Indonesia
NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Mata Aisyah

Rahasia Di Balik Mata Aisyah

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: ainuncepenis

Aisyah dokter 23 tahun harus terjebak dalam pernikahan yang awalnya dia pikir semua baik-baik saja, tetapi ternyata kecelakaan 5 tahun lalu di saat dirinya masih remaja mengakibatkannya terikat dalam pernikahan itu.
Rahasia besar yang disembunyikan banyak orang kepadanya. Pria yang dia nikahi, ternyata menerima perjodohan dari orang tuanya karena memiliki maksud tertentu darinya.
Lalu bagaimana Aisya menjalani pernikahannya, di saat dia merasa semua baik-baik saja dan ternyata pernikahannya hanyalah sebuah kebohongan yang menyakiti hatinya, karena perbuatan orang-orang yang tidak bertanggung jawab.

Mari harus membaca karya saya dari awal sampai akhir, jangan lewatkan sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28 Melihat Untuk Pertama Kali

Lidya saat ini sedang berada di dapur, Lidya menoleh ke belakangnya ketika mendengar suara langkah kaki.

"Amira kamu baru pulang?" tanya Lidya.

"Iya. Ma," jawab Amira mencium punggung tangan Lidya.

"Mama masak apa?" tanya Amira.

"Membuat soup buntut kesukaan kamu," jawab Lidya.

"Makasih, Mama aku yang paling cantik," ucap Amira tersenyum lebar membuat Lidya hanya senyum-senyum jika putrinya sudah memujinya.

Amira kemudian duduk dengan meneguk air putih.

"Oh iya Mama, ingat tidak waktu itu Aisyah kecelakaan beberapa tahun yang lalu, Aisyah dirawat di rumah sakit mana?" tanyanya tiba-tiba.

"Kenapa kamu tiba-tiba menanyakan kecelakaan Aisyah, kamu sudah tahu jika Aisyah sangat trauma dengan kecelakaan itu," ucap Lidya.

"Soalnya waktu itu Amira juga tidak tahu banyak, saat Aisyah kecelakaan seingat Amira dilarikan ke rumah sakit kasih bunda, lalu keesokan harinya Aisyah ke Jerman untuk daftar ulang universitas, dan pulang-pulang Aisyah sudah sembuh," ucap Amira.

"Mama juga tidak tahu banyak, atau Mama sebelum menyusul kamu bersama papa ke Jerman, waktu itu Aisyah sempat dipindahkan ke rumah sakit, tetapi kalau tidak salah waktu itu mama pernah berkomunikasi dengan tante Rahma dan beliau mengatakan di rumah sakit Medika Citra," jawab Lidya mengingat-ingat.

"Rumah sakit tempat Amira praktek?" tanyanya memastikan membuat Lidya menganggukkan kepala.

"Benar Amira, seperti apa yang Mama katakan, Mama juga tidak tahu banyak, karena langsung menyusul kamu ke Jerman dan pulang-pulang Aisyah sudah sembuh, tetapi waktu itu Kakak kamu berada di Jakarta karena kekasihnya mengalami kecelakaan dan Mama dengar meninggal," lanjut Lidya.

"Kekasih yang mama ceritakan waktu itu, sulit membuat Kakak move on?" tanya Amira memastikan.

"Benar, seperti apa yang Mama bilang bahwa keluarganya ada di Jakarta dan waktu itu dia kembali dari Singapura, naasnya mengalami kecelakaan, tetapi setelah itu Kaivan tidak mengatakan apapun," jawab Lidya.

Amira mengangguk-anggukkan kepala, seperti ada sesuatu yang sekarang bersarang di dalam pikirannya dan sulit untuk dijelaskan.

"Amira, kenapa tiba-tiba membahas ini? Apa ada sesuatu?" tanya Lidya.

"Oh tidak ada Ma," jawab Amira geleng-geleng kepala karena dia sendiri juga tidak mengerti kenapa tiba-tiba ingin membahasnya.

"Assalamualaikum!" tiba-tiba terdengar salah memuat arah pandang mereka tertuju pada suara tersebut.

"Aisyah!" Amira berdiri dari tempat duduknya.

