Alea hidup dalam realitas kemiskinan mulai dari tagihan listrik dan kontrakan yang menunggak memaksanya berjuang keras banting tulang demi memenuhi kebutuhannya sendri.
Di sisi lain, Arka Adiwangsa hidup dalam kemewahan namun dibayangi darah, pengkhianatan, dan rahasia gelap keluarganya.
Hingga pertemuan tak terduga di tepi jembatan malam itu menjadi titik balik yang mengubah segalanya.
Dua dunia yang bertolak belakang pun berbenturan: Alea perlahan terseret ke dalam pusaran bahaya dunia mafia, sementara logika absurd gadis itu tanpa sadar menundukkan sisi gelap di dalam diri Arka.
Ketika nyawa dan uang receh dipertaruhkan di meja yang sama, akankah sang pewaris takhta akhirnya luluh dan menaklukkan hati Alea? Atau justru mereka harus kembali melangkah di jalan masing-masing?
Kisah mereka lebih dari sekadar pertemuan dua dunia yang tak seharusnya bersentuhan. Penasaran? Langsung baca saja ya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon riniasyifa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Aroma maskulin dari material kulit asli yang membalut jok mobil, berpadu dengan embusan pendingin udara yang sejuk menusuk tulang, nyaris membuat Alea membeku.
Ia duduk meringkuk di kursi penumpang depan, memejamkan mata sambil mendekap erat kotak croissant mentega di dadanya seolah benda itu adalah harta karun paling berharga di dunia.
Di kursi kemudi, Arka menyetir hanya dengan satu tangan. Wajah datarnya yang tenang membelah jalanan malam yang mulai lengang.
Cahaya lampu jalanan berwarna jingga berpendar menembus kaca jendela yang dilapisi kaca film gelap, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang melintasi wajah tegas Arka.
Suasana di dalam kabin SUV hitam pekat bernilai miliaran rupiah itu begitu damai, sebuah kemewahan yang sangat jarang bisa dinikmati Alea.
Namun kedamaian itu tak bertahan lama, sampai suara decitan ban yang beradu dengan aspal memekakkan telinga, merobek keheningan malam secara brutal.
Dua buah mobil van hitam dengan pelat nomor yang ditutupi lumpur mendadak melesat keluar dari persimpangan gang gelap, memotong laju mereka dari arah berlawanan dan memblokir jalan raya yang sepi.
Arka bereaksi dengan kecepatan yang tidak manusiawi. Kaki kanannya menginjak pedal rem dalam-dalam, sementara tangannya mencengkeram kemudi, menstabilkan bobot raksasa baja tersebut. SUV mewah itu berhenti dengan sentakan keras, bemper depannya hanya berjarak beberapa sentimeter dari badan van kusam di hadapannya.
Alea nyaris terpental ke dasbor jika bukan karena sabuk pengaman yang menahannya, membuat napasnya tertahan sesaat.
Insting pembunuh Arka langsung menyala, dingin dan mematikan.
Dari balik pintu geser van yang terbuka kasar, turun delapan orang pria berwajah beringas. Mereka mengenakan jaket kulit lusuh dan sepatu bot usang, masing-masing menggenggam tongkat bisbol kayu, rantai bergerigi, dan pipa besi tebal.
Di antara gerombolan itu, berdiri sedikit ke belakang, tampak wajah familiar, preman tengik yang tangannya dipatahkan tanpa ampun oleh Arka di kafe beberapa jam yang lalu.
Pria itu menunjuk ke arah SUV Arka dengan tangannya yang masih utuh, matanya menyiratkan dendam kesumat.
Hawa membunuh di dalam kabin seketika menebal, membuat suhu AC terasa jauh lebih beku dari sebelumnya. Arka mematikan mesin mobil dalam keheningan yang mencekam. Tangan kanannya dengan tenang merayap ke balik jaket mahalnya, menyentuh gagang logam dingin dari pistol kaliber 9mm yang selalu bersarang di sarungnya.
"Tetaplah di sini. Jangan keluar, apa pun yang terjadi," perintah Arka dengan suara sedingin es. Tidak ada kepanikan dalam nadanya, hanya antisipasi dari seorang predator yang bersiap melakukan pembantaian.
Namun, sebelum jari Arka sempat menarik senjatanya dan sebelum tangannya menyentuh tuas pintu, bunyi klik keras memecah fokusnya. Alea sudah lebih dulu menekan tombol sabuk pengamannya.
