Kaisar Iyan: Kebangkitan Raja Iblis Abadi
Kaisar Iyan hanyalah seorang pemuda pemalas yang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk tidur dan menghindari masalah.
Namun suatu hari, ia terbangun di dunia yang sama sekali berbeda.
Tanpa mengetahui bagaimana dirinya bisa sampai di sana, Iyan menemukan bahwa tubuhnya memiliki kemampuan yang tidak pernah dimiliki manusia biasa.
Ia dapat menciptakan clone dirinya sendiri.
Ia dapat memanggil pahlawan dan monster dari dunia lain.
Ia bahkan mampu membangkitkan mayat dan tulang menjadi pasukan undead yang tidak mengenal kematian.
Namun kemampuan paling mengerikan yang dimilikinya adalah sebuah kekuatan yang memungkinkan pasukannya bangkit kembali setiap kali terbunuh—selama mana miliknya masih tersisa.
Awalnya, Iyan hanya ingin hidup tenang.
Sayangnya, dunia baru ini tidak memberinya kesempatan.
Perang, kerajaan, bangsawan, monster, pahlawan, dan pengkhianatan perlahan menyeretnya ke dalam konflik yang jauh lebih besar.
Sampai akhir
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SERANGAN DI ISTANA
Para kesatria yang bertugas melindungi Putri Elinor mulai kewalahan.
Sebagian dari mereka terluka, sementara beberapa lainnya telah gugur dalam pertempuran.
Para pelayan berlari bersama Putri Elinor menyusuri lorong-lorong kastil.
Para kesatria yang menjaga sang putri mulai dibantai satu per satu oleh para assassin musuh. Beberapa assassin yang berhasil lolos dari kepungan kesatria Kekaisaran kini mengejar Putri Elinor.
---
Di sisi lain, aku bersama lima pasukan summon berlari menuju ruangan sang putri.
Dari kejauhan, aku mendengar suara pedang yang saling beradu.
CLANG! CLANG!
Ketika sampai di salah satu lorong, aku melihat beberapa kesatria Kekaisaran masih bertahan melawan gerombolan assassin.
Aku langsung memberikan perintah kepada lima pasukan summon yang berada di sampingku.
"Urus para assassin itu."
"Baik, Tuan!"
Kelima pasukan summon langsung berpencar dan menyerang para assassin.
Sementara itu, lima pasukan summon lainnya yang sebelumnya berpencar berhasil menemukan Putri Elinor bersama para pelayannya.
Mereka sedang berlari dikejar para assassin.
Tiba-tiba...
FWOOSH!
Beberapa anak panah beracun melesat ke arah Putri Elinor.
CLANG!
Salah satu pasukan summon bergerak cepat dan berhasil menangkis anak panah tersebut.
Pertempuran kembali pecah.
Para summon bertarung melawan para assassin.
Namun, para assassin terus menerjang maju.
Sebagian dari mereka menahan serangan pasukan summon, sementara yang lainnya terus mengejar Putri Elinor.
---
Aku terus berlari menuju lorong tempat sang putri berada.
Namun, di tengah perjalanan, aku dihadang oleh empat belas assassin.
Aku berhenti dan menatap mereka satu per satu.
Kenapa jumlah mereka sebanyak ini?
Bagaimana mereka bisa masuk ke dalam istana tanpa diketahui siapa pun?
Aku mencabut pedang dari sarungnya.
Lebih baik kupikirkan nanti.
Aku langsung melesat maju.
SWOOSH!
SLASH!
Beberapa assassin yang mencoba menghalangi jalanku langsung kutebas.
Aku terus bergerak menuju Putri Elinor.
---
Di sisi lain, salah satu pelayan Putri Elinor terkena anak panah tepat di kakinya.
THUK!
"Ah!"
Pelayan itu terjatuh.
Putri Elinor langsung menoleh.
"Pegang tanganku!"
Ia berusaha membantu pelayannya untuk terus melarikan diri.
Namun, tiba-tiba...
SWOOSH!
