Indonesia
NovelToon NovelToon
MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Rumahhantu
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Iephe Tyo

Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.

keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Namun, menggerakkan badan dengan kondisi lutut terkilir ternyata bukan perkara mudah. Setiap kali Joko mencoba mengubah posisi, sendi lututnya ngilu luar biasa.

"Aduh...Aduh, dengkulku..." ringis Joko setengah berbisik, menahan napas agar suaranya tidak terlalu keras dan membangunkan Jalu yang tidur di sisi lain kasur.

Marni yang merasa terganggu dari tidur nyenyaknya perlahan membuka mata. Dalam remang-remang kamar, ia melihat suaminya sedang meringis kesakitan di atasnya dengan posisi yang canggung.

"Oalah, Mas Jokkkk! Sampeyan ini mau mengigau atau mau apa?!" bisik Marni kaget campur jengkel sambil mendorong pelan dada suaminya. "Lutut geser begitu kok malah kumat tingkahnya! Sudah malam, Jalu tidur di samping itu lho!"

"Halah, Marni... Suaminya tadi malam hampir dimakan demit dapur, kamu malah tidur nyenyak kayak kerbau," gerutu Joko sambil memegangi lututnya yang makin cenat-cenut, gagal total melancarkan aksi jengkelnya.

Marni menepuk paha Joko pelan. "Makanya jangan aneh-aneh! Wis, tidur! Nanti pagi tak kompres lututmu pakai air hangat, ga enak lho, ini rumah Ndoro. Gausah aneh aneh selama tidur disini."

Akhirnya, Joko hanya bisa pasrah merosot kembali ke samping Marni sambil memegangi lututnya yang memar. Rencana mengerjai istrinya gagal total, menggantung di tengah hawa dingin malam Desa Bojasari yang perlahan mulai berganti menuju fajar

.

.

.

Pagi hari di Jakarta disambut oleh hiruk-pikuk khas ibu kota. Suara klakson kendaraan yang saling bersahutan, deru mesin di tengah kemacetan, dan lalu-lalang pekerja yang terburu-buru menjadi pemandangan kontras dengan ketenangan Di Kota Wonosobo.

Matahari mulai meninggi ketika Theo sudah rapi dengan kemeja kerjanya. Pagi ini, ia sengaja tidak mengajak Yayan dan membiarkan pria itu beristirahat lebih lama di rumah. Theo memilih mengendarai sendiri mobil SUV hitamnya membelah kemacetan jalanan Jakarta menuju kantor tempatnya bekerja yaitu sebuah gedung pencakar langit milik salah satu bank swasta terkemuka.

Sesampainya di gedung kantor, Theo melangkah masuk melewati pintu kaca utama. Aroma pendingin ruangan dan wangi kopi yang khas menyapa inderanya. Di area lobby dan koridor lantai atas, beberapa rekan kerjanya tampak lalu-lalang dengan kesibukan masing-masing.

"Eh, Theo! Lho,Bro, ke mana saja? Kok baru kelihatan?" sapa Dimas, salah satu rekan satu divisinya yang sedang memegang cangkir kopi.

Theo tersenyum tipis, menjabat tangan Dimas hangat. "Ada urusan keluarga sebentar di kampung, Dim. Gimana kabar? Kerja aman?"

"Aman, aman... Tapi asli, meja kamu kemarin sempat ditanyain tim audit," terkekeh Dimas.

Tak lama, beberapa teman seperjuangan lainnya ikut bergabung melingkar di area pantry dan kubikel. Mereka saling melempar kelakar ringan, menanyakan kabar Tiara istri Theo hingga mengenang masa-masa lembur bareng yang melelahkan namun penuh kenangan. Di tengah tawa dan basa-basi hangat itu, ada rasa haru yang terselip di dada Theo. Ini adalah lingkungan yang telah membentuk kariernya selama beberapa tahun terakhir.

"Oya, Theo, kamu balik ke kantor mau urus laporan kwartal kemarin ya?" tanya salah seorang rekan wanita.

Theo menggeleng pelan dengan senyum tenang. "Enggak, Rin. Hari ini aku mau ketemu Mbak Nita dari HRD."

"Lho? Mau urus apa ke HRD?"

