tiga pemuda yang sama-sama bernasib buruk sama-sama di khianati kekasih mereka dan sama-sama di anggap buruk oleh keluarga sendiri
#bl
#bxb
yang gak suka gak usah baca
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kal Ipah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Tak lama kemudian, pemuda itu—Revangga—terbangun dari pingsannya. Ia mengedarkan pandangan dan melihat sebuah kamar yang terasa sangat asing. Revangga mencoba untuk berdiri, tetapi kakinya terasa lemas. Akhirnya, ia tetap duduk sambil celingak-celinguk mencari keberadaan orang lain. Namun, kamar itu tampak sepi.
Revangga memperhatikan sekeliling kamar yang bernuansa biru dan hitam tersebut. Di sana terdapat beberapa barang seperti buku, meja, dan kursi gim.
"Shhh, gue sebenarnya di mana, sih?" ucap Revangga sambil meringis memegangi kepalanya yang berdenyut sakit. Rasa sakit yang tiba-tiba menyerang itu membuat Revangga kembali kehilangan kesadaran.
Kicauan burung di pagi hari dan sinar matahari yang menerobos celah jendela membangunkan Louis yang tertidur di kamar Tio. Louis melihat jam dinding sudah menunjukkan pukul tujuh pagi.
"Jam tujuh. Apa Mas Anton belum pulang, ya?" gumam Louis.
Louis menatap Tio yang masih terlelap, lalu memeriksa kening anak itu. "Syukurlah, demam Tio sudah turun," ucap Louis lega.
Ceklek.
"Mommy, Bian pulang!" teriak Bian yang baru saja tiba bersama Daddynya.
"Bian sudah pulang?" tanya Louis menyambutnya
"Sudah, Mommy. Adik masih demam, Mom?" tanya Bian balik.
"Demam adik sudah turun," ucap Louis.
"Syukur deh demam adik sudah turun. Jadi, Bian bisa main lagi sama adik," ucap Bian senang.
"Daddy ke mana, Bian? Kenapa tidak ikut masuk?" tanya Louis heran.
"Daddy ada di luar, Mom. Katanya lagi ada urusan," jawab Bian.
Louis mengangkat alisnya. "Urusan apa, hm?"
"Gak tahu," jawab Bian sambil menggelengkan kepala.
"Ya sudah, Bian jaga adik dulu, ya. Mommy mau mandi dulu." Bian pun mengangguk patuh.
Sementara itu, di kamar Michael...
Michael, Anton, dan Caesar sedang menatap Revangga. Pemuda itu tampak menunduk takut karena mendapat tatapan intimidasi dari mereka bertiga.
"Dia pacar kamu, Cael?" tanya sang Daddy kepada Michael.
"Bukan, Dad. Saya menemukan dia tergeletak di jalanan penuh darah, jadi saya bawa kemari," jelas Michael.
"Siapa nama kamu?" tanya Anton dengan nada dingin.
"Re-Revangga, Om," ucap Revangga gugup.
"Kenapa kamu bisa ada di jalan dengan luka-luka?" tanya Anton lagi.
"Sa... sa... saya..." Revangga semakin menunduk. Ia benar-benar takut melihat tatapan mereka yang seolah-olah ingin membunuhnya.
Ceklek.
"Loh, ada apa ini kumpul di kamar Cael?" ucap Louis yang tiba-tiba masuk ke kamar Michael.
"Cael, pemuda ini siapa? Dia pacar kamu? Kamu apakan dia?" tanya Louis beruntun.
"Dia bukan pacar saya, Mom. Saya temukan dia pingsan di jalan tadi malam, jadi saya bawa pulang untuk diobati," ucap Michael meluruskan.
Louis mendekati Revangga yang terus menunduk sambil meremas selimut milik Michael."Siapa nama kamu, Nak? Enggak usah takut, mereka enggak menggigit, kok. Wajah mereka memang menyeramkan seperti setan," canda Louis mencoba mencairkan suasana.
"Honey," tegur Anton dengan nada penekanan.
"Iya," ucap Louis sambil menatap balik Anton tanpa rasa takut.
"Nama aku Revangga, Uncle. Aku ditabrak seseorang tadi malam. Mungkin itu yang membuat aku pingsan," ucap Revangga takut-takut.
"Ditabrak? Siapa yang menabrak kamu?" tanya Louis terkejut.
"Aku enggak tahu, Uncle," ucap Revangga. Ia memang tidak tahu siapa pelakunya karena jalanan malam itu sangat gelap tanpa penerangan lampu.