Sebuah katana melesat langsung menuju leher Putri Elinor.
Mata Elinor melebar.
Namun, sebelum katana itu menyentuh lehernya...
TING!
Sebuah kilauan melesat dari atas.
Sebuah pedang kecil berhasil menangkis katana tersebut.
CLANG!
Assassin itu terkejut.
Sebelum ia sempat bereaksi...
STAB!
Pedang kecil tersebut menusuk tepat menembus lehernya.
Assassin itu langsung terjatuh.
Putri Elinor membuka matanya perlahan.
Ia terkejut melihat seekor kucing sedang mencabut pedang kecilnya dari leher assassin tersebut.
Elinor hanya bisa menatapnya dengan kebingungan.
Namun, sebelum ia sempat bertanya...
Satu per satu kucing lainnya mulai bermunculan.
Mereka mengenakan perlengkapan yang hampir sama.
Putri Elinor semakin bingung.
Kucing oranye tersebut kemudian menoleh kepadanya.
Ia tersenyum tipis dan bertanya dengan nada santai.
"Nona, apakah Anda baik-baik saja?"
Suara kucing itu terdengar begitu percaya diri, bahkan sedikit seperti seorang playboy.
Putri Elinor menjawab dengan terbata-bata.
"A-aku... baik-baik saja."
Kucing itu tersenyum.
Kemudian ia berbalik kepada pasukan kucing di belakangnya.
"Semuanya."
Para kucing langsung bersiap.
"Habisi para assassin yang tersisa."
Ia mengangkat pedang kecilnya.
"Berikan kemenangan mutlak untuk Raja kita."
"Baik!"
Para kucing langsung menyerbu.
SWOOSH!
Mereka melompat dari berbagai arah dan menyerang para assassin yang tersisa.
Pertempuran berlangsung sangat cepat.
---
Sementara itu, aku berhasil mencapai assassin terakhir.
SLASH!
Aku menebasnya hingga terjatuh.
Aku memastikan ia tidak bisa bangkit lagi.
Beberapa kesatria Kekaisaran dan pasukan summon yang berada di belakangku kemudian menyusul.
"Kita menuju tempat Putri Elinor."
"Baik, Tuan!"
Kami segera bergerak menuju lokasi sang putri.
Namun, ketika sampai di sana...
Pertempuran telah berakhir.
Para assassin sudah dikalahkan.
Aku menghela napas lega.
Syukurlah.
Namun, ketika melihat ke arah Putri Elinor, aku langsung terdiam.
Putri Elinor ternyata sedang menggendong Pussi seperti seekor hewan peliharaan.
"Hehehe..."
Elinor mengelus kepala Pussi.
"Hai, kucing manis."
Pussi yang biasanya terlihat begitu percaya diri kini hanya bisa diam dalam pelukan sang putri.
Elinor kemudian bertanya,
"Siapa tuanmu?"
Pussi hanya terdiam.
Sepertinya bahkan seorang assassin Rank S seperti dirinya tidak mampu berkutik di hadapan Putri Elinor.
Aku hanya bergumam dalam hati.
Hmm... dasar perempuan.
Setidaknya mereka semua sudah aman.
Aku kemudian membuka hologram sistem.
Di sana aku melihat Selena dan Gilion.
Mereka ternyata juga telah berhasil membunuh para assassin yang berusaha menyerang Kaisar.
Aku menghela napas lega.
Syukurlah... kali ini semuanya berjalan lancar.
---
Beberapa menit kemudian, kami semua berkumpul di dalam kastil.
Pussi masih berada di dalam gendongan Putri Elinor.
Pussi kemudian mulai menjelaskan kepadaku.
"Tuan, aku sudah menemukan dalang dari semua ini."
Aku menatapnya.
"Siapa?"
"Aku menemukan beberapa bangsawan yang mengirim para assassin tersebut."
Pussi kemudian melanjutkan,
"Aku berhasil membunuh beberapa bangsawan yang berada di ruang rapat. Namun, sebagian besar berhasil melarikan diri."
