Seorang gadis tanpa bakat.
Menjadi aib bagi sebuah keluarga sihir api yang berkuasa.
Sebuah pengkhianatan yang menjatuhkannya ke jurang maut.
Tapi di kegelapan jurang, takdir memilihnya.
Kontrak dengan naga kuno mengubahnya menjadi wadah dari seluruh elemen.
Dari sampah keluarga ... menjadi ancaman bagi dunia.
Dari yang dibuang ... menjadi yang ditakuti.
Ini kisah tentang kebangkitan.
Ini kisah tentang KONTRAK NAGA.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aisy hilyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
29Penyihir Kegelapan
Eliya berdiri di lorong kuil yang gelap, menatap kedua manusia sombong yang kini membeku. Jubah sihirnya berkibar tertiup angin malam kuil kuno itu. Tanpa ia sadari, tanda mahkota elemen di pergelangan tangannya berdenyut dan memancarkan
sedikit aura sihir yang kuat yang belum pernah mereka temui sebelumnya.
"Empat elemen sihir," ucap Darian, suaranya berat dan bergema di dalam aula batu yang dingin itu.
Sepasang matanya yang tajam menatap Eliya seolah ingin menguliti rahasia terbesar yang disembunyikannya.
"Tidak. Itu lima," desis Elio setelah mengamati dengan saksama.
Ada tanda lima tanda mahkota elemen sihir di pergelangan tangan Eliya yang kini memancarkan sinar lima warna yang samar. Mendengar itu, mata besar Darian melotot semakin lebar tak percaya.
"Tapi tidak ada satu orang pun di dunia Aethervan ini yang tahu dari mana asal usulmu yang sebenarnya. Kau muncul begitu saja, menguasai kekuatan yang mustahil, dan sekarang kau menjadi buronan. Apakah kau memang terlalu kuat, Eliya? Dan bagi empat kerajaan, kau terlalu mencurigakan."
Tangan Darian mengepal, menggenggam amarah yang bergejolak sekaligus rasa takut yang diam-diam datang menyusup.
Eliya melangkah mundur satu langkah. Debu-debu tua berterbangan di bawah sepatu botnya. Di sekeliling mereka, pilar-pilar marmer yang telah retak bergetar halus, seakan ikut merasakan ketegangan yang memuncak di antara kelima menusia di sana.
Di sebelah Darian, Elio berdiri dengan jubah putihnya yang melambai ditiup angin malam yang menyelinap lewat celah jendela. Wajah pemuda itu begitu dingin, tanpa emosi, seperti patung es yang siap membekukan siapa saja.
Elio perlahan mengangkat tangan kanannya ke udara. Tatapan matanya yang tajam tertuju tepat di kedua manik Eliya. Seperti bilah pisau yang siap merenggut hidupnya.
"Demi keselamatan dan kedamaian seluruh kerajaan, aku harus mengujimu di sini dan saat ini juga," ucapnya datar.
Seketika itu juga, seberkas cahaya putih yang sangat menyilaukan muncul dari telapak tangannya. Cahaya itu begitu pekat hingga membutakan pandangan seisi ruangan.
Kael dan Rayn mengangkat tangan mereka untuk menghalau cahaya itu. Tetapi, Eliya bergeming di tempatnya.
"Memang pantas menjadi jenius penyihir cahaya," gumamnya sedikit mengagumi sihir yang dimiliki Elio.
"Tapi, rasanya belum cukup," lanjutnya lagi sembari tersenyum tenang.
"Jika kau benar-benar suci ... cahaya suci ini akan menerimamu dengan damai. Jika tidak, kau hanya akan menyisakan abu," katanya dengan penuh keyakinan.
Mereka berdua yakin bahwa Eliya hanyalah penyihir palsu yang penuh dengan kebohongan. Tak akan mungkin bertahan dari cahaya suci Elio.
"Sudah saatnya mengakhiri kebohonganmu, Penyihir Palsu. Hanya demi menaikkan reputasi kau bahkan membohongi seluruh benua. Hmmm!" cibir Darian menunggu saat-saat Eliya dihancurkan.
Elio menyerang. Gerakannya begitu cepat dan tidak main-main. Dia benar-benar ingin menghancurkan Eliya. Jenius Cahaya itu melemparkan tombak cahaya murni langsung ke arah dada Eliya dengan kecepatan yang sanggup merobek udara.
"Dia benar-benar ingin membunuh Eliya," gumam Kael cemas.