Arka menoleh, menduga akan melihat wajah pucat pasi yang berlinang air mata ketakutan. Sebaliknya, wajah gadis berantakan itu sama sekali tidak memancarkan ketakutan.
Rahangnya mengeras, alisnya bertaut tajam, dan matanya memancarkan amarah membara, bukan amarah seorang jagoan, melainkan murka murni dari seorang pekerja keras kelas bawah yang jam tidurnya dirampas paksa.
"Heh! Lo pikir ini lagi syuting film action?!" sembur Alea tiba-tiba, menahan lengan Arka dengan cengkeraman yang mengejutkan kuatnya untuk ukuran gadis sekecil itu.
"Mobil ini harganya miliaran! Kalau pelat bodinya penyok digedor pakai pipa besi gara-gara mereka makin ngamuk, lo mau potong gaji gue seumur hidup buat bayar asuransinya?! No no ya. Mending gue sendiri yang urus tuh cecunguk kurang kerjaan!"
Tanpa menunggu persetujuan atau balasan dari Arka yang masih tertegun. Ia melangkah keluar ke jalanan aspal yang lembap, tak lupa meletakkan kotak rotinya dengan sangat hati-hati di atas jok kulit.
Arka terpaku di kursinya, urung menarik senjatanya. Otaknya yang terbiasa memproses ancaman taktis dalam hitungan milidetik kini mengalami korsleting ringan. Ia hanya bisa menatap punggung gadis mungil berkemeja itu yang kini berjalan menantang delapan preman bersenjata.
"Wah, wah, besar juga nyali lo gadis manis," seringai pemimpin preman itu, seorang pria dengan tato naga menjalar di lehernya. Ia memukul-mukulkan tongkat bisbol ke telapak tangannya sendiri.
"Sini, Neng, serahin cowok belagu di dalem mobil itu ke kita, dan lo bisa pulang dengan—"
BUGH!
Kata-kata preman itu putus seketika di tenggorokannya. Tanpa memberikan aba-aba, tanpa kuda-kuda bersiap, dan tanpa membuang waktu dengan obrolan kosong, Alea melesat dengan kecepatan mengerikan. Ia menggunakan kap depan SUV sebagai pijakan, melompat ke udara, dan kaki kanannya melayang membentuk busur mematikan.
Tendangan memutar itu mendarat tepat dengan presisi bedah di rahang sang pemimpin.
Terdengar bunyi gemeretak tulang yang memuakkan. Tubuh besar pria bertato itu terpelanting ke belakang, menghantam aspal dengan dentuman keras, dan matanya langsung tergulung ke atas. Pingsan seketika sebelum otaknya sempat mendaftar rasa sakit.
Malam itu mendadak sunyi. Angin pun seolah berhenti berembus. Ketujuh preman yang tersisa membeku di tempat, mulut mereka setengah terbuka. Di dalam mobil, rahang Arka sedikit mengeras, matanya melebar tak percaya melihat kecepatan refleks gadis itu.
"Maju lo semua!" teriak Alea garang, suaranya serak dan penuh emosi sambil menggulung lengan kemejanya yang kusut hingga sebatas siku.
"Lo tahu nggak? Gue udah berdiri delapan jam! Nyapu, ngepel, ngelayanin customer rewel yang minta latte art bentuk angsa, dan sekarang kalian mau motong jam tidur gue juga?! Kalian pikir bayar koyo pereda nyeri otot di apotek gratis?!"
Provokasi itu menyadarkan para preman. "Habisi cewek gila itu!" raung salah satu dari mereka.
Dua preman bertubuh gempal maju bersamaan, mengayunkan pipa besi dan rantai dari sisi kiri dan kanan. Dengan kelenturan dan refleks yang hanya dimiliki petarung jalanan level atas, Alea merunduk mulus di bawah tebasan pertama.
Angin dari ayunan pipa itu mengibarkan anak rambutnya. Tanpa membuang momentum, ia mencengkeram pergelangan tangan si penyerang pertama, memelintirnya ke belakang dengan kuncian mematikan hingga terdengar pekikan tertahan, lalu menggunakan tubuh besar pria itu sebagai tameng untuk menahan pukulan rantai dari preman kedua.
BAM!
Rantai itu menghantam punggung temannya sendiri. Di tengah kebingungan mereka, Alea menendang lutut preman pertama hingga roboh, merebut pipa besi yang terlepas dari cengkeramannya.
