Naira Alesha telah lama mencintai Ravian Elvano, sahabat masa kecilnya. Namun hatinya hancur ketika Ravian justru memilih Selena, sahabat Naira sendiri.
Saat berusaha melupakan cintanya dan mengejar impian menjadi desainer fashion, Naira bertemu Mikael Arsen, pria tampan, kaya, arogan, dan tengil yang selalu membuatnya kesal.
Lebih menyebalkan lagi, Mikael ternyata sahabat sekaligus rekan bisnis Ravian.
Sebuah kesalahpahaman membuat Naira dan Mikael terpaksa berpura-pura menjadi pasangan. Awalnya mereka hanya bermain peran, tetapi semakin sering bersama, batas antara pura-pura dan cinta mulai menghilang.
Mikael jatuh cinta lebih dulu, sementara Naira perlahan menyadari bahwa hatinya telah berpindah.
Namun ketika sebuah rahasia terungkap, Naira merasa seluruh hubungan mereka hanyalah kebohongan.
Akankah cinta mereka bertahan, atau Naira kembali pada cinta pertamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arrasy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 33. Mikael Memilih Dengan Tegas
Undangan itu datang dalam amplop berwarna emas, tercetak dengan tulisan tangan yang elegan dan rapi.
Di atasnya tertulis nama Mikael Arsen, dan di dalamnya terdapat undangan khusus untuk duduk di baris paling depan, menyaksikan peragaan busana koleksi terbaru yang dibintangi oleh Aura sendiri.
Di bagian bawah, ada catatan singkat dengan tinta hitam pekat: Aku menunggumu. Kamu akan melihat mengapa kita ditakdirkan bersama.
Mikael meletakkan undangan itu di atas meja kerjanya, menatapnya tanpa ekspresi. Ia tahu ini bukan sekadar undangan. Ini adalah tantangan.
Aura ingin menunjukkan kepada semua orang bahwa ia masih memiliki tempat di hati Mikael.
Mikael menghela napas panjang. Ia tidak ingin pergi. Tapi ia tahu, jika ia menghindar, Aura akan terus mencari celah.
Ia akan terus berpikir bahwa Mikael ragu. Bahwa ia masih menunggu. Kadang, satu-satunya cara untuk mengakhiri harapan yang salah adalah dengan menghadapinya secara langsung, dengan jujur, dan tanpa keraguan.
Malam harinya, gedung pertunjukan itu dipenuhi lampu-lampu yang berkilauan, musik yang mengalun lembut, dan orang-orang penting yang berbusana mewah.
Saat Mikael melangkah masuk, semua mata tertuju padanya.
Ia duduk di kursi yang ditentukan. Ia tidak ingin menjadi pusat perhatian. Ia hanya ingin menyelesaikan ini.
Saat acara dimulai, Aura muncul di panggung utama dengan tepuk tangan yang riuh. Ia tampak sangat cantik dengan gaun berkilauan yang menyapu lantai, mahkota berlian di kepalanya, senyum yang memancarkan kepercayaan diri.
Matanya mencari keberadaan Mikael di antara penonton, dan saat bertemu tatapannya, senyumnya melebar. Ia yakin. Ia yakin Mikael datang karena masih menginginkannya. Ia yakin di antara semua perempuan di dunia ini, hanya dia yang layak berdiri di samping pria seperti Mikael.
Acara selesai dengan tepuk tangan yang meriah. Aura menerima bunga dan pujian dari banyak orang, tapi ia tidak berhenti.
Ia berjalan lurus menuju ruang istirahat belakang panggung, tahu bahwa Mikael akan menunggunya di sana seperti yang selalu ia lakukan dulu.
Dan benar saja. Saat ia membuka pintu ruangannya, Mikael berdiri di dekat jendela, menatap ke luar dengan punggung tegak.
Aura menutup pintu, membiarkan mereka berdua sendirian. Ia meletakkan buket bunga di meja, lalu berjalan mendekat dengan senyum yang paling manis dan menawannya dan biasanya selalu berhasil membuat Mikael melakukan apa pun yang ia minta.
"Kamu datang," katanya lembut, berdiri tepat di belakangnya. "Aku tahu kamu tidak akan mengecewakanku. Kamu hanya butuh waktu. Kamu hanya butuh melihatku sekali lagi untuk menyadari bahwa tidak ada yang bisa menggantikan tempatku di sisimu."
Ia melangkah ke depan hingga mereka berhadapan, lalu mengangkat tangannya perlahan, menyentuh dada Mikael dengan jari-jarinya yang lentik dan berhias cincin berlian.
"Kamu datang karena kamu masih mencintaiku. Aku tahu itu. Jadi, mari kita lanjutkan hubungan kita. Tidak ada lagi yang menghalangi kita. Tinggalkan dia. Dia akan terluka sebentar dan mulai melupakan. Sementara kita... kita punya masa depan yang indah menanti."
Mikael menatapnya, menatap mata yang dulu pernah ia kagumi karena keindahannya, tapi kini terasa begitu asing dan jauh.
Dan di saat itu, ia tidak merasakan apa-apa. Tidak ada kerinduan. Tidak ada keraguan. Hanya kejelasan yang tenang dan pasti.
Ia perlahan menurunkan tangan Aura dari dadanya, memegang pergelangan tangannya dengan lembut namun pasti, lalu melepaskannya.