Baru saja Amira membicarakan sahabatnya itu dan sekarang sudah muncul saja. Aisyah tidak datang sendiri melainkan bersama dengan Kaivan.

"Ma!" Aisyah bahkan melewati Amira yang sudah merenggangkan tangannya ingin dipeluk dan Aisyah justru menghampiri ibu mertuanya dan mencium punggung tangan ibu mertuanya.

"Kamu datang Aisyah," ucap Amira dengan tersenyum dan kemudian mencium kening Aisyah.

Kaivan juga melakukan hal yang sama kepada ibunya.

"Aisyah kau mengabaikanku!" kesal Amira.

"Seperti orang tidak pernah bertemu saja, bahkan lebih dari 12 jam, aku terus bersamamu!" jawab Aisyah.

"Iya, kan. Tetapi tidak ada salahnya memeluk sahabatnya juga," sahut Amira dengan nadanya yang kesal membuat Lidya geleng-geleng kepala.

"Sudah-sudah sekarang sebaiknya kalian duduk, kita makan bersama, mama baru aja selesai membuat soup buntut," ucap Lidya.

"Hmmmm, ma, Aisyah dan Kak Kaivan bolehkan menginap di sini?" tanya Aisyah.

"Astagfirullah Aisyah pertanyaan apa itu, kamu itu adalah menentukan kami. Mama justru senang jika kamu tinggal di rumah kami," sahut Lidya.

"Lagian Aisyah aneh-aneh saja, mau tinggal di rumah suami saja harus berbicara sangat hati-hati seperti itu," sahut Amira.

"Ayo, duduk sekarang!" tegas Lidya membuat Kaivan menarik kursi untuk istrinya.

Lidya juga tampak semangat menghidangkan makanan itu dan mungkin karena menantunya datang.

Tetapi sayangnya Aisyah tidak selera dengan menu makanan yang cukup banyak itu.

"Aisyah kamu coba soup buntut buatan Mama meski kamu menjadi sahabat Amira, tetapi Mama yakin kamu pasti jarang sekali memakan buatan Mama karena Mama memang jarang membuatnya," ucap Lidya bahkan mengambil nasi untuk Aisyah dan juga menuangkan soup tersebut.

"Mama jangan repot-repot seperti itu, Aisyah bisa melakukannya sendiri," ucap Aisyah merasa tidak enak.

"Tidak apa-apa sayang," sahut Lidya.

Aisyah melihat piringnya sudah terisi lauk dan juga soup buntut tersebut, tetapi sayangnya Aisyah justru tidak selera.

"Kak, ini harus dihabiskan?" tanyanya dengan berbisik pada Amira bahkan mendengarnya membuatnya terasa nyaman bagaimana melihat paniknya sahabatnya itu.

"Aisyah sudah kenyang," ucap Aisyah.

Lidya mungkin tidak mendengar karena saat ini sedang mengambil gelas untuk menuang air putih.

"Kita bagi dua," sahut Kaivan mengambil sendok dan piring itu berada di tengah-tengah mereka.

"Kaivan kenapa harus satu piring dengan Aisyah?" tanya Lidya.

"Kami baru saja makan, Aisyah juga tidak akan menghabiskannya, daripada mubazir jadi lebih baik dimakan bersama," jawab Kaivan.

"Ya ampun romantis banget...." sahut Amira gemes sendiri melihat pasangan itu membuat Aisyah merapatkan giginya sudah pasti kesal jika Amira menggodanya.

"Ya sudah kalau begitu kalian makanlah, Amira kamu juga makan!" tegas Lidya.

"Mau diambilkan oleh Mama," ucapnya manja yang tidak mau kalah juga ingin diperlakukan spesial seperti sahabatnya.

"Kamu ini ya benar-benar," Lidya geleng-geleng kepala.

"Ayo makan sedikit saja!" Kaivan menyuapi sang istri membuat Aisyah menggelengkan kepala yang benar-benar tidak selera.

Tetapi Aisyah terpaksa memakan sedikit karena ingin menghargai ibu mertuanya. Lidya melihat hal itu tersenyum, menantunya dan putranya pernikahannya terlihat manis membuat Lidya sebagai ibu ikut bahagia, mengingat mengetahui bagaimana putranya sangat dingin, tetapi mungkin karena keberadaan Aisyah membuatnya menjadi pria sangat perhatian dan hangat seperti apa yang diceritakan Amira.

