Indonesia
NovelToon NovelToon
Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Dibuang Saat Kusam, Kini Aku Jadi Ratu Kemewahan

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Single Mom
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Tina Mehna 2

"Wanita yang dulu kau buang seperti sampah, kini menjadi Ratu yang tak sanggup kau beli!"
Demi Fandi, Maya rela melepas statusnya sebagai supermodel ternama dan menjadi ibu rumah tangga biasa. Namun, pengorbanannya dibalas penghinaan. Begitu penampilannya tak lagi segar, Fandi menceraikannya demi wanita lain dan mengusirnya tanpa membawa apa pun.
Fandi mengira hidup Maya sudah hancur. Namun, ia salah besar.
Di balik kehancurannya, Maya bangkit merintis kembali kerajaannya. Ketika Maya berdiri di puncak kejayaan sebagai wanita paling berpengaruh, Fandi merangkak dalam penyesalan yang tak bertepi.
Sayangnya... Ratu yang dulu disia-siakannya kini melayang terlalu tinggi untuk kembali.

bagaimana ceritanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tina Mehna 2, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 7. DSKKR

Aku mengerutkan dahi, bingung. "Maksud Mas Arch?"

"Begini, VANE mau rilis lini busana baru bulan depan, tapi tim kreatifku buntu. Aku butuh Head Creative Director baru," ujar Arch tenang, namun kata-katanya membuat napasku tertahan. "Tapi ada syaratnya."

"Syarat apa?"

"Dalam tiga bulan, kamu harus beresin masalah hidupmu, rawat dirimu lagi, dan berdiri sejajar di sampingku sebagai pimpinan project ini. Aku gak butuh kasihan, May. Aku butuh Maya sang Ratu runway catwalk kembali."

Aku terpaku mendengar itu. Tenggorokanku serasa disumbat batu besar. Head Creative Director? Posisi penanggung jawab tertinggi untuk lini busana baru VANE?

"Mas Arch... apa ini enggak terlalu berlebihan?" suaraku sedikit tercekat. "Aku cuma minta posisi staf atau asisten konseptor. Aku bahkan udah bertahun-tahun enggak menyentuh industri ini secara profesional."

Arch menyesap espresso nya tenang, membiarkan keheningan menggantung sejenak di antara kami. Tatapan mata cokelat terangnya terasa begitu pekat dan intens, menembus kebingunganku.

"Aku enggak pernah berlebihan kalau soal bisnis, Maya," jawab Arch, nadanya dingin tapi sangat meyakinkan. "Aku lihat portofoliomu. Sentuhanmu itu yang bikin foto-foto Fandi dulu kelihatan bernyawa. Tanpa ide-idemu, Fandi cuma fotografer amatir dengan kamera mahal."

Kata-kata Arch menyentak kesadaranku. Selama lima tahun ini, Fandi dan keluarganya selalu mendoktrin bahwa aku tak ada artinya. Tapi di sini, seorang penguasa agensi raksasa justru melihat nilaiku yang sebenarnya.

"Tapi syarat dari Mas Arch..." Aku melirik penampilanku sendiri. Kemeja kebesaran, wajah tanpa makeup, dan garis lelah yang tercetak jelas. "Rawat diri? Berdiri sejajar?"

Arch menyandarkan tubuhnya, melipat tangan di dada. "Sederhana, Maya. VANE itu panggung kemewahan. Kalau pemimpin kreatifnya kelihatan kusam dan kehilangan rasa percaya diri, bagaimana kamu mau meyakinkan para investor dan desainer dunia? Aku bukan sedang mengolok mu, tapi aku sedang memberikan motivasi untuk mu sekaligus memberikan mu kesempatan emas" jelas arch.

Dia mencondongkan badan, menatap mataku lurus-lurus.

"Aku mau kamu bangun dari masa lalumu. Urus perceraianmu sampai tuntas, kembali rawat dirimu, dan tunjukkan pada dunia terutama pada mantan suamimu itu kalau kamu enggak bisa dihancurkan cuma karena ditinggal menikah lagi."

Dada ini berdesir hebat. Api bersinar kembali di mataku. Ini bukan sekadar tawaran pekerjaan, ini adalah panggung kebangkitan yang ditawarkan Arch di atas piring perak.

"Berapa banyak waktu yang aku punya?" tanyaku penuh tekad.

Arch tersenyum tipis sebuah senyuman langka yang membuat aura tegasnya bertambah mahal. "Kontrak kerja samamu dimulai Senin depan. Gaji pertamamu dan advance bonus sudah aku perintahkan ke tim keuangan buat dicairkan hari ini. Pakai uang itu buat kebutuhan anak-anakmu... dan buat dirimu sendiri. Ingatt ya may, 3 bulan" ucap Arch dengan menyakinkan.

Setelah itu, dia mendorong sebuah berkas materi project dan kartu nama hitam berukir tinta emas ke arahku.

"Selamat datang kembali di duniamu, Maya." Ucapnya lalu menyalami aku.

"Terimakasih mas Arch, aku akan ambil kesempatan itu." Jawabku.

Setelah itu, kami berbincang sebentar dan pukul 4 sore, aku pun pulang. Aku berjalan pulang ke rumah Ibu dengan langkah yang jauh lebih ringan. Ponsel di genggamanku bergetar. Sebuah notifikasi transfer masuk dari VANE Agency dengan nominal angka yang bikin mataku membelalak. Cukup untuk membiayai hidup anak-anakku selama setahun ke depan, bahkan lebih!

