Reno Alvarez (25 tahun) punya visual secakep Yeonjun TXT, tapi statusnya tragis: PEngangguran JAkarta BARat yang hobinya cuma rebahan.
Nasib Reno mendadak korslet setelah nekat membuang golok warisan kakeknya ke tong sampah. Bukannya hilang, golok penuh daki itu malah auto-summon balik ke bawah bantalnya.
Reno resmi terkena kutukan Mbah Golok Sakti! Jiwanya mulai disedot paksa masuk ke berbagai dimensi absurd setiap kali tidur. Mulai dari dikejar zombie modal kolor Doraemon, operasi tenggorokan singa di Afrika, sampai debut dadakan jadi member TXT gara-gara Yeonjun asli lagi diare di toilet!
Setiap misi emang dapet cuan, tapi kalau Reno harus pindah dimensi terus nyawa bisa jadi taruhannya. Mampukah sang beban negara ini bertahan?
Warning: Jangan baca sambil minum, rawan nyembur! 🤣🔥
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5. Warisan Penuh Daki
"Kamu yang barusan buang muatan ilegal di sungai ini, kan?!" todong Hengki tanpa basa-basi lagi, matanya mendelik tajam.
Reno langsung menundukkan kepalanya dalam-dalam. Wajah ganteng beraura idol K-Pop ala Yeonjun TXT miliknya mendadak berubah kuyu dan layu, persis kayak sayur bayam sisa kemarin sore yang lupa dipanaskan.
"Maaf, Bang... saya beneran terpaksa banget... posisinya sudah di ujung tanduk, mulesnya level dewa. Kamar mandi di rumah Mimih cuma satu-satunya, dan saat ini lagi dipakai sama Mama saya buat simulasi jadi putri duyung keramas. Antreannya bisa sampai tahun depan."
Mendengar alasan yang sangat tragis itu, Hengki menghela napas panjang. Aura khotbah mautnya yang berapi-api mendadak reda, berganti dengan rasa iba sesama kaum pria.
"Oh, jadi begitu ceritanya? Ya sudah, kali ini saya maafkan atuh. Tapi nanti-nanti jangan diulangi lagi ya, Kang! Ikan-ikan di sungai ini butuh asupan protein pelet, bukan kiriman limbah beracun dari Jakarta. Ngomong-ngomong, saya baru lihat wajah Akang di daerah sini. Orang baru, ya?"
Reno buru-buru mengangguk, merasa bersyukur nyawanya tidak melayang di tepi kali. "Saya Reno, Bang. Dari Jakarta Barat, lagi datang nengok Mimih sama Apih di atas."
Hengki mengangguk-angguk paham, lalu mengulurkan tangan kanannya yang tampak hitam pekat—entah karena habis terkena oli mesin traktor atau memang sudah warna kulit bawaan lahir sejak bayi—untuk mengajak berjabat tangan.
"Kenalin Kang, nama saya Hengki. Tapi orang-orang di desa sini biasa panggil saya Geheng."
Reno menaikkan sebelah alisnya yang tebal. Ia menatap sosok Geheng dari ujung rambut keritingnya sampai ke ujung sandal jepitnya yang sudah tipis sebelah.
"Geheng? Bukannya kalau dalam bahasa Sunda... artinya gosong ya, Bang?" tanya Reno dengan nada yang super hati-hati, takut kalau salah bicara bisa langsung kena smackdown masuk sungai.
Geheng malah tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan polos itu. Ia memamerkan deretan giginya yang putih bersih, kontras banget dengan warna kulit wajahnya.
"Bener banget, Kang Reno! Saya mah malah bangga dipanggil Geheng. Muka hitam estetik begini kan eksotis, mirip artis Hollywood, hehe!"
"Hmm, iya juga sih, Bang. Kalau begitu saya pamit balik ke rumah dulu ya, Bang. Takut Mama saya sudah beres mandinya, terus nyariin saya buat disuruh mengupas bawang putih pake gigi," pamit Reno buru-buru, karena sudah tidak tahan ingin segera resign dari percakapan absurd nan membagongkan ini.
Sesampainya di rumah panggung dengan selamat, Reno langsung mengambil langkah seribu berlari menuju kamar di lantai dua. Namun, baru saja ia mau merebahkan diri demi mendinginkan otak yang hampir meledak akibat insiden di sungai, pintu kamarnya tiba-tiba diketuk dari luar.
Tok! Tok! Tok!
Pintu terbuka dan muncullah sosok Apih Supardi. Kakeknya itu datang sambil membawa sebuah kotak kayu berbentuk persegi panjang yang penampilannya tampak sangat antik—atau dalam bahasa jujurnya: tampak sangat penuh dengan daki legendaris dan debu purbakala yang tebalnya dua senti.
"Reno, Apih mau memberikan benda ini sama kamu. Ini adalah barang berharga warisan turun-temurun dari leluhur kita. Apih ini sudah tua, sudah bau tanah. Sudah saatnya benda ini diwariskan ke generasi muda karena Apih tidak punya anak laki-laki lain yang bisa dipercaya," ucap Apih dengan nada suara yang sangat sakral, berat, dan berwibawa, seolah-olah beliau lagi menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan dunia untuk menyelamatkan bumi dari serangan alien.
Begitu indra pendengaran Reno menangkap kata "Warisan", otak penganggurannya langsung melakukan travelling kelas bisnis menembus ruang dan waktu.
Di dalam imajinasinya yang liar, Reno membayangkan isi kotak kayu tua itu adalah seuntai kalung berlian seberat gaban, sebilah keris emas murni bertabur permata swarovski, atau minimal seutas jam tangan mewah Rolex yang bisa ia gadai buat membeli iPhone terbaru dan modal bensin mobil sampai tujuh turunan.
