Nagato, pemuda miskin dari Jepang, tewas usai menolong seorang gadis. Mendengar permintaan terakhirnya yang hanya ingin hidup tenang, Dewa Kematian melahirkannya kembali sebagai Alan di tengah Hutan Monster dengan Skill Domain Absolut—kemampuan hidup abadi dan menciptakan apa pun di wilayahnya.
Niat hati ingin hidup santai, bayangan imajinasi Alan justru tanpa sengaja mewujudkan sebuah kerajaan megah. Dianggap sebagai ancaman besar oleh Kerajaan Manusia dan Iblis, Alan terpaksa membangkitkan pasukan abadi, penyihir agung, hingga menundukkan dua Naga Kuno. Didampingi Skill berkesadaran mandiri, Alan kini menguasai kerajaan terkuat di dunia—semuanya demi satu alasan sederhana: bertahan hidup dengan tenang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GELAK TAWA DI ISTANA SOLARIA
Sejak kehadiran Sena di Kerajaan Solaria, suasana istana megah yang tadinya tenang dan penuh formalitas kini mendadak berubah menjadi sangat hidup. Tawa riang seorang anak kecil berumur lima tahun bergema hampir di setiap sudut lorong marmer, membawa warna baru yang amat hangat bagi seluruh penghuni istana.
Pagi itu, area koridor utama tampak sibuk—bukan karena ancaman musuh, melainkan karena perburuan anak kecil.
"Nona Sena, tunggu! Jangan lari terlalu kencang nanti jatuh!" seru Yumi seraya mengangkat sedikit gaun panjangnya, berlari-lari kecil mengejar Sena.
Sena, yang mengenakan gaun merah muda berenda kecil hadiah dari para pelayan, berlari membawa sepotong kue sihir manis di tangannya. Kaki-kaki kecilnya melangkah cepat sambil menepuk-nepuk lantai.
"Gigi... Yumi ngga bisa kejar Sena! Haha!" tawa Sena pecah, suara mungilnya melengking gembira saat ia menoleh ke belakang melihat Yumi yang berpura-pura kewalahan.
Di sepanjang koridor, seribu pelayan wanita yang sedang mengelap pilar dan merapikan tanaman sihir mendadak menghentikan pekerjaan mereka. Wajah-wajah yang biasanya serius dan disiplin itu kini meleleh menyaksikan tingkah gemas sang putri kecil.
"Duh, Nona Sena lucu banget..." bisik salah satu pelayan wanita dengan mata berbinar.
"Kepala Pelayan Yumi sampai kerepotan begitu," timpal pelayan lainnya sambil tertawa kecil. "Ayo bantu cegat Nona Sena!"
Beberapa pelayan mencoba merentangkan tangan pelan untuk menangkap Sena, tetapi bocah cilik itu dengan lincahnya menyelinap di antara celah-celah pilar istana, membuat para pelayan justru saling bertabrakan pelan dan tertawa bersama. Seluruh istana dibuat kerepotan namun sangat menikmati momen mengejar sang putri kecil.
Saat berhasil meloloskan diri dari kepungan Yumi dan para pelayan, langkah kaki kecil Sena membawanya keluar menuju area halaman luas—tempat Arena Pelatihan Utama berada.
Di lapangan terbuka tersebut, Zero bersama ratusan Ksatria Abadi sedang menggelar latihan rutin ketangkasan fisik. Derap langkah zirah berat dan dentingan pedang baja berkumandang keras.
Zero, yang berdiri di pinggir arena, memegang sebuah pedang latihan berukuran raksasa. Fokusnya yang seratus persen tertuju pada formasi prajurit membuatnya tidak menyadari hadirnya sesosok anak kecil yang menyelinap masuk ke area berbahaya tersebut.
Sena mengedipkan matanya penuh rasa penasaran. Ia menatap pedang raksasa milik Zero yang bersandar di sebuah rak senjata batu dekat tempat latihan. Bagi anak kecil seusianya, benda logam berkilau itu terlihat sangat menarik.
Dengan polosnya, Sena berjalan mendekati rak senjata tersebut, lalu mengulurkan kedua tangan mungilnya untuk memegang gagang pedang besar milik Zero.
"Ugh... beral..." gumam Sena pelan.
Sena berusaha menarik pedang itu. Namun, karena bobot pedang ksatria abadi yang sangat berat untuk anak seusianya, Sena kehilangan keseimbangan.
BRUKK!
Sena hilang tumpuan dan jatuh terduduk di atas rumput arena. Pedang kayu latihan di sebelahnya ikut terguling dan menimbulkan suara benturan yang lumayan keras.
Mendengar suara itu, Zero refleks menoleh. Begitu matanya menangkap sosok Putri Sena yang tergeletak di tanah tepat di samping senjata tajam latihan, wajah Kepala Ksatria ber-Level 1.500 yang terkenal garang itu mendadak pucat pasi melebihi diserang naga!
"N-NONA SENA?!" teriak Zero dengan suara panik yang hampir habis.
