Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak yang Melawan Waktu
Pagi itu kabut turun lebih tebal dari biasanya, menyelimuti seluruh permukaan bukit seakan selimut putih lembut yang menutupi segala sesuatu di atasnya. Rumput-rumput yang tinggi di halaman rumah Bu Wiyati basah oleh embun, membasahi sepatu dan ujung celana siapa pun yang melangkah keluar. Udara terasa dingin dan lembap, menusuk hingga ke tulang, namun di dalam dingin itu ada kesegaran yang luar biasa bau tanah basah, bau daun-daun yang lebat, dan bau hutan yang murni, bau yang tidak bisa ditemukan di kota mana pun.
Kru bangun lebih awal pagi itu. Setelah diskusi semalam, mereka sepakat untuk tetap melanjutkan syuting di area bawah bukit di jalan setapak yang menuju ke atas, namun berhenti jauh sebelum mencapai batas rumah kedelapan. Mereka tidak bermaksud melanggar batas, tidak bermaksud mengintimidasi. Mereka hanya ingin menangkap suasana pagi di Kampung Pitu — kabut yang perlahan terangkat, cahaya matahari yang menembus celah dedaunan, dan keheningan yang begitu dalam namun penuh kehidupan.
"Kita ambil adegan di jalan setapak itu saja," kata Raka sambil menunjuk ke arah jalur tanah yang berkelok-kelok di antara pepohonan, masih cukup jauh dari rumah kedelapan. "Jangan sampai masuk ke area yang terlarang. Cukup di sini. Suasananya sudah sangat mendukung."
Semua orang setuju. Mereka mulai menata peralatan kamera diletakkan di atas tripod, mikrofon disiapkan untuk menangkap suara alam, dan pencahayaan alami dimanfaatkan sebaik mungkin. Kabut yang perlahan menipis memberikan efek yang begitu indah, begitu lembut, seakan dunia di sekitar mereka terbungkus dalam keajaiban pagi yang tenang.
Namun di tengah kesibukan itu, Laras berdiri diam di pinggir jalan setapak, menatap ke arah tanah yang tertutup rumput basah. Matanya menyipit, seakan melihat sesuatu yang tidak biasa. Dimas yang sedang memeriksa kamera memperhatikannya, lalu berjalan mendekat pelan.
"Ada apa?" tanyanya pelan.
Laras menunjuk ke arah tanah di depannya, di mana rumput yang tadi terlihat rata dan tidak terganggu, kini tampak ada jejak yang jelas — bukan jejak sepatu, bukan jejak binatang. Itu adalah jejak kaki telanjang, berukuran sekitar kaki gadis remaja, bentuknya ramping namun jelas, tercetak rapi di tanah yang masih basah oleh embun. Jejak itu berjalan dari arah atas bukit, menurun perlahan, berhenti tepat di tempat Laras berdiri sekarang, lalu berbalik arah dan kembali naik ke atas. Langkah-langkahnya panjang dan ringan — bukan langkah anak kecil, melainkan langkah seseorang yang sudah tumbuh, namun tetap berjalan dengan hati-hati, seakan takut menimbulkan suara apa pun.
"Sepertinya..." suara Laras bergetar pelan. "Sepertinya seseorang turun ke sini tadi pagi."
Dimas berlutut perlahan, memeriksa jejak itu dengan saksama. Dan saat ia melihat ukuran serta bentuk jejak itu dengan jelas, napasnya tertahan. Wajahnya berubah pucat seketika, seakan baru saja melihat sesuatu yang mustahil terjadi.
"Ini... ini tidak mungkin," gumamnya pelan, matanya tak berkedip menatap jejak itu. "Tapi bentuknya, ukurannya... persis sama."
"Persis sama dengan apa?" tanya Raka mendekat, ikut berlutut di sampingnya.
Dimas berdiri perlahan, menatap ke arah atas bukit dengan tatapan bercampur takjub dan kesedihan yang mendalam. Ia menarik napas panjang, lalu mulai bercerita dengan suara yang pelan namun berat, seakan mengangkat beban yang sudah puluhan tahun ia pendam.
"Dulu... puluhan tahun yang lalu, saat aku masih kecil, jauh sebelum Om Suradi adik Bapakku Pak Suroto mengajakku ke Jakarta untuk bersekolah... aku pernah melihat jejak seperti ini. Di tempat yang sama. Saat itu keluarga Candra Wijaya belum hilang. Ardita... dia adalah gadis remaja yang cantik, pendiam, dan selalu berjalan tanpa suara. Langkah kakinya ringan, seakan tidak menyentuh tanah. Dan jejak kakinya... persis seperti ini."
Keheningan menyelimuti mereka semua. Semua orang menatap jejak itu, lalu menatap Dimas dengan takjub.
"Maksudmu..." bisik Laras perlahan. "Puluhan tahun telah berlalu. Kamu sudah tumbuh dewasa, menjadi orang terkenal, dan kembali ke sini. Tapi dia... dia tetap sama?"
"Ya," jawab Dimas pelan, matanya kembali menatap ke arah rumah kedelapan yang mulai terlihat samar di balik kabut tipis. "Itulah yang aku takutkan sekaligus aku yakini. Tempat itu... ia tidak membiarkan waktu berjalan bagi mereka. Mereka bukan manusia biasa lagi. Mereka terjebak di antara dua dunia tidak hidup sepenuhnya, namun juga tidak mati. Waktu berhenti bagi mereka. Sejak hari itu, puluhan tahun lalu, hingga saat ini... Ardita tetaplah gadis remaja yang sama. Tidak menua satu hari pun."