*****

Karena menginap di kediaman Kaivan. Aisyah saat ini berada di kamar besar milik suaminya dan sang suami masih berada di teras belakang bersama dengan ayahnya yang mengobrol.

"Kenapa belakangan ini tubuhku terasa kurang fit, selera makan berkurang, padahal aku tidak punya maag," ucapnya tidak mengerti.

Aisyah mengambil ponselnya dari dalam tasnya.

"Lowbet," ucapnya.

Kepalanya berkeliling melihat nakas.

"Kak Kaivan punya charger tidak ya," ucapnya berdiri dari tempat duduknya.

Aisyah yang tidak membawa charger mencoba untuk mencari di kamar itu, Aisyah membuka laci yang berada di samping tempat tidur. Kepala Aisyah mengkerut ketika melihat bingkai foto di sana.

Aisyah mengambilnya dan ternyata itu Kaivan bersama seorang wanita yang mana wanita itu memakai pakaian saat wisuda dan memeluk boucet bunga, tetapi sayangnya wajahnya tidak bisa dilihat karena mungkin tertumpah cairan merah pada wajah foto itu.

Aisyah tiba-tiba saja mengingat celetukan Amira yang tidak sengaja menyebutkan mantan kekasih dari Kaivan.

"Apa ini wanita yang Amira maksud?" ucapnya dengan penasaran yang ingin membersihkan bagian wajah itu agar dia bisa melihat wajah wanita tersebut.

Tetapi sayangnya tangannya dihentikan, dan Aisyah menoleh ke samping ternyata Kaivan entah sejak kapan sudah berada di sana dan mengambil foto itu.

"Kak...."

"Ini bukan apa-apa Aisyah, saya akan menyimpannya di tempat lain," ucap Kaivan yang sedikit gugup mengambil foto itu dan kemudian berlalu dari hadapan Aisyah.

"Menyimpan?"

Langkah Kaivan terhenti, pertanyaan dari istrinya mungkin mengandung arti dan sepertinya apa yang dia katakan cukup salah membuat Kaivan menoleh kembali ke belakang.

Aisyah menghela nafas dan mengabaikan semuanya hanya diam dan berjalan menuju ranjang mengambil ponselnya.

"Kakak punya charger tidak?" tanyanya mengalihkan situasi yang cukup tegang di antara mereka.

Bersambung....

1
Herman Lim
jgn nanti kebuka aja menikah karna ada mata mantan di tubuh Aisyah lihat apa yg akan Aisyah buat ke mata nya nanti ga sabar tgg part ne
Herman Lim
jgn menyesel aja nanti kaivan klo Aisyah tau niat kamu waktu nikah sama dia bukan utk Aisyah tapi mata mantan mu di tubuh Aisyah
puji hastuti
Kaivan bertanya " Jadi kamu tugasnya dii bali ?"
suaminya loh ....pengantin baru looh
Fauziah Rahma
kenapa bisa ayah aisyah menikah dengan Kamila?
Herman Lim
kaivan kamu pasti melihat mantan mu mk bisa gitu lembut sama aisyah
Herman Lim
kasian Aisyah yg di bohongi semua org tua dan suami nya 🤪😔
Herman Lim
gila ternyata Aisyah yg jadi korban dari semua ego kalian,tdk ada Aisyah kyk kian bangga kan tapi wanita yg dh mati hanya kerna mata nya yg Masi ada di tubuh Aisyah kalian paksa Aisyah nikah dgn kekasih ny dl 😔
Herman Lim
apa jangan² dl yg bertabrakan dgn aishay anak dari bini ayah nya yg mati Dan mata nya di donor ke aishay dan kaivan dl berpacaran dgn anak lain ayah nya 😔😔 rumit guys 🤣🤣
Oma Gavin
orang tua cerminan buat anaknya bila ayahnya saja poligami merasa paling bener jgn salahkan aisyah bila jadi pemberontak
Gian Hazza
lanjut thor👍
Rian Moontero
mampiiirr😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!