‘Gue bakal jadi kaya mendadak! Selamat tinggal dunia pengangguran yang hina, selamat datang dunia Crazy Rich Jakbar!’ batin Reno berteriak histeris dalam hati sambil tersenyum-senyum sendiri menyerupai tokoh villain (penjahat) di sinetron azab televisi.
"Ren, kenapa kamu malah bengong sambil mangap begitu kayak patung selamat datang?" tanya Apih heran melihat cucunya mendadak stuck dengan ekspresi wajah miring yang aneh.
"Eh... enggak kok, Pih! Reno cuma merasa terhura dan tersentuh! Boleh Reno buka sekarang kotaknya?" tanya Reno dengan wajah semringah, kedua tangannya sudah gatal ingin segera memegang harta karun imajinasinya.
"Jangan dibuka di sini. Nanti saja, kalau kamu sudah sampai di rumah kamu yang di Jakarta," jawab Apih penuh misteri.
Ternyata, kunci gembok kotak kayu itu sengaja dititipkan Apih kepada Rika. Tujuannya cuma satu: agar Reno tidak syok berat dan langsung menolak warisan "berharga" itu tepat di depan muka kakeknya sendiri.
****
Singkat cerita, waktu berlalu dan kini Reno sudah sampai kembali di rumah pribadinya di kawasan Jakarta Barat. Dengan napas yang memburu dan adrenalin yang memuncak sampai ke ubun-ubun, ia segera merebut kunci gembok dari tangan ibunya, lalu berlari cepat ke kamar dan mengunci pintu rapat-rapat dari dalam.
"Bismillah... iPhone 15 Pro Max... atau minimal emas batangan Antam lima kilo..." gumamnya komat-kamit berdoa sambil memutar kunci gembok kuningan itu dengan tangan yang gemetar hebat.
Cklek!
Begitu tutup kotak kayu itu berhasil dibuka, jantung Reno serasa mendadak kena ghosting dari gebetan paling cantik. Seluruh aliran darahnya berhenti mengalir.
"APA-APAAN NIH?!" teriak Reno histeris, suaranya melengking memecah kesunyian rumah.
Isi di dalam kotak itu bukan emas berkilau, bukan pula berlian berharga, melainkan sebilah GOLOK TUA. Golok dengan sarung kayu usang yang penampilannya terlihat sangat... ya gitu, sangat golok pasar biasa yang penuh karat.
Harapan fana Reno untuk menjadi Orang Kaya Baru (OKB) seketika pupus, terbang melayang bersama debu-debu hitam yang keluar dari kotak tersebut.
"Dikira gue preman pasar atau tukang jagal kambing apa?! Apih kok tega banget ngasih ginian! Whuaaa... gagal total gue jadi Sultan Jakbar!" Reno tertawa frustrasi sendirian, mentalnya hampir gila menghadapi kenyataan zonk ini.
Karena merasa sama sekali tidak butuh sebilah golok karatan (apalagi dia adalah tipe pengangguran sejati yang hobinya rebahan gaya bebas, bukan hobi tawuran antar warga), Reno memutuskan untuk membuang "barang rongsokan" tidak berguna itu.
Ia membawa golok tersebut keluar ke halaman depan rumah, lalu melemparkannya dengan sekuat tenaga ke dalam tong sampah hijau di depan pagar dengan perasaan dongkol maksimal.
PLUK!
Golok tua itu mendarat tragis di atas tumpukan sampah plastik bekas mie instan. Reno mendengus kesal, lalu berbalik badan untuk masuk kembali ke dalam rumah dengan wajah ketus.
Namun, tepat pada detik itu juga, sebuah keajaiban mistis—atau lebih tepatnya kengerian urban—dimulai. Begitu punggung Reno memunggungi tong sampah tersebut, golok di dalam sana seketika menghilang tanpa jejak, lenyap kayak saldo ATM di tanggal tua.
JDERR!!
Tiba-tiba, suara petir menggelegar dahsyat menyambar di langit Jakarta yang tadinya cerah benderang tanpa awan hitam. Seolah-olah alam semesta sedang memberikan peringatan keras kalau membuang warisan dari Apih adalah sebuah kesalahan fatal selevel dosa besar.
Sedetik kemudian, hujan deras langsung turun dengan sangat lebat, seolah-olah langit ibu kota ikut protes dan mau ikut memandikan Reno yang masih syok.
Reno lari pontang-panting masuk ke dalam rumah demi menyelamatkan bajunya. "Duh, pake acara hujan badai segala lagi! Mana gue belum sempat update status 'Home Sweet Home' di medsos!" gerutunya kesal sambil mengusap sisa air hujan di bajunya.
Reno langsung melangkah masuk ke kamarnya untuk melakukan aktivitas favorit sepanjang masa: rebahan gaya bebas di atas kasur empuk. Namun, begitu bagian belakang kepalanya mendarat dengan sukses di atas bantal...
KRETEK...
Ada sebuah benda keras, padat, dan dingin yang menyundul tengkuk kepalanya dengan sangat tidak sopan dari bawah bantal.
"Aduh! Apaan sih ini? Perasaan tadi pagi gue nggak ada menaruh remot TV atau batu bata di bawah bantal deh," umpat Reno kesal sambil tangannya meraba-raba ke dalam sarung bantalnya.
Begitu jari-jarinya menyentuh sebuah gagang kayu keras dan menarik benda itu keluar, kedua mata Reno hampir saja copot dari tempatnya. Jantungnya mendadak berdisko lebih kencang dan brutal daripada saat dirinya hampir kepancing kail milik Geheng di sungai tempo hari.
"G-GOLOK KANIBAL?!"