Aira Dhea Ananta hanya gadis montir yatim piatu yang hidup sendirian. Namun, satu pertemuan tak terduga dengan keluarga Wirasena mengubah hidupnya selamanya.
Sang kakek memaksa Evan Aryasatya Wirasena, CEO dingin yang menganggap cinta sebagai urusan tak berguna, untuk menikahi Aira. Jika menolak, jabatan dan warisannya akan dicabut.
Masalahnya, Aira justru lebih mudah akrab dengan Sean Danendra Wirasena, adik Evan pembalap tengil, dan sangat sefrekuensi dengannya.
Satu gadis. Dua pewaris. Dan sebuah pernikahan yang seharusnya hanya menjadi kewajiban keluarga.
Mampukah Evan menjaga istrinya, sementara Sean harus memendam cinta pada kakak iparnya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon puput11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamparan Pertama untuk Evan
PLAK.
Suara tamparan itu meledak. Lebih keras dari bunyi petir di malam hari.
Kepala Evan terhantam kuat ke samping. Seluruh otot lehernya menegang seketika. Matanya membelalak, kosong dan tidak percaya selama beberapa detik, sebelum sorot matanya kembali menajam.
Sudut bibirnya langsung pecah. Darah.
Namun, Evan tidak bergerak sedikit pun dari tempatnya berdiri. Dia hanya diam menatap.
Menatap Surya yang berdiri di hadapannya. Dada bidang pria paruh baya itu tampak naik turun karena emosi yang meluap. Jari-jari tangannya bergetar hebat. Bukan karena takut, melainkan karena amarah yang siap membakar habis seluruh kewarasannya.
Ini adalah pertama kalinya. Seumur hidup Evan, belum pernah ada satu pun tangan manusia yang berani menyentuh wajahnya. Apalagi tangan ayahnya sendiri.
"Kurang ajar," desis Surya. Suaranya terdengar rendah dan serak, namun getaran otoritasnya sanggup menembus hingga tulang sumsum.
"Siapa yang mengajarimu menjadi monster seperti ini? Hah?!"
Di dalam ruang tengah paviliun itu, keheningan mendadak mencekam. Hanya ada tiga orang di sana. Surya, Helena, dan Evan.
Helena berdiri kaku di samping suaminya. Wajahnya yang biasanya dipenuhi riasan mahal kini tampak pucat pasi. Ia tidak menangis. Matanya menyala, penuh horor dan kemarahan yang tertahan di dadanya.
Tangannya mengepal sangat erat hingga kuku-kukunya nyaris menembus kulit telapak tangan. Ia ingin sekali berteriak. Ingin membela anak kesayangannya. Tapi aura mematikan yang terpancar dari tubuh Surya membuat seluruh pergerakannya membeku.
"Aku cuma..."
Suara Evan terdengar parau saat mencoba membuka suara. Tapi nada suaranya tetap stabil. Terlalu stabil untuk ukuran orang yang baru saja ditampar.
Pria itu menyeka darah di sudut bibirnya menggunakan punggung tangan dengan gerakan lambat dan dingin. Seperti sebuah mesin yang sedang memproses ulang datanya.
"Aku cuma menerapkan disiplin. Dia istri saya. Dia harus tunduk pada aturan rumah tangga Wirasena."
"Aturan?"
Surya tertawa. Sebuah tawa pendek yang terdengar sangat pahit dan penuh kekecewaan.
"Memutus aliran listrik? Memutus air bersih? Mengunci istrimu sendiri di dalam kegelapan seolah-olah dia itu hewan buruan?!" Surya melangkah maju satu langkah lagi, memangkas jarak diantara mereka hingga hanya tersisa sejengkal.
"Itu yang kamu sebut aturan rumah tangga, Evan? Atau itu sebuah penyiksaan?!"
"Pernikahan ini butuh penyesuaian," balas Evan cepat. Matanya menantang balik sorot mata sang ayah tanpa berkedip.
"Dia sendiri yang bilang kalau dia tidak butuh fasilitas Wirasena. Aku cuma mengetes konsistensi dari ucapannya itu." Evan menyipitkan matanya dengan sengit. "Kalau dia memang sekuat itu, kenapa dia tidak protes? Kenapa dia cuma diam saja selama seminggu ini?!"
"Karena dia punya harga diri, Evan! Bukan karena dia lemah!" bentak Surya menggelegar.
