Indonesia
NovelToon NovelToon
Di Cerai Suami, Di Nikahi Tuan Muda

Di Cerai Suami, Di Nikahi Tuan Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Diam-Diam Cinta / CEO
Popularitas:15.1k
Nilai: 5
Nama Author: Yam_zhie

Dilara di cerai oleh Kevin karena wanita yang di cintai Kevin kembali.

Setelahnya Dilara melamar menjadi seorang baby sitter, dan di terima pada salah satu keluarga kaya. Dilara memang seorang sarjana, namun dia butuh pergi cepat dari rumah Kevin dan juga butuh tempat tinggal baru. intinya dia ingin lepas dari Kevin dan memulai hidup barunya.

namun, ternyata di rumah itu ada seorang tuan muda bernama Elian yang selalu membuat Dilara kesal dengan sikap dinginnya. lalu apakah pada akhirnya mereka akan saling suka? apa keluarganya akan setuju dengan hubungan mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dilara 7

"Dilara..." panggil Kevin lagi dengan nada memohon yang begitu kentara. Pria itu menatap istrinya dengan sorot mata hampa, merasa sangat enggan melepaskan momen-momen terakhir mereka di rumah ini.

"Kalau begitu... bolehkah aku minta satu hal padamu malam ini? Sekali ini saja, sebelum kamu benar-benar pergi besok," bisik Kevin parau, menyatukan kedua telapak tangannya di depan dada.

Dilara meletakkan pisau kecil di atas piring, lalu menatap Kevin dengan alis terangkat tipis. "Minta apa, Mas?"

"Bisakah kamu menemaniku menonton di ruang tengah?" lirih Kevin. Matanya menggenang bening saat menatap sofa panjang di ruang keluarga.

"Selama ini, tapi aku tidak pernah sekalipun membawamu duduk di sana untuk sekadar menonton film bersama. Aku selalu sibuk dengan pekerjaanku dan mengabaikan keberadaanmu. Tolong... anggap ini sebagai permintaan terakhirku sebagai suamimu."

Dilara membisu sejenak. Ia menatap ke arah ruang tengah, area yang biasanya terasa begitu asing baginya karena Kevin selalu menghabiskan waktu di sana tanpa pernah mengundangnya bergabung. Melihat raut keputusasaan yang teramat dalam di wajah pria itu, hati Dilara melembut. Tidak ada amarah yang tersisa, hanya ada rasa iba yang tulus.

"Baiklah, Mas," jawab Dilara pelan.

"Hanya sampai filmnya selesai, ya."

Dada Kevin terasa berdesir hebat mendengar persetujuan itu. Tanpa membuang waktu, ia bergegas menuju ruang tengah, menyalakan televisi layar lebar, dan memilih sebuah film bergenre drama yang tenang. Sebelumnya dia juga memesan cemilan melalui aplikasi online. Lalu Ia menepuk sisi sofa di sampingnya dengan canggung.

Dilara melangkah mendekat, membawa botol air mineralnya. Ia duduk di ujung sofa, menyisakan jarak yang cukup lega di antara mereka. Meski begitu, bagi Kevin, keberadaan Dilara di sisinya malam ini terasa begitu nyaman sekaligus menyayat hati.

Lampu ruang tengah diredupkan, menyisakan pendar cahaya dari layar televisi yang memantul di wajah mereka. Di tengah keheningan malam dan alur film yang berjalan perlahan, Kevin tidak pernah benar-benar fokus pada layar. Pandangannya berulang kali teralih pada paras anggun Dilara yang menatap lurus ke depan dengan raut wajah tenang. Tak ada emosi yang meledak-ledak dari gadis yang masih menjadi istrinya itu. Walau Kevin tahu jika saat ini dia sudah membuat hati dan harapan Dilara hancur berkeping-keping. Apalagi saat mengingat tangis menyayat Dilara semalam sudah menegaskan sesakit apa hati istrinya itu.

Perasaan asing yang menghinggapi dada Kevin sejak memeluk Dilara semalam kini datang menyeruak kembali, bahkan jauh lebih kuat dan membakar. Ada desir kehangatan yang meletup di dadanya, berdampingan dengan rasa sesak luar biasa karena menyadari bahwa wanita di sampingnya ini tidak akan pernah duduk di sofa ini lagi.

"Dilara..." bisik Kevin lirih di tengah keremangan.

Dilara menoleh pelan, menatap Kevin dengan mata beningnya.

"Iya, Mas?"

Kevin mengumpulkan seluruh keberaniannya. Ia mengikis jarak di antara mereka, dengan jemari yang bergetar hebat, Kevin merengkuh tubuh Dilara ke dalam pelukannya. Ia menyandarkan dagunya di bahu Dilara, meresapi aroma lembut hijabnya dan hangat tubuhnya yang selama ini selalu ia sia-siakan.

