Indonesia
NovelToon NovelToon
Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Naga Tersembunyi Di Kota Metropolitan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Dikelilingi wanita cantik / Epik Petualangan
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Raka Wijaya, mantan komandan unit rahasia Garuda Hitam, dinyatakan tewas dalam misi yang sebenarnya adalah pengkhianatan dari dalam. Untuk melindungi orang-orang yang ia cintai, ia memilih hidup dalam bayang-bayang: menyamar sebagai sopir pribadi yang lemah dan tak berdaya di keluarga mertuanya sendiri — keluarga konglomerat Wijayakusuma yang meremehkannya habis-habisan. Tapi kota metropolitan penuh intrik, dan masa lalunya tidak akan tinggal diam selamanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 — Kebenaran di Hadapan Semua

"Kebenaran macam apa yang kau maksud, Raka?" tanya Wirawan, masih berdiri tenang, meski matanya kini menyimpan kewaspadaan yang lebih tajam dari sebelumnya.

Raka melangkah lebih jauh ke tengah ruangan, menatap notaris dan kedua pengacara yang masih membeku di kursi mereka. "Bahwa kontrak yang akan Anda tandatangani hari ini, Pak," katanya, menatap langsung ke notaris, "mengandung klausul tersembunyi di halaman empat puluh tujuh yang memindahkan kendali penuh pusat data keamanan negara ke jaringan perusahaan cangkang milik pria yang secara resmi sudah dinyatakan meninggal lima tahun lalu."

Notaris itu menatap dokumen di depannya dengan wajah pucat, tangannya bergerak gelisah membuka halaman yang dimaksud.

"Ini tuduhan serius tanpa dasar," Setiawan mencoba menyela, suaranya mulai kehilangan ketenangan yang biasa ia jaga sempurna.

"Bukan tanpa dasar," jawab Raka, mengeluarkan sebuah tablet kecil dari saku dalamnya, menampilkan sebagian dokumen yang mereka temukan di Cendana dan gudang pinggiran kota. "Struktur kepemilikan cangkang, aliran dana ke Kusnandar Legacy Holdings, daftar operator lapangan di setidaknya empat kota berbeda. Semuanya sudah berada di tangan pihak yang berwenang, Pak Setiawan."

Tepat di detik itu, ponsel salah satu pengacara Andratama berbunyi, disusul ponsel notaris, lalu ponsel Setiawan sendiri — hampir bersamaan, seperti gelombang yang tak bisa dihentikan.

"Raka," suara Wulan masuk lewat earpiece, penuh kelegaan yang tak tersembunyikan. "Artikel Alya baru terbit lima menit lalu di platform nasional. Judulnya langsung menyebut nama Cendana, Andratama, dan indikasi keterlibatan mantan perwira tinggi yang secara resmi sudah meninggal. Dan ini — regulator pasar modal baru mengeluarkan pengumuman resmi, menunda sementara seluruh proses merger Andratama-Wijayakusuma untuk investigasi lebih lanjut."

Salah satu pengacara Andratama menatap layar ponselnya dengan wajah horor, membalik layar itu ke arah rekannya tanpa berkata apa-apa, cukup untuk membuat notaris menutup dokumen di depannya perlahan.

"Saya tidak akan melanjutkan proses penandatanganan ini," kata notaris itu akhirnya, suaranya gugup tapi tegas, "sampai ada kejelasan hukum penuh soal apa yang baru saja diumumkan regulator."

Wirawan menatap ke sekeliling ruangan, menyadari untuk pertama kalinya dalam lima tahun bahwa kendali yang selama ini ia bangun dengan hati-hati, mulai runtuh di depan matanya sendiri dalam hitungan menit.

"Kalian pikir selembar artikel dan pengumuman sementara bisa menghentikan sesuatu yang sudah aku bangun selama lima tahun?" katanya, suaranya mengeras, topeng ketenangannya mulai retak sepenuhnya.

"Tidak," jawab Ridwan, berdiri dari kursinya, menatap mantan rekan seangkatannya dengan campuran kekecewaan dan tekad. "Tapi itu cukup untuk memulai proses yang akhirnya akan menghentikanmu, Wirawan. Cepat atau lambat."

Setiawan, menyadari situasi yang sudah tidak lagi bisa diselamatkan dengan kata-kata, mengambil keputusan terburu-buru — tangannya bergerak cepat menarik senjata dari balik jasnya, mengarahkannya langsung ke Handoko yang duduk paling dekat dengannya.

"Tidak ada yang bergerak," teriaknya, suaranya panik menutupi ketakutan yang selama ini tersembunyi rapi di balik kesuksesannya.

