Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Istri & Anak Kembar Bar-Bar Sang Mafia Es

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Mafia / Penyesalan Suami
Popularitas:9.8k
Nilai: 5
Nama Author: Phopo Nira

Diceraikan karena alasan mandul, padahal 3 tahun pernikahan ia menjadi istri yang diabaikan oleh suaminya sendiri. Malam sebelum ia meninggalkan Mansion kediaman Maximillian, Raina diam-diam menjebak suaminya, Cassion Zayn Maximillian untuk menghabiskan malam bersama. Lalu setelahnya ia menghilang begitu saja tanpa jejak sedikitpun.

Namun, 8 tahun kemudian… tepat di acara pernikahan Cassion dengan teman masa kecilnya, Laura Fernandez. Raina kembali membawa sepasang anak kembar, Sean dan Shia untuk mendapatkan hak kedua anak itu sebagai pewaris keluarga Maximillian.

Dan sejak saat itu, kediaman Maximillian tidak pernah bisa tenang lagi. Raina yang tidak lagi penurut, ditambah dengan kedua anak kembarnya yang tak kenal takut. Ibu dan anak kembar itu menuntut banyak hal yang sudah 8 tahun sudah mereka lewatkan begitu saja. Dendam dan hutang mereka perhitungkan dengan baik.

Akankah Raina dan kedua anak kembarnya berhasil membalaskan dendam serta mendapatkan hak mereka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30. Hasil Tes Sudah Keluar

“Kalian bisa kembali bekerja sekarang,” perintah Sion membubarkan mereka.

Tetap saja, Raina masih merasa ada yang tidak beres. Namun, perhatiannya seketika teralihkan ketika Sean tiba-tiba menarik ujung jas yang Sion tengah kenakan. "Papah ikut?"

Sion menunduk menatap putranya. "Kalau boleh sama Mamah kalian, Papah pasti ikut."

Mata Sean langsung berbinar, Shia pun tersenyum. Keduanya langsung bertanya kepada Raina secara serentak. “Boleh ‘yah, Mah?”

Sion kemudian menatap Raina. "Bagaimana? Aku yang akan mengantar."

Raina tampak hendak menolak. "Aku bisa sendiri."

"Aku tahu." Sion menjawab cepat. "Tapi mereka anakku juga, bukan?"

Nada suaranya tidak memaksa. Hanya tegas… seakan menegaskan bahwa ia ‘lah ayah kandung dari Sean dan Shia yang juga berhak atas keduanya. Sehingga Raina juga tidak memiiki hak untuk melarang Sion terlibat untuk mengurus mereka juga.

Raina terdiam beberapa detik, lalu kemudian mengangguk kecil dan berkata, "Baiklah, terserah kau saja."

Sion tersenyum tipis, penuh kemenangan."Kalau begitu, ayo kita berangkat sekarang."

Kakek Edwin yang sejak tadi duduk di sofa hanya memperhatikan mereka. Merasa ada sesuatu yang berbeda dalam pemandangan itu. Sion berdiri di antara kedua anaknya. Raina berada di samping mereka. Untuk sesaat, mereka terlihat seperti keluarga biasa. Sebuah keluarga yang seharusnya memang seperti itu sejak awal. Sayangnya, keluarga seharmonis itu harus terpisah selama delapan tahun.

Namun, sebelum mereka benar-benar beranjak, ponsel Kakek Edwin berdering. Menampilkan nama dokter keluarga yang dipercaya untuk tes DNA yang dilakukan Sion dengan Sean dan Shia. Ia mengerutkan kening sebelum mengangkat panggilan tersebut.

"Halo?" Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah. "Hasilnya sudah keluar?"

Sion yang mendengar itu langsung menoleh. Kakek Edwin tampak masih mendengarkan penjelasan dari seberang telepon. Hingga kemudian kembali berkata, "Baik. Kami akan segera ke sana." Ia memutuskan sambungan.

Sion lantas mendekat. "Ada apa, Kek?"

Kakek Edwin menatap cucunya. "Hasil tes DNA sudah keluar."