Aura kuat dari sang Komisaris Utama Wirasena Group itu seolah menekan dada Evan dengan begitu kuat hingga membuatnya sempat sulit untuk menarik napas.
"Dan satu hal lagi yang perlu kamu tanamkan baik-baik di dalam otak bekumu itu: Pernikahan kalian itu SAH!"
Evan mengerutkan keningnya. Bingung dengan arah pembicaraan ayahnya.
Surya menunjuk dada Evan dengan jari telunjuknya yang keras. "Ini bukan kontrak kerja bisnis. Ini bukan merger akuisisi perusahaan yang bisa kamu putuskan atau batalkan seenaknya kalau kamu merasa rugi!"
Setiap kata yang keluar dari mulut Surya diucapkan dengan hujaman tajam yang meremukkan harga diri Evan.
"Ini adalah ikatan suci di hadapan Tuhan dan negara. Aira bukan karyawan kantor yang bisa kamu PHK begitu saja kalau dia tidak menunjukkan performa kerja yang baik?" Surya menatap lekat-lekat mata anaknya.
"Dia istrimu. Sah secara hukum. Legal. Dan kamu baru saja mempermalukan janji pernikahan itu dengan semua perlakuan sampahmu ini!"
Hening.
Seluruh argumen 'transaksi bisnis' yang selama ini diagungkan di dalam kepala Evan runtuh seketika tanpa sisa.
"Apa..." gumam Evan. Suaranya mendadak kehilangan ketajaman yang biasanya ada di sana.
"Kamu pikir kamu sudah pintar?" lanjut Surya dengan suara yang semakin meninggi. "Kalau Kakek sampai tahu... kamu mendegradasi martabat seorang istri sah menjadi tawanan di rumahnya sendiri..."
"Apa?" tantang Evan, meski keringat dingin mulai mengumpul di sekitar pelipisnya. "Kakek sedang berada di Swiss. Kakek tidak akan tahu."
"Kakek punya mata di mana-mana, Evan!" Surya menatap anaknya dengan pandangan sedingin es.
"Nilai utama dari keluarga Wirasena adalah menjaga kehormatan nama baik. Dengan memperistri Aira secara sah, kamu bertanggung jawab penuh atas kebahagiaannya, bukan malah menjadi dalang dari kesengsaraannya!" Surya menjeda kalimatnya, memberi tekanan yang semakin menuntut.
"Dan kalau Kakek tahu kamu melanggar sumpah pernikahanmu dengan cara sadis seperti ini... Namamu akan dicoret!"
Mata Evan membesar seketika mendengarnya.
"Hari ini. Detik ini juga. Kamu tidak akan punya akses ke satu sen pun dari seluruh rekening Wirasena. Kamu akan menjadi nol. Hampa. Bukan siapa-siapa lagi," ancam Surya telak.
Helena menarik napas. Rahangnya mengeras rapat. Matanya menyipit sengit, menatap ke arah koridor di belakang tubuh Evan. Ke arah kamar tempat Aira berada.
Ia sangat membenci gadis itu. Ia yakin betul kalau Aira-lah yang telah memanipulasi situasi ini hingga suaminya mengamuk besar. Keinginannya untuk menerobos masuk dan mencakar wajah gadis bengkel itu begitu kuat bergejolak di dadanya.
Tapi ia tidak bisa bergerak sama sekali. Surya masih berdiri tegak di sana dengan amarah yang berapi-api. Jika Helena membuat keributan sekarang, hukuman berat itu pasti akan jatuh pada dirinya juga. Kemarahannya terpaksa harus ditelan bulat-bulat, diubah menjadi racun dingin yang mengendap di dalam dadanya.
Surya kembali berbalik menatap Evan dengan tajam. "Minta maaf. Sekarang juga sama Aira. Sebagai seorang suami pada istrinya!"
Evan tertawa kecil dengan nada yang sangat sinis. "Minta maaf? Sama dia? Dia yang bersedia menikah denganku cuma demi mengamankan lahan bengkelnya yang mau digusur itu? Dia yang manipulatif!"
Tiba-tiba, dari arah koridor yang sejak tadi ditatap penuh dendam oleh Helena, terdengar suara langkah kaki yang berjalan dengan sangat santai.
"Waduh, waduh... ribut banget sih rumah ini.".
Sebuah suara renyah dan tenang memecah ketegangan. Ketiga kepala orang kaya itu langsung menoleh serempak ke sumber suara.
