“Bu, mimpi-mimpi itu seperti nyata. Ada yang menunggu kedatangan kita disana, tapi bukan manusia.”
Hamima memberi pengertian kepada putranya, dengan mengatakan jika tidak semua mimpi akan menjadi nyata, bisa jadi bunga tidur semata.
Namun, kepindahannya ke sebuah desa demi mengikuti sang suami yang dipindahtugaskan, membuat ketenangan hidup hilang seketika, tergantikan hal-hal tak pernah terbayangkan, dan belum pernah dialami sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cublik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Terungkap : 35
Dadanya seperti dihimpit batu besar, Hamima tersedu-sedu menceritakan apa yang baru saja dilihatnya.
“Darah ada dimana-mana, dan juragan Arwan ditikam belati berkali-kali oleh Sarkam padahal dia sudah tidak lagi bernyawa. Kenapa ada orang sejahat itu didunia ini?” Hamima menjambak rambutnya, kepalanya terasa seperti mau pecah.
“Ayu, gadis kecil cantik bermata sayu itu — ya ampun, aku gak bisa membayangkan seandainya itu Pujiara, putriku.” Mima mengais-ngais tanah pemakaman demi menyalurkan rasa sakit tak tertahankan.
Bayangan balita berambut lebat, badannya menggeliat mulai tersadar dari hipnotis, lalu cara penjahat menceburkannya ke sumur — kaki Ayu dipegang, dan kepalanya terbalik baru diterjunkan.
“Dia masih bernapas sewaktu dilempar ke sumur!” Hamima merintih, teringat waktu dia tenggelam di cekungan kolam air terjun. Kesulitan bernapas sampai kesadaran nyaris hilang.
“Nyonya Arum,” katanya setelah beberapa saat terdiam, menangis kencang. Mima menoleh ke samping — tidak ada sosok yang tadi duduk dibawah pohon Kamboja.
“Dia, dia keguguran, tergeletak di lantai dalam keadaan bersimbah darah,” cicitnya tak berdaya.
Mbah Nar, Rosna, sama-sama memandangi batu nisan bertuliskan nama Arum Tyas. Wanita yang semasa hidupnya berkepribadian lemah lembut, baik hati, serta welas asih.
Tangisan Hamima mulai reda tergantikan suara isak serak. Dia turun dari gundukan tanah, lalu duduk di samping makam bertuliskan Arwan Dana.
“Rosna, suamimu sudah meninggal, lalu yang kau sebut suami bekerja di rumah Sarkam, siapa?” tanyanya mulai bisa menata perasaan, mengesampingkan rasa menyakitkan akan peristiwa berdarah di hunian yang dibeli Galih dengan harga sangat murah.
Rosna mendongak, lebih tertarik memandangi bunga Kamboja berwarna jingga.
“Pria yang aku akui suami, dia salah satu penjahat yang menikam laki-laki sangat kucintai,” kejujurannya terdengar menyakitkan di telinga wanita yang menutup mulut.
“Masih hari yang sama. Tengah malam rumahku digedor oleh 4 orang berpakaian basah, bau amis darah. Ibu dan anakku diseret keluar, dan diriku diculik dibawa ke hunian Sarkam, dikurung dalam ruang bawah tanah bersama non Desita yang pakaiannya compang-camping,” suaranya kering, namun matanya basah.
“Non Desita menceritakan tentang penyerangan, pembunuhan, dan bagaimana cara kematian suamiku. Sampai sekarang masih kuingat ekpresi datar, suara tanpa emosi, dan sorot sepasang mata keji. Dalam satu waktu dia kehilangan semuanya.” Rosna menarik napas dalam-dalam, menghembuskan cepat.
“Anggota keluarganya dibunuh, dan dia baru saja dirudapaksa oleh pria yang dipanggil Paman. Tidak ada yang tersisa, kesucian pun direnggut paksa, namun keinginannya balas dendam tambah membara. Dan di ruang sempit, pengap itu kami bersengkongkol merencanakan pembalasan secara perlahan. Seperti yang kamu lihat pertama kali bertemu dengan wanita dicap gila, aslinya non Desita waras, normal,” ungkap Rosna.
“Jadi, jadi dia pura-pura gila?” Manik Hamima membulat, mulai bisa menebak, memahami skenario.
“Kalau dia tidak pura-pura gila, mungkin sekarang tinggal nama. Tanda tangan orang sinting, maupun cap jarinya tidak sah dimata hukum, maka dari itu Sarkam tetap mempertahankan, mengurung non Desita di ruang bawah tanah,” lanjutnya menahan geram, menunjukkan emosi terpendam.
“Anak dan ibumu?” meski tidak siap mendengar fakta mengejutkan dan menghujam dada, Mima tetap ingin mendengar kenyataan.
“Dibuang ke dalam sungai, dibiarkan meninggal tanpa aku diberi kesempatan menolong, maupun melihat jasad mereka. Akhh!” Rosna menjerit sejadi-jadinya.