Raka bergerak lebih cepat dari yang bisa diantisipasi siapa pun di ruangan itu — satu lompatan, satu cengkeraman di pergelangan tangan Setiawan, memutar senjata itu menjauh dari Handoko tepat sebelum jari Setiawan sempat menarik pelatuk. Bara sudah bergerak dari sisi lain, melumpuhkan Setiawan sepenuhnya dalam hitungan detik, membanting tubuhnya ke lantai dengan tangan terkunci di belakang punggung.

Ruangan itu hening sepenuhnya, hanya suara napas berat Setiawan yang tertahan di lantai dan detak jantung semua orang yang baru menyaksikan betapa dekat tragedi itu hampir terjadi.

Raka menatap ke arah Wirawan, yang kini berdiri sendirian, kehilangan satu-satu orang yang selama ini menjadi tangan kanannya. "Ini berakhir di sini, Pak."

Tapi Wirawan hanya tersenyum tipis, dingin, melangkah mundur perlahan ke arah pintu belakang ruangan yang jarang diperhatikan siapa pun. "Ini baru permulaan, Naga Hitam. Kau hanya baru menyentuh satu simpul kecil dari jaringan yang sudah tersebar jauh lebih luas dari yang bisa kau bayangkan." Ia membuka pintu itu, mengungkapkan tangga darurat pribadi yang hanya diketahui segelintir orang di gedung itu. "Selamat, kau memenangkan pertempuran hari ini. Tapi perang ini, jauh dari selesai."

Raka bergerak untuk mengejarnya, tapi suara Ridwan menahannya. "Biarkan dia, Raka. Kita sudah menang cukup untuk hari ini. Mengejarnya sekarang, dengan begitu banyak saksi dan situasi yang belum stabil, hanya akan membuka risiko baru yang tidak perlu."

Raka berhenti di ambang pintu, menyaksikan sosok Wirawan menghilang menuruni tangga darurat itu, rasa frustrasi bercampur dengan kesadaran bahwa Ridwan benar — hari ini bukan hari untuk menyelesaikan segalanya, hanya hari untuk memenangkan satu pertempuran penting dalam perang yang jauh lebih besar.

Beberapa jam kemudian, di rumah Ridwan Ananta, keluarga Wijayakusuma berkumpul kembali dalam keadaan aman, Handoko menceritakan seluruh kejadian dengan tangan yang masih sedikit gemetar, tapi matanya menatap Raka dengan penghormatan yang tak pernah ada sebelumnya.

"Aku berhutang nyawa padamu, Raka," katanya, suaranya tulus untuk pertama kalinya sejak tiga tahun mereka mengenal satu sama lain. "Dan permintaan maaf yang jauh lebih besar dari yang bisa aku ucapkan, untuk semua cara aku memperlakukanmu selama ini."

"Yang penting sekarang, keluarga ini aman," jawab Raka sederhana, menggenggam tangan Cinta yang duduk di sampingnya.

Reza berdiri di sudut ruangan, masih menyimpan rasa bersalah yang belum sepenuhnya hilang, tapi kali ini Handoko sendiri yang berjalan mendekatinya, menepuk bahunya. "Kau juga bagian dari keluarga ini, Reza. Kesalahan bisa diperbaiki, selama kau bersedia berubah mulai sekarang."

Sementara itu, di kota, artikel Alya terus menyebar cepat, memicu gelombang perhatian publik dan tekanan politik yang memaksa penyelidikan resmi bergerak lebih cepat dari yang pernah diperkirakan siapa pun. Satya memimpin langsung tim gabungan yang mulai membongkar jaringan Wirawan lapis demi lapis, meski sosok utamanya sendiri berhasil menghilang tanpa jejak sejak sore itu.

Dimas Prakoso, dengan bantuan Wulan, berhasil keluar dari Cendana dengan aman sebelum penyelidikan resmi menyentuh namanya secara langsung, memulai pekerjaan baru di tempat yang jauh lebih tenang dari yang pernah ia bayangkan sebelumnya.

Malam itu, di kamar sempit yang selama tiga tahun menjadi tempat persembunyian Raka, ia berdiri bersama Cinta, Bara, dan Wulan, menatap kota yang masih berkedip tanpa henti di kejauhan.

"Setiawan sudah ditangkap. Wirawan menghilang," gumam Bara, menyandarkan diri ke jendela. "Kita menang, tapi tidak sepenuhnya."

"Belum sepenuhnya," Raka mengoreksi, menatap jauh ke arah cakrawala kota yang menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang pernah mereka bayangkan saat semua ini dimulai hanya sebagai usaha melindungi satu keluarga kecil. "Tapi untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak lagi bersembunyi. Dan itu artinya, kalau pun perang ini belum selesai, setidaknya sekarang kita menghadapinya bersama, secara terbuka."

1
Eka P
c
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!