Indonesia
NovelToon NovelToon
Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Menaklukkan Hati Pangeran Antagonis

Status: sedang berlangsung
Genre:Komedi / Romansa Fantasi / Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:976
Nilai: 5
Nama Author: Kak_Hans

SINOPSIS

Mati di tangan Antagonis yang kejam? Itu urusan belakangan. Tapi hidup miskin dan banyak utang? Itu penistaan bagi jiwa kapitalis Aura!

Bertransmigrasi ke dalam tubuh Elara—seorang figuran pelayan istana lusuh yang ditakdirkan mati di Bab 10—Aura menolak menyerah pada takdir novel klise. Berbekal insting bisnis tingkat dewa dan satu koin emas pusaka curian, ia nekat menerobos masuk ke ruang kerja Pangeran Caden, sang Antagonis utama yang dingin, sadis, dan luar biasa kaya. Bukannya mengemis nyawa, Elara justru memeras sang pangeran dan menawarinya proposal investasi saham!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kak_Hans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Negosiasi Bar-bar yang Merusak Alur Novel

Ruang kerja Pangeran Caden besarnya hampir menyamai lapangan futsal. Dindingnya berwarna hitam matte, dihiasi layar-layar raksasa yang menampilkan pergerakan saham, nilai tukar mata uang, dan rute perdagangan kekaisaran real-time.

Tidak ada sentuhan romantis atau feminin sedikit pun di ruangan ini. Murni tempat mencetak uang. Aura merasa seperti kembali ke habitat aslinya.

Caden berjalan melewati Aura, duduk di kursi kebesarannya yang terbuat dari kulit naga hitam, lalu menyilangkan kakinya.

"Duduk," perintahnya.

Aura langsung menjatuhkan dirinya di sofa tamu berbahan beludru, meresapi keempukannya.

Gila, empuk banget. Beda jauh sama kasur asrama yang isinya jerami sama kutu busuk, batinnya.

"Serahkan koin itu," ucap Caden sambil mengulurkan tangannya yang besar dan dihiasi cincin signet emas putih.

Aura tidak menyerahkannya, melainkan meletakkannya di atas meja kaca di antara mereka lalu menahannya dengan jari telunjuknya.

"Kita cek harga pasar dulu, Yang Mulia," kata Aura tersenyum manis, tapi matanya berhitung liar. "Benda bersejarah dari era Dinasti Pertama, kondisi mint, tidak ada cacat. Apalagi ini koin kunci pusaka—eh, maksud saya, koin langka. Berapa Anda mau bayar?"

Caden mendengus. Gadis ini bahkan tidak repot-repot menggunakan tata krama kerajaan di ruang tertutup ini.

"Sepuluh ribu koin emas," jawab Caden datar.

"Sepuluh ribu?" Aura langsung tertawa lepas, suara tawanya menggema di ruangan besar itu. Ia mengambil koinnya kembali dan berdiri. "Maaf, Yang Mulia. Saya kira Anda Menteri Keuangan yang visioner, ternyata Anda cuma tengkulak pelit. Lucas, tolong bukakan pintunya, saya mau cari taksi ke Fraksi Selatan."

"Duduk, pelayan kurang ajar," desis Caden, matanya berkilat marah, tapi tangannya memberi isyarat agar Lucas menutup pintu rapat-rapat. "Dua puluh ribu. Itu harga paling masuk akal untuk barang yang kemungkinan besar hasil curian."

"Tiga puluh ribu," balas Aura, kembali duduk dengan santai. "Dan ini bukan curian, ini penemuan tidak sengaja. Harta karun alam, jadi 100% hak milik saya berdasarkan hukum penemuan lahan publik pasal 4."

Lucas mengerutkan kening. "Sejak kapan ada pasal seperti itu di hukum kekaisaran?!"

"Sejak saya yang ngomong," sahut Aura asal. "Tiga puluh ribu koin emas, Pangeran. Uang tunai masuk ke rekening bank atas nama Elara hari ini juga."

Caden menatap gadis di depannya lekat-lekat. "Kau sangat mencintai uang rupanya, Elara. Tiga puluh ribu koin emas bisa membuatmu hidup mewah sampai mati. Tapi kau pikir kau bisa keluar dari istana ini hidup-hidup setelah memeras seorang Pangeran?"

Caden mencondongkan tubuhnya ke depan. Jarak mereka kini menipis. Aroma mint dan cologne mahal menguar kuat, membuat dada kebanyakan wanita akan berdebar kencang. Wajah tampan pangeran antagonis itu benar-benar mahakarya yang bisa membuat siapa saja bertekuk lutut.

Tapi yang ada di pikiran Aura saat ini hanyalah: Kalau gue berhasil dapet 30.000 emas, dipotong utang 5.000 perak, gue masih punya sisa modal investasi yang sangat masif!

