Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dijebak dan difitnah oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa melarikan diri dalam keadaan terluka, Reno terpaksa menyembunyikan identitas aslinya dan menjadi menantu numpang yang dihina di keluarga Pramudya. Di mata ibu mertua dan orang-orang kota, ia hanyalah pria miskin tak berguna yang hanya bisa mencuci piring dan menerima makian.
Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa penyamaran miskin itu adalah cara Reno menguji hatinya sekaligus memulihkan teknik kultivasi kuno "Sutra Naga Kuno" demi menyelesaikan ujian kesembilan dari organisasinya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya yang matrealistis memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan wanita itu dengan seorang tuan muda kaya yang sombong, Brandon Pratama. Di hari yang sama ketika surat cerai dilemparkan ke wajahnya, masa pengasingan Reno resmi berakhir! Kelompok elit terkaya dan terkuat di dunia—Grup Naga Hitam—berlutut menyambut kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 14: KEDATANGAN SANG PEMIMPIN BESAR
Suara kresek dari radio transmisi helikopter yang terbakar perlahan menghilang ditelan asap pekat.
Ancaman tentang kedatangan Pemimpin Besar Sekte Naga Langit membekukan udara pagi di depan Vila Puncak.
Zhao Xiong dan Zhao Tian yang terkencing-kencing di tanah mendadak tertawa histeris bagaikan orang gila.
"Hahaha! Mampus lu Reno! Pemimpin Besar Sekte sudah keluar dari pengasingan!" teriak Zhao Tian dengan suara serak.
"Beliau adalah praktisi Ranah Raja Spiritual! Lu bakal dicincang sampai tak tersisa!" sambung Zhao Xiong penuh rasa dendam.
Bagas melangkah maju, langsung menghantam tengkuk Zhao Xiong dan Zhao Tian menggunakan gagang pistolnya.
Brakkk!
Dua penguasa Klan Zhao itu langsung pingsan tersungkur di atas lantai marmer.
"Tuan Muda, apakah hamba perlu menyiapkan pasukan utama Naga Hitam?" tanya Bagas dengan raut wajah serius.
Reno membalikkan badan, menatap lurus ke arah langit selatan yang mulai tertutup awan hitam.
"Nggak perlu, Bagas. Biarkan dia datang sendiri," pukas Reno tenang.
'Ranah Raja Spiritual? Hadeuhhh... di mata Sutra Naga Kuno gue, itu cuma sekelas anak TK baru belajar jalan,' batin Reno tertawa kecil.
"Tapi Tuan, Pemimpin Besar Sekte Naga Langit terkenal sangat kejam dan menguasai Senjata Perkakas Kuno," desak Bagas cemas.
"Biarkan dia bawa seluruh simpanan senjata kunonya. Makin banyak yang dia bawa, makin menarik buat gue," sahut Reno santai.
Reno melangkah masuk ke dalam vila, meninggalkan Bagas yang langsung sigap memerintahkan anak buahnya membersihkan area pelataran.
Sementara itu, di dalam kamar utama vila yang mewah.
Alya berdiri di dekat jendela, menyambut kedatangan Reno dengan raut wajah cemas luar biasa.
"Reno! Kamu nggak apa-apa kan?!" tanya Alya langsung memeriksa lengan dan dada suaminya.
Reno tersenyum hangat, mengelus lembut rambut panjang Alya.
"Aku nggak apa-apa, Alya. Cuma ada sedikit masalah kebersihan di luar tadi," jawab Reno menghibur.
"Aku dengar suara ledakan keras banget tadi, Reno..." panggil Alya pelan dengan mata berkaca-kaca.
"Itu cuma ban mobil yang meledak di luar. Jangan khawatir ya," dalih Reno mengusap pipi istrinya.
Alya memeluk pinggang Reno erat-erat, menyandarkan kepalanya di dada bidang Reno.
"Aku takut banget kehilangan kamu, Reno. Tolong jangan pernah tinggalkan aku," bisik Alya tulus.
"Aku janji, nggak bakal ada satu orang pun di dunia ini yang bisa misahin kita," janji Reno mantap sambil membalas pelukan Alya.
Di saat yang sama, berita tentang hancurnya kekuatan Klan Zhao dan tumbangnya Utusan Sekte Naga Langit menyebar cepat di seluruh Provinsi.
Dunia bawah tanah dan kalangan elit bisnis terguncang hebat bagaikan dihantam gempa bumi skala tinggi.