Aku menutup mulut tak percaya "250 juta?" Ucap ku. Aku putuskan untuk mencetak screenshot yang aku ambil mengenai itu biar bisa mengingatkan ku awal nya maya yang baru.

Tapi kedamaian itu mendadak terganggu saat sebuah mobil hitam yang sangat kukenal berhenti tepat di depan pagar rumah Ibu.

Pintunya terbuka, dan Fandi melangkah keluar dengan wajah menyeringai sinis.

"Wah, baru pulang dari mana kamu, May?" cemooh Fandi sambil bersedekah tangan di kap mobilnya. "Nyari pinjaman uang ke sana-sini, ya? Gimana? Udah sadar kalau hidup di luar tanpa uangku itu keras?" Ucap Fandi lagi.

Aku menghentikan langkah tepat di depan pintu pagar. Mataku menatap Fandi yang berdiri congkak di samping mobil barunya. Pria itu tampak sangat percaya diri, seolah-olah dia baru saja memenangkan sebuah piala.

"Ngapain kamu ke sini, Mas?" suaraku datar, tanpa ada nada panik atau emosi sedikit pun.

Fandi tertawa remeh, melangkah mendekat sambil memoles jam tangan mewahnya. "Ya mau lihat keadaan kamu sama anak-anak lah. Gimana? Udah kerasa capeknya? Udah sadar kalau gaya hidup sok idealis kamu itu gak bisa ngasih makan Arka, Arki, dan Kirana?"

Dia berhenti satu langkah di depanku, menatap kemeja polos dan celana kainku dengan pandangan mengejek.

"Aku ke sini sebenarnya mau kasih kamu penawaran terakhir, May," lanjut Fandi, nada suaranya berubah seolah dia adalah pahlawan kesiangan. "Kalau kamu mau minta maaf sama Ibu, mau minta maaf sama Siska, dan mau balik ke rumah buat urus anak-anak... aku bisa pertimbangkan batalin perceraian kita. Kamu tetap dapat jatah bulanan, walaupun posisi istri utama di hatiku udah diisi Siska."

Aku mendengus pelan. Sungguh, tingkat kepedean pria ini sudah di luar nalar. Dia benar-benar berpikir aku bakalan sudi jadi pembantu bersertifikat di rumahnya sendiri demi sesuap nasi.

"Minta maaf sama Siska?" tanyaku penuh penekanan.

"Iya! Kamu kan udah cemooh dia depan ibu sama intan kemarin. Siska itu calon bintang besar, May. Kamu gak boleh ngerusak mood nya," sahut Fandi tanpa rasa dosa sedikit pun.

"Hello.. Emang nya dia sepenting itu di hidup ku? Emang nya dia pahlawan ku? Aku aja enggak pernah ketemu langsung. Aneh kamu mas!" Ucapku.

"Loh kamu itu harus nya sopan ke dia, kalau dia sukses juga kamu bakalan kecipratan kan uangnya dari ku buat kamu" ucap nya lagi.

"Enggak sudi mas! Sana lebih baik kamu pulang saja. Aku tidak akan pernah setuju pada syarat mu itu" jawabku tegas.

"Sok sekali kamu may! Kamu akan kasih makan apa anak-anak kamu itu?"

Aku menarik napas panjang, merogoh tas tanganku, lalu mengeluarkan lembaran surat resmi berlogo VANE Agency yang baru saja kudapatkan dari Arch, beserta bukti transfer pencairan dana pertama yang sengaja ku cetak di kafe tadi.

Aku menyodorkan surat itu tepat di depan dada Fandi.

"Bisa baca, kan? Aku enggak butuh uang mungil mu itu" kataku tenang.

Fandi mengerutkan dahi, merebut kertas itu dengan kasar. Begitu matanya membaca baris demi baris nama perusahaan, jabatan Head Creative Director, dan nominal advance bonus di lampiran tersebut, wajah jumawa nya seketika berubah pucat. Matanya membelalak lebar.

"VANE Agency? Head Creative Director?!" suara Fandi meninggi, getar kaget tak bisa dia sembunyikan. "I-ini bohong, kan?! Kamu dapat dari mana kertas mainan begini?! Mr. Arch gak mungkin mau merekrut kamu yang udah kusam begini!"

Aku mengambil kembali kertas itu dari tangannya dengan gerakan anggun, lalu tersenyum tipis senyuman terdingin yang pernah kuberikan padanya.

"Simpan saran penawaran mu itu buat dirimu sendiri, Fandi," bisikku tepat di samping telinganya. "Urus saja Siska dan 'estetika mu' yang murahan itu. Karena mulai hari ini... kita berada di panggung yang berbeda."

Aku berbalik, membuka pintu pagar, dan melangkah masuk tanpa sekalipun menoleh lagi ke belakang. Dari balik pagar, aku bisa mendengar suara Fandi yang berteriak memanggil namaku dengan nada frustrasi bercampur tidak percaya.

"Mayy... Mayaa.. berhenti.." teriak nya.

"Ckck.. belagu sekali.. udah kacang lupa kulitnya, tukang selingkuh, kasih nafkah enggak seberapa, berani sekali ingin aku minta maaf ke wanita itu." Gumam ku.

"Mayy..awas kamu ya!" Ucap Fandi.

"Tak tau diri. Mending aku mulai merawat diri."

Sepanjang perjalanan pulang tadi, sebagai langkah awal ku yang baru, aku ingin memotong rambut ku, lalu ku juga

Bersambung...

1
Heny
Sdh pergi baru nyesal
Heny
Sudah sukses lupa daratan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!