Clarissa kehilangan segalanya setelah bisnis ayahnya hancur dan sang ayah meninggal dalam kesengsaraan. Saat hidupnya kembali berubah karena pernikahan rahasia ibunya dengan seorang pengusaha kaya, Clarissa menemukan kenyataan yang jauh lebih pahit.
Pria itu ternyata menyimpan rahasia tentang kehancuran keluarganya.
Clarissa berniat mendekatinya demi membalas dendam. Namun, permainan yang awalnya hanya penuh kebencian perlahan berubah menjadi perasaan yang tak seharusnya ada.
Jika dendam membawanya ke dalam pelukan pria yang sama sekali tak boleh ia cintai… apakah Clarissa mampu berhenti sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Puing-Puing Perang dan Ratu Baru
Sinar matahari pagi Seminyak yang kian meninggi menembus celah gorden master suite, membiaskan pendar keemasan di atas pecahan gelas kristal yang secara tak sengaja tersenggol di lantai kayu. Udara di dalam ruangan itu sarat akan sisa-sisa badai emosi malam lalu, bercampur dengan kehangatan konfrontasi baru yang kini resmi merekah ke permukaan.
Pernyataan Raymond di depan bibirku bagaikan pengakuan ikrar yang mengikat. Pria 35 tahun itu tidak sekadar menyerahkan pertahanan dirinya; ia secara sadar siap mempertaruhkan reputasi kekaisaran Perkasa Group demi melindungiku dan membiarkan Ibu tenggelam di dalam pusaran skandal publik.
"Pak Herman," panggil Raymond dengan suara bass-nya yang bariton dan tak terintimidasi, menekan tombol intercom di dinding dekat meja kerja vila.
Hanya dalam hitungan belasan detik, pintu kayu ukir master suite diketuk dua kali. Pak Herman melangkah masuk dengan raut wajah yang tampak sangat tegang. Ponsel genggam di tangannya tak berhenti bergetar dan menyala, menampilkan ratusan panggilan tak terjawab dari direksi perusahaan dan insan pers Jakarta.
"Tuan Raymond," ulas Pak Herman cepat sambil membungkuk, berusaha menjaga profesionalismenya di tengah situasi yang kacau. "Pihak bursa saham sudah membekukan sementara perdagangan saham Perkasa Group akibat rumor penggelapan dana lelang. Media nasional dan portal berita online menayangkan foto Nona Clarissa mengenakan The Tear of Serpent sebagai headline utama. Nyonya Siska saat ini mengurung diri bersama pengacara keluarganya di Jakarta."
Aku bersedekap di tepi tempat tidur, membalut tubuhku rapat dengan jubah mandi sutra krem. Manik mataku memperhatikan setiap perubahan raut wajah Raymond. Tidak ada ketakutan, tidak ada raut panik. Yang ada hanyalah kalkulasi dingin dari seorang predator puncak.
"Kumpulkan seluruh tim Public Relations, pengacara hukum pidana utama, dan dewan komisaris dalam konferensi video darurat lima belas menit lagi," perintah Raymond tegas, melangkah menuju lemari pakaian untuk mengenakan kemeja hitam berpotongan pas badan. "Siapkan penerbangan kembali ke Jakarta siang ini."
"Baik, Tuan. Bagaimana dengan konferensi pers di Jakarta?" tanya Pak Herman ragu, melirik sekilas ke arahku.
Raymond memutar tubuhnya, memasang kancing lengan kemejanya dengan gerakan yang teramat presisi dan tenang. Pandangan hazel-nya yang pekat mengunci sosokku sepenuhnya.
"Konferensi pers akan tetap digelar sore ini di Perkasa Tower," sahut Raymond datar namun mengintimidasi. "Dan Clarissa... akan berdiri di sisiku di depan seluruh kamera pers."
Pak Herman tampak tersentak pelan, tetapi ia segera menundukkan kepala. "Dimengerti, Tuan."
