Indonesia
NovelToon NovelToon
Batas Obsesi Cegil

Batas Obsesi Cegil

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Teen School/College / Romantis
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: Rofiwan

Livy adalah definisi nyata dari "cegil". Selama dua tahun di SMA Wijaya, dia melakukan segala cara ekstrem untuk memenangkan hati Galang, kapten tim basket yang sedingin es. Livy menempel padanya bak perangko, membuatkan bekal setiap hari, hingga melabrak siapa saja yang mendekati Galang. Namun, Galang selalu merespons dengan tatapan sinis serta perkataan yang menyakitkan.

Puncaknya terjadi di hari ulang tahun Galang yang ke-17. Hadiah rajutan tangan Livy dibuang ke tempat sampah di depan umum. Malam itu, Livy sadar dia telah kehilangan harga dirinya. Dia memutuskan untuk berhenti mengejar Galang secara total.

Galang menyadari dia merindukan kehadiran Livy, semuanya sudah terlambat ketika teman masa kecilnya Livy datang ke sekolah sebagai murid pindahan. Livy sudah menutup hati pada Galang, dari situ giliran Galang yang harus menurunkan harga dirinya, mengejar Livy yang telanjur menjauh.

Sebuah pertanyaan, apakah Galang mampu merebut hati Livy?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rofiwan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rahasia Murid Baru Kelas Sebelah 06.

Matahari sudah lama tenggelam, meninggalkan langit malam Jakarta yang pekat dan gerah. Namun, Livy tidak peduli. Keringat dingin menetes di tengkuknya, membasahi kerah seragam SMA Wijaya yang belum sempat ia ganti sejak sore. Fokusnya hanya satu: punggung cewek berambut kuncir kuda beberapa meter di depannya, Kiara.

Anak baru berwajah polos yang mendadak jadi pusat semesta Galang dua hari ini.

Livy melangkah tanpa suara, bersembunyi di balik bayangan pohon palem saat Kiara berbelok masuk ke sebuah pagar rumah minimalis di kawasan perumahan kluster.

Livy tahu ini gila. Mengikuti orang pulang ke rumah adalah definisi menguntit. Tapi rasanya, ada sesuatu yang berjalan tidak beres di SMA Wijaya, dan insting Livy—atau mungkin rasa cemburunya yang sudah di ujung tanduk—mengatakan bahwa Kiara menyembunyikan sesuatu.

Livy mendekat ke jendela samping rumah yang terbuka sedikit.

Gorden tipis di dalam sana bergoyang ditiup angin AC. Dari posisinya, Livy bisa melihat Kiara sedang berdiri menunduk di depan seorang pria paruh baya bersetelan jas rapi—ayahnya.

"Gimana dua hari ini di SMA Wijaya? Kamu sudah mulai mendekati cowok itu?" Suara berat ayah Kiara terdengar jelas, menembus celah jendela.

Livy menahan napas. Ia merapatkan tubuhnya ke dinding semen yang dingin.

Kiara tampak gelisah, meremas ujung rok abu-abunya. "Kiara ngerasa ini salah, Yah. Galang nggak tahu apa-apa soal urusan bisnis Ayah sama keluarganya. Kenapa Kiara harus sengaja pindah ke SMA Wijaya cuma buat manfaatin dia?"

Deg.

Jantung Livy rasanya berhenti berdetak.

Sengaja masukin Kiara ke SMA Wijaya? Manfaatin Galang?

Pria itu menggebrak meja kerja di depannya, membuat Kiara tersentak. "Kamu pikir biaya masuk Wijaya itu murah? Ayah sengaja masukin kamu ke sana supaya kamu bisa masuk ke lingkaran Galang! Perusahaan papanya Galang itu satu-satunya tiket buat menyelamatkan bisnis kita yang hampir bangkrut. Jangan jadi anak gak berguna, Kiara. Dekati Galang, bikin dia bertekuk lutut, dan pastikan proyek itu jatuh ke tangan kita!"

