Berjuang dari nol di Paris, Jungkook dan Taehyung mendirikan studio game independen bernama HexaVerse. Di tengah kerja keras membesarkan bisnis tersebut, adik Taehyung, Mira, tiba di Paris untuk kuliah.
Jungkook yang membantu Mira beradaptasi perlahan jatuh cinta pada gadis yang kini tumbuh mandiri dan cerdas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tatitu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Garis Batas yang Tegas
Mobil sports sedan hitam milik Jungkook berhenti di pelataran parkir Universitas Sorbonne. Pria itu turun dengan terburu-buru, melangkah cepat menyusuri koridor kampus untuk mencari keberadaan Mira. Langkahnya mendadak terhenti saat matanya menangkap sosok gadis itu sedang duduk di sebuah kursi taman yang rindang bersama James.
Dada Jungkook berdenyut nyeri. Didorong rasa bersalah dan tumpukan pertanyaan yang membakar kepalanya, Jungkook melangkah mendekat.
"Mira-ya..." panggil Jungkook pelan.
Mira dan James menoleh secara bersamaan. Melihat sosok Jungkook berdiri di hadapannya, raut tenang di wajah Mira seketika sirna. Gadis itu refleks berdiri, mengambil jarak satu langkah ke belakang dengan tatapan dingin dan tertutup.
"Jungkook Oppa... mau apa lagi ke sini?" suara Mira terdengar begitu lirih.
Jungkook menatap Mira lekat-lekat, menahan getaran emosi di dadanya. "Mira, tolong jawab aku dengan jujur... Apa alasanmu sebenarnya tiba-tiba pindah dari apartemenku? Apakah... apakah ini semua gara-gara Sunmi?"
Dahi Mira berkerut halus. Rasa bingung seketika melintas di wajahnya. "Sunmi?" batin Mira bertanya-tanya. Nama itu terasa begitu asing di telinganya.
Melihat raut kebingungan di wajah Mira, Jungkook dengan cepat menjelaskan, "Wanita yang datang bertamu ke apartemen saat aku sedang di luar kota tempo hari... dia Sunmi."
Oh, jadi wanita anggun dan mengintimidasi itu namanya Sunmi, pikir Mira dalam hati. Rasa sakit saat mengingat bagaimana wanita itu bersikap seolah memiliki hak penuh atas Jungkook dan apartemen itu kembali mencubit ulu hatinya. Namun, Mira memilih tetap diam, enggan menunjukkan rasa terganggunya.
Melihat Mira yang hanya membisu, Jungkook melangkah satu tapak lebih dekat, menatapnya penuh desakan dan rasa penyesalan. "Lalu bagaimana dengan kebohonganmu? Kenapa kau tidak benar-benar pulang ke apartemenmu sendiri dan malah pergi ke tempat lain? Kenapa kau harus membohongiku, Mira?"
Pertanyaan bertubi-tubi itu menggantung di udara. Namun, tidak ada satu pun penjelasan yang keluar dari bibir Mira. Gadis itu hanya menghembuskan napas pelan, menyapu wajah Jungkook dengan tatapan mata yang teramat asing dan berjarak.
"Itu bukan urusan Oppa," ujar Mira tenang namun begitu menusuk. "Aku menghargai Oppa sebagai teman dari kakakku yang sudah banyak membantuku selama di Paris. Tapi tolong... jangan ikut campur urusan pribadiku lebih jauh dari itu."
Kalimat yang tegas menarik garis batasan itu menghantam dada Jungkook bagaikan pukulan telak. Pria itu mematung di tempatnya berdiri, lidahnya kelu tak sanggup membalas, sementara Mira berbalik menarik lengan James dan melangkah pergi meninggalkannya dalam kesendirian yang menyiksa.
Mobil sports sedan hitam itu melaju lambat membelah jalanan Paris, seolah sang pengemudi telah kehilangan seluruh energi untuk menginjak pedal gas. Jungkook mencengkeram kemudi dengan satu tangan, sementara matanya menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong dan redup.
Kata-kata Mira di taman kampus tadi berulang kali berputar di kepalanya bagaikan kaset rusak yang menyiksa.
