"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Krisis di tengah jalan
Sebulan setelah hubungan Rain dan Kenzo resmi diketahui banyak orang di kantor, proyek besar yang mereka pimpin bersama memasuki fase paling krusial, minggu-minggu penentuan sebelum laporan akhir kuartal diserahkan ke jajaran direksi.
Pagi itu, suasana kantor terasa berbeda dari biasanya. Rain baru saja duduk di mejanya ketika ponselnya berdering, nama Kenzo muncul di layar.
"Ada masalah," kata Kenzo begitu Rain mengangkat telepon, suaranya terdengar lebih tegang dari biasanya.
"Masalah apa?" tanya Rain, langsung waspada.
"Salah satu vendor utama kita mundur dari kontrak. Alasannya, mereka dapat tawaran lebih menguntungkan dari kompetitor kita," jelas Kenzo cepat. "Ini bisa bikin seluruh timeline campaign berantakan."
Rain merasa jantungnya berdegup kencang. Proyek ini bukan sekadar proyek biasa, ini proyek yang selama berbulan-bulan mereka perjuangkan bersama, taruhan besar untuk karier keduanya sekaligus bukti bahwa kolaborasi lintas divisi mereka benar-benar berhasil.
"Kita harus rapat darurat," kata Rain, buru-buru bangkit dari kursinya.
Rapat darurat yang berlangsung siang itu dipenuhi ketegangan. Pak Hadi tampak khawatir, sesekali menggeleng kepala mendengar laporan situasi terbaru dari tim.
"Berapa lama waktu yang kita punya untuk cari vendor pengganti?" tanya Pak Hadi.
"Kurang dari dua minggu, Pak, kalau kita mau tetap ontime sesuai timeline yang udah dijanjikan ke direksi," jawab Rain, mencoba tetap tenang meski di dalam hati mulai panik.
"Ini bakal sulit," Kenzo menambahkan, wajahnya serius. "Vendor sekelas ini nggak mudah ditemukan dalam waktu singkat, apalagi dengan budget yang sudah kita sepakati sebelumnya."
Diskusi berlangsung panjang, penuh perdebatan soal opsi-opsi yang tersedia, mulai dari mencari vendor baru dengan risiko kualitas yang belum terbukti, hingga opsi menegosiasikan ulang budget demi menarik vendor lain yang lebih mahal namun lebih terpercaya.
"Aku ada satu ide," kata Rain akhirnya, setelah hampir satu jam diskusi tanpa titik terang. "Kita bisa coba hubungi vendor lokal yang lebih kecil, tapi punya track record bagus di kampanye serupa skala menengah. Mereka mungkin belum punya nama besar, tapi kualitas kerja mereka nggak kalah."
"Itu berisiko," Kenzo langsung menanggapi, meski kali ini nadanya bukan menolak, melainkan mempertimbangkan serius. "Tapi kalau kita bisa cek portofolio mereka dengan teliti, mungkin ini bisa jadi solusi."
"Aku udah punya beberapa kandidat dalam pikiran," lanjut Rain, membuka laptopnya, menunjukkan daftar vendor yang sudah lama dia catat sebagai cadangan sejak awal proyek dimulai. "Aku selalu siapin plan B, kalau-kalau ada situasi kayak gini."
Kenzo menatap Rain dengan kekaguman yang tidak dia sembunyikan. "Kamu udah antisipasi ini dari awal?"
"Aku belajar dari kamu," Rain menjawab, tersenyum kecil di tengah tekanan situasi. "Selalu siapin mitigasi, kan?"
Pak Hadi, yang mendengar pertukaran itu, mengangguk puas. "Oke, kita coba pendekatan ini. Rain, Kenzo, kalian berdua yang pimpin negosiasi dengan vendor baru. Waktu kita sangat terbatas, jadi harus gerak cepat."