"Yang Mulia," Aura ikut mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap langsung ke mata perak itu tanpa berkedip. "Saya tidak memeras. Saya menawarkan partnership. Tiga puluh ribu itu memang untuk saya, tapi saya tidak akan membawanya kabur. Saya ingin Anda yang mengelolanya."

Kening Caden berkerut. Ketertarikannya semakin kuat. "Kau menggadaikan koin berhargamu padaku, memeras uangku, lalu menyerahkan uang itu kembali padaku untuk dikelola? Otakmu tertinggal di asrama pelayan?"

"Bukan dikelola secara pasif. Saya mau investasi saham pakai platform Anda," jelas Aura. Ia berdiri, berjalan ke arah layar raksasa di belakang meja Caden, menunjuk sebuah grafik merah yang sedang terjun bebas.

"Perusahaan Perdagangan Maritim Wilmer. Saham mereka hancur hari ini karena rumor bajak laut Laut Merah menyerang armada utama mereka."

"Lalu?" Caden memutar kursinya untuk melihat apa yang ditunjuk gadis itu. "Itu fakta. Bukan rumor. Kapal mereka hancur. Perusahaan itu akan bangkrut dalam dua minggu."

"Itu karena Anda tidak melihat laporan iklim," Aura menyeringai, mengetuk layar kaca itu. "Tiga hari lagi, badai topan Kategori 5 akan menyapu seluruh Teluk Timur, jalur pelayaran utama pesaing Wilmer. Semua kapal kargo lawan akan tertahan di pelabuhan selama berbulan-bulan. Sementara itu, armada cadangan Wilmer sudah bersiap di jalur selatan yang aman dari badai. Dalam seminggu, Wilmer akan memonopoli 100% jalur perdagangan logistik."

Ruangan itu mendadak sunyi senyap. Hanya terdengar dengungan mesin server hologram.

Caden berdiri secara perlahan. Tinggi badannya yang menjulang membuat Aura harus mendongak, tapi gadis itu tetap menatapnya menantang.

"Informasi intelijen iklim itu hanya diketahui oleh Dewan Militer Tertinggi," bisik Caden, suaranya sangat rendah dan berbahaya, matanya menelusuri wajah Aura mencari kebohongan. "Dari mana seorang pelayan kebersihan sepertimu mendapatkan informasi rahasia tingkat tinggi ini?"

Dari novel bab 12, Pangeran ganteng, batin Aura, tapi ia tersenyum penuh rahasia. "Insting bisnis perempuan, Yang Mulia. Terkadang insting kami lebih tajam dari radar militer Anda."

Caden menatap Aura lekat-lekat. Gadis ini gila. Sangat gila. Berani, mata duitan, kasar, namun memiliki pemikiran taktis yang membuatnya takjub. Di dunia di mana semua wanita di istana hanya sibuk berdandan dan mencari perhatian pria (seperti Mia si protagonis wanita), pelayan di depannya ini murni hanya melihat angka dan peluang.

Anehnya, jantung Caden yang biasanya sedingin es, berdegup lebih cepat. Bukan karena romansa, melainkan euforia menemukan lawan sepadan yang sama-sama tergila-gila pada keuntungan.

"Beli saham Wilmer di harga terendah hari ini dengan tiga puluh ribu emas milikku," kata Aura mantap. "Kalau saya salah, ambil koin ini, potong kepala saya, jadikan pajangan dinding. Tapi kalau saya benar, keuntungan 500% itu milik saya, dan Anda harus mengangkat saya jadi asisten pribadi departemen keuangan Anda. Saya butuh akses ke bursa saham kekaisaran setiap saat."

Caden tersenyum lebar. Senyum yang benar-benar lepas dan tulus, membuat wajah antagonisnya terlihat begitu mempesona hingga menyilaukan mata.

"Kau benar-benar tidak takut mati demi uang, Elara."

"Mati itu pasti, Yang Mulia. Miskin itu pilihan. Dan saya memilih kaya raya," jawab Aura lantang.

Caden mengulurkan tangannya yang besar ke arah Aura. "Deal. Mari kita lihat apakah kau akan menjadi asisten keuanganku, atau menjadi hiasan baru di dinding ruanganku, Gadis Serakah."

Aura meraih tangan besar itu dan menjabatnya dengan erat. "Siap-siap dapet asisten baru, Bos."

Di balik kacamata tebalnya, Lucas hanya bisa berdoa untuk kewarasan Pangeran Caden. Alur takdir istana ini baru saja diubah paksa oleh seorang pelayan yang kelebihan hormon kapitalis.

1
Nathalia
hama pirang gak tuh🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!