Gerakannya tidak kasar, tapi tegas, begitu tegas hingga Aura merasakan ada sesuatu yang berubah, sesuatu yang tidak bisa ia kendalikan lagi.
"Aku datang bukan karena masih mencintaimu, Aura," suaranya tenang, rendah, namun setiap kata terdengar seperti batu karang yang tak tergoyahkan.
"Aku datang karena aku tahu jika aku tidak datang, kamu tidak akan berhenti. Kamu akan terus berpikir bahwa aku ragu dan akan kembali. Dan aku tidak ingin kamu hidup dalam kebohongan itu lagi."
Aura tersenyum getir, mencoba menyembunyikan rasa sakit yang mulai menyusup. "Jadi ini apa? Penolakan? Kamu akan memilih dia daripada aku? Perempuan yang tidak punya apa-apa dibandingkan denganku?"
"Aku tidak memilih dia karena apa yang dia miliki, Aura. Aku memilih dia karena apa yang aku miliki saat bersamanya. Aku memilihnya karena bersamanya, aku merasa hidup.
Bersamamu, aku hanya berperan sebagai pria sempurna yang kamu inginkan. Tapi dengan Naira, aku bisa menjadi diriku sendiri. Aku bisa lelah. Aku bisa rapuh. Aku bisa bahagia dengan hal-hal kecil yang tidak berharga di matamu. Dan itu membuatku lebih bahagia"
Mikael berhenti sejenak, menatapnya dalam-dalam agar ia mengerti setiap kata yang akan diucapkannya.
"Aku menyadari apa yang kita miliki dulu bukanlah cinta. Itu adalah kesamaan status. Itu adalah kenyamanan berada di lingkungan yang sama. Itu adalah kebanggaan memiliki pasangan yang dikagumi semua orang."
Ia melangkah selangkah mundur, menciptakan jarak yang jelas di antara mereka.
"Dia bukan pelarian, Aura. Dia adalah cintaku. Tempat di mana aku ingin kembali setiap hari. Tempat di mana aku merasa aman, diterima, dan dicintai apa adanya.
Dan aku tidak akan pernah meninggalkannya. Tidak untukmu. Tidak untuk siapa pun. Bahkan jika seluruh dunia menentangku, aku akan tetap berdiri di sisinya. Karena dia adalah masa depanku."
Keheningan yang menyakitkan menyelimuti ruangan itu. Wajah Aura perlahan berubah. Senyumnya memudar. Kepercayaan dirinya yang tak tergoyahkan retak, perlahan namun pasti.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Aura merasa kalah. Bukan karena ia kurang cantik. Bukan karena ia kurang terkenal. Tapi karena ia tidak bisa menyaingi sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan uang.
Ia menarik tangannya dengan kasar dari genggaman Mikael, matanya berkilau kesal dan terluka.
"Kau akan menyesalinya, Mikael!" suaranya bergetar, tinggi dan tajam. "Kamu pikir cinta saja cukup? Tunggu sampai orang-orang menertawakanmu karena memilih gadis tidak dikenal daripada model terkenal seperti aku. Saat itu terjadi, jangan berani-berani datang kembali padaku!"
"Aku tidak akan datang," jawab Mikael tenang. "Karena aku tidak akan pernah kehilangan dia. Selamat tinggal, Aura. Semoga kamu menemukan kebahagiaanmu sendiri, bukan di atas kemewahan atau pujian orang lain, tapi di dalam hatimu sendiri."
Mikael berbalik dan pergi. Langkahnya mantap, dan ringan. Beban yang selama ini ia bawa, rasa bersalah karena masa lalu, kekhawatiran Aura akan terus mengganggu, semuanya hilang.
Ia sudah berbicara jujur. Ia sudah memilih dengan tegas. Dan sekarang, ia hanya ingin bersama Naira, hanya Naira.
Di dalam ruangan itu, Aura berdiri sendirian. Pintu sudah tertutup. Musik di luar sudah berganti. Tapi ia masih merasakan rasa sakit yang luar biasa di dadanya.
Ia yang dulu selalu ditunggu, selalu diinginkan, selalu dipilih, kini ditolak. Dan ditolak bukan karena ia kurang, tapi karena ada seseorang yang lebih baik, bukan dalam penampilan, tapi dalam hati.
Kemarahan mulai menggantikan rasa sakitnya. Giginya terkatup rapat, tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya. Matanya menatap cermin di depannya, melihat dirinya yang cantik, sempurna, namun sendirian.
Dia tidak bisa mengalahkanku, pikirnya dengan amarah yang membara. Dia hanya beruntung. Mikael hanya buta saat ini. Tapi aku akan membuktikan padanya. Aku akan membuktikan bahwa cinta sederhana seperti itu tidak akan bertahan di dunia nyata.
Jika aku tidak bisa mendapatkan Mikael dengan kebaikan, aku akan menghancurkan kebahagiaan mereka berdua. Aku akan memastikan Naira pergi dengan sendirinya. Dan saat Mikael hancur, barulah dia akan menyadari siapa yang sebenarnya pantas berdiri di sisinya.
Aura tersenyum, senyum yang dingin, tajam, dan berbahaya. Ia tidak akan menyerah. Ia tidak bisa menyerah.
Karena menyerah berarti mengakui kekalahan pada perempuan yang ia anggap jauh di bawahnya. Dan itu adalah hal yang paling tidak bisa ia terima.
mudah2an cocok 💪