Dua hari berikutnya dihabiskan dengan intensitas kerja yang luar biasa. Rain dan Kenzo bergantian menghubungi kandidat vendor, menyusun ulang proposal, dan melakukan negosiasi maraton yang menguras energi. Malam-malam lembur kembali menjadi rutinitas, mengingatkan mereka pada masa-masa awal proyek dulu, sebelum semuanya berubah menjadi lebih personal di antara mereka.
"Kamu udah makan?" tanya Kenzo suatu malam, mendapati Rain masih sibuk di depan laptopnya jam sembilan malam, kantor sudah hampir kosong seluruhnya.
"Belum, keburu fokus," jawab Rain, tanpa mengalihkan pandangan dari layar.
Kenzo menghela napas, lalu tanpa banyak kata, keluar sebentar dan kembali membawa dua bungkus makanan dari restoran terdekat.
"Makan dulu," katanya, menaruh salah satu bungkus di depan Rain. "Kamu nggak bisa mikir jernih kalau perutmu kosong."
Rain tersenyum lelah, menerima makanan itu dengan penuh syukur. "Makasih, Kenzo. Beneran."
Mereka makan berdua dalam diam sejenak, menikmati sedikit waktu istirahat di tengah kesibukan yang menguras pikiran.
"Kamu khawatir?" tanya Rain, memecah keheningan.
"Sedikit," Kenzo mengakui jujur, hal yang jarang dia lakukan. "Ini proyek besar. Kalau gagal, bukan cuma reputasi kita yang taruhannya, tapi juga kepercayaan direksi ke sistem kolaborasi lintas divisi yang kita bangun."
"Kita bakal berhasil," Rain menjawab, menggenggam tangan Kenzo dengan yakin. "Kita udah lewatin banyak hal berat bareng-bareng. Ini juga akan kita lewatin."
Kenzo menatap Rain lama, merasakan ketenangan yang aneh justru muncul dari kepercayaan sederhana yang diucapkan Rain. "Kamu selalu tahu cara bikin aku lebih tenang."
"Kamu juga," balas Rain, tersenyum lembut. "Cara kamu, cuma beda. Kamu bikin aku lebih kuat, bukan cuma tenang."
Setelah negosiasi panjang dan melelahkan, akhirnya mereka berhasil menemukan vendor pengganti yang tidak hanya sesuai budget, tetapi juga menunjukkan komitmen tinggi untuk menyelesaikan proyek sesuai timeline yang ketat. Kesepakatan itu ditandatangani tepat tiga hari sebelum deadline internal yang ditetapkan Pak Hadi.
Begitu kontrak resmi ditandatangani, Rain dan Kenzo keluar dari ruang meeting dengan perasaan lega yang luar biasa, hampir tidak percaya mereka berhasil melewati krisis besar itu dalam waktu yang begitu singkat.
"Kita berhasil," kata Rain, hampir tidak percaya, tersenyum lebar penuh kelegaan.
"Kita berhasil," Kenzo mengulangi, ikut tersenyum lebar, jarang sekali dia menunjukkan ekspresi selega itu.
Tanpa berpikir panjang, Rain memeluk Kenzo erat-erat, melepaskan semua ketegangan yang menumpuk selama beberapa hari terakhir. Kenzo membalas pelukan itu, merasakan kehangatan yang menjalar dari kebersamaan mereka melewati krisis yang begitu berat.
"Aku bangga banget sama kamu," bisik Kenzo di telinga Rain. "Kamu nggak pernah berhenti mencari solusi, bahkan di saat paling sulit."
"Kita bangga sama kita," Rain membalas, tersenyum sambil melepaskan pelukan itu perlahan. "Kita berhasil ngelewatin ini bareng-bareng."
Sore itu, dengan langit yang mulai berubah warna jingga di luar jendela kantor, mereka berdua menyadari sesuatu yang lebih dalam dari sekadar keberhasilan proyek, bahwa hubungan mereka, yang dulu dimulai dari rivalitas dan kesalahpahaman, kini telah tumbuh menjadi kemitraan yang solid, baik dalam pekerjaan maupun dalam kehidupan pribadi mereka berdua.
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...