Indonesia
NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#1

Malam di ujung Hampshire tak pernah benar-benar tenang; ia selalu berbisik melalui desir angin yang menyapu dedaunan pohon oak tua. Di tengah kepungan hutan lindung yang terisolasi dari peradaban kota, berdiri sebuah kediaman megah berarsitektur era Victoria.

Bangunannya tersembunyi rapat di balik kerimbunan vegetasi, menyimpannya dari mata dunia luar. Namun, di salah satu kamar tidur berlantai kayu mahoni di dalam bangunan itu, suasana terlampau jauh dari kata tenang.

Hawa dingin yang berembus melintasi celah jendela sama sekali tidak mampu menurunkan suhu yang membakar di dalam ruangan. Di atas ranjang single berseprai katun putih yang kini kusut tak beraturan, dua tubuh saling bertaut dalam gelora yang kian memuncak.

Setiap helaan napas yang terlepas terdengar samar, bersahutan dengan deru angin di luar. Tubuh pria itu—dengan garis-garis otot punggung yang tegas dan tegap—menatap lekat wajah di bawahnya.

Kulit mereka yang basah oleh peluh bergesekan, memantulkan pendar remang dari nyala lilin di sudut meja.

Tidak ada keraguan dalam setiap sentuhan; hanya ada hasrat murni yang telah menumpuk dan mendominasi akal sehat. Setiap pergerakan membawa ritme yang kian intens, seolah-olah waktu di luar sana sengaja dihentikan hanya untuk memberi ruang bagi penyatuan mereka.

Wanita itu mencengkeram bahu kokoh sang pria, mencengkeram jemarinya hingga meninggalkan jejak di kulit yang hangat. Pria itu menyusupkan jemarinya ke sela-sela rambut wanita tersebut, menahan kepalanya saat bibir mereka kembali bertemu dalam ciuman yang dalam dan menuntut.

Desahan halus lolos dari celah bibir sang wanita setiap kali dominasi sang pria makin tak tertahankan. Gelora malam itu membakar habis sisa-sisa kesadaran mereka, menyisakan kehangatan yang menjalar hingga ke ujung jari.

Dalam remang malam, sang pria menyadari satu kenyataan yang ganjil namun telah menjadi kebiasaan: ia tidak pernah mengetahui nama wanita yang berada di pelukannya ini.

Hampir satu tahun tiga bulan hubungan terlarang dan misterius ini berjalan. Setiap beberapa minggu sekali, pria itu akan melintasi jalan setapak di tengah hutan Hampshire demi mendatangi rumah megah ini.

Rumah yang hanya dihuni oleh gadis tersebut sendirian, jauh dari riuk pikuk kehidupan bangsawan maupun masyarakat perkotaan Inggris. Tidak pernah ada pertanyaan tentang silsilah, nama keluarga, atau masa lalu. Hubungan mereka hanya dibangun di atas kegelapan malam dan keheningan hutan.

Gatal oleh rasa penasaran yang selalu tertahan, sang pria menumpukan sikunya di samping kepala wanita itu setelah gelora mereka berdua perlahan mereda. Napas mereka masih terengah, naik turun seirama.

Wanita itu memiringkan wajahnya, memandang ke arah jendela besar tempat bayangan pepohonan menari-nari ditiup angin. Suaranya terdengar halus namun tegas saat ia memecah keheningan.

"Pergilah sebelum matahari terbit," ucap wanita tanpa nama itu sambil merapikan helai rambut yang menempel di dahi basahnya. "Besok adalah jadwal pelayanku datang kemari."

Pria itu diam sejenak, mengamati profil wajah wanita di hadapannya yang selalu tampak tenang meski baru saja melewati badai emosi bersama.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun untuk membantah, ia mengangguk pelan. Tangan berototnya terulur, menarik tubuh polos wanita itu ke dalam pelukannya, merengkuhnya erat seolah ingin merekam tekstur kulit dan kehangatan tubuh itu sebelum fajar menyapa.

Sambil menyandarkan dagunya di puncak kepala sang wanita, pria itu akhirnya bersuara, "Seminggu ini aku mungkin tidak akan kemari."

Wanita itu tidak langsung menjawab. Ia hanya terdiam dalam dekapan hangat yang melindunginya dari hawa dingin malam Inggris. "Kenapa?" tanyanya kemudian, datar tanpa nada menuntut.

"Aku memiliki urusan penting," jawab sang pria singkat, menyembunyikan kenyataan berat yang menunggunya di luar area hutan ini—dunia nyata tempat tanggung jawab, gelar, dan tuntutan keluarga menunggunya.

Gadis itu mengangguk pelan di dada bidang sang pria, merasakan detak jantung yang masih berdegup kencang di sana.

"Ya, aku mengerti," jawabnya tenang, lalu pelan-pelan menarik diri dari pelukan itu. "Aku tidak akan menjemputmu atau menunggumu seminggu ke depan."

Garis tipis di ufuk timur belum juga muncul, namun atmosfer di dalam kamar berornamentasi kayu mahoni itu kembali berubah pekat. Kata-kata yang baru saja terucap tidak lantas menjadi penutup, melainkan percikan api baru yang menyambar sisa-sisa gairah yang belum sepenuhnya padam.

