Indonesia
NovelToon NovelToon
Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Tersesat Ke Dalam Novel Psikopat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Transmigrasi / Sistem
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Luxw

Evelyn Noire terbangun di dalam novel thriller psikologis yang pernah ia baca. Bukan sebagai tokoh utama.

Bukan juga pemeran penting. Melainkan anggota keluarga yang ditakdirkan dibantai dengan sadis oleh seorang psikopat tak tersentuh.

Altair Varellion.

Mahasiswa sempurna di mata dunia. Tampan, cerdas, tenang.

Namun di balik senyumnya, tersembunyi monster yang mengendalikan pembunuhan berantai, perdagangan manusia, dan dendam berdarah yang diwariskan turun-temurun.

Dalam novel asli, Evelyn mati mengenaskan. Dan lebih buruknya lagi, Altair tidak pernah gagal memburu targetnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luxw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Apartemen

Rasanya Evelyn benar-benar mau nangis sekarang. Bukan karena takut doang. Tapi juga karena harga apartemen ini. Barusan tadi, dengan otak setengah panik dan setengah trauma, dia asal pilih unit paling mahal tanpa baca detail jelas.

Dan sekarang- dia baru sadar harga sewanya hampir bikin jantungnya copot.

"...anjir." Evelyn menatap angka pembayaran di layar ponselnya sekali lagi. "Segini bisa buat beli rumah di kampung gue dulu..."

Walaupun rekening Evelyn Adreena memang absurd banyaknya- tetap saja. Mental Evelyn Noire masih mental pekerja kantoran diskonan. Dan tetap sakit lihat uang keluar banyak.

Apalagi buat sesuatu yang ternyata malah bikin horor lagi.

"Salah sendiri nggak nanya..." gumamnya.

Ia mengusap wajah frustrasi. "Main pilih private floor segala..." Namun karena semuanya sudah terlanjur dibayar-

akhirnya Evelyn cuma bisa pasrah mengikuti staf apartemen yang berjalan di depannya. Lift tadi sudah tertutup. Dan sekarang mereka berada di koridor panjang yang sunyi.

Karpetnya empuk.

Lampunya hangat redup.

Interiornya elegan. Tapi justru karena terlalu sunyi...

suasananya terasa makin mencekam.

Tok.

Tok.

Suara langkah sepatu mereka menggema pelan di koridor. Evelyn tanpa sadar makin mendekat ke staf di depannya.

66

"Mas."

"Ya nona?"

"Kalau misalnya ada pembunuh masuk sini..."

ucapnya sambil mengamati sekitar.

Staf itu langsung menoleh bingung. "...maaf?"

"Maksud saya keamanan di sini bagus kan?" buru buru evelyn mengalihkan pertanyaan, yang tadi keluar spontan dari mulutnya.

"Oh tentu nona. Setiap lantai memiliki akses khusus.

Lift juga menggunakan kartu penghuni. Dan CCTV selalu aktif 24 jam." jelas staf tersebut.

Evelyn mengangguk pelan.

Lumayan. Sedikit menenangkan. Mereka melewati satu unit apartemen terlebih dahulu.

Nomor 2701.

Pintunya hitam elegan dengan desain minimalis mewah. Dan entah kenapa— Evelyn sempat meliriknya cukup lama.

Sampai akhirnya staf berhenti di unit sebelah. "Ini unit Anda, nona."

Nomor 2702.

Pintu terbuka otomatis setelah kartu akses ditempelkan.

Sebelum staf pergi, Evelyn buru-buru bertanya. "Eh bentar."

"Ya?" staf menjawab.

"Kamar sebelah..." Ia melirik ke arah unit 2701. "...ada penghuninya?"

Staf itu mengangguk sopan.

"Ada nona."

Deg.

Namun sebelum Evelyn makin panik- staf itu lanjut bicara. "Tapi beliau jarang tinggal di sini."

Napas Evelyn sedikit lega.

"Oh..."

"Mungkin hanya sesekali datang." ucap staf lagi.

Dalam hati Evelyn langsung membatin: Anjir, orang kaya level hilang kaya pasti.

Punya apartemen mewah tapi ditinggal kosong. Kalau dia sih udah disewain per jam mungkin. "Kalau begitu saya permisi dulu nona."

"Iya... makasih

Staf itu membungkuk kecil lalu pergi meninggalkan koridor. Dan sekarang... tinggal Evelyn sendirian. Sunyi lagi.

Cepat-cepat ia masuk ke dalam unit lalu mengunci pintu.

Ceklek.

Ceklek.

Ceklek.

