Indonesia
NovelToon NovelToon
My Sweety Sugar Mommy

My Sweety Sugar Mommy

Status: sedang berlangsung
Genre:Single Mom / Romantis
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: julian rifai

Di balik senyum humoris pemuda 18 tahun, ada tekad nekat untuk memenangkan hati seorang janda beranak satu yang trauma akan cinta.
Vino, koki kedai berpenghasilan pas-pasan, jatuh hati pada Evita (30 tahun), pemilik butik anggun yang membentengi hatinya rapat-rapat akibat masa lalu yang kelam. Diapit cinta segitiga dengan adik Evita dan kejaran pria dewasa yang mapan, Vino memilih menghilang. Bukan untuk menyerah, melainkan memantaskan diri. Lima tahun berlalu, ia kembali bukan lagi sebagai remaja biasa, melainkan pria yang siap meruntuhkan tembok trauma Evita dan melawan stigma dunia. Bisakah ketulusan dan kehangatan Vino menyembuhkan luka masa lalu Evita, ataukah perbedaan usia dan restu keluarga akan merenggut kebahagiaan mereka?
Ikuti kisah romantis antara Evita dan Arvino dinovel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon julian rifai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bantuan Kecil Yunita

Sinar matahari siang menembus celah-celah dedaunan pohon angsana di pelataran Fakultas Kedokteran UGM, membiaskan cahaya hangat di atas lembaran berkas tebal yang dipeluk Yunita. Di sampul berkas berwarna biru tua itu, tertera tulisan bersurat emas: Panduan Orientasi Kepaniteraan Klinik Rumah Sakit Pendidikan.

Masa-masa perkuliahan preklinik dan ujian teori yang melelahkan telah resmi ia tuntaskan. Gelar Sarjana Kedokteran kini telah tersemat di belakang namanya. Namun, Yunita tahu betul bahwa perjuangan yang sesungguhnya baru saja dimulai. Minggu depan, ia akan resmi melangkah ke dalam lorong-lorong Rumah Sakit Sardjito, mengenakan jas putih pendek, bertarung dengan jadwal jaga malam tiga puluh enam jam, dan berhadapan langsung dengan nyawa serta rasa sakit para pasien.

Usai merapikan dokumen orientasi stase pertamanya, stase Bedah Umum, Yunita melangkah keluar dari area kampus. Ia tidak langsung pulang ke kosnya, melainkan memesan taksi menuju sebuah kedai kopi tenang di kawasan Seturan, Sleman. Hari ini, ia sudah berjanji untuk bertemu dengan Vino.

Kedai kopi itu berada tak jauh dari ruko dua lantai yang baru saja disewa Vino. Saat Yunita melangkah masuk, ia langsung menemukan sosok pemuda itu di meja sudut dekat jendela glass-panel. Vino tampak begitu fokus. Di meja kayu di hadapannya, terhampar kalkulator ilmiah, sketsa tata letak furnitur, dan lembaran jurnal arus kas keuangan yang sarat dengan coretan angka.

"Sudah lama nunggunya, Vin?" sapa Yunita seraya menarik kursi di hadapan Vino.

Vino mendongak, seketika menyunggingkan senyum hangat. "Eh, Yun. Nggak kok, baru lima belas menit. Gimana pengarahan buat persiapan koas tadi?"

"Lancar," jawab Yunita seraya memesan secangkir lemon tea hangat pada pelayan. Ia memperhatikan raut wajah Vino. Meski berpakaian rapi dengan kemeja kasual yang tergulung, ada guratan kelelahan dan kerutan tipis di dahi pemuda itu saat menatap lembar anggaran. "Kamu sendiri gimana? Kelihatannya serius banget ngitungnya."

Vino menghela napas panjang, terkekeh halus seraya menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Lagi mengalkulasikan biaya penataan awal ruko, Yun. Harga workstation komputer dengan spesifikasi GPU tinggi buat kebutuhan rendering tiga dimensi ternyata lumayan naik dari perkiraan awal. Ditambah biaya pengurusan izin legalitas badan usaha dan alokasi dana operasional dua bulan pertama."

Yunita mencondongkan tubuhnya, mengamati deretan angka di lembar kertas Vino. "Selisihnya banyak?"

"Nggak terlalu besar, tapi cukup bikin mutar otak," jujur Vino tanpa rasa gengsi. "Aku nggak mau pakai dana simpanan buat Ibu di Surabaya. Jadi alokasi dana darurat studio yang terpaksa agak tergerus."

Yunita terdiam sejenak. Ia merogoh tas bahunya, mengeluarkan sebuah amplop cokelat tebal bersegel rapi, lalu meletakkannya dengan perlahan di atas meja, tepat di samping kalkulator Vino.

Vino berkerut dahi, menatap amplop itu lalu beralih menatap wajah Yunita. "Ini apa, Yun?"

"Itu dana tabunganku selama kuliah preklinik kemarin, ditambah bonus insentif kelulusan sarjana dari kampus," tutur Yunita dengan suara yang sangat lembut, tenang, dan matang. "Jumlahnya mungkin nggak seberapa kalau dibandingkan sama total proyek besar yang pernah kamu pegang, tapi cukuplah buat menutup selisih pembeliaan komputer dan operasional awal studio kamu."