Dilara terperanjat sejenak, namun ia tidak menolak. Ia membiarkan Kevin memeluknya erat, sangat erat, seolah pria itu sedang berusaha menahan sebuah bongkahan es yang perlahan meleleh dan meluncur pergi dari genggamannya. Namun Dilara juga tak membalas pelukan Kevin. Dia hanya membiarkan Kevin meluapkan perasaannya.

"Terima kasih sudah mau bertahan sejauh ini, Dilara..." rintih Kevin, suaranya pecah di balik pundak istrinya. Air mata Kevin menetes basah di atas kain kemeja Dilara.

"Maafkan aku yang baru menyadari betapa baiknya dirimu di saat aku sendiri yang sudah mendorongmu pergi..."

Dilara menghela napas panjang dan perlahan. Jemari tangannya terangkat ragu, lalu menepuk punggung Kevin dua kali dengan sangat lembut, sebuah tepukan perpisahan yang sarat akan keikhlasan.

"Sudah tidak apa-apa, Mas," bisik Dilara sangat halus di telinga Kevin.

"Semoga setelah ini, hatimu benar-benar menemukan kedamaian yang selama ini kamu cari."

Di balik keremangan ruang tengah yang hangat itu, tangis Kevin pecah tanpa suara. Ia memeluk istrinya erat-erat, meratapi penyesalan terdalam dalam hidupnya, sementara jam dinding terus berdetik menandakan perpisahan mereka yang kian dekat.

Dilara terbangun saat remang fajar mulai menyusup dari celah jendela. Rasanya ada sesuatu yang asing, sebuah beban berat yang hangat dan kokoh melingkari perutnya. Saat matanya terbuka sepenuhnya, ia tertegun. Lengan kokoh Kevin mendekapnya begitu erat dari belakang, menyalurkan kehangatan yang selama satu tahun ini selalu ia dambakan dalam doa-doanya.

Rupanya semalam Dilara ketiduran di sofa dan Kevin malah tidur kembali bersamanya di atas ranjang yang sama untuk kedua kalinya. Pelukan dan rasa di inginkan selama ini dia dambakan. Namun kali ini, tidak ada desir bahagia di dada Dilara. Yang tersisa hanyalah kepahitan yang dingin.

Dilara tidak berontak. Ia tetap bergeming dalam dekapan itu, menatap lurus ke arah dinding kamar yang gelap. Ia menarik napas panjang, lalu berbisik amat pelan, begitu halus hingga nyaris tenggelam dalam helaan napasnya sendiri.

"Terima kasih karena selama dua malam ini, kamu memberikan aku perasaan di cintai oleh seorang suami. Terima kasih atas kebaikan kamu selama satu tahun ini. Kamu adalah pria yang baik, bahkan kamu juga selalu memperlakukan aku dengan baik. Walau aku tak pernah bisa menyentuh hatimu. Aku doakan semoga kamu bahagia bersama dengan Asha..."

"Maaf karena selama menjadi istrimu, aku melakukan banyak kesalahan... Kita menikah dengan cara yang baik dan kita berpisah dengan cara yang baik, Mas. Namun, aku butuh waktu untuk menyembuhkan hatiku, aku yang salah karena terlalu menggunakan perasaan dalam pernikahan kita... Asha adalah wanita yang sangat beruntung karena mendapatkan seluruh hati dan juga dirimu... Jaga kesehatan dan jangan sering lembur di kantor agar Asha tidak kesepian menunggu kamu di rumah nantinya..."

Di belakangnya, mata Kevin sebenarnya sudah terbuka sejak pertama kali Dilara bergerak. Pria itu pura-pura tertidur, memejamkan matanya rapat-rapat demi menahan hantaman kata-kata Dilara yang menusuk jantungnya tanpa ampun. Setiap ucapan dari bibir istrinya terasa seperti belati yang mengoyak dadanya. Kevin ingin membuka suara, ingin memeluknya lebih erat dan memohon, namun lidahnya mendadak kelumpuhan total.

Perlahan dan hati-hati, Dilara mengangkat lengan Kevin dari perutnya, menyingkirkannya tanpa suara. Ia bangkit dari ranjang tanpa menoleh sedikit pun ke arah Kevin yang masih bergeming mematung di atas kasur.

Dilara melangkah ke kamar mandi untuk membersihkan diri, keluar dengan masih mengenakan hijab kremnya dengan rapi. Bahkan Kevin sampai saat ini belum pernah melihat Dilara tanpa hijab. Setelah membenahi letak pakaiannya, ia menyambar koper besar dan tas bahunya.

Dengan langkah mantap tanpa keraguan sedikit pun, Dilara menyeret kopernya keluar dari kamar utama menuju pintu depan, berniat mengantarkan sebagian barang-barangnya ke rumah Nisa sebelum melangkah menuju kehidupan barunya.