"Tenang saja. Eliya tidak selemah itu," sahut Rayn yang percaya pada Eliya. Pemuda itu tampak tenang dan tidak tersulut emosi sama sekali.
Serangan datang begitu cepat, dan Eliya tidak punya waktu untuk berpikir lambat. Insting bertahan hidupnya mengambil alih kendali sepenuhnya. Ia memejamkan mata sekilas, memanggil perpaduan dua energi dari dalam inti sihirnya.
ANGIN. PETIR!
Angin puyuh kecil berputar di bawah kaki Eliya, melontarkan tubuhnya ke udara untuk menghindar tepat saat tombak cahaya itu menghantam lantai batu tempatnya berdiri. Ledakan dahsyat terdengar, menghancurkan lantai menjadi serpihan kecil.
Pada saat yang sama, percikan petir biru menyelimuti lengan Eliya, memberikan kecepatan tambahan agar ia bisa mendarat dengan selamat di sudut aula yang lain. Napasnya keluar terengah-engah. Dada ini berdegup kencang. Elio benar-benar berniat membunuhnya.
"Tunggu! Kalian salah paham!" teriak Kael yang tiba-tiba berlari ke tengah arena.
Sihir di dalam dirinya menguar kuat, tapi matanya memancarkan kecemasan yang mendalam. Berharap kedua pemuda jenius itu berhenti menyerang Eliya.
Rayn menyusul di belakangnya, memosisikan dirinya tepat di depan Eliya sebagai tameng hidup. Api merah berkobar di setiap sela-sela jari Rayn, siap beradu dengan siapa saja yang berani melangkah maju.
"Dia menyelamatkan lima desa di kaki gunung Drakhor dan menghentikan kehancuran di sana! Bagaimana bisa kalian menuduhnya sebagai ancaman?!" seru Rayn, suaranya parau menahan amarah.
Namun, Elio dan Darian tidak goyah sedikit pun. Kombinasi kekuatan mereka berdua sebagai kesatria tertinggi dan penyihir jenius di kerajaan mereka terlalu kuat.
Darian mulai merapalkan mantra bumi. Tanah di bawah kaki Rayn dan Kael mendadak melunak, mengikat pergelangan kaki mereka dengan akar-akar batu yang keras.
Rayn mencoba membakar akar tersebut, tetapi Elio dengan cepat menembakkan bola-bola cahaya beruntun, memaksa Kael dan Rayn sibuk bertahan dan terdesak mundur.
"Sial! Mereka benar-benar ingin aku mati!" rutuk Eliya kesal.
"Tidak ada kata salah paham untuk kegelapan!" jawab Elio dengan nada suara yang meninggi, bergema memantul di dinding-dinding aula.
Matanya menatap Eliya dengan penuh kebencian dan rasa jijik yang amat sangat.
"Kegelapan?"
Kata itu terngiang-ngiang di dalam kepala Eliya. Siapa yang dimaksud kegelapan?
Eliya tertegun di tempat, menatap kedua telapak tangannya yang gemetar. Di sana, di balik kulitnya, ada sesuatu yang bergejolak hebat.
Bersamaan dengan rasa bingung yang melanda, lima tanda, simbol mahkota elemen yang terukir di pergelangan tangannya, mendadak menyala dengan pendaran yang tidak biasa.
Cahayanya bukan lagi perpaduan warna merah, biru, hijau, putih, dan kuning yang jernih, melainkan mulai diselimuti oleh aura hitam keunguan yang pekat dan dingin.
Sihir ini terasa asing, tapi terasa sangat familier di saat yang sama. Kemudian, sebuah suara bergema di dalam kepalanya. Suara yang dalam, berwibawa, dan dingin milik Zharvion, naga kuno yang bersemayam di dalam jiwanya sejak malam ritual berdarah itu.
Zharvion berbisik, memecah keputusasaanku, "Mereka takut kepadamu, Eliya. Mereka menyerangmu bukan karena kau jahat. Mereka menyerangmu karena mereka ketakutan setengah mati. Mereka takut karena mereka tidak memiliki apa yang kau punya sekarang."
Eliya mengepalkan tangan kuat-kuat. Aura kegelapan itu kini benar-benar keluar, menyelimuti tubuhnya dan memadamkan sebagian cahaya suci milik Elio.
Perlahan, ia mendongak, menatap lurus ke arah mereka yang menyebut diri mereka sebagai pembela kebenaran.
"Jika mereka menginginkan monster, maka malam ini, mereka akan melihat monster yang sebenarnya," gumam Eliya.