Di balik dinding, tangan Livy mengepal erat hingga kuku-kukunya memutih. Amarah instan membakar dadanya, menyapu bersih rasa lelahnya. Jadi, wajah polos Kiara itu hanya palsu? Senyum manis, sikap canggung, dan tatapan sok sucinya di depan Galang hanyalah topeng untung merangkak naik?

"Ular," desis Livy lirih. Matanya berkilat penuh dendam. Ia tidak akan membiarkan Galang dimanfaatkan. Tidak oleh siapapun, terutama bukan oleh cewek miskin beragenda terselubung seperti Kiara.

**

Keesokan harinya, kantin SMA Wijaya sedang berada di puncak keramaian jam istirahat pertama. Aroma mi goreng dan es jeruk bercampur dengan riuh rendah obrolan ratusan siswa.

Kiara sedang duduk sendirian di meja pojok, menatap mangkuk baksonya dengan pandangan kosong. Wajahnya tampak pucat dan penuh beban.

BRAAKK!

Mangkuk bakso Kiara bergeser dramatis saat sebuah tangan menggebrak meja kayu itu dengan kasar.

Beberapa butir kuah bakso terciprat ke seragam Kiara. Cewek itu mendongak kaget, mendapati Livy sudah berdiri di depannya dengan napas memburu dan mata yang menyorotkan kebencian murni.

Suasana kantin yang tadinya bising mendadak senyap. Semua pasang mata langsung tertuju ke meja pojok. Pertunjukan gratis dari Livy, sang ratu drama sekolah, selalu sayang untuk dilewatkan.

"L-Livy? Ada apa—"

"Gak usah sok polos kamu, binal!" suara Livy menggelegar, sengaja dibuat keras agar terdengar ke seluruh penjuru kantin.

Kiara tersentak, wajahnya kian memucat. "Maksud kamu apa? Saya salah apa sama kamu?"

"Salah apa? Kamu nanya salah apa?!" Livy tertawa sinis, tawa yang terdengar mengerikan di telinga siapapun yang mendengarnya. Ia maju selangkah, mencengkeram dagu Kiara dengan keras, memaksa cewek itu menatapnya. "Saya tahu busuknya kamu ya, Kiara. Kamu sengaja kan pindah ke SMA Wijaya? Kamu sengaja pasang muka melas biar dikasihani, padahal kamu cuma ular kelaparan yang diutus ayah kamu buat memoroti Galang!"

Bisik-bisik langsung pecah di antara para siswa. Kiara gemetar hebat. Air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. "Livy, lepas... kamu ngomong apa? Saya gak maksud—"

"Jangan bohong kamu! Saya denger sendiri tadi sore!" bentak Livy lagi. Ia meraih gelas es teh manis milik siswa di meja sebelah dan tanpa ragu menyiramkannya tepat ke atas kepala Kiara.

BYURRR!

Cairan cokelat pekat mengalir dari rambut, wajah, hingga membasahi seluruh seragam Kiara. Beberapa siswi di kantin memekik ngeri.

Kiara hanya bisa menunduk, bahunya terguncang hebat karena tangis yang pecah.

Livy tersenyum puas, merasa menang. "Itu hukuman buat cewek matre kayak kamu. Kamu pikir kamu bisa bodoh-bodohin Galang? Langkahin dulu mayat saya—"

"LIVY!!! CUKUP!!!"

Sebuah lengkingan suara berat yang penuh amarah menghentikan kalimat Livy.

Dari arah pintu kantin, Galang berjalan dengan langkah lebar dan tergesa. Wajah cowok itu merah padam, rahangnya mengeras, dan matanya memancarkan kemarahan yang belum pernah dilihat siapapun sebelumnya.

Livy menoleh, wajahnya langsung melunak. "Galang... kamu harus dengerin saya. Cewek ini cuma manfaatin kamu! Dia—"

SET!