Bahkan chain lock-nya ikut dipasang. Baru setelah itu Evelyn bersandar lemas di pintu.

"Haaa... Minimal kalau ada psikopat masuk dia butuh effort dulu." Perlahan ia mulai melihat sekeliling apartemen itu.

Dan jujur saja... tempat ini memang bagus. Sangat bagus. Interior modern mewah dengan dominasi warna hitam dan abu-abu. Jendela besar memperlihatkan pemandangan kota malam penuh lampu. Ruang tamunya luas.

Dapurnya elegan. Dan kamar tidurnya bahkan lebih nyaman dari hotel. Evelyn berjalan pelan sambil melihat-lihat isi apartemen.

"Wow... Kalau bukan karena lagi kepepet, gue pasti udah foto-foto buat flexing."

Ia kemudian membuka kulkas yang penuh minuman premium. "Ya Tuhan... Ini air doang harganya bisa buat bayar kos gue dulu."

Beberapa menit kemudian— akhirnya rasa tegangnya sedikit berkurang. Tempat ini memang sepi. Tapi setidaknya terasa lebih aman dibanding mansion tadi.

Minimal... kalau ada suara aneh, mungkin itu tetangga.

Bukan pembunuh yang lagi muter rumah. Evelyn langsung menjatuhkan tubuh ke sofa empuk ruang tamu. "Kayaknya gue bakal tidur nyenyak malam ini."

*

*

Ruangan apartemen itu sunyi. Terlalu sunyi. Evelyn yang awalnya tertidur di sofa

perlahan membuka mata karena perutnya mulai lapar. Ia mengerang pelan sambil menggeliat malas. Jam digital di dekat TV menunjukkan pukul

21.03.

"Ah... Laper."

Dengan rambut masih sedikit berantakan dan pakaian kuliah yang bahkan belum diganti sejak pagi, Evelyn bangkit dari sofa seperti mayat hidup. Matanya setengah terbuka. Otaknya masih loading.

Ia berjalan pelan menuju pintu apartemen sambil menguap lebar. "Harusnya tadi beli makanan banyak dulu..."

Ceklek.

Pintu terbuka. Koridor private floor malam itu terasa lebih dingin dari sebelumnya.

Lampu kuning redup menerangi lorong panjang yang sepi. Tidak ada suara. Tidak ada orang.

Hanya suara AC gedung yang samar terdengar dari kejauhan.

Evelyn mengucek matanya malas sambil melihat sekitar.

Dan saat itulah- tatapannya berhenti pada unit 2701.

Pintunya sedikit terbuka.

Deg.

Rasa kantuk Evelyn langsung berkurang sedikit. "...

loh?" Celah pintu hitam itu terbuka kecil. Gelap terlihat dari dalam. Evelyn memiringkan kepala.

"Dia pulang?" Alih-alih mengabaikannya seperti orang normal- rasa penasaran Evelyn malah muncul. Mungkin karena sejak tadi ia kepikiran soal penghuni apartemen sebelah.

Atau mungkin karena manusia memang suka cari masalah. Dengan langkah pelan ia mendekat. "Ya kali aja kenalan..."

gumamnya kecil. Ia mengintip dari balik celah pintu.

Gelap. Tidak ada suara sama sekali.

"Permisi?"

Tok.

Tok.

Evelyn mengetuk pelan.

Tetap tidak ada jawaban. Ia mengetuk lagi sedikit lebih keras.

"Hello...?"

Hening. Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Bulu kuduk Evelyn mulai berdiri perlahan.

"Oke... creepy." Karena tidak ingin terlihat seperti maling, Evelyn buru-buru mundur. Namun tepat saat berbalik- kakinya tersandung ujung karpet koridor.

"Eh-"

BRAK!

Tubuh Evelyn menghantam pintu unit 2701 cukup keras hingga pintu itu terbuka lebar.

"Aduhh-"

Evelyn meringis sambil memegangi lututnya. "Dengkul gue..."

Ia mencoba bangkit perlahan. Namun— saat pandangannya terangkat ke dalam ruangan- napasnya langsung tercekat. Gelap. Ruangan itu sangat gelap.

Namun samar-samar... ada sesuatu tergantung di tengah ruangan.

Tubuh manusia?

Dan...

terbalik.

Deg.

Mata Evelyn langsung membesar. Tubuhnya membeku di tempat. Bayangan itu diam menggantung. Rambut panjang menjuntai ke bawah. Siluet tubuhnya tidak bergerak sedikit pun. Otak Evelyn langsung kosong.

"Anjirr..." Ia mundur satu langkah. Tenggorokannya tercekat. Dan tepat saat ia hendak menjerit-

BUK.