Di saat yang sama, pintu ruangan HRD di ujung koridor tampak terbuka. Mbak Nita, manajer HRD yang ditunggu Theo sejak tadi, berjalan keluar sambil membawa beberapa berkas.

"Pagi, Theo. Maaf ya agak lambat, tadi ada rapat internal sebentar," panggil Mbak Nita ramah dari kejauhan.

"Pagi, Mbak Nita. Oh, tidak apa-apa, Mbak," jawab Theo santai. Ia lalu menoleh sebentar ke arah teman-temannya yang menatapnya penuh rasa penasaran. "Duluan ya, Rek. Nanti kita ngobrol lagi."

Theo pun melangkah menuju ruangan HRD, bersiap untuk menyerahkan surat pengunduran dirinya.

Pintu kaca ruangan HRD tertutup rapat, meredam hiruk-pikuk suasana kantor di luar. Theo duduk berhadapan dengan Mbak Nita yang dibatasi oleh meja kayu mengilap bertumpuk berkas.

Setelah sedikit basa-basi bertanya kabar, raut wajah Theo berubah serius. Ia merogoh tas kerjanya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal, lalu menggesernya perlahan di atas meja menuju ke hadapan sang Manajer HRD.

"Mbak Nita... sebelumnya saya ingin menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya karena sudah satu minggu lebih tidak masuk kerja tanpa kabar setelah masa cuti menikah saya selesai," buka Theo dengan nada suara yang tenang namun penuh rasa penyesalan. "Hari ini, kedatangan saya adalah untuk menyerahkan surat pengunduran diri saya secara resmi dari bank ini."

Mbak Nita yang hendak meraih cangkir tehnya seketika menghentikan gerakan tangannya. Matanya membelalak kaget, memandangi amplop itu dan wajah Theo secara bergantian.

"T-tunggu dulu, Theo..." Mbak Nita menarik napas dalam-dalam, memajukan posisi duduknya. "Kamu serius? Mau resign?"

Theo mengangguk mantap. "Iya, Mbak. Keputusan ini sudah saya pertimbangkan matang-matang bersama Tiara."

"Theo, dengar ya..." Mbak Nita mengusap dahinya, tampak benar-benar tidak menyangka. "Jujur, soal kamu yang alpha seminggu kemarin itu, tim HRD dan manajemen memang sempat mempertanyakannya. Tapi kami semua tahu track record mu. Kamu itu salah satu karyawan terbaik dan paling teladan di divisi ini. Kinerjamu selalu melampaui target, integritasmu tinggi. Masalah keterlambatan masuk setelah cuti kemarin itu sangat bisa kita maklumi dan maafkan, Theo. Kamu cukup buat surat keterangan alasan keterlambatan saja, beres!"

Mbak Nita dorong kembali amplop itu mendekati Theo. "Pikirkan lagi, Theo. Sayang sekali karirmu di sini sedang bagus-bagusnya. Apalagi posisi team leader sebentar lagi mau dibuka."

Theo tersenyum tipis, merasa sangat dihargai atas penilaian sang manajer.

"Terima kasih banyak atas kebaikan dan kepercayaan Mbak Nita serta manajemen selama ini," ujar Theo tulus sambil perlahan mendorong kembali amplop surat pengunduran dirinya ke arah Mbak Nita. "Ini bukan karena ada masalah di kantor atau masalah pekerjaan, Mbak. Tapi ada amanah besar dari keluarga yang harus saya jalankan di kampung halaman..."

Mbak Nita menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, mengamati raut wajah tampan nan gagah Theo yang begitu tenang namun memancarkan keteguhan yang tak bisa digoyahkan. Rasa penasaran akhirnya mengalahkan keterkejutannya.

"Amanah keluarga seperti apa, Theo, sampai kamu rela melepas posisi dan karir yang sudah kamu bangun bertahun-tahun di sini?" tanya Mbak Nita dengan nada bicara yang melunak, tulus ingin memahami.

Theo menghela napas pelan, menatap lurus ke arah sang manajer. "Kakek saya baru saja meninggal dunia seminggu yang lalu di Wonosobo, Mbak. Beliau meninggalkan nenek saya yang sudah sepuh sendirian di rumah. Saya dan Tiara sudah sepakat untuk pindah menetap di sana, merawat Uti sekaligus menjaga rumah peninggalan almarhum Kakek saya."