"Kamu istirahat dulu, ya. Uncle buatkan kamu bubur." Revangga mengangguk pelan.
"Terima kasih banyak, Uncle," ucap Revangga tulus.
"Iya. Kalian semua keluar, biar dia bisa istirahat," perintah Louis pada suami dan anak-anaknya.
"Saya akan di sini mau jaga dia," ucap Michael cepat."Modus," cibir Caesar.
"Apa sih, Bang? Modus-modus... tapi benar juga sih, hehehe," balas Michael membuat Caesar mendengus.
"Dia manis, Bang. Bisa kali saya pepet jadi pacar," bisik Michael dengan tatapan kagum ke arah Revangga.
"Jangan macam-macam, dia anak orang," tegur Anton tegas.
"Enggaklah, Dad. Saya juga tahu batasan, lagian baru juga kenal," ucap Michael.
"Bagus." After seluruh keluarganya keluar, Michael duduk di samping ranjang. Ia memandangi wajah manis Revangga yang kini sudah tertidur pulas.
"Sepertinya saya suka sama kamu, Revan," gumam Michael pelan.
Di tempat lain, suasana di apartemen tampak tegang. Tian, Elvian, dan Brian merasa cemas sekaligus khawatir. Sejak semalam hingga siang ini, Revangga belum juga pulang. Hal itu membuat mereka bertiga tidak bisa memejamkan mata.
"Revan ke mana, sih? Dari semalam belum pulang," ucap Tian penuh kekhawatiran.
"El, Brian, bagaimana? Marlo, Resta, Langit sama Lee sudah menemukan Revangga?" tanya Tian beruntun.
"Belum, Kak," ucap Elvian lesu.
"Haaah, bocah itu bikin khawatir saja! Bilangnya cuma sebentar ke supermarket, tapi sampai siang begini belum pulang juga," gerutu Brian panik.
"Kita cari lagi, El, Brian. Kakak khawatir banget sama Revan, takut dia kenapa-napa," ajak Tian cemas
"Mau cari ke mana lagi, Kak? Dari semalam sampai sekarang kita terus mencari, tapi Revan enggak ada di mana-mana," ucap Brian pasrah.
"Ya Tuhan, di mana Revan sekarang?" Tian tidak hentinya berdoa untuk keselamatan Revangga yang entah berada di mana saat ini.
Kembali ke rumah Michael, Revangga saat ini sedang makan di meja dapur karena perutnya sudah berbunyi kelaparan.
"Kakak cantik namanya siapa?" tanya Bian dengan tatapan polosnya.
"Nama Kakak Revangga. Kalau adik namanya siapa?" tanya Revangga balik.
"Kalau aku namanya Bian, dan ini adikku namanya Tio," ucap Bian memperkenalkan diri dan adiknya.
"Hiii, kalian berdua lucu dan imut banget, deh," ucap Revangga gemas melihat kedua bocah tersebut.
"Kakatan Revan cantik, deh," puji Bian jujur.
Pujian itu sukses membuat pipi Revangga merona merah karena malu dipuji cantik oleh anak kecil.
"Kakak sakit, ya? Pipi-na melah gitu?" tanya Tio dengan suara cadelnya yang menggemaskan.
"Enggak, kok. Kakak enggak sakit," jawab Revangga tersenyum.
"Bian, Tio, jangan ganggu Kakak Revan yang lagi makan," tegur Louis lembut.
"Iya, Mom," sahut Bian patuh.
Tap... tap... tap...
"Abang Max baru pulang!" seru Bian gembira. Ia segera berlari memeluk kaki Maxime, disusul oleh Tio yang ikut menempel pada sang kakak tertua.
"Hm," dehem Maxime singkat.
"Bang Max, pesanan Bian mana?" tanya Bian sambil menadahkan tangannya ke arah Maxime.
"Ini." Maxime menyerahkan sebuah kantong kertas kepada Bian dan Tio.
Bian segera membuka kantong tersebut. Matanya berbinar cerah saat melihat kue rasa bluberi kesukaannya ada di dalam sana.
"Wahhh, kue bluberi kesukaan Bian! Makasih, Bang!" ucap Bian dengan senyum manisnya yang mengembang.
"Sama-sama," jawab Maxime pendek.
"Tio mau buka juga!" Tio buru-buru membuka bagian miliknya. Sama seperti Bian, matanya langsung berbinar saat melihat kue berwarna merah muda.
"Kue setobeli kesukaan Tio! Makasih, Bang Mas!" ucap Tio riang.
"Sama-sama, Tio," balas Maxime sambil mengusap kepala adik