Sebuah tangan besar tiba-tiba membekap mulutnya dari belakang.

"Mmph-!!"

Tubuh Evelyn langsung menegang. Seseorang menariknya kasar ke belakang.

Punggungnya menghantam dada bidang seseorang. Dan suara rendah itu terdengar tepat di telinganya. "Berani sekali masuk ruangan orang lain tanpa izin... hm?"

Bisikan itu tenang. Terlalu tenang. Namun justru itu yang membuat seluruh tubuh Evelyn merinding hebat. Napas pria itu terasa dekat di lehernya.

Tangannya besar. Kuat.

Membungkam mulut Evelyn tanpa kesulitan.

Evelyn panik. Tangannya langsung berusaha mencakar dan melepaskan bekapan itu.

Namun pria itu tidak bergeming sedikit pun. Seolah sudah biasa menghadapi orang yang Air mata mulai menggenang

di mata Evelyn karena takut.

meronta.

Dan tanpa pikir panjang- ia langsung menggigit telapak tangan pria itu sekuat tenaga.

"Shit-" Pria itu mendesis pelan dan refleks melepas bekapannya.

Evelyn langsung mencoba kabur. Namun baru dua langkah

JREK.

Rambutnya ditarik kasar dari belakang.

"ΑΚΗ!"

Tubuh Evelyn jatuh keras ke lantai. Lututnya menghantam lantai dingin. Rasa sakit langsung menjalar. Belum sempat bangkit- pria itu sudah mencengkeram lengannya kuat.

Tanpa belas kasihan.

"Lepasin-!" Suara Evelyn bergetar panik. Namun pria itu hanya diam. Gelap membuat wajahnya tidak terlihat jelas. Yang terlihat hanya siluet tubuh tinggi dan aura mengerikan yang memenuhi ruangan.

Dengan kasar pria itu menyeret tubuh Evelyn masuk lebih dalam ke apartemen gelap itu. Pintu perlahan tertutup di belakang mereka.

Ceklek.

Suara kunci terdengar pelan. Dan saat mata Evelyn mulai menyesuaikan diri dengan gelap- ia menyadari sesuatu.

Bayangan yang tadi tergantung adalah-

"ΑΚΗΗΗΗΗ!"

*

*

*

Evelyn langsung terbangun sambil berteriak keras.

Tubuhnya terangkat dari sofa

dengan napas memburu. Keringat dingin bercucuran di wajah dan lehernya. Dadanya naik turun cepat. Tangannya gemetar Ruangan apartemen kembali normal Lampu kota masih menyala dari luar jendela. TV mati. Tidak ada ruangan gelap. Tidak ada mayat tergantung. Tidak ada pria menyeramkan. Hanya dirinya sendiri di sofa.

"...mimpi?" Suaranya lirih.

Evelyn langsung memegang dadanya yang masih berdegup kacau.

"Anjir..."

"ANJIR."

Ia buru-buru melihat sekitar panik, melihat ke arah jam yang menunjukkan pukul 21.03. Lalu refleks menoleh ke arah pintu apartemen. Masih terkunci. Aman. Ia mengusap wajahnya kasar sambil mencoba bernapas normal. "Kenapa nyata banget..." Bahkan lututnya masih terasa ngilu. Dan tepat saat Evelyn mulai sedikit tenang

____

1
Shela Pereira
😍😍😭😍😭😭👍💪
Luxw: trimakasih kabsudah menyempatkan waktu untuk mendukung karya kami🙏😄
total 1 replies
Shela Pereira
selalu ada bagian yang terulan teruuuus kadang sampai tiga kali sama 2 kakiiii
Luxw: Terima kasih banyak sudah membaca novel ini. Kami minta maaf karena cerita dalam novel ini banyak pengulangan cerita, Hal itu terjadi karena ada masalah teknis pada perangkat atau laptop yang kami pakai saat menulis.
total 1 replies
Shela Pereira
kaaak tolong cerita nya jangan di ulangggg terrrrus


curang tauuu😒😒
Luxw: Hai ka! Terima kasih banyak atas masukannya yang luar biasa. Komentar kamu tentang cerita yang berulang sangat membantu kami melihat kekurangan yang ada untuk segera diperbaiki. Kami sangat berterima kasih atas pembaca seperti kamu yang peduli pada perkembangan cerita kami."
total 1 replies
Shela Pereira
kenapa kata² nya ulang²😒
Luxw: maaf ka, kami akan segera memperbaiki kesalahan kami agar kaka bisa lanjut menikmati karya kami dengan nyaman🙏
total 1 replies
Nana Nana
cerita baru
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!