Setelah Pak Herman menarik diri dan menutup pintu rapat-rapat, aku melangkah menghampiri Raymond. Langkah kaki telanjangku tak bersuara di atas marmer. Aku berdiri tepat di hadapannya, merapikan kerah kemeja hitam yang membalut dada bidangnya yang tegap.
"Kamu benar-benar akan membawaku ke tengah sarang serigala itu, Raymond?" bisikku lirih, menatap garis rahang tegasnya yang membeku. "Di sana, Ibu akan ada. Para wartawan akan mencercaku dengan sebutan wanita pengganggu rumah tangga orang."
Raymond mengulurkan tangannya yang besar, jemarinya yang hangat dan kuat memegang erat daguku, mengarahkan wajahku tepat berada di bawah tatapan dominannya.
"Kamu yang memulai kebakaran ini, Clarissa," ujar Raymond rendah, suara parau-nya bergetar di depan wajahku. "Dan di depan media nanti, aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh atau menghinamu. Aku akan mengumumkan pada dunia bahwa kepemilikan atas perhiasan itu, aset perusahaan, dan seluruh keputusan investasi Perkasa Group... berada di bawah kendalimu atas perintahku."
Senyuman dingin yang sarat akan kemenangan merayap perlahan di bibirku. Ini adalah skenario yang bahkan melampaui mimpi terliarku. Ibu tidak hanya dipaksa menyaksikan suaminya berpaling padaku, tetapi ia juga akan melihat posisinya di mata publik dan hukum tergusur sepenuhnya oleh anak perempuannya sendiri.
"Bagaimana dengan status pernikahanmu dengan Ibu?" tanyaku menantang, menyentuh pergelangan tangannya yang terikat jam tangan mewah.
"Surat gugatan perceraian dan pembagian harta pra-nikah sudah disiapkan oleh tim hukumku sejak bulan lalu," balaskan Raymond tanpa keraguan sedikit pun. "Siska hanya perlu menandatanganinya saat kita tiba di Jakarta."
Pernyataan dingin itu menjadi vonis mati bagi masa depan Ibu. Wanita yang dahulu mencampakkan Ayahku demi mengejar harta dan status sosial bersama Raymond, kini akan dicampakkan dengan cara yang jauh lebih tragis dan memalukan—ditelanjangi oleh skandal publik dan dibuang oleh pria yang menjadi kebanggaannya.
Tiga jam kemudian, jet pribadi Perkasa Group kembali membelah angkasa, meluncur membelah awan menuju Jakarta. Di dalam kabin VIP yang sunyi, aku duduk berhadapan dengan Raymond. Aku telah berganti pakaian menggunakan gaun blazer berwarna putih gading berpotongan tajam yang memancarkan aura kekuasaan dan kecerdasan, lengkap dengan polesan lipstik merah menyala di bibirku.
Di atas meja kayu di antara kami, kotak beludru hitam The Tear of Serpent tergeletak anggun.
Raymond meraih kotak tersebut, membukanya, lalu mengambil kalung platina bernilai tiga puluh miliar rupiah itu. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia berdiri dan melangkah ke balik punggungku. Aku mengaitkan rambut hitamku ke atas, membiarkan jemari kokohnya kembali melingkarkan liontin batu blue sapphire 15 karat yang memukau itu tepat di cekungan dadaku.
Sentuhan dingin batu permata itu beradu rapat dengan kulitku yang hangat, menyebarkan sengatan kekuatan yang tak terbatas.
"Gunakan mahkotamu, Clarissa," bisik Raymond tepat di telingaku dari belakang, kedua tangan kokohnya bertengger santai di bahuku. "Saat roda pesawat ini menyentuh Jakarta, kamu bukan lagi korban dari masa lalu ibumu... kamu adalah ratu baru di kekaisaranku."
Aku menatap pantulan diriku di dinding kaca kabin. Di balik busur cahaya matahari siang, mataku memancarkan kilatan dendam yang telah berbuah menjadi kemenangan mutlak. Badai di Jakarta sudah menunggu, namun kali ini, aku bukan lagi pion yang bisa dipermainkan akulah yang memegang papan catur itu sepenuhnya.