Aira berjalan santai menuju ruang tengah paviliun yang luas. Sikapnya seolah-olah Dia baru saja bangun dari tidur siang yang nyenyak, bukan seperti orang yang baru saja melewati seminggu penuh kurungan dalam kegelapan.
Sama sekali tidak ada rasa takut atau sedih di wajahnya. Malahan, ada sebuah senyuman tipis yang tersungging di bibirnya. Sebuah senyuman yang sukses membuat ego Evan kembali terasa terbakar hebat.
"Tidak usah minta maaf, Papi Surya," kata Aira sambil mengangkat sebelah tangannya secara santai.
Dia menolak gestur Surya yang berniat untuk membela dirinya lebih jauh. Pandangan mata gadis montir itu kini terkunci sepenuhnya pada sosok Evan yang berdiri kaku di depannya.
"Toh, saya juga nggak apa-apa kok. Seminggu kemarin malah rasanya enak banget. Anggap aja lagi kemping gratis di dalam istana," ucap Aira santai.
Evan menatapnya dengan mata yang menyipit tajam penuh kebencian. "Kau menikmati penyiksaan ini?"
"Menikmati? Nggak juga sih," jawab Aira ringan sambil mengangkat kedua bahunya dengan cuek. "Cuma... lucu aja lihat kelakuan lo." Aira melangkah lebih dekat, memangkas jarak diantara mereka.
"Lo pikir lo bisa ngancurin mental gue cuma dengan cara matiin lampu paviliun? Bro, gue ini udah biasa tidur di lantai kos tanpa AC, makan mie instan dingin, dan bangun jam empat pagi buat ganti oli mobil orang." Aira tersenyum miring ke arah Evan. "Gelap sama dingin itu udah jadi teman akrab gue sejak dulu. Bukan musuh."
Wajah Evan mendadak memerah padam. Rasa frustrasi mulai mendidih di dalam dadanya karena egonya lagi-lagi diinjak-injak dengan mudah oleh gadis ini.
"Kau cuma sok kuat!" geram Evan dengan suara tertahan.
"Bukan sok kuat. Tapi fakta," balas Aira dengan sangat cepat.
Dia kini berdiri tepat di depan muka Evan. Meski postur tubuhnya jauh lebih pendek, namun tatapan matanya terasa jauh lebih tinggi dan mendominasi.
"Lo mau ajak perang dingin? Gue jabanin sampai tuntas. Lo mau isolasi gue? Gue anggap itu waktu liburan." Aira mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan menatap langsung ke dalam manik mata pria itu.
"Lo pikir lo bisa bikin gue nangis sesenggukan, terus lari pulang? Sorry ya, Tuan Kulkas berjalan... otak lo mungkin emang canggih buat ngitung saham, tapi empati di dalam hati lo itu udah error 404. Nggak ketemu."
Helena mendengus kasar mendengarnya. Dadanya naik turun menahan emosi. Tatapannya menyapu penampilan Aira dari ujung rambut sampai ke ujung kaki dengan pandangan penghinaan. Dasar gadis tidak tahu diri, pikirnya penuh kebencian.
Tapi Dia terpaksa harus tetap diam seribu bahasa. Kehadiran suaminya di ruangan itu adalah sebuah tembok tebal yang tidak bisa ditembus.
Aira sendiri memilih untuk mengabaikan sepenuhnya tatapan berbisa dari ibu mertuanya itu. Fokus utamanya sejak awal hanyalah tertuju pada Evan.
"Cukup," sela Surya akhirnya. Suaranya terdengar lelah, namun tetap sarat tak akan ketegasan yang tidak bisa dibantah. Ia menatap Evan dengan pandangan kekecewaan yang mendalam.
"Kamu dengar itu, Evan? Istrimu sendiri menghina kamu tepat di depanmu, dan kamu sama sekali tidak bisa membantahnya. Karena semua ucapannya itu benar. Kamu sudah gagal total dalam memahami makna dari kata seorang suami."
Evan mengepalkan kedua tangannya dengan sangat erat di sisi tubuh. Kuku-kukunya menusuk telapak tangan sendiri hingga menimbulkan rasa perih. Rasa sakit fisik itu sangat nyata, namun rasa kalah yang dia rasakan saat ini jauh lebih nyata dan menyakitkan bagi egonya.