Jantung Zero serasa berhenti berdetak seketika. Jika sampai putri kesayangan Tuan Alan terluka sedikit saja di bawah pengawasannya, ia tidak akan pernah memaafkan dirinya sendiri!
Dengan kecepatan penuh, Zero berlari melompati pagar arena hingga memicu debu berhamburan. "Nona Sena! Mohon ampun, hamba tidak melihat Anda! Apakah Anda terluka?!"
Zero langsung berlutut tegang di hadapan Sena, memegang kedua bahunya dengan tangan bergetar, memeriksa apakah ada lecet di tubuh mungil itu.
Namun, alih-alih menangis seperti anak kecil pada umumnya yang habis terjatuh, Sena malah menatap Zero dengan mata bulatnya yang berbinar-binar.
"Hihihi! Lucu! Jatuh lagi!" Sena meledak dalam tawa kegirangan, menepuk-nepuk tangannya yang berdebu seraya berguling santai di atas rumput lembut.
Zero tertegun melongo. Rasa panik yang sempat mencengkeram dadanya mendadak sirna, berganti dengan rasa lega yang luar biasa. Ia menghembuskan napas panjang seraya mengusap dahi zirahnya. "Syukurlah... jiwa hamba serasa hampir melayang..."
"Nona Sena! Astaga, ternyata di sini!"
Yumi akhirnya tiba di area pelatihan dengan napas sedikit terengah—hal yang sangat langka terjadi pada seorang Kepala Pelayan berkedudukan tinggi. Di belakangnya, belasan pelayan ikut menyusul dengan wajah cemas.
"Maafkan hamba, Lord Zero," ucap Yumi seraya membungkuk pelan, lalu menoleh pada Sena. "Ayo Nona Sena, hari sudah makin siang. Waktunya mandi dan ganti pakaian bersih."
Mendengar kata "mandi", mata Sena membelalak kaget. "Nda mau mandi! Mau main lagi!"
Dengan gerakan cepat, Sena langsung bangkit dan kembali berlari kencang menuju arah lorong utama istana.
"Ah! Nona Sena, tunggu!" jerit Yumi pelan seraya kembali melanjutkan aksi kejar-kejaran tersebut bersama para pelayan.
Sena tertawa mengejek pelan sambil menengok ke belakang. "Gigi... ngga bisa tangkap Sena!"
Namun, saat Sena kembali menoleh ke arah depan—
TAK!
Tubuh kecilnya menabrak sepasang kaki berbalut jubah kain yang lembut. Sena mendongak pelan, dan matanya mendapati sosok Alan yang sedang berdiri santai memegang cangkir tehnya.
"Mau kabur ke mana, hm?" goda Alan sambil tersenyum lebar.
Sebelum Sena sempat berbalik arah untuk kabur lagi, tangan Alan dengan sangat sigap menyusup di bawah ketiak Sena, lalu mengangkat tubuh mungil itu ke udara dan menggendongnya erat di samping pinggangnya.
"Aaa! Ayah!" jerit Sena kaget tapi tertawa kegirangan saat tubuhnya melayang.
Yumi dan para pelayan yang akhirnya menyusul langsung menghentikan langkah mereka, membungkuk hormat dengan napas yang masih belum teratur sepenuhnya. "T-Tuan Alan... mohon maaf atas kegaduhan ini."
"Nggak apa-apa, Yumi," jawab Alan santai seraya tertawa geli melihat kelakuan keponakannya.
Alan menatap Sena yang berada di dalam gendongannya. Wajah mungil anak itu penuh dengan noda debu rumput dari arena latihan tadi. Dengan gemas, Alan mengulurkan jarinya lalu mencubit lembut pipi empuk Sena hingga merona merah.
"Nakal ya... Yumi dan pelayan lain sampai pusing mengejarmu dari tadi," ucap Alan tertawa kecil. "Ayo, sekarang nurut. Main airnya sama Yumi dulu, mandi yang bersih biar wangi. Nanti habis mandi baru main sama Ayah lagi, oke?"
Sena memegangi pipinya yang dicubit pelan oleh Alan, lalu memanyunkan bibirnya gemas sebelum akhirnya mengangguk patuh. "Emm! Mandi wangi sama Yumi!"
Yumi tersenyum manis melihat betapa nurutnya Sena di hadapan Alan. Ia melangkah maju dan mengambil alih Sena secara perlahan dari gendongan Alan.
"Mari Nona Sena, hamba sudah menyiapkan air hangat beraroma bunga untuk Anda," ucap Yumi lembut seraya menggendong Sena dengan penuh kasih sayang.
"Dadah Ayah!" seru Sena melambaikan tangan mungilnya saat dibawa oleh Yumi dan rombongan pelayan menuju pemandian istana.
Alan membalas lambaian tangan itu dengan senyuman hangat di bibirnya. Menyaksikan keceriaan Sena dan kehangatan yang tercipta di antara para pengikutnya, Alan menyandarkan tubuhnya di pilar istana seraya menyeruput teh hangatnya.
"Hidup santai begini emang yang paling terbaik," batin Alan bahagia.