"Pria keparat itu dengan entengnya bilang, baru saja menceburkan anak dan ibuku, lalu mengancam akan membunuhku kalau tidak mau dinikahinya. Kalau saja tidak ada non Desita, aku memilih mati ketimbang diperistri seorang penjahat biadab!" suara Rosna tersendat-sendat, kalah oleh isak tangis.
Dia tidak pernah bertemu dengan Ajik dan ibunya, bahkan sampai sekarang belum berhasil menemukan tulang belulang mereka. Kedalaman kolam sungai itu sangat dalam, adanya pusaran air menyulitkan Rosna berenang sampai dasar.
Rosna terpaksa bersedia diperistri Bagyo, pria yang sebelumnya bekerja untuk keluarga Arwan Dana, ternyata diam-diam menyimpan cinta ke wanita telah bersuami dan memiliki seorang anak. Dia sama seperti penghianat lainnya, memilih membelot demi harta serta obsesi.
“Rosna ….” Hamima merangkak, kakinya seperti tidak bertulang, lemas.
Hamima merangkul pohon Kamboja sebagai tumpuan agar bisa berdiri, begitu berhasil dia memeluk Rosna yang mematung.
“Putraku masih berumur tiga tahun, lagi giat-giatnya belajar ngomong. Lucu sekali dia. Setiap aku dan mas Yuda pulang kerja — Ajik menunggu didepan pintu sambil melambaikan tangan, melompat-lompat kegirangan menyambut orang tuanya pulang,” Rosna meluapkan kerinduan dan sakit hatinya.
Cerita tentang anaknya Rosna tenggelam di sungai, benar adanya, tetapi caranya lebih tragis dari bayangan Hamima selama ini.
“Ibuku sosok bijaksana, tak pernah memendam amarah, menebar kebencian, sampai hati mereka menenggelamkan wanita tua renta itu.” Badannya luruh, Hamima ikut terjatuh, terduduk di tanah.
Mereka berdua sama-sama menangis, memeluk menyalurkan rasa sakit.
Selang sekian menit, air mata Rosna habis, Mima melanjutkan pertanyaan demi menuntaskan rasa penasaran.
“Mbah Nar, siapanya keluarga nyonya Arum atau juragan Arwan?”suaranya parau, mata sembab.
“Aku neneknya Arwan, dari pihak ibunya. Yang menurunkan ilmu gaib kepada pria enggan mendalami,” simbah mulai membuka identitas dirinya.
“Sewaktu kejadian, kami terpisah jauh, tinggal di wilayah berbeda. Pas di malam ke 40 hari Arwan tewas, dia datang lewat mimpi, meminta pertolongan. Arwahnya terjebak di loteng bersama jasad dibiarkan membusuk _”
Hamima terkesiap, tidak menyadari menyela kalimat mbah Nar. “Mereka yang meninggal gak dikubur?”
“Tidak!” jawab mantap simbah, suaranya tegas.
“Arwan, Arum, Yadi, dikurung dalam sebuah kamar. Jasad mereka dibiarkan membusuk, dan ruh diikat mantra gaib agar tidak bisa membalas dendam. Kuburan yang kamu lihat, hanya gundukan tanah tanpa tulang belulang di dalamnya,” ungkap mbah Nar.
“Ayu, sampai kini masih bersemayam dalam sumur tua dibiarkan terbengkalai sejak kejadian itu!”lanjutnya seraya menahan geram.
“Lantas, yang aku lihat barusan siapa? Bukankah mereka ruh mereka dibelenggu?” Mima menanyakan tentang sosok Arum serta Ayu.
“Aku bisa berkomunikasi dengan mereka berdua, memanggil ruh Arum dan Ayu kesini, tetapi tidak menetap, dan gagal melakukan hal sama terhadap Arwan, Yadi. Mereka berdua dijaga oleh jin jahat peliharaan Geneng,” mbah Nar menyebut salah satu nama.
“Geneng?” Mima berpikir keras, dia seperti mendengar nama ini saat tadi menyaksikan peristiwa mengerikan itu.
“Dia tangan kanan kepercayaan juragan Arwan Dana. Memilih berkhianat setelah dijanjikan harta cukup besar oleh Sarkam,” Rosna turut menjelaskan.
Hamima mengingat kejadian di undakan tangga bawah — seorang pria sudah berumur, menarik topi ninja, wajahnya berdarah setelah terkena bacokan sebilah parang yang diayunkan Arwan Dana.
“Geneng penganut ilmu hitam. Dialah yang mengikat ruh keluarga cucuku, mengurung mereka di loteng hunianmu. Dan Geneng ... ayah kandungnya Galih. Suamimu, Hamima!” pernyataan simbah ditanggapi pekikan terkejut.
“Galih bilang dia yatim piatu yang dibesarkan nenek dan kakeknya. Simbah gak salah orang, kan?”
.
.
Bersambung.
emang laki plin-plan kaya kamu mah pantesnya di buang😂
siap2 galih kamu jadi dudah, eh tapi kan punya istri muda ya, pa dong panggilannya🤔
patut diganti 😆😆😆😆