“Aku menghargai Oppa sebagai teman dari kakakku… Tapi tolong, jangan ikut campur urusan pribadiku lebih jauh dari itu.”
Jungkook terkekeh pelan, sebuah tawa getir penuh celaan pada dirinya sendiri. Dinding tebal yang selama ini ia bangun dengan keangkuhan dan rasa percaya diri seketika runtuh total. Pria yang di dunia bisnis selalu memegang kendali penuh atas segalanya, kini merasa begitu kerdil dan tak berdaya hanya karena satu kalimat dari seorang Kim Mira.
Ia telah melakukan dua kesalahan fatal sekaligus.
Pertama, ia begitu ceroboh membiarkan Sunmi, dengan segala latar belakang utang budi keluarga yang membelenggunya, memiliki celah untuk mengusik area pribadinya. Kedatangan wanita itu ke apartemennya adalah pematik utama yang membuat Mira merasa asing, tertekan, dan memilih mundur secara diam-diam.
Kedua, bukannya merangkul dan mencari tahu kebenarannya secara kepala dingin, ia justru melampiaskan emosi dan prasangka buruknya dengan menuduh Mira secara rendah. Ia menduga Mira tinggal bersama pria lain hanya karena rasa cemburu buta yang membutakan logikanya.
Sambil menghentikan mobilnya di bahu jalan yang sepi, Jungkook menyandarkan kepala ke lingkar kemudi. Napasnya berat dan sesak, tertahan oleh rasa penyesalan yang membakar ulu hati.
Pria itu meraih ponselnya di dasbor, lalu menekan sebuah nomor.
"Ya, Direktur Jeon?" suara Sekretaris Han menyahut cepat di seberang sana.
Jungkook memejamkan mata erat-erat, mengusap wajahnya dengan kasar sebelum bersuara. Suaranya tidak lagi dingin atau mendominasi seperti biasanya, melainkan terdengar sangat serak dan lelah.
"Sekretaris Han..."
"Ne Sajangnim. Ada yang bisa saya bantu?"
"Cari tahu semua rekaman kamera pengawas di koridor apartemenku pada hari saat Sunmi datang bertamu," perintah Jungkook, nada suaranya berubah tajam dan penuh penekanan. "Aku ingin tahu berapa lama dia berada di sana, dan cari tahu apakah ada rekaman suara atau detail apa pun terkait interaksinya dengan Mira hari itu."
Sekretaris Han sempat hening sejenak, terkejut dengan nada desakan dari atasan yang biasanya sangat menjaga privasi tersebut. "Baik, Pak. Segera saya koordinasikan dengan pihak pengelola gedung."
"Satu hal lagi," potong Jungkook cepat sebelum Sekretaris Han mematikan telepon. "Jadwalkan ulang seluruh pertemuan bisnisku sore ini. Aku tidak ingin diganggu oleh siapa pun... kecuali jika ada perkembangan tentang hal ini."
"Baik, Direktur Jeon."
Jungkook menurunkan ponselnya, menyandarkan tubuhnya kembali ke sandaran kursi. Pria itu menatap langit Paris yang mulai tertutup awan mendung dari balik kaca mobil. Kesadarannya kini sudah bulat: ia tidak akan biarkan Sunmi terus menjadi bayang-bayang yang merusak hubungannya, dan ia tidak akan berhenti sampai berhasil meruntuhkan kembali tembok tinggi yang baru saja didirikan oleh Mira. Jungkook melajukan mobilnya menuju perusahaannya.
Hari baru saja beranjak sore ketika Sekretaris Han melangkah masuk ke ruang kerja Jungkook di kantor cabang Paris. Pria itu membawa sebuah flashdisk dan map dokumen tebal di tangannya.
Di balik meja kerjanya, Jungkook duduk membisu. Setelan jasnya masih rapi, namun wajahnya terlihat teramat kuyu dengan lingkaran hitam tipis di bawah mata, bukti nyata bahwa ia sama sekali tidak bisa tidur tenang selama beberapa hari terakhir.
"Direktur Jeon," panggil Sekretaris Han sopan, membungkuk kecil sebelum meletakkan flashdisk tersebut di atas meja. "Saya sudah mendapatkan seluruh rekaman kamera pengawas dari pengelola apartemen Anda, khusus pada hari saat Nona Sunmi datang bertamu."