Pria itu menatap wanita di bawahnya. Tatapan matanya menggelap, sarat akan kepemilikan yang tak berhak ia klaim. Rasa tidak rela merayapi dadanya saat mendengar betapa mudahnya wanita ini menerima ketidakhadirannya.

Satu tahun tiga bulan berlalu, dan wanita ini tetap menjadi teka-teki yang dingin, tak pernah menahan, tak pernah meminta, serta tak pernah membocorkan identitasnya.

"Kau terlalu cepat menyerah untuk tidak menungguku," bisik pria itu, suaranya serak dan dalam.

Tanpa menunggu jawaban, ia menarik pinggul wanita itu secara mendadak, mengikis habis jarak yang sempat tercipta. Wanita itu tersentak, napasnya terperangkap di tenggorokan saat kulit tubuh mereka yang masih menyisakan peluh kembali bertemu rapat.

"Kau yang memutuskan untuk pergi," balas wanita itu, suaranya bergetar tipis saat jemari pria itu mulai menjelajahi lekuk tubuhnya kembali, meremas pinggulnya dengan tekanan yang menuntut. "Dan aku tak pernah menahan apa yang harus pergi."

"Malam ini belum selesai," gumam pria itu di depan bibir sang wanita.

Sentuhan yang tadinya lembut kini berubah menjadi dominasi liar. Bibir pria itu mendarat kasar di perpotongan leher sang wanita, menyesap dan menggigit kecil kulit halus di sana hingga memancing lenguhan tertahan. Tidak ada lagi keraguan.

Pria itu menindih tubuh wanita itu sepenuhnya, menyatukan jemari mereka dan menguncinya di atas kepala, menekan pergelangan tangannya ke atas kasur.

Penyatuan itu terjadi lagi—kali ini jauh lebih panas, lebih menuntut, dan penuh dengan keputusasaan yang tidak diakui oleh kedua belah pihak.

Pria itu mendorong tubuhnya masuk secara perlahan namun dalam, menghujat keheningan malam dengan intensitas yang membuat wanita itu membusungkan dada, melengkungkan punggungnya menikmati sensasi pekat yang menghantam kesadarannya.

Gesekan langsung yang begitu rapat membuat hawa panas kembali membakar seluruh ruangan. Wanita itu membuka paha lebih lebar, menyambut setiap dorongan kuat yang menghujamnya tanpa ampun.

"Ahh..."

Desahan wanita itu pecah, tak lagi mampu ia sembunyikan di balik keheningan. Bunyi pergesekan kulit yang basah dan derit halus dari rangka ranjang kayu menyatu dengan deru angin hutan Hampshire di luar jendela. Pria itu bergerak semakin cepat, ritmenya kasar dan tanpa jeda, memacu gelora yang membuat kepala wanita itu mendongak pasrah.

Setiap kali pria itu menghujam dalamnya panggul wanita itu, erangan rendah lolos dari tenggorokannya. Otot-otot punggungnya yang kokoh menegang hebat, memperlihatkan alur ketegangan murni saat ia membawa tubuh mereka berdua makin dekat menuju puncak.

Jemari wanita itu terlepas dari kuncian, mencengkeram erat punggung pria itu, membiarkan kuku-kukunya menggores kulit hangat sang pria sebagai satu-satunya penanda keberadaannya di sana.

"Sebut namaku..." bisik wanita itu di tengah pasang surut napasnya yang memburu, matanya terpejam erat menikmati kehangatan murni yang memenuhi dirinya.

Pria itu terkekeh sinis di tengah deru napasnya yang berat, tak menurunkan kecepatannya sedikit pun. "Bagaimana bisa aku menyebut nama seseorang yang tak pernah memberitahuku siapa dirinya?"

Sebagai balasannya, pria itu memperdalam dorongannya, memberikan tempo yang makin menggila hingga wanita itu menjerit halus, kehilangan seluruh kendali atas tubuhnya sendiri. Dinding kesadaran mereka runtuh bersamaan. Puncak gelora itu menghantam bagai badai—menyebarkan rasa hangat yang meledak di dalam tubuh mereka, menghentikan seluruh gerakan dalam satu jepitan ketat dan sentakan akhir yang menghabiskan sisa tenaga.

Pria itu membenamkan wajahnya di celah leher sang wanita, menghembuskan napas membara yang membasahi kulit halus itu, sementara sang wanita mencengkeram bahunya kuat-kuat saat sensasi pekat itu berdenyut lama di dalam dirinya.

Ruangan itu kembali diselimuti keheningan yang pekat, hanya diselingi oleh deru napas berdua yang perlahan mulai teratur. Pria itu tidak langsung menarik diri. Ia membiarkan tubuhnya tetap menyatu, menikmati kehangatan intim yang sebentar lagi harus ia tinggalkan.

Lilin di sudut meja akhirnya padam, meninggalkan kamar dalam kegelapan total sebelum cahaya samar fajar menyingsing. Pria itu mengecup pelik wanita itu satu kali lagi—sebuah kecupan singkat yang sarat akan penyesalan yang tak diucapkan—sebelum akhirnya bangkit dan mengenakan pakaiannya di balik bayang-bayang.

Tanpa sepatah kata lagi, pria itu melangkah keluar dari kamar, menghilang di balik pintu kayu tebal, meninggalkan sang wanita sendirian di atas ranjang yang masih hangat oleh jejak penyatuan mereka.

...----------------...

Selamat Membaca 🌷

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!