Gadis itu memutar pipa logam seberat tiga kilogram itu di tangannya seolah itu hanyalah tongkat mainan, lalu dengan keahlian luar biasa, menghantamkannya ke tulang kering penyerang ketiga yang mencoba menyergap dari belakang.
Pria ketiga itu menjerit histeris, berlutut kesakitan, dan langsung disambut dengan hantaman lutut Alea yang melayang tepat bersarang di wajahnya. Darah menyembur dari hidungnya sebelum ia tumbang.
Alea bergerak bagai penari jalanan yang efisien dan brutal. Tidak ada gerakan indah khas bela diri tradisional; setiap serangannya adalah titik vital dan efektif. Ini bukanlah hasil dari ikut latihan dojo yang mahal, melainkan insting bertahan hidup yang ditempa dari kerasnya kehidupan jalanan ibu kota sedari ia kecil.
"Nih buat bensin V-Power yang kebuang sia-sia gara-gara kalian!"
Brak!
Pipa besinya bersarang di tulang rusuk preman keempat.
"Nih buat ancaman potong gaji gue dari bos kafe yang pelitnya kebangetan!"
Bugh!
Satu tendangan tumit bersarang di dada preman kelima hingga terlempar menabrak pintu van.
"Dan ini... karena muka jelek kalian merusak rencana tidur nyenyak gue malam ini!"
Duakh!
Hantaman terakhir mendarat telak di dagu preman keenam.
Hanya dalam waktu kurang dari tiga menit, tujuh pria bertubuh besar terkapar mengerang, meringkuk memegangi perut, lutut, dan wajah mereka di atas aspal dingin. Darah dan erangan kesakitan menghiasi jalanan yang kini menyerupai zona perang kecil.
Kini, hanya tersisa satu preman berdiri gemetar, pria malang yang tangannya sudah dipatahkan di kafe tadi. Pria itu melangkah mundur perlahan, matanya melotot ngeri menatap Alea.
Genangan air kekuningan mulai merembes di celana jinsnya. Ia menatap gadis pelayan itu seolah sedang berhadapan dengan iblis pencabut nyawa sesungguhnya yang menyamar sebagai gadis pelayan.
"Cepat pinggirin tuh van rongsokan kalian dari jalanan gue sekarang, atau gue jadiin tangan lo yang satu lagi adonan bakwan buat sarapan besok pagi!" desis Alea tajam, memutar lehernya hingga terdengar bunyi retakan kecil yang melegakan.
Tanpa perlu diulangi, preman itu menjerit panik, lari terbirit-birit masuk ke ruang kemudi van, menghidupkan mesin dengan susah payah, dan menggas mobilnya mundur hingga menabrak trotoar sekadar untuk memberi jalan bagi SUV tersebut.
Alea membuang pipa besi yang penyok di tangannya hingga bergemerincing di aspal. Ia menepuk-nepuk debu di kemejanya, merapikan rambutnya yang berantakan, lalu berjalan santai membuka pintu mobil dan kembali masuk ke dalam SUV.
Begitu pintu ditutup, kekejaman di matanya lenyap tanpa sisa. Ia duduk manis, kembali memangku kotak croissant-nya, seolah tidak terjadi apa-apa. Ia menoleh ke sisi kanan, mendapati Arka masih menatapnya dengan raut wajah tercengang yang sangat langka terjadi sepanjang sejarah.
"Apa lo lihat-lihat?" rutuk Alea, napasnya sedikit memburu.
"Udah, gak usah sok bingung gitu ngelihatin gue. Gue ini yatim piatu yang besar di jalanan. Kalau gue nggak bisa bela diri, ginjal gue udah dipanen dan dijual ke pasar gelap dari umur sepuluh tahun. Udah ah, buruan jalan! Tubuh gue butuh istirahat!"
Untuk kesekian kalinya dalam dua malam terakhir, sang pewaris klan mafia penguasa dunia bawah itu kehilangan kata-kata. Ia menatap gadis miskin berkemeja kotak-kotak di sebelahnya lekat-lekat, menyadari satu kenyataan mutlak, ternyata aset yang baru saja ia 'beli' untuk menjadi alat negosiasinya ini jauh lebih mematikan dari sekadar pelayan kafe cerewet.
Keterkejutan di wajah Arka perlahan memudar. Seringai tipis di sudut bibirnya yang dingin kini berubah menjadi senyuman penuh ketertarikan yang luar biasa gelap dan berbahaya.
Bersambung...
udh lah jngan suka mancing2 Alea yg bar2 ini, bisa kena bogem loh buru**nya nnt 😂😂😂