Jungkook langsung menegakkan tubuhnya. Tatapan matanya yang tadinya redup seketika berubah tajam dan penuh desakan. Tanpa mengucap sepatah kata pun, ia menyambar flashdisk tersebut, menyambungkannya ke laptop, dan membuka berkas video yang ada di dalamnya.
Layar laptop menampilkan rekaman sudut koridor depan pintu apartemennya.
Di dalam video bertanggal beberapa minggu lalu itu, tampak Sunmi berdiri di depan pintu, menekan bel dengan tidak sabar. Tak lama kemudian, pintu terbuka dan sosok Mira muncul dengan pakaian rumahannya yang sederhana.
Jungkook menahan napas. Matanya menatap lekat-lekat ke layar.
Meski rekaman CCTV koridor tidak merekam suara secara jernih, gerakan tubuh (body language) keduanya terlihat sangat jelas. Sunmi tampak berdiri angkuh, melipat tangan di dada, dan memandang Mira dari atas ke bawah dengan tatapan meremehkan. Sunmi bahkan menerobos masuk selangkah ke ambang pintu tanpa izin, sementara Mira tampak tersudut, menundukkan kepala dengan raut wajah yang sangat tidak nyaman dan terluka..
"Direktur Jeon," ujar Sekretaris Han pelan, berhati-hati dalam memilih kata. "Dari rekaman pengawas, Nona Sunmi berada di depan pintu cukup lama. Dan jika dilihat dari ekspresi Nona Mira sesaat setelah Nona Sunmi pergi... beliau tampak sangat terpukul sebelum akhirnya mengepak barang-barangnya hari itu."
DEG.
Darah Jungkook seketika mendidih. Rasa panas menjalar dari dadanya hingga ke kepala, membakar habis sisa-sisa kesabarannya. Tangan pria itu mencengkeram tepi meja kerja dengan sangat kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Tanpa perlu mendengar kalimat apa yang diucapkan Sunmi hari itu, Jungkook tahu betul bagaimana kejam dan tingginya nada bicara Sunmi saat memandang rendah orang lain. Sunmi jelas telah memanfaatkan celah ketahuannya untuk menindas Mira, menyerang harga dirinya, dan membuat gadis polos itu merasa tidak berharga hingga memilih melarikan diri.
Sekarang semuanya menjadi terang benderang bagai tersiram cahaya.
Mira tidak kabur karena ingin bersenang-senang, Mira tidak berbohong karena ada pria lain, dan Mira menutup diri bukan karena benci semata... Gadis itu pergi karena hatinya hancur akibat intimidasi Sunmi, dan penderitaannya makin diperparah oleh tuduhan buta serta cemburu tak berdasar dari Jungkook sendiri.
"Brengsek..." bisik Jungkook dengan suara bariton yang bergetar hebat menahan amarah dan penyesalan yang membakar ulu hati.
Pria itu berdiri mendadak dari kursinya hingga membentur meja keras-keras. Matanya memerah, memancarkan kilatan amarah yang luar biasa mematikan.
"Direktur Jeon?" panggil Sekretaris Han cemas.
"Hubungi Sunmi sekarang," perintah Jungkook dengan suara rendah yang sangat berbahaya.
"Katakan padanya aku ingin bertemu detik ini juga. Jika dia menolak, cabut seluruh akses kerja sama bisnis yang sedang diajukan oleh perusahaan keluarganya minggu ini."
Tak sampai satu jam kemudian, pintu ruang kerja Jungkook terbuka. Sunmi melangkah masuk dengan senyum lebar dan gaya anggun khasnya, sama sekali tidak menyadari badai besar yang sedang menunggunya di dalam.
"Jungkook-ah! Ada apa tiba-tiba menyuruhku ke sini begitu mendadak? Sekretarismu bahkan bilang ini sangat mendesak—"
Brak!
Sunmi terperanjat hebat hingga menghentikan langkahnya. Pintu laptop di atas meja kerja Jungkook dihempaskan menutup dengan kasar.
Jungkook berdiri di balik meja, menatap Sunmi dengan tatapan mata yang begitu dingin, tajam, dan mematikan. Aura di dalam ruangan itu seketika terasa mencekam dan memeras udara di sekitarnya.
