Dia adalah Black Rose, pembunuh bayaran yang ditakuti dunia bawah tanah.
Dia adalah Adrian Virell, CEO dingin yang diam-diam merupakan pewaris dinasti mafia.
Lima tahun lalu, satu malam mempertemukan mereka tanpa nama dan tanpa janji.
Kini Black Rose kembali bersama seorang anak laki-laki bernama Noah.
Anak yang ternyata memiliki hubungan darah dengan sang CEO.
Namun Noah bukan anak biasa.
Di balik wajah polosnya, tersembunyi identitas lain yang bahkan tidak diketahui kedua orang tuanya.
Ketika masa lalu kembali memburu mereka, mampukah sang CEO melindungi pewaris yang selama lima tahun tidak pernah diketahuinya?
Dan sebenarnya...
siapa Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aren Vely, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PENGKHIANAT TERUNGKAP
Persiapan menjelang acara amal berlangsung dengan ketegangan yang tersembunyi rapi di balik kesibukan normal yang tampak di permukaan. Adrian memerintahkan penambahan personel keamanan secara diam-diam, menyamarkan mereka sebagai staf katering dan petugas acara biasa agar tidak menimbulkan kecurigaan pihak mana pun yang mungkin sedang mengawasi dari kejauhan.
Namun di tengah persiapan itu, sebuah kejanggalan kecil menarik perhatian Marcus, kepala keamanan yang sudah bertahun-tahun mengabdi pada keluarga Virell dan mengenal setiap detail protokol keamanan mereka dengan sangat baik.
Dia menemukan bahwa salah satu jadwal rute yang biasa digunakan untuk memindahkan anggota keluarga dalam situasi darurat telah diakses beberapa kali oleh seseorang dari dalam sistem internal mereka sendiri, dalam waktu-waktu yang tidak sesuai dengan protokol normal.
Marcus melaporkan temuan itu langsung kepada Adrian tanpa melalui saluran biasa, mengingat kecurigaannya bahwa kebocoran informasi mungkin berasal dari dalam tim mereka sendiri.
"Seseorang di dalam sistem kita telah mengakses data rute darurat ini berkali-kali selama sebulan terakhir," kata Marcus, menunjukkan log akses yang mencurigakan kepada Adrian di ruang kerjanya yang selalu terkunci rapat. "Aksesnya menggunakan kredensial yang sah, tapi polanya tidak wajar."
Adrian menatap data itu dengan rahang mengeras, menyadari bahwa ancaman yang mereka hadapi mungkin lebih dekat dan lebih rumit daripada sekadar serangan dari luar. "Siapa yang memiliki akses ke rute ini?"
"Hanya lingkaran kecil," jawab Marcus, wajahnya tegang mengucapkan kata-kata berikutnya. "Termasuk beberapa anggota keluarga inti, dan beberapa staf senior kepercayaan."
Penyelidikan diam-diam segera dilakukan, dipimpin langsung oleh Marcus dengan bantuan tim keamanan digital khusus yang dipercaya Adrian sepenuhnya. Mereka melacak pola akses itu dengan hati-hati, menghindari tindakan yang bisa membuat pihak yang bertanggung jawab menyadari bahwa mereka sedang diselidiki.
Hasil penyelidikan itu akhirnya mengarah pada sebuah nama yang mengejutkan semua orang yang mengetahuinya: Gerald, seorang penasihat keuangan senior yang sudah bekerja untuk keluarga Virell selama lebih dari dua puluh tahun, seseorang yang dipercaya penuh oleh Sebastian sejak masa kepemimpinannya dulu.
Ketika dikonfrontasi secara pribadi oleh Adrian dan Sebastian dalam sebuah pertemuan tertutup, Gerald awalnya berusaha menyangkal, namun tekanan bukti yang jelas akhirnya memaksanya mengakui kebenaran yang jauh lebih rumit daripada sekadar pengkhianatan sederhana demi uang.