Aku terdiam.
Jadi, masalahnya jauh lebih serius dari yang kukira.
Para bangsawan korup ternyata sudah berani bergerak secara terang-terangan.
Baiklah... masalah ini akan kita bahas nanti.
Setelah Kaisar kembali.
Aku kemudian memberikan perintah kepada semua orang.
"Perketat penjagaan di seluruh area istana."
"Baik, Tuan!"
Aku melirik ke arah Pussi.
Hmm... sepertinya Putri Elinor tertarik pada Pussi.
Aku tidak bisa menyalahkannya.
Dari penampilan luar, Pussi memang terlihat seperti seekor kucing yang lucu.
Namun, di balik penampilannya...
Pussi adalah pembunuh berdarah dingin.
Aku kemudian memberikan perintah kepadanya.
"Pussi, tetaplah berada di dekat Putri Elinor untuk berjaga-jaga."
Pussi menundukkan kepala.
"Baik, Tuan."
Aku juga memanggil sepuluh pasukan summon lainnya.
"Kalian berjaga di kediaman Putri Elinor."
"Baik, Tuan!"
Setelah memberikan semua perintah, aku meninggalkan mereka.
Aku berjalan menyusuri lorong-lorong istana.
Di sepanjang jalan, aku menemukan banyak mayat.
Aku menyimpan semuanya ke dalam penyimpanan dimensiku.
Lumayan...
Setidaknya semua mayat ini masih bisa berguna untukku nanti.
---
Aku akhirnya kembali ke kamarku.
Aku langsung mandi dan berganti pakaian.
Setelah selesai, aku berjalan menuju balkon.
Dari kejauhan, aku bisa melihat asap tebal membubung ke langit.
Cahaya api juga masih terlihat dari beberapa bagian ibu kota.
Sepertinya pertempuran tadi cukup besar.
Aku membuka hologram sistem.
Di sana aku melihat Kaisar, Gilion, Selena, dan pasukan mereka mulai kembali menuju kastil.
Aku mulai memikirkan kekacauan yang terjadi di ibu kota Kekaisaran.
Sepertinya besok akan menjadi hari yang sangat merepotkan.
Aku kemudian melihat perkembangan wilayah timur.
Elisa dan Jaron ternyata sudah tiba di Benteng Keempat.
Mereka membawa ribuan budak yang berhasil dibeli dan diselamatkan.
Sebagian dari mereka juga telah mendapatkan perawatan dari Dokter Elarion.
Aku kemudian melihat benteng-benteng di wilayah timur.
Benteng Pertama, Kedua, Ketiga, dan Keempat telah berhasil dibangun kembali.
Bahkan, semuanya terlihat jauh lebih kokoh dibandingkan sebelumnya.
Aku juga melihat clone-ku.
Ia terus berlatih tanpa henti.
Kemudian...
TING!
Sebuah pemberitahuan sistem muncul.
[Selamat!]
[Anda mendapatkan 1 Clone baru.]
Aku langsung memperhatikan layar hologram.
Clone baru?
Aku terdiam beberapa saat.
Jadi sekarang aku memiliki dua clone yang bisa kukendalikan.
Sebuah senyum kecil muncul di wajahku.
Kalau begini...
Aku bisa melakukan lebih banyak hal tanpa harus meninggalkan tempat tidur.
Aku mulai membayangkan berbagai kemungkinan.
Ini akan sangat menguntungkan.
Sepertinya aku harus membangun sebuah tempat persembunyian.
Tempat yang aman dan jauh dari siapa pun.
Dengan begitu, aku bisa terus memperkuat tubuh utamaku tanpa diketahui orang lain.
Aku bisa mendapatkan lebih banyak skill...
Lebih banyak clone...
Dan semakin banyak kekuatan.
Aku menatap langit malam dari balkon.
Hari-hari berikutnya sepertinya akan semakin menarik.
Aku kemudian kembali ke tempat tidur.
Perlahan, aku menutup mata.
Dan menunggu datangnya hari esok.