"Duduk," ujar Jungkook singkat. Suara baritonnya begitu rendah dan tidak membentak, namun sarat akan ancaman yang membuat bulu kuduk berdiri.
Sunmi menelan ludah secara refleks. Ia mencoba mempertahankan senyum cantiknya meski kecemasan mulai merayapi dadanya. "J-Jungkook-ah, ada apa dengan raut wajahmu itu? Kenapa kau membentakku—"
Tanpa membalas sepatah kata pun, Jungkook memutar layar laptopnya ke arah Sunmi dan menekan tombol play.
Layar tersebut menampilkan rekaman CCTV koridor apartemen Jungkook. Di sana, terlihat jelas bagaimana Sunmi berdiri angkuh, melipat tangan, dan dengan sengaja menerobos masuk selangkah ke ambang pintu untuk menyudutkan Mira yang tampak ketakutan dan terluka.
Wajah Sunmi seketika memucat pasi. Senyuman manis di bibirnya sirna tanpa bekas.
"Katakan padaku apa yang sebenarnya kau lakukan pada gadis yang membukakan pintu itu, Sunmi-ya?"
"J-Jungkook-ah, itu... aku bisa jelaskan—"
"Apa yang kau katakan padanya?!" sentak Jungkook dengan suara menggelegar yang membuat Sunmi tersentak ketakutan. "Apa yang kau katakan sampai dia mengepak barang-barangnya dan menangis ketakutan hari itu?!"
"Aku tidak melakukan apa-apa!" potong Sunmi dengan suara bergetar mencoba membela diri. "Aku cuma memberitahunya siapa aku! Aku cuma menyuruhnya tahu diri karena dia tidak pantas tinggal di apartemenmu! Dia cuma gadis biasa dari keluarga biasa, Jungkook-ah! Untuk apa kau menampungnya?!"
Pengakuan tanpa rasa dosa dari mulut Sunmi justru menjadi bahan bakar yang membakar habis sisa kesabaran Jungkook. Tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Tahu diri?" ulang Jungkook dengan nada dingin yang teramat menusuk. "Wanita yang kau sebut 'gadis biasa' itu adalah orang yang paling ingin kujaga. Dan kau... berani-beraninya melangkah ke tempat pribadiku dan menindasnya di rumahku sendiri?"
"Jungkook-ah, ingat bantuan keluargaku pada keluargamu dulu!" seru Sunmi mulai panik, memanfaatkan kartu utang budi yang selama ini menjadi tamengnya. "Ayahku membantu bisnismu saat jatuh! Kau tidak bisa bersikap kasar padaku hanya demi gadis seperti dia!"
Jungkook terkekeh pelan, sebuah tawa dingin yang terdengar begitu mengerikan.
"Utang budi itu adalah urusan ayahku dan ayahmu. Bukan lisensi bagimu untuk mengusik hidupku," tegas Jungkook, menatap Sunmi tanpa rasa iba sedikit pun. "Mulai detik ini, batalkan seluruh proposal kerja sama dari perusahaan keluargamu. Dan jika kau berani menampakkan dirimu lagi di depan Mira atau di dekatku... aku tidak akan segan-segan menghancurkan apa pun yang kau banggakan."
"Jungkook-ah!" jerit Sunmi histeris, matanya membelalak tak percaya.
"Keluar," potong Jungkook dengan nada datar yang final, lalu berbalik membelakangi wanita itu.
"Sebelum aku menyuruh keamanan menyeretmu dari gedung ini."
Sunmi berdiri mematung dalam keputusasaan dan rasa malu yang luar biasa. Tanpa bisa membantah lagi, wanita itu berbalik dan berlari keluar dari ruangan dengan napas memburu dan air mata kemarahan yang mulai menetes.
Setelah pintu tertutup rapat, suasana ruangan kembali hening total. Jungkook memejamkan matanya rapat-rapat, menghembuskan napas panjang yang terasa sangat sesak. Musuh di balik kesalahpahaman ini sudah ia hempaskan, namun penyesalan terbesarnya kini baru saja dimulai: bagaimana cara meminta maaf dan mengembalikan kepercayaan Mira yang sudah ia hancurkan?