"Aku tidak pernah berniat mengkhianati keluarga ini," kata Gerald, suaranya bergetar, wajahnya pucat menghadapi dua generasi kepala keluarga Virell yang menatapnya dengan ekspresi dingin. "Tapi bertahun-tahun lalu, putriku diculik oleh orang-orang yang mengaku bekerja untuk sebuah organisasi. Mereka mengancam akan membunuhnya jika aku tidak memberikan informasi yang mereka minta secara berkala."
Pengakuan itu mengubah suasana ruangan itu secara drastis, kemarahan Adrian perlahan bercampur dengan rasa iba yang tidak terduga terhadap situasi rumit yang dihadapi Gerald selama bertahun-tahun.
"Kenapa kau tidak pernah memberitahu kami?" tanya Sebastian, suaranya tetap tenang meski ada kekecewaan mendalam di baliknya.
"Mereka mengawasi setiap gerakanku," jawab Gerald, air mata mulai menggenang di matanya. "Aku takut jika aku melapor, mereka akan langsung membunuh putriku sebelum kalian sempat melakukan apa pun untuk menyelamatkannya."
Informasi lebih lanjut yang berhasil digali dari Gerald mengungkap bahwa organisasi yang mengancamnya memang Obsidian Order, yang telah menyusupkan pengaruhnya ke dalam keluarga Virell jauh lebih lama dari yang mereka sadari, memanfaatkan kelemahan manusiawi seperti kasih sayang seorang ayah terhadap anaknya sebagai alat pemaksaan yang jauh lebih efektif daripada ancaman langsung.
Adrian, meski masih menyimpan kemarahan atas pengkhianatan itu, menyadari bahwa Gerald sendiri adalah korban dalam situasi yang jauh lebih besar daripada yang bisa dia kendalikan sendirian.
"Kita akan menemukan putrimu," kata Adrian akhirnya, suaranya melunak meski tetap tegas. "Tapi mulai sekarang, kau harus bekerja sama sepenuhnya dengan kami, memberikan informasi apa pun yang kau ketahui tentang rencana mereka."
Gerald mengangguk cepat, lega bercampur dengan rasa bersalah yang mendalam, dan mulai membuka semua yang dia ketahui tentang cara komunikasinya dengan pihak Obsidian Order selama ini, termasuk detail tentang rencana yang akan mereka jalankan pada acara amal mendatang.
Informasi baru ini mengonfirmasi kecurigaan yang sudah dikumpulkan Damien sebelumnya, namun juga mengungkap detail tambahan yang jauh lebih mengkhawatirkan: rencana Obsidian Order bukan hanya sekadar menculik Noah, melainkan bagian dari operasi yang lebih besar untuk melumpuhkan kekuatan Virell Dynasty secara keseluruhan, memanfaatkan kekacauan yang akan tercipta akibat penculikan itu sebagai kesempatan untuk menyerang titik-titik lemah lain dalam struktur keluarga dan bisnis mereka.
Sementara persiapan keamanan terus diperketat di balik layar, Noah sendiri tidak menyadari sedikit pun ketegangan yang sedang berlangsung di sekitarnya. Dia sibuk memilih baju yang akan dia pakai untuk acara amal, dengan antusiasme khas anak kecil yang tidak sabar menunjukkan dasi kecil barunya kepada semua orang.
"Ayah, ini bagus tidak?" tanyanya, berputar-putar dengan bangga mengenakan setelan jas mininya di depan Adrian, senyum lebar terpasang di wajahnya, tidak menyadari bahwa di balik senyum bangga sang ayah yang menyaksikannya, tersimpan kekhawatiran mendalam tentang bahaya yang mungkin mengintainya di acara yang sama.
"Kau terlihat sangat tampan," jawab Adrian, suaranya hangat meski hatinya dipenuhi kegelisahan, berjongkok untuk merapikan dasi kecil putranya dengan tangan yang, meski tetap stabil di permukaan, menyimpan tekad baru untuk melindungi anak ini apa pun yang terjadi.