Begitu pintu depan tertutup pelan, Kevin di dalam kamar akhirnya membuka mata. Air mata yang sejak tadi ditahannya menetes basah ke atas bantal yang kini terasa begitu dingin dan hampa.

Begitu Dilara membuka pintu depan sambil menyeret koper besarnya, langkahnya terhenti di teras. Di sana, berdiri Asha dengan pakaian rapi dan riasan tebal, seolah sudah bersiap menunggu di depan rumah sejak pagi nian.

Asha bersedekap dada, melayangkan tatapan sinis penuh kemenangan saat melihat koper di tangan Dilara.

"Wah, akhirnya kamu sadar diri juga dan angkat kaki dari rumah ini," cerca Asha dengan nada menyengat, melangkah mendekati Dilara.

"Harusnya dari dulu kamu sadar, Dilara. Satu tahun kamu mengemis cinta Kevin, tapi dia tidak pernah menganggapmu ada. Pada akhirnya, aku yang menang. Kamu cuma tumpangan sementara di hidup Kevin."

Dilara berdiri tegak. Di balik hijab kremnya, wajah wanita itu tidak menunjukkan sedikit pun riak amarah, cemburu, atau rasa tersakiti. Tatapannya lurus, amat tenang dan dingin, membuat senyum culas di bibir Asha perlahan memudar karena merasa penolakannya tak mempan.

1
𝐃ITA💋𝐀𝐍𝐍𝐈𝐕⑤🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
ditunggu kelanjutan nya kak❣️
𝐃ITA💋𝐀𝐍𝐍𝐈𝐕⑤🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
udah aku kasi 10 ☕☕☕ ya kak😎
Rarik Srihastuty
batalin aja dah Kevin, kamu menduda aja.mungjin suatu saat km dapat jodoh lain dari author. daripada nikah sama asha makan hati, lebih baik kamu larut dalam penyesalan dan memperbaiki diri menjadi lebih baik
nely_48
ak loh curiga klau Asha lg hamidun, makanya maksa kevin untuk cpet² menikahinya, trs soal mahar yg fantastis itu adalah langkah aman untuk nguras habis harta kevin
nely_48
jantungan ga tuh s kevin pas baca daftar mahar yg d minta ibu nya Asha,,, lagian calon ibu mertua searogan itu main bentak n nekan kevin,, tah kev km mikir lah d situ,, ortu kandung km az menyayangi km dgn tulus n ga pernah berkata kasar apalagi nada tinggi loh,,, gila az kevin mau masuk k keluarga toxic
Ambu Rinddiany Thea
belum apa2 udh d teror kaya ma depkolektor s kevin mah , apalagi ntar udh nikah amsiong ga tuh
Lee Mba Young
semoga ortu Kevin lbih Tegas lagi. cabut saja semua fasilitas kl mau nikah megah suruh usaha sendiri tanpa bantuan ortu nya. yakin Asha masih mau 🤣.
Oma Gavin
semoga ortu nya Kevin menolak punya menantu asha dan pernikahan batal cabut semua fasilitas dan jabatan di perusahaan aku jamin asha kabor setelah tau kevin kere
Fitria Syafei
rasaiin kau Kevin mentok kesana kemari . pilih ntuh si ratu lebah Asha yg lebih menarik dari Dilara 😏 KK cantik kereen 😍 terimakasih 😍
Talnis Marsy
Kevin ....KLO kamu sampai nurutin Asha..otak kamu kemakan ayam bearti....
ryuka
kevin kevin.. kamu bodoh bgt sih klo masih mau lanjutt
Oma Gavin
rasakan kamu kevin cuma diporotin asha saja sama keluarga nya semoga ortu mu menolak mentah" dan pernikahan batal terbongkar manipulasi asha tentang sakitnya
Mundri Astuti
oi Kevin blegug...dah liat kan babang tamvan elian...calonnya dilara tuh kerennn kan 😄.

nikmatin harimu sama lampir pilihanmu 😛
nely_48
turuti az sih kev apa yg d inginkan Asha, kan semua jg keinginan mu mau bahagia bersama Asha mu itu
nely_48
thank's elian km udh melindungi n membela dilara d depan mata kevin
Fitria Syafei
hadeh Kevin..Kevin...ngaca..deh terlambat tauu dan kemana ajee baru nyadar kalau Dirara jauh berbeda dari nenek sihir ntuh 😏 KK cantik mantaf 🥰 terimakasih 🥰
Masha 235
harusnya jgn adik prempuan Thor...saudara prempuan gt,itu bisa merujuk adik/KK prempuan..
𝐃ITA💋𝐀𝐍𝐍𝐈𝐕⑤🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
Udah aku kopi manis ☕ kak.. 😎
❥␠⃝ ͭ🍁Amalia💋❣️
nama nya kebalik balik kak
Ambu Rinddiany Thea
aneh pikiran s kevin mah nyasar kamana karep , tau klo liat s elian ganteng membahanaaaaa hahhahaha
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!