Suasana seketika berubah. Raina yang sedang membantu Shia memasang aksesoris berbentuk strawberry juga berhenti. Sebab hasil tes DNA itu akan membuktikan identitas kedua anaknya.

Sion menatap kakeknya. "Kapan kita bisa mengambilnya?"

"Hasilnya sudah bisa diambil hari ini juga."

Tatapan Sion kemudian beralih kepada kedua anaknya. Sean dan Shia terlihat sama sekali tidak memahami pembicaraan orang dewasa di depan mereka.

Sion mengangguk. "Kalau begitu kita akan mengambilnya setelah pendaftaran sekolah Sean dan Shia."

Kakek Edwin berdiri. "Kalau begitu aku akan ikut dengan kalian." Kemudian ia mengambil tongkatnya. "Kita selesaikan urusan sekolah mereka terlebih dahulu."

Raina menatap Kakek Edwin. "Kek, kalau hasilnya sudah keluar, bukankah lebih baik langsung—"

"Tidak perlu terburu-buru." Kakek Edwin memotong dengan lembut. "Anak-anak sudah bersiap untuk melihat sekolah baru mereka. Jangan membuat mereka menunggu."

Tatapannya kemudian jatuh kepada Sean dan Shia. "Hari ini adalah hari penting untuk mereka."

Shia tersenyum. "Kakek ikut juga?"

"Tentu saja." Kakek Edwin tersenyum. "Kakek ingin melihat sekolah baru kalian."

Sean langsung bersorak kecil. "Yeay, Kakek Buyut akan ikut dengan kami ke sekolah baru."

Sion tertawa pelan. "Kalau begitu, ayo pergi."

Mereka pun berjalan menuju pintu utama. Sion berjalan di sebelah Sean dan Shia, sementara Raina berada beberapa langkah di belakang bersama Kakek Edwin. Ketika pintu mansion terbuka, sinar matahari pagi menyambut mereka.

Namun sebelum masuk ke mobil, Sion tiba-tiba berbalik. "Raina."

Raina menatapnya. "Ya?"

Sion membelai lembut wajah cantik Raina seraya berkata, "Jangan khawatir, aku percaya kalau Sean dan Shia memang darah dagingku… anak-anakku."

Raina menatap Sion beberapa detik, ia tidak percaya bahwa perkataan pria itu bisa sedikit menenangkan hatinya yang sedang gelisah sekaligus takut. Ia tidak menyangka akan mendapatkan rasa aman itu dari pria yang dulu mengabaikan keberadaannya.

Tidak ada jawaban dari Raina, Sion pun membukakan pintu mobil agar Raina masuk ke dalamnya. Sion menutup pintunya setelah memastikan kedua anaknya duduk dengan aman. Sebelum berjalan menuju kursi pengemudi, ia sempat menatap Raina melalui kaca. Ada begitu banyak hal yang ingin ia katakan. Tetapi untuk saat ini, ia memilih diam.

Karena mungkin... perubahan tidak selalu harus dimulai dengan kata-kata. Kadang-kadang cukup dengan hadir. Cukup dengan menemani. Cukup dengan memastikan bahwa kali ini, Raina dan kedua anak mereka tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Mobil perlahan meninggalkan halaman mansion. Tujuan pertama mereka adalah sekolah terbaik untuk Sean dan Shia. Setelah itu, akan dilanjutkan menuju rumah sakit. Dan di sana, sebuah lembar hasil tes DNA akan membawa mereka kepada jawaban yang mungkin mengubah kehidupan keluarga mereka untuk selamanya.

...****************...

Begitu pintu Mansion utama Maximillian tertutup setelah kepergian Sion dan yang lainnya, wajah Calista yang sejak tadi berusaha mempertahankan ketenangannya seketika berubah. Ia menatap kepergian mobil itu melalui jendela kamarnya.

“ARGH!”

PRAANG!