"Gila! Klan Zhao yang berkuasa puluhan tahun hancur cuma dalam waktu satu jam?!" jerit seorang ketua sekte lain di ruang rapatnya.
"Siapa pemuda bernama Reno itu?! Dari mana asal kekuatannya yang mengerikan?!" timpal sesepuh klan lainnya gemetaran.
Di Markas Pusat Sekte Naga Langit yang terletak di puncak Gunung Tengkorak.
Suasana di aula utama sekte terasa sangat mencekam dan penuh aura kematian.
Puluhan murid elit berseragam hitam berlutut rapi di sepanjang jalan menuju singgasana batu hitam.
Di atas singgasana tersebut, duduk seorang pria paruh baya berambut putih dengan mata menyala merah.
Dia adalah Guan Long, Pemimpin Besar Sekte Naga Langit yang baru saja menyelesaikan pertapaannya selama sepuluh tahun.
"Tetua Gao dihancurkan sampai tulang-tulangnya remuk?" tanya Guan Long dengan suara guram yang menggetarkan tiang aula.
Seorang murid elit berlutut gemetaran di bawah tangga singgasana.
"B-Benar, Pemimpin Besar! Pria bernama Reno itu menghancurkan formasi klan dan membantai Tetua Gao tanpa terluka sedikit pun!" jawab murid itu ketakutan.
Guan Long berdiri dari singgasananya, memicu berhembusnya angin puyuh hitam yang menghancurkan ubin batu di sekitarnya.
*Brakkkk!*
"Pemuda ingusan dari mana yang berani mengusik wilayah kekuasaan Sekte Naga Langit?!" bentak Guan Long murka.
Guan Long mengibaskan jubah hitamnya, memanggil sebilah tombak bermata tiga dari belakang singgasana.
Tombak itu memancarkan aura kegelapan yang sangat pekat, membumbung tinggi menembus atap aula.
"Itu... Tombak Iblis Pemutus Nyawa!" bisik para murid elit ketakutan.
Guan Long memegang gagang tombak tersebut, menatap lurus ke arah Kota Provinsi.
"Kumpulkan seluruh Pasukan Eksekutor Sekte!" komando Guan Long penuh amarah yang membara.
"Hari ini, gue bakal ratakan Vila Puncak dan meminum darah pemuda itu di depan seluruh rakyat provinsi!" seru Guan Long keras.
"Siap, Pemimpin Besar!" teriak ribuan murid Sekte Naga Langit serentak menyanggupi.
Kabar mengenai pergerakan Guan Long dan Pasukan Eksekutor Sekte langsung sampai ke telinga Bagas dalam waktu singkat.
Bagas segera berlari menuju ruang kerja Reno di lantai dua Vila Puncak.
Tok! Tok! Tok!
"Tuan Muda! Ada berita darurat!" panggil Bagas dari balik pintu.
Reno membuka pintu ruangan, menatap Bagas dengan tenang.
"Ada apa, Bagas?" tanya Reno pendek.
"Guan Long sudah memimpin ribuan Pasukan Eksekutor menuju Vila Puncak! Mereka membawa Tombak Iblis Pemutus Nyawa!" lapor Bagas cepat.
Reno menyunggingkan senyum tipis yang sangat dingin di bibirnya.
"Tombak Iblis? Kebetulan banget," sahut Reno santai.
"Gue memang butuh bahan besi tua buat perbaiki pagar vila yang rusak tadi pagi."
Bagas tertegun sejenak, tak sanggup menahan rasa kagumnya pada ketenangan sang Tuan Muda.
Reno berjalan menuju balkon luar, menatap ke arah jalan utama Puncak yang mulai dipenuhi arak-arakan mobil serba hitam.
Suara sirine dan deru mesin kendaraan tempur melengking keras membelah kesunyian Puncak.
Di barisan paling depan, sebuah mobil tank taktis berhenti tepat sepuluh meter dari gerbang Vila Puncak.
Guan Long melompat turun dari atas tank, mengacungkan Tombak Iblis Pemutus Nyawa tepat ke arah posisi Reno berdiri.
"Reno! Keluar lu sekarang!" teriak Guan Long dengan suara bermuatan energi Raja Spiritual yang menggetarkan kaca-kaca jendela vila.
"Serahkan leher lu dan Alya sekarang kalau mau sekte lu tak kubur hidup-hidup!"