Galang menepis tangan Livy yang mencoba menyentuh lengannya dengan sangat kasar hingga Livy terhuyung ke belakang.

Tanpa memedulikan Livy, Galang langsung melepas jaket denim-nya dan menyampirkannya ke bahu Kiara yang basah kuyup dan gemetar.

Ia menuntun Kiara berdiri di belakang punggungnya, melindunginya seperti tameng.

"Galang, dia itu ular! Ayahnya bangkrut dan dia sengaja deketin kamu buat—"

"DIEM KAMU, LIVY!"

Bentakan Galang menggema di seluruh sudut kantin. Suaranya begitu keras dan penuh intimidasi hingga membuat beberapa orang tersentak mundur. Livy membeku. Dadanya terasa seperti dihantam batu besar. Galang tidak pernah membentaknya seperti ini. Tidak pernah di depan orang banyak.

"Kamu bener-bener udah gila, ya?!" Galang menunjuk wajah Livy dengan jari gemetar karena menahan emosi. Mata cowok itu menatap Livy dengan pandangan penuh jijik.

"Saya acuh sama kamu selama ini ternyata kamu gangguin cewek-cewek di sekitar saya?. Tapi kelakuan kamu hari ini bener-bener sampah!"

"Tapi saya demi kebaikan kamu, Galang! Saya denger sendiri—" Livy mulai menangis, suaranya serak. Ego dan hatinya mulai hancur berkeping-keping.

"Saya gak peduli apa yang kamu denger atau apa yang kamu pikir!" potong Galang kejam. Ia maju selangkah, menatap Livy lurus-lurus dari atas ke bawah. "Denger ya, Livy. Mau Kiara sekaya apa, semiskin apa, atau punya niat apa pun, itu bukan urusan kamu! Yang jelas, dia seribu kali lebih terhormat daripada cewek psikopat kayak kamu yang hobi ngurusin hidup orang!"

Seluruh kantin menahan napas.

Kalimat Galang barusan adalah pukulan telak yang mempermalukan Livy habis-habisan di depan ratusan siswa.

"Satu kali lagi kamu nyentuh atau jelek-jelekin Kiara," Galang menurunkan suaranya, namun terdengar sangat dingin dan mengancam, "Saya sendiri yang bakal bikin kamu didepak dari sekolah ini. Paham?!"

Galang membalikkan badan, merangkul bahu Kiara yang masih menangis sesenggukan, lalu menuntunnya keluar dari kantin, meninggalkan keheningan mencekam.

Livy berdiri mematung di tengah kantin yang kini mulai dipenuhi bisik-bisik cibiran dan tatapan kasihan yang mengejek dari murid-murid lain.

Air matanya mengalir deras, merusak riasan wajahnya. Dadanya sesak, namun di tengah rasa sakit hati dan malu yang luar biasa itu, kilat kegilaan kembali muncul di matanya.

'Kamu salah bela orang, Galang' bisik Livy dalam hati, sambil mengepalkan tangannya hingga berdarah karena tekanan kukunya sendiri. 'Saya gak bakal berhenti sampai binal itu angkat kaki dari hidup kamu' Lanjutnya penuh ambisi.

......................

...****************...

To be continue,

1
Friska Zega
👌
penggemar_Uangkecil?!
👍
aku
kapol
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
Akai
semangat kak membuat novel /Smile/👍
kucing kawai
lebih baik dengan kata "aku kamu kalo gk pakai lo gue" aja lebih keren thor
kucing kawai: siap thor, semangat terus ya thor 🫶
total 3 replies
kucing kawai
sedikit saran ya thor jangan pakai bahasa saya terlalu formal thor, baguss karya mu thor
kucing kawai: semangat ya author 🫶
total 2 replies
Queen Aisyah
astaga galang..🤣
Queen Aisyah
good
aku
diskon brp jd nya Lang?? 🤣🤣
Hesty
semnget💪💪💪
Hesty
bgus
Hesty
semanget💪
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!