagi asisten saya akan membawa surat perjanjian hutangnya. Dan dananya akan langsung dikirimkan ke rekening perusahaan cabang yang dikelola oleh Ibu Amira."

"Kenapa harus ke rekening cabang, Pak?" potong Angga tidak terima.

"Oh, karena itu terjadi akibat kecerobohan anak buah saya... Jadi ini bentuk penghormatan dan ganti rugi saya untuk Ibu Amira."

"Apa tidak bisa masuk ke rekening pusat saja, Pak?" pinta Ratna memohon.

Luki berdehem agak keras di belakang mereka.

"Oh, tidak bisa, Bu!" sahut Surya cepat. Batukan Luki tadi terasa lebih keras dari peringatan apa pun baginya. "Saya hanya akan mentransfernya ke rekening cabang perusahaan yang dikelola Ibu Amira."

Belum sempat Ratna dan Angga protes lebih lanjut, seorang wanita cantik berbusana rapi datang membawa map berisi berkas. Surya menerima map tersebut, sementara asistennya duduk dengan anggun di sampingnya.

"Ini Bu, tinggal ditandatangani. Semua biaya administrasi dan notaris jadi tanggungan saya," ucap Surya membuka dua map dan menyusunnya rapi di atas meja.

"Bagaimana kalau dikirim ke rekening pusat saja, Pak?" desak Angga sekali lagi tak mau menyerah.

"Maaf Pak... Kalau tidak jadi pinjam, tidak masalah bagi saya," jawab Surya dingin tanpa menoleh sedikit pun.

"Jadi! Jadi, Pak Surya! Di mana saya harus tanda tangan?!" buru-buru Ratna memotong. Kas perusahaan pusat saat ini sudah hampir ludes untuk persiapan pesta pernikahan mewah Risma dan Raka. Ada suntikan dana segar sebesar 5 miliar rupiah tentu saja tidak boleh disia-siakan.

"Di sini, Bu," jawab Surya menunjuk kolom tanda tangan saksi.

Dahi Ratna mengernyit heran. "Kenapa di kolom saksi, Pak?"

"Iya, Ibu cukup jadi saksi saja. Karena yang akan menerima dan bertanggung jawab atas pinjaman ini adalah Ibu Amira."

Ratna menahan rasa kesal di dadanya. Jika Amira terus-terusan mengukir prestasi, ia takut anak kandungnya itu akan makin besar kepala dan kian keras menentang ayah tirinya. Namun pada akhirnya, Ratna tetap menandatangani berkas tersebut.

Selanjutnya, giliran Amira yang menandatangani surat perjanjian itu. Amira membaca drafnya sekilas, lalu membatin, 'Ini sih bukan pinjaman... Ini lebih mirip pemberian dana hibah.' Tapi Amira tidak mau ambil pusing lebih jauh. Yang jelas, ini adalah kesempatan emas untuk menyelamatkan operasional cabangnya. Ia pun merampungkan seluruh tanda tangan hingga lembar terakhir.

"Terima kasih banyak, Bu Amira," ucap Pak Surya begitu map ditutup.

"Sama-sama, Pak..." jawab Amira penuh keheranan. Harusnya dialah yang mengucapkan terima kasih. Biasanya, untuk mendapatkan pinjaman puluhan juta saja ia harus melewati serangkaian proses lobi bank yang rumit. Tapi kali ini, seolah-olah pihak bank-lah yang sangat membutuhkan dirinya.

Amira dan Surya kemudian bersalaman. Staf Ratna tak melewatkan momen itu dan langsung mendokumentasikannya lewat foto. Di sudut lain, Luki sesekali menguap malas menyaksikan drama operet di hadapannya. Uang 5 miliar mungkin sangat fantastis bagi Ratna, tapi bagi Luki, nominal segitu hanyalah uang jajan seminggu.

Setelah bertegur sapa sejenak, Surya pamit undur diri. Saat bersalaman dengan Luki, ia menatap Luki sebentar. Luki memberikan anggukan pelan—isyarat yang membuat Surya bernapas lega. Anggukan itu berarti Bank Surya akan menerima suntikan dana segar dari Perdana Holding hingga 10 kali lipat dari nilai pinjaman yang ia berikan pada Amira hari ini.

"Amira! Jangan gunakan uang itu sembarangan!" tegur Ratna ketus begitu Surya melangkah keluar lobi.