Sebuah vas bunga di atas meja langsung melayang dan menghantam lantai. Pecahannya berhamburan ke segala arah. Calista meraih benda lain yang berada di dekat tangannya, lalu melemparkannya tanpa berpikir. Bingkai foto, lampu meja, gelas kristal, bahkan bantal sofa tak luput dari amukannya.

“Berani sekali mereka!” bentaknya dengan napas memburu.

Tangannya gemetar hebat. Semua penghinaan yang baru saja diterimanya berputar kembali di kepalanya. Tatapan Sion. Sikap Raina. Bahkan keberadaan kedua anak kembar itu terasa seperti penghinaan terbesar yang sengaja dilemparkan ke wajahnya.

Calista mencengkeram rambutnya sendiri. Hanya dalam waktu sehari semalam, semuanya berubah menjadi mimpi buruk. Beberapa saat yang lalu, ia mendengar beberapa pelayan sedang membicarakan bahwa semua aset miliknya, Lea, dan Leon telah dibekukan. Kartu-kartu mereka tidak bisa digunakan. Rekening yang selama ini menjadi sumber kekuasaan mereka mendadak tak dapat disentuh. Semua terjadi terlalu cepat dan Calista tahu persis siapa yang berada di baliknya.

“Raina...” desisnya penuh kebencian.

Matanya memerah. Dulu, Calista mengira wanita itu sudah tidak akan pernah kembali. Ia bahkan yakin masa lalu yang pernah mereka lalui telah terkubur bersama semua rahasia yang sengaja ia sembunyikan.

Ternyata ia salah, Raina kembali bukan untuk meminta belas kasihan. Wanita itu datang untuk mengambil kembali apa yang pernah dirampas darinya. Dan jika dibiarkan terlalu lama, Calista tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Raina akan menguasai Mansion utama Maximillian.

Kemudian seluruh keluarga akan berpihak kepadanya. Dan pada akhirnya, Calista akan menjadi orang yang tersingkir dari tempat yang selama ini ia anggap sebagai miliknya.

“Tidak.” Calista menggeleng keras. “Tidak akan kubiarkan.”

Ia menatap pecahan kaca yang berserakan di lantai. “Aku tidak akan membiarkan perempuan itu mengambil semuanya dariku.”

Jemarinya mengepal. Tidak peduli berapa banyak aset yang telah hilang. Tidak peduli berapa banyak orang yang kini berdiri di pihak Raina. Selama Calista masih memiliki satu cara untuk membalikkan keadaan, ia tidak akan menyerah.

Bersambung….

1
Budhe Satryo
rayna jngan terkena jebakan kamu harus bisa nglawan Calista ma anak"nya
Sri Yatun
kalo tau rencana mau menyingkirkan dan membunuhnya bakal kamu yg d usir kemungkinan besar kamu yg mati duluan ibu tiri dan saudara tiri
Budhe Satryo
makin seruuu crtanya
Budhe Satryo
misi perang dimulai rayna
Budhe Satryo
keluarga bahagia❤️❤️❤️
Budhe Satryo
adiknya yg selama ini menjadi pendukung setia rayna
Budhe Satryo
gpp salah paham dulu biar makin cinta
Budhe Satryo
misi Lum dimulai lho ...dah panas az Calista ni
Budhe Satryo
good rayna biar papah si kembar ush Dewe 😄😄😄
Budhe Satryo
moga rayna TDK mudah dijebak
Budhe Satryo
waspada rayna musuh dpn mata
Budhe Satryo
wah bisa jadi kerja sama dngn Calista tu sih laura
Budhe Satryo
akhirnya Sion bisa takluk dngn si kembar 😍😍😍
Budhe Satryo
y ampun pemilik dianggap gelandangan 🤣🤣🤣
Budhe Satryo
misi dimulai si kembar 😄😄😄
Budhe Satryo
mungkin Calista dan lea yg JD musuh dlm selimut
Budhe Satryo
bibit mafia emang g ad obat 🤣
Budhe Satryo
duo s JD pembela mamanya donk
Budhe Satryo
mulai seruuu ni 😊😊😊😍😍😍
Budhe Satryo
moga tidak JD menikah dngn laura
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!