Mata Vino membelalak pelan. Ia menggeleng tegas dan langsung menggeser kembali amplop tersebut ke arah Yunita. "Nggak, Yun. Nggak usah. Ini uang kamu, hasil keringat dan prestasi akademismu sendiri. Nanti kebutuhan buat koasmu gimana? Peralatan medis, buku-buku referensi stase, sama biaya hidupmu dua tahun ke depan pasti besar."

"Vin, dengarkan aku dulu," potong Yunita lembut namun sarat akan ketegasan yang tak bisa dibantah. Ia menggenggam amplop itu dan menaruhnya kembali di dekat tangan Vino. "Biaya buat kebutuhan koasku selama dua tahun ke depan sudah ditanggung penuh sama Ayah dan Ibu. Tabungan pribadi yang di dalam amplop ini murni uang simpanan yang nggak terpakai."

Yunita menatap lurus ke dalam mata Vino dengan binar ketulusan seorang sahabat sejati.

"Minggu depan aku sudah resmi masuk rumah sakit, Vin," lanjut Yunita. "Jadwal jagaku bakal padat banget. Aku mungkin nggak punya banyak waktu lagi buat sering-sering main ke ruko atau bantu-bantu persiapan studio kamu. Bantuan ini cara aku buat tetap bisa jadi bagian dari perjuangan awal Lazuardi Design."

Vino tertegun. Kata-kata Yunita masuk begitu dalam ke dadanya, menggetarkan sudut hatinya yang paling peka. Tidak ada nada menggurui, tidak ada rasa kasihan, dan tidak ada pamer kasta dalam cara Yunita menyerahkan uang tersebut. Yang ada hanyalah penghormatan dan rasa percaya yang murni.

"Tapi, Yun... ini terlalu banyak," bisik Vino dengan nada suara yang sedikit serak. "Aku nggak mau memanfaatkan kebaikanmu."

"Siapa yang bilang ini cuma-cuma?" seloroh Yunita terkekeh, mencoba mencairkan suasana agar Vino tidak merasa terbebani. "Anggap saja ini investasi penyertaan modal awal. Atau kalau kamu merasa sungkan, catat ini sebagai pinjaman resmi studio. Nanti kalau studio kamu sudah panen proyek besar dan sukses, baru kamu kembalikan ke aku."

Vino menatap amplop cokelat di hadapannya cukup lama. Kehormatan dirinya sebagai pria pekerja keras berbisik untuk menolak, namun logika profesional dan ketulusan sahabatnya mengingatkan bahwa ia tak boleh membiarkan gengsi merusak momentum impian besarnya.

Vino menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Ia meraih amplop tersebut, lalu mengangguk penuh rasa hormat.

"Terima kasih banyak, Dokter Yunita," ujar Vino tulus, matanya berbinar matang. "Aku bakal catat ini secara resmi di buku jurnal keuangan studio sebagai pinjaman modal investasi. Dan aku berjanji, uang ini bakal kembali utuh beserta bagi hasil keberhasilan Lazuardi Rancang."

Yunita tersenyum lebar, merasa amat lega dan bahagia. "Nah, begitu dong. Itu baru arsitek profesional."

Malam harinya, suasana ruko dua lantai di daerah Seturan itu terasa begitu tenang dan hening. Lampu neon memancarkan cahaya putih yang terang, menerangi lantai keramik yang bersih dan dinding-dinding yang baru saja selesai dicat abu-abu minimalis.

Vino duduk sendirian di atas kursi kerja barunya. Di atas meja kayu jati yang kokoh, laptopnya menyala. Di samping laptop, terbuka sebuah buku jurnal tebal bergaris emas.

Dengan jemari yang cekatan, Vino merapikan amplop dari Yunita, lalu mengetikkan transaksi masuk tersebut ke dalam sistem pembukuan resminya. Ia menuliskan keterangannya dengan sangat rinci, Dana Penyertaan Modal Awal - Yunita Soewandono .

Usai menyimpan data tersebut, Vino menyandarkan punggungnya, menatap ke sekeliling ruangan ruko kosong yang dalam beberapa hari ke depan akan dipenuhi oleh meja gambar, maket-maket bangunan, dan layar-layar komputer yang sibuk.

Rasa haru berdesir hangat di dalam dadanya. Ia menyadari bahwa perjalanan panjangnya dari seorang pemuda Surabaya yang hampir putus asa hingga berdiri di ruko ini bukanlah hasil perjuangannya seorang diri. Ada doa tulus ibunya, bimbingan keras Mas Danang, dan kini... tangan hangat Yunita yang menyokong langkah pertamanya saat ia hendak melompat tinggi.

Vino mengepalkan tangannya di atas meja kerja. Sorot matanya menajam, penuh dengan tekad dan keyakinan yang tak tergoyahkan. Ia siap membuktikan bahwa kepercayaan dan bantuan kecil sahabatnya malam ini tidak akan pernah sia-sia.

1
mawarsendu
bagus
Alnilam Mintaka: terimakasih kak
total 1 replies
mawarsendu
semangat ya kak

btw jangan lupa mampir di novel ku ya judulnya "AKU BUKAN SIMPANAN" terimakasih 🙏👍
the virtuso
saling support yah thor jangan lupa🙏
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!