"Tenang saja, aku akan gunakan dana ini sebaik mungkin. Yang jelas, tidak akan aku keluarkan sepeser pun untuk keperluan pernikahan Risma!" jawab Amira tak kalah tajam.

"Jangan seperti itu, Amira!" geram Ratna. "Pernikahan Risma itu bukan sekadar pengeluaran, tapi investasi untuk membangun jaringan bisnis keluarga kita!"

"Sudah, Sayang... Benar kata Amira," potong Angga berpura-pura bijak sambil mengelus bahu Ratna. "Uang itu memang harus digunakan untuk kemajuan perusahaan. Untuk pernikahan Risma, biarkan saja berlangsung sederhana, tidak masalah... Yang penting nanti banyak tokoh penting yang datang."

Sebenarnya, hati Angga menangis darah. Baru saja ia berencana mengembat uang 2 miliar rupiah dari dana pinjaman itu untuk kepentingannya sendiri dengan dalih pesta pernikahan Risma, namun sayang Amira sudah menutup rapat jalannya.

"Kamu baik sekali, Sayang..." ucap Ratna tersentuh, memegang mesra tangan Angga.

Amira yang melihat pemandangan itu merasa mual dan jijik.

"Lihatlah Amira, Papah kamu sangat baik dan profesional! Awas ya, kalau kamu gunakan uang itu untuk dihambur-hamburkan, apalagi untuk suamimu yang cuma tukang ojol itu!" ancam Ratna.

"Tenang saja, Mamah Mertua... Uang segitu mah terlalu sedikit bagiku," sahut Luki enteng sambil bersedekap dada.

"Luki, diamlah..." bisik Amira menepuk lengan suaminya.

Di balik wajah tenangnya, Angga sebenarnya mulai menaruh curiga mendalam pada Luki. Ratna dan Amira mungkin tidak menyadari keanehan sikap Surya terhadap Luki, tapi Angga yang licik melihatnya dengan jelas. 'Anak ini berbahaya... Aku harus menyingkirkannya secepat mungkin,' batin Angga penuh dendam.

"Amira, berterima kasihlah sama Papah Angga!" perintah Ratna.

"Untuk apa?"

"Pinjaman itu tidak akan pernah cair kalau bukan karena rekomendasi dari Papah Angga!"

Amira langsung berdiri tegap. "Tidak usah! Mata Mamah memang sudah buta karena cinta. Jelas-jelas sikap Pak Surya tadi bukan karena dia kenal sama suami Mamah, tapi karena dia merasa bersalah padaku!"

"AMIRA!" bentak Ratna murka.

"Luki, antar aku pulang!" tegas Amira lalu membalikkan badan dan menarik erat tangan suaminya.

"Amira! Jangan kurang ajar kamu!" teriak Ratna mengejar dengan makian.

Luki membalikkan badannya sejenak. Ia memberi peringatan dingin pada Ratna lewat tatapan matanya yang tajam menusuk. Kemudian, ia menatap Angga dengan pandangan paling merendahkan—bahkan secara terang-terangan mengacungkan jari tengahnya ke arah Angga sebelum berlalu pergi memboyong istrinya

1
Indriani Kartini
mantap Almira, AQ gedek bngt SMA ibunya yg sudah di butakn cinta
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
akhirnya semua kebusukan Angga, Rini dan Risma kebongkar, tapi kalo Ratna ttp percaya sama Angga itu namanya bener² bodoh....
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
gemes bgt ma Amira katanya CEO tapi kok polosnya gak ketulungan, masa dia gak bisa liat situasi sih dan gak bisa liat kalo suaminya itu beneran kaya🤦🏻‍♀️ harusnya Amira bisa memikirkan kenapa suami nya selalu ada buat dia dan orang² selalu hormat pada suaminya...😏
santi damayanti: terimakasih ka masukan nya
total 1 replies
𝐈𝐬𝐭𝐲 𝟏💋
Luar biasa
Piyah
lanjutkan
Piyah
jngn banyakan drama muter2 critanya
santi damayanti: siyap bossss kita tancap gassss
total 1 replies
Mei Susilowati
500jt sebulaaan🤔🤔🤔
Piyah
lanjutkan
Piyah
eh si Ratna matanya g melek2
Piyah
lanjutkan bgsc critanya
santi damayanti: terimakasih anda orang pertama komen
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!