Mbak Nita tertegun. Penjelasan singkat namun padat itu langsung menjawab semua teka-teki keputusannya. Ia bisa melihat kesungguhan dan rasa tanggung jawab yang begitu besar di sorot mata mantan staf teladannya itu. Di zaman sekarang, tidak banyak anak muda yang mau mengorbankan karir cemerlang di ibu kota demi pulang ke desa merawat orang tua.

"Jadi... karena itu kamu sampai lupa mengabari kantor minggu lalu?" tanya Mbak Nita lirih.

"Iya, Mbak. Situasinya sangat kalut dan mendadak saat itu. Saya benar-benar minta maaf atas ketidakprofesionalan saya kemarin," jawab Theo tulus.

Mbak Nita menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Ia menatap amplop di atas meja itu sekali lagi dengan tatapan berat. Tanpa mengulur waktu lagi, tangannya meraih surat pengunduran diri tersebut dan menariknya pelan.

"Baiklah kalau memang itu sudah menjadi keputusan bulat kamu dan Tiara," ujar Mbak Nita dengan nada berat hati namun diiringi senyum penuh rasa hormat. "Secara profesional, kantor sangat merasa kehilangan karyawan terbaik seperti kamu, Theo. Tapi secara personal... saya sangat menghargai dan bangga atas keputusanmu untuk berbakti pada keluarga."

Mbak Nita mengambil pena, lalu membubuhkan tanda tangan persetujuan awal di atas berkas tersebut.

"Proses handover dan administrasi sisanya akan kita bantu percepat. Terima kasih atas kerja keras dan dedikasimu selama ini di bank ini ya, Theo. Sampaikan salam saya untuk Tiara," lanjut Mbak Nita seraya mengulurkan tangannya.

Theo menyambut uluran tangan itu dengan rasa lega yang membuncah di dada. "Terima kasih banyak atas segalanya, Mbak Nita. Semoga Mbak Nita dan tim di sini selalu sukses."

Dengan ditandatanganinya surat tersebut, satu babak besar dalam kehidupan Theo di Jakarta resmi ditutup, membukakan jalan sepenuhnya untuk kehidupan baru.

.

Pintu ruangan HRD perlahan tertutup di belakang Theo. Satu helaan napas lega keluar dari dadanya; kini satu urusan besar di Jakarta telah resmi tuntas.

Baru beberapa langkah Theo melangkah di koridor lantai atas, sesosok pemuda bertubuh tegap dengan kemeja yang digulung hingga siku berjalan terburu-buru dari arah area komputer. Begitu pandangan mereka beradu, pemuda itu mendadak menghentikan langkahnya.

"Theo!"

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh... Bakalan ada apa lagi, nih?
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Tita Tata
sumpahhhh penasaran bgt sama kelanjutannya
Tita Tata
pokoknya terus lanjut bacaa
Tita Tata
suara apa itu thorrrrrrr
Tita Tata
lanjut thor ... semakin seruuuu
Tita Tata
jadi Theo pernah se trauma itu yaaa
Tita Tata
aku suka bngt sama tulisan author ini
Tita Tata
apa yang akan terjadi selanjutnya yah
Tita Tata
tegang bgt sumpah
Tita Tata
lanjut thorrrr
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Loh, wafatnya Kakung Theo belom dikasih kabar ke orang tuanya kah??? 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kira-kira Theo bisa "merasakan" kejanggalan di rumah peninggalan Kakeknya gak, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Owalaaah... Jadi makhluk-makhluk yang mengganggu itu kiriman orang lain ternyataaa... Gak bisa dibiarin terus kalo begitu...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh, saya bener-bener jadi inget sama Almarhum Mbah saya pas baca BAB ini, Kak... Emosi memorinya kuat banget... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Jangan-jangan semua makhluk yang ada di rumah Almarhum Kakek Theo itu, sosok penjaga rumah itu kah???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya suka banget nih, ceritanya semakin mendebarkan... 🤭🤭🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Siapa sih, wanita yang menangis itu? Penasaran banget jadinya...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waaah, nostalgia banget pas baca kata "Playstation"... Jadi sama-sama inget masa SMP dulu, mirip kayak Theo... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waduh, ada rahasia apa di balik rumah dan peternakan Almarhum Kakek Theo, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah... Makin seru ceritanya Thor!

Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???

🤨🤨🤨🤨🤨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!