"Jadi setiap kali dia muncul..." Raka menyambung pelan, hatinya terasa berat. "...selama puluhan tahun ini, dia selalu tampil sama persis seperti dulu. Selama itu pula dia terjebak sendirian di sana, tidak bertambah tua, tidak bisa pergi, tidak bisa pulang."
"Bayangkan," lanjut Dimas dengan suara bergetar. "Selama puluhan tahun, kita semua berubah. Kita tumbuh, kita menua, kita menjalani hidup. Tapi dia... dia masih menunggu di sana, di waktu yang berhenti. Mungkin baginya, belum berlalu banyak waktu. Mungkin baginya, semuanya baru saja terjadi kemarin. Dan ketika dia melihatku... dia mungkin melihat anak kecil yang dulu pernah ia lihat bermain di bawah bukit ini. Tapi sekarang, anak itu sudah dewasa. Sementara dia... dia tetap sama."
Kata-kata itu membuat hati mereka semua terasa perih. Sesuatu yang begitu indah tetap muda selamanya ternyata menjadi kutukan yang paling kejam. Terjebak dalam satu usia, satu penampilan, satu momen, berulang terus-menerus selama puluhan tahun, sendirian, tanpa ada yang menyadari bahwa waktu di luar terus berjalan.
"Dan itu juga berarti..." Laras menambahkan pelan, matanya berkaca-kaca. "...dia tidak sendirian dalam hal itu. Seluruh keluarganya — Pak Candra Wijaya, Bu Isma, Arlan mereka semua juga tetap sama seperti dulu. Mereka semua terjebak bersama, di waktu yang berhenti."
"Benar," jawab Dimas. "Itu sebabnya tidak ada yang melihat mereka menua. Itu sebabnya tidak ada yang tahu berapa lama mereka bisa bertahan sebelum akhirnya benar-benar lenyap dan menjadi bagian dari tempat itu sepenuhnya. Selama masih ada sisa kesadaran manusia di dalam diri mereka... selama itu pula mereka tetap seperti itu. Tapi semakin lama waktu berlalu... semakin tipis batas itu."
Mereka kembali menatap jejak kaki itu di tanah yang basah oleh embun. Begitu ramping, begitu ringan, persis seperti puluhan tahun lalu. Jejak itu bukan sekadar tanda kehadirannya itu adalah bukti bahwa ia masih ada, masih hidup dalam caranya sendiri, masih menunggu. Dan di balik jejak itu, ada sesuatu yang jauh lebih besar bukti bahwa aturan tempat itu lebih kuat dari waktu itu sendiri.
"Kita lanjutkan syuting," kata Raka akhirnya, suaranya tegas namun penuh penghormatan. "Tapi kita tetap di sini. Kita tidak naik lebih tinggi dari tempat ini. Dan kita ingat apa pun yang kita lihat, apa pun yang kita temui... mereka bukan hantu. Mereka adalah keluarga yang terjebak. Orang-orang yang waktu hidupnya dihentikan secara paksa. Mereka pantas dihormati, bukan ditakuti."
Mereka kembali bekerja, namun suasana pagi itu telah berubah. Setiap kali angin berhembus, setiap kali dahan pohon bergerak, setiap kali bayangan jatuh lebih panjang dari biasanya mata mereka semua melirik ke arah itu, setengah berharap melihat sosok yang Dimas ceritakan gadis remaja yang cantik, rambut panjang terurai, persis seperti puluhan tahun lalu. Dan di balik pepohonan yang lebat, di tempat yang tidak terjangkau oleh lensa kamera maupun mata manusia, sosok itu berdiri diam. Ia melihat Dimas. Ia mengenalinya. Dan di matanya, ada kebingungan yang mendalam anak kecil yang dulu ia kenal kini telah dewasa, sementara ia... ia tetap sama.
Dan di belakangnya, bayangan besar Penjaga Tempat itu berdiri tegak tidak bergerak, tidak bersuara, mengawasi semuanya. Ia tidak peduli dengan waktu manusia. Ia tidak peduli dengan siapa yang datang dan pergi. Ia hanya menjaga aturan. Dan selama aturan itu tidak dilanggar... ia membiarkan mereka berdua gadis yang terjebak dan pria yang tumbuh dewasa saling melihat dari kejauhan, terpisah oleh jarak yang pendek namun oleh waktu yang begitu panjang.
Syuting pagi itu selesai lebih awal dari yang direncanakan. Hasilnya luar biasa indah kabut, cahaya matahari pagi, dan suasana yang begitu damai namun penuh kesakralan. Namun yang jauh lebih berharga dari semua adegan yang berhasil mereka ambil adalah satu hal mereka akhirnya memahami kebenaran yang paling menyedihkan dari semuanya. Bahwa waktu bukanlah milik semua orang. Bahwa ada yang terjebak di dalamnya, berhenti di satu titik, menunggu sesuatu yang mungkin tidak akan pernah datang.
Dan di atas sana, di rumah kedelapan yang perlahan mulai terlihat jelas di bawah cahaya matahari yang semakin terang, bunga melati yang tadi diletakkan di ambang pintu itu kini berada di dalam rumah di atas meja kayu di ruang tengah, di samping sebuah buku harian kecil yang sudah lama tertutup rapat. Dan di halaman pertama buku itu, yang selama ini kosong, kini tertulis satu kalimat dengan tinta yang samar namun masih terlihat basah:
"Waktu di sini berhenti. Tapi di luar sana